Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
73



"Hai Jeno" sapaan riang dari seorang gadis cantik dengan rambut pirang bergelombang menjadi hal pertama yang menyambut Jeno begitu keluar dati gerbang asrama.


Hiro, Kanfa, dan Geo menatap heran gadis tersebut. Lebih tepatnya bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan gadis didepan mereka ini. Terutama Geo yang tau jelas bahwa Jeno tidak pernah mencoba berkenalan dengan siswa atau siswi yang lain. Jadi? Siapa sebenarnya gadis itu?


Meski begitu Jeno sama sekali tidak perduli dengan si gadis yang baru saja menyapanya, cowok bahkan tidak mau repot-repot untuk menatap gadis itu.


"Maaf, siapa ya?" tanya Geo akhirnya. Tidak ada jawaban dari gadis pirang tersebut, gadis cantik itu masih sibuk menatap malu-malu ke arah Jeno meski tidak dapat tanggapan sama sekali.


"Pagi Jeno" sekali lagi, gadis itu mencoba menarik perhatian Jeno. Namun kali ini suaranya dibuat lembut dan terdengar manja.


Jeno masih tidak perduli dan tetap fokus pada ponsel di tangannya. Tanpa basa-basi pergi meninggalkan gadis itu yang terperangah melihat sikap dingin Jeno.


Hiro dan Kanfa tak bisa menahan tawa mereka, sedangkan Geo hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah dingin Jeno jika bertemu orang baru.


Ketiganya melangkah meninggalkan gadis tersebut. Dibelakang mereka bisa mendengar suara dari si gadis yang mencak-mencak seperti orang kesurupan.


Geo masih fokus menatap punggung Jeno yang berjalan di depannya. Bocah itu masih sibuk dengan ponselnya entah apa yang dia lakukan. Kadang Geo merasa heran dengan sikap Jeno yang sewaktu-waktu berubah menjadi dingin, lalu sedetik kemudian berubah menjadi lebih hangat. Walau lebih banyak sikap menyebalkan yang cowok itu tunjukan.


"Lagak mu sibuk sekali bermain ponsel padahal tidak ada yang dihubungi. Tidak capek sejak tadi mondar-mandir geser aplikasi?!" Celetuk Geo dengan nada mengejeknya yang khas.


Jeno menggeram rendah, moodnya sedang buruk dan sahabatnya itu malah mengganggunya. Dengan cepat Jeno berbalik, "Geo!" Sentak Jeno kuat.


Bukannya takut Geo justru malah balas menantang. "Apa? Memang benar kan? Kau terlihat jauh lebih bodoh dari sebelumnya" ejeknya lagi.


"Brengsek kau!"


Melihat Jeno yang siap untuk menerjangnya, dengan gerakan secepat kilat Geo berlari kabur menyelamatkan diri.


"GEOOO!!!" teriakan penuh amarah dari Jeno memenuhi koridor lantai 1. Cowok itu berlari mengejar Geo yang sudah berjarak cukup jauh.


"Lah?" Hiro dan Kanfa saling pandang, menggelengkan kepala dengan tingkah konyol kedua soulmate itu.


"Jeno si emosian dan Geo si usil" ujar Hiro. "Cocok" sambung Kanfa sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Kita ke kelas aja lah, bagenin tuh bocah berdua" ucap Kanfa yang di angguki tanda setuju oleh Hiro.


--


Dengan gerakan yang sangat lemas, Erick merangkak turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Erick keluar dengan keadaan lebih segar meski masih tidak ada semangat di wajahnya. Cowok itu juga tidak mengenakan pakaian miliknya yang dia bawa, tapu justru mengenakan pakaian milik Jeno.


"Rick" suara panggilan dari luar kamar terdengar. Tidak lama pintu kamar Jeno terbuka menampilkan Jesslyn yang berdiri dengan penampilan rapih.


Kening Erick mengkerut dalam. "Mau pergi ya? Rapih banget" Tanya Erick sedikit heran.


Jesslyn menganggukkan kepalanya dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya. "Piknik. Ayah ngajak kita piknik di taman. Ayo" seru Jesslyn penuh semangat.


"Eh?" Erick menatap penampilannya sendiri, dirinya hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong milik Jeno. "Gua ganti baju dulu deh"


"Oke" setelah mengatakan itu, Jesslyn berlalu pergi menuju lantai bawah.


Erick kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam walk in closet milik Jeno, tangannya membuka satu persatu lemari pakaian. Menimang sekiranya mana yang harus ia kenakan.


"Ini aja deh" Erick menarik sebuah celana jeans hitam dari dalam lemari. Juga mengambil kaos putih polos dan jaket denim lengan pendek milik Jeno. Tidak lupa sepasang sepatu putih dari dalam rak.


Setelah berganti pakaian dengan menata penampilan nya, kini Erick justru terlihat mirip dengan Jeno. Dari atas sampai bawah merupakan style yang biasa Jeno kenakan.


"Udah gila emang. Saking kangennya sama kamu aku sampe cosplay kaya gini, Jen" gumam Erick sambil menatap penampilannya di dalam cermin.


"Erick belum turun." tanya Justin pada Jesslyn. "Mungkin sebentar lagi, ayah" jawab Jesslyn.


Justin mengangguk mengerti, kembali menimang si kecil Fero yang kembali tertidur padahal baru saja bangun beberapa menit.


"Nah, itu Erick" seru Jeven begitu melihat Erick yang berjalan turun.


"Busetttt, cosplay jadi Jeno dia" ucap Jovan yang shock melihat penampilan Erick saat ini.


Isabella dan Justin hanya bisa saling pandang, keduanya mengerti bagaimana perasaan Erick saat ini. Karena mereka pernah merasakan posisi seperti ini selama 8 tahun lamanya.


----


See you!