
Hari ke tiga setelah pernikahan mereka. Ara dan Aldre masih sibuk menghabiskan waktu mereka hanya berdua. Meninggalkan ke dua anak mereka untuk honeymoon. Padahal harusnya mereka pergi berdua ke luar negeri, tapi Ara lebih memilih honeymoon di dalam mansion mereka. Katanya biar lebih mudah jika ke dua anaknya merindukannya.
"Aku pegel al, lepasin dulu"
"Gak mau"
"Alllll"
"Gak mau"
"Hish"
Sudah lebih dari sejam Ara berbaring di atas sofa ruang santai dengan Aldre yang melilit tubuhnya. Hal itu membuatnya sulit bergerak dan merasa pegal, karena sang suami yang enggan melepaskan pelukannya.
Ara ingin mencari ruang untuk dirinya, setidaknya sedikit merubah posisinya dari berbaring. Karena sungguh tubuhnya terasa sangat pegal sekarang.
"Aakkksstst"
Teriakan kesakitan Aldre memenuhi seluruh ruangan. Pasalnya Ara baru saja menarik kedua telinga suaminya itu secara bersamaan. Hal itu membuat Aldre mau tak mau melepaskan pelukannya dan bangkit dari tubuh sang istri.
"Kejam" Aldre bersungut sebal. Tangannya mengusap telinganya dengan gerakan kasar.
Telinganya terasa sangat perih. Aldre yakin pasti keduanya berwarna merah sekarang.
"Rasakan itu" seru Ara tanpa rasa kasihan.
Ara bangkit dari posisinya dengan perlahan, sesekali meringis karena tubuhnya terasa begitu kram.
"Mau kemana?" tanya Aldre saat melihat sang istri sudah berdiri.
"Kepo" jawab Ara singkat.
"Aaahhh sayangggg. Mau kemana ih? Kamu tega ninggalin suami kamu?!"
"Apa sih Al! Aku cuma mau ke dapur. Lebay banget tau gak!"
"Hehehehe"
"Nyesel banget punya modelan suami begini"
"Sayangggggg"
Ara berlalu meninggalkan Aldre yang sedang merengek begitu saja. Tidak mau perduli dengan tingkah tidak jelas lelaki yang sudah menjadi suaminya kini.
20 menit kemudian Aldre menyusul Ara ke dapur setelah menunggu lama namun istrinya itu tak kunjung kembali.
"Pantesan gak balik-balik" ucapnya begitu tiba di sebelah Ara.
"Aku lapar" balas Ara. Tangannya sibuk memotong beberapa bahan masakan.
"Mau masak apa?"
"Chicken spicy korea. Aku lagi pengen makan itu"
Tiba-tiba Aldre memasang wajah terkejutnya, yang membuat Ara terheran.
"Kamu hamil lagi sayang?!" Aldre berseru dengan begitu heboh. Membuat para pelayan yang berada tak jauh dari mereka terkejut.
"Apa sih ah! Gak jelas lu! JAUH JAUH!!" ucap Ara sewot.
"Ya kan aku cuma nanya. Siapa tau kamu beneran hamil lagi"
"Berisik!!"
"Hehehehe"
*****
Fedrick yang tengah iseng berkeliling mall tidak sengaja bertemu dengan Carissa dan Sin yang sedang membeli es krim. Senyuman lebar Fedrick terbit seketika, lelaki itu memutuskan untuk menghampiri ke duanya.
"Yoo" sapanya sambil mengangkat sebelah tangannya.
Carissa menoleh saat mendengar seseorang menyapanya. "Ouh? Fedrick? Apa kabar?"
"Baik. Kalian bagaimana?" Jawab Fedrick masih dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya.
"Sangat baik"
Sin masih sibuk memilih es krim apa yang akan dirinya beli, tidak mau repot bergabung dengan obrolan dua orang di sebelahnya.
"Sin kan?" Tanya Fedrick yang berusaha mengambil perhatian Sin.
Carissa menyenggol lengan Sin yang langsung membuat gadis itu menoleh.
"Mm?"
"Itu Fedrick nyapa kamu loh"
"Oh, hai" sapa Sin malas.
"Apa kabar Sin?"
"Baik"
"Masih sejutek dulu ternyata"
Sin hanya membalasnya dengan lirikan singkat. Kembali sibuk dengan acara memilih es krimnya.
"Maaf ya Fedrick. Tau kan gimana Sin kalai ketemu orang baru?" ucap Carissa tak enak.
"Kamu mau kemana, Fed?" tanya Carissa berbasa-basi.
"Keliling aja. Aku bosan di rumah ka Verrel sendirian"
"Mau bareng?" tawar Carissa. "Apaan sih Car" seru Sin tak suka.
"Ihh kenapa sih. Kan seru kalo rame"
"Emangnya boleh?"
"Boleh"
"Gak"
"Jadi?"
"Boleh kok"
"Gak!"
Sin dan Carissa saling melempar tatapan tajam. Sin memdengus keras saat merasa dirinya akan kalah dari Carissa.
"Boleh kok Fed. Ayok, aku sama Sin mau makan setelah ini"
"Kalian mau makan tapi beli es krim?" tanya Fedrick heran.
"Kebiasaannya Sin. Kalau mau makan harus ada pencuci mulutnya dulu"
Entah kenapa Sin merasa Carissa seperti sedang menjual informasi tentang dirinya pada lelaki di hadapan mereka ini.
"Agak berbeda ya" ucap Fedrick dengan kening mengkerut.
"Sin memang agak berbeda. Kalau kamu mau tau lebih banyak, bisa tanya aku"
"Aku merasa sedang di jual" celetuk Sin yang di abaikan Carissa.
"Kalau begitu bisa minta nomor ponsel mu? Supaya kita bisa bertukar informasi"
Fedrick mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Carissa yang langsung di terima gadis itu dengan senang hati. Setelah mengetikkan nomor miliknya, Carissa mengembalikkan ponsel hitam metalic itu kepada si pemilik.
"Ngomong-ngomong, Car. Kau kenal Relon?" Fedrick kembali bertanya setelah menerima ponselnya kembali.
Mata Carissa membulat mendengar nama seseorang yang di kenalnya. Sin menoleh cepat, merasa tidak asing dengan nama yang baru saja di sebutkn Fedrick.
"Relon?" Ulang Sin.
"Relon Johannes. Dia berkulih di Univ yang sama dengan Carissa. Seingat ku dia juga berada di fakultas Ekonomi sama seperti mu, Car"
"Memangnya dia siapa?" Sin mendadak menjadi kepo.
"Sepupu ku"
"What?!"
Carissa merasa dirinya ingin pingsan saja sekarang.
"Jadi namanya Rolen, Car?" Sin terus menggoda Carissa sejak berada di stand es krim sampai kini mereka telah duduk di dalam restaurant.
Carissa hanya bisa menelungkupkan kepalanya ke atas meja. Dirinya tidak tau haus berbuat apa. Bukan karena Fedrick yang mengatakan bahwa dia adalah sepupu Rolen, mantan Crushnya. Tapi karena Rolen baru saja menelpon Fedrick dan mengatakan bahwa lelaki itu akan menyusul sepupunya.
"Ya tuhan ya tuhan. Bisakah aku menjadi onde onde" gumam Carissa tak jelas.
Sin tertawa begitu puas melihat sahabatnya yang seperti orang frustasi. Sangat jarang melihat Carissa yang seperti ini, jadi dirinya akan memanfaatkan keadaan sebaik mungkin.
"Yoo" Fedrick mengangkat sebelah tangannya pada seorang lelaki tampan berkemeja abu-abu yang tengah berdiri bingung di depan pintu restaurant.
"Itu?" Bisik Sin pada Fedrick. Yang di jawab anggukan lelaki itu.
"Oh my god. Ganteng banget" seru Sin heboh.
"Yoo bro. What's up?" Fedrick bangkit melakukan high five dengan supupunya itu.
"Who is she?" Tanya Rolen sambil menunjuk ke arah Sin.
"My crush" jawab Fedrick tenang mengerlingkan matanya ke arah Sin. Membuat gadis itu mendelik tak suka.
"Sin. Kau Rolen?" Sin menjulurkan tangannya yang di sambut Rolen dengan senang hati.
"Nice to meet you, Sin"
"Nice to meet you too"
"Dia?"
"Sahabatku. Carissa, Carissa Alexander"
"Carissa Alexander?"
"Mm-- aaakkhhhssstt"
*****
T b c?
Bye!