Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 41. FLASHBACK JOVAN



FLASHBACK JOVAN


Sepasang netra yang berbeda warna, tapi tertutup oleh lensa kontak berwarna hitam itu kembali menelusuri setiap sudut ruangan, mencoba menemukan sesuatu yang menarik baginya.


Kepalanya memutar kesegala sisi, kemudian terhenti pada satu sudut. Sebuah benda mengantung indah didinding, dengan tempat yang cukup tinggi.


Agak sedikit berbeda, dimana seharusnya orang-orang akan meletakkannya ditempat rahasia, sipemilik kamar ini justru menggantungnya dengan bebas di dinding.


Siapapun tidak akan mengira benda itu adalah sebuah kalung, mereka akan berpikir bahwa itu hanya sebuah hiasan dinding biasa.


Kalung?


Ya, benda yang menarik perhatian Jovan adalah sebuah kalung. Kalung kuno dengan permata berbentuk hati, berwarna merah dengan ukiran yang indah. Kalung itu bercahaya indah dalam gelap.


Diam-diam si bungsu The Triples Scander tersenyum miring, hatinya berseru senang seolah mendapatkan sebuah harta karun. Dengan gerakan cepat kakinya melompat keatas sebuah meja yang berada tepat dibawah kalung indah tersebut.


Tangannya terjulur, dan hap.....


Kedua kakinya kembali menapaki lantai, jari tangannya terbuka pelan, begitupun senyuman dibibirnya yang semakin lebar. "Beautiful" bisiknya. "I'm sorry uncle, but this necklace is mine now! "


Jovan memasukkannya kedalam saku celana, lalu melangkah keluar dari kamar dengan santai. Tidak lupa membawa beberapa benda yang akan dibuang.


Setelah tugasnya selesai, remaja 13 tahun itu kembali ketempat dimana bunda dan daddynya menunggu.


Penyamarannya berjalan begitu sempurna, dan.... I'm sorry Isabella, tapi sepertinya kali ini ada seseorang yang mampu mengecoh mu dengan baik.


Like mother like son


Hahahaha, aku menyukai kata-kata itu.


FLASHBACK OFF


.


.


Dirumah besar didalam hutan


Setelah kegiatan panas Sin dan Roxy, rumah itu kini sepi bagai tak berpenghuni, tidak ada seorangpun yang terlihat.


Thomas berjalan memasuki ruang tamu, hidungnya mengkerut mencium aroma yang tidak asing baginya, lelaki itu mengumpat keras. "Dasar dua manusia gila! Apa mereka bodoh bermain di ruang tamu? "


Kepalanya menoleh setiap kanan kiri, lalu mendongak ke lantai atas. "Wah, gila! " Thomas tersanjung begitu melihat sebuah cctv disudut tembok dengan posisi yang cukup tinggi. Jelas cctv itu pasti menangkap setiap aktifitas diruangan ini.


Thomas tertawa kencang, tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi para penjaga jika melihat rekaman cctv. "Bagus, bagus sekali! Kebodohan kalian memang tidak bisa ditakar lagi! "


Di lain tempat


"Sial! Kau membuatku panik, Alfan sialan! " umpatan kasar yang kesekian kalinya terdengar dari mulut Aldre.


Tubuhnya berkeringat dingin ketika Thomas menatap cctv, hampir saja ketauan. Bisa kacau semua rencananya, dia harus segera memindahkan cctv itu atau si pemilik rumah akan segera mengetahuinya.


Kembali ke rumah besar tersebut


"Kemana dua orang itu? Kenapa sepi sekali? " gumam Thomas.


"Kau berbicara sendiri seperti orang gila" ujar Sin yang baru saja muncul dari arah dapur. Ada segelas win ditangannya dan sebuah apel.


Thomas memandang gadis itu sinis, "jangan tinggalkan bekas saat kau bermain lain kali. Menjijikan! " ucapnya tajam.


Sin menaikkan sebelah alisnya, memandang lelaki dihadapannya dengan remeh. "Sengaja! Siapa tau kau tertarik bermain denganku"


"HAHAHAHAHAHA!! " Aldre tertawa kemcang, bertepuk tangan dengan heboh. "Barang bekas? Hahahahaha, sialan itu sangat lucu"


Sepeninggal Thomas, Sin berbalik kearah sofa, gadis itu mengernyit jijik melihat cairan putih kental berceceran disetiap sisi sofa.


"ieeuuuu! Oh my god, siapa yang akan membersihkan ini? " keluh gadis itu.


"Lain kali aku harus ingat untuk segera membersihkannya! Oh gosh! "


.


.


Jovan keluar dari kamar mandi, remaja tampan itu baru selesai membersihkan dirinya. Tangan kanannya sibuk mengusak handuk dirambutnya yang basah.


Berjalan kearah ranjang. Kepalanya mendongak, Jovan berjengit kaget mendapati sang bunda sudah duduk angkuh diatas ranjang.


Jovan menetralkan nafasnya kemudian kembali menatap kesal sang bunda. "Kenapa bunda disini? "


"Kenapa? Bunda bisa berada dimanapun bunda mau" Isabella menjawab dengan angkuh. "Terserah! " sahut Jovan malas.


"Jadi? Apa yang kamu dapatkan? "


"Sebuah ruangan gelap seperti rumah hantu"


"Hahahaha, tidak lucu! " ucap Isabella sarkas.


"Hehehe! apa bunda ingin mengintipku berganti baju? " Tanya Jovan sarkas. Bocah itu memang belum mengenakan pakaiannya, masih sebuah bathrobe yang menempel ditubuhnya.


"Memangnya apa yang ingin bunda lihat darimu? Kau tidak besar seperti ayahmu! Tapi tidak masalah, kau tetap bisa menunjukannya. Anggap saja bunda mewakili Harena untuk memberi penilaian agar dia tidak kecewa nantinya" ucap Isabella menggoda.


Jovan menajamkan tatapannya, alisnya menyatu. "BUNDA!!! "


BLAMM!!


"Galak banget!! "


Diujung ruangan, Kevin yang tengah bersandar ditembok menggelengkan kepalanya lelah. Tidak tau bagaimana lagi menghadapi sifat usil saudara iparnya ini.


Isabella berbalik, menampilkan cengirannya begitu mendapati suami sahabatnya tengah memandangnya dari jauh.


"Berhenti mengusili orang lain, Princess! " peringat Kevin. "Tidak ada suamimu, anakmu yang kau jadikan korban! "


"Dari pada kau yang kujahili"


"Anakmu sudah enam, tapi usilmu itu tidak juga hilang! Wajar jika ka Justin selalu darah tinggi menghadapimu" untuk keseribu kalinya mungkin, Kevin mengeluh akan sikap sahabat istrinya ini.


"Ya ya ya, akan aku hilangkan jika aku tidak malas. Ayo-ayo aku lapar"


....


"Ada kesadaran dalam diamku. Ada penghargaan dalam teriakku, tapi tetap saja ada yang pergi meninggalkanku.”


....


T B C?


bye!