
Dua minggu berlalu
Siang ini, Rapat rutin yang diadakan setiap bulannya oleh para petinggi Skholvies Corp. baru saja selesai. Setelah tiga jam dan selesai tepat 15 menit sebelum jam makan siang.
Rapat tersebut membahas kinerja para karyawan dan sejauh mana perkembangan yang didapatkan oleh perusahaan.
Satu persatu para petinggi keluar dari ruang rapat. Memulai kembali pekerjaan mereka yang tertunda.
Aldre menjadi yang terakhir melangkah keluar dari ruang rapat. Lelaki itu berjalan santai kembali menuju ruangannya. Bersyukur karena tidak ada kendala selama ia meninggalkan perusahaan.
Kakanya Dion memang sangat bisa diandalkan dalam situasi darurat. Ia harus mengirimkan hadiah untuknya nanti.
"Apa anda ingin sesuatu untuk makan siang hari ini, sir? Atau anda ingin saya pesankan yang seperti biasa" tanya Nola sekertaris Aldre.
"Tidak Nola. Tapi saya ingin kamu pergi ke toko kue langganan saya, dan ambil pesanan saya disana"
Aldre mngeluarkan dompetnya, menarik salah satu kartunya dari sana, juga bukti pesanannya. Menyerahkannya pada Nola. "Gunakan ini. Beli juga makan siang untukmu, beli saja apa yang kau mau"
"Kau juga Robert, sekalian antarkan Nola"
"Baik sir" jawab Robert.
Tanpa menunggu Nola dan Robert pergj, Aldre melangkah masuk ke dalam ruangannya. Menghempaskan tubuhnya ke sofa sedikit kasar.
Di lobi perusahaan. Nola dan Robert bertemu Ara yang baru saja tiba. Pantas bos mereka tidak ingin dipesankan makanan. Jadi ini alasannya.
"Selamat siang, nona Ara" sapa keduanyam
Ara tersenyum manis, "siang Nola, siang ka Robert. Kalian mau kemana?"
"Kami ingin mengambil pesanan bos sekalian membeli makan siang diluar, nona. Apa nona membutuhkan sesuatu?" jawab Nola membalas senyum manis Ara.
"Ouh, tidak usah. Kalau begitu hati - hati ya, dan selamat makan siang"
"Anda juga nona. Kalau begitu kami permisi"
Ara mengangguk. Melanjutkan perjalannya menuju ruangan Aldre. Gadis itu masuk kedalam lift khusus karyawan, dimana tindakannya sukses membuat para karyawan lain yang sedang menunggu lift terkejut.
"Nona Ara, kenapa menunggu disini?" tanya salah satu dari mereka sambil menunduk sopan.
"Tidak apa mba, aku lebih suka menggunakan lift ini"
"Tapi nanti boss--"
"Sssttt, tenang saja. Jangan khawatir ok "
Ting
Pintu lift terbuka, Ara dan beberapa karyawan tersebut masuk kedalam lift. Para karyawan tersebut memundurkan langkahnya, sedikit menjauh dari Ara. Mereka tidak ingin mendapatkan masalah dari sang bos.
Ara yang berdiri tepat didepan pintu lift merasa agak aneh. Kenapa ia merasa seperti tidak ada orang disebelahnya. Gadis itu lantas menoleh kanan kirinya yang kosong.
Dahi Ara mengernyit bingung, 'kok sepi?' gumamnya kecil. sedetik kemudian menolehkan kepalanya kebelakang. Netra birunya membelalak kaget, terkesiap selama beberapa detik.
Tiba-tiba Ara tertawa sedikit keras, badannya membungkuk sedikit. Pasalnya para karyawan tersebut tengah berdiri berdesakan dibagian belakang, bahkan ada yang sampai mepet dipojokan. Ditambah Wajah panik mereka yang terlihat lucu.
"hahaha, kalian ngapain kaya gitu?" tanyanya masih diselingi tawa.
"Hehehe gak apa-apa nona gak apa-apa"
"Lucu banget si kalian"
Ting
Suara pintu lift yang kembali terbuka seketika membuat para karyawan semakin panik. Ara yang menyadari perubahan ekspresi mereka membalikkan badannya.
Didepan pintu, orang yang mereka khawatirkan sejak tadi tengah berdiri gagah, dengan ekspresi datar, dan sorot yang tajam. Sudah bisa ditebak bahwa bos mereka tengah menjemput sang kekasih.
"ALLLLL" Ara berseru senang mendapati kehadiran kekasihnya. Gadis itu dengn cepat berhambur memuluk tubub gagah kesayangannya.
"Kenapa naik lift karyawan?" tanya Aldre datar.
Matanya masih setia menatap tajam para karyawannya yang kini menunduk takut.
"Gak apa-apa, aku pengen aja. Lagian kalo naik lift punya kamu sepi, kalo rame-rame kan lebih seru. Jadi kalo liftnya macet gak kejebak sendiri, hehehe"
"Lain kali bilang dulu sama aku. Aku hampir ngamuk saat resepsionis bilang kamu naik lift bareng mereka"
"Udah ihhhh, jangan melototin mereka terus, kesian mereka. Udah ayo makan, aku laper"
"Hm"
"Kalian sudah makan siang?" tanya Aldre pada karyawannya.
Mereka mengangguk, "sudah, sir"
"Lanjutkan pekerjaan kalian kalau begitu. Dan terimakasih sudah menemani kekasihku"
"Dadah kaka kaka semua" seru Ara riang sambil melambaikan tangannya, yang dibalas senyuman oleh mereka.
Aldre menarik lembut tangan Ara, membawanya menuju ruang kerjanya. Para karyawan yang melihat bos mereka dan kekasihnya sudah pergi bernapas lega. Rasanya seperti menjadi bagian dari star wars.
.
"Bagaimana ka Bella?"
"Bagus. Perkembangannya sangat bagus, dokter terapinya mengatakan bahwa perkembangan Cadissa lebih cepat dari yang seharusnya" jelas Isabella.
Sena mendesah lega, senyum haru diiringi air mata bahagia terbit. "Berarti Carissa akan kembali seperti dulu kan?"
"Kita berdoa yang terbaik yah"
"Selalu, Sena akan selalu berdoa yang terbaik untuk Carissa"
"Yasudah, ayo masuk. Carissa pasti sudah menunggu kita"
Sena mengangguk, kemudian masuk kedalam ruang rawat Carissa bersama Isabella. Wanita itu menyapa suster yang menemani Carissa, tapi setelahnya sang suster lalu pamit untuk keluar.
Carissa yang sedang asik melihat ponselnya tak menyadari kehadiran kedua kakanya. Sejak mulai bisa menggerakan kembali tangannya walau hanya sedikit, gadis itu tak lepas sedikitpun dari benda pipih kesayangannya.
"Carissa" panggil Isabella.
Tidak ada jawaban, gadis itu masih asik dengan kegiatannya. Bukan tidak mendengar, tapi Carissa sedang dalam mode marahnya.
Sejak Sin mengatakan padanya sebelum ia kembali ketempat Rehab, bahwa ia akan diasingkan selama dua tahu. Sejak itu juga ia menolak untuk bicara dengan siapapun.
Bahkan ia juga menolak bertemu Aldre setiap lelaki itu datang untuk menjenguknya. Ara juga sempat marah, dan merajuk, tapi akhirnya gadis itu mengerti alasan.
Isabella melangkah mendekat duduk dipinggir ranjang. "Ka Bella tau kamu masih marah pada ka Bella, tapi ini keputusan yang tepat untuk Sin"
Carissa melempar ponselnya kesal, akibatnya gadis itu harus menahan sakit karena menghentakkan tangannya kencang.
"Tapi gak harus dengan mengasingkan Sin!"
"Ini keputusan yang tepat, Carissa. Memaafkannya saja tidak cukup, apa yang Sin lakukan sudah sangat fatal"
"Ka Bella sedang tidak membahas kejadian kemarin, tapi apa yang terjadi enam tahun lalu!"
"Kenapa harus diasingkan? Kita bisa menghukumnya dengan cara lain!!"
"Iya, kita bisa! Tentu saja, jika kamu ingin melihat Sin dibalik jeruji besi dengan seragam orange nya"
Carissa menangis kencang. Ia jelas tau bahwa ini saja bahkan masih belum cukup untuk Sin. Tapi ia tidak ingin berpisah lagi dengan sahabatnya, ia ingin Sin disini menemaninya sampai sembuh.
"Carissa! Sosiopat tidak semudah itu disembuhkan, kau haru tau itu. mengerti?"
Setelah mengatakan itu Isabella keluar dari sana. Kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sena meraih tubuh sang adik, memeluknya erat, menenangkan gadis itu.
.....
"Tuhan mengizinkan kita untuk mengalami titik-titik terendah dalam hidup untuk mengajari kita pelajaran yang tidak dapat kita pelajari dengan cara lain." - C.S. Lewis
.....
T B C?
BYE!
untuk penjelasan tentang Sosiopat aku bahas dibab selanjutnya ya 😊
thx 😉