Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
179



Sejak kejadian tadi pagi, Jeno memutuskan untuk berdiam diri di kamarnya. Tangannya sesekali meremat kasar rambutnya.


Otaknya berpikir keras bagaimana cara menemukan sang kekasih ? Karena kedua orang tuanya pasti akan menutup semua akses untuknya.


"Kamu dimana Rick? Kenapa kamu pegi tanpa mengatakan apapun pada ku?" gumam Jeno lirih.


"Kamu marah sayang? Jangan marah terlalu lama aku mohon.."


Jeno menatap sedih layar ponselnya yang menampilkan foto dirinya dan Erick. Jarinya mengusap lembut wajah indah yang selama tiga tahun ini selalu ia rindukan.


"I'm sorry, love" ucap Jeno dengan bibir bergetar. "Hiks hiks hiks..."


Tes tes tes


Air mata yang hampir tidak pernah di keluarkan pemuda itu, kini mengalir dengan derasnya. Bahkan sampai menetes dan menutupi layar ponsel miliknya. Tetesan itu perlahan berubah menjadi isakan kecil. Kepalanya menunduk, tubuhnya bergetar, kedua tangannya meremat kuat ponselnya.


Drrrtttt.....


Getaran pada ponselnya membuat Jeno mendongak, isakannya terhenti, namun air matanya masih mengalir cukup deras. Dahi Jeno mengkerut bingung saat mendapati nomor asing yang menelponnya.


Tanpa pikir panjang pemuda itu langsung menekan tombol hijau, dan menempelkan benda pipih itu ketelinganya.


"Siapa ini?" tanyanya cepat begitu panggilan terhubung


Tidak ada jawaban dari si penelpon, hanya deru nafas yang bisa Jeno dengar.


"Halo, who's there?" tanya Jeno lagi.


Masih sama, tidak ada jawaban dari si penelpon. Tapi kali ini, Jeno bisa mendengar suara tarikan nafas yang cukup panjang. Seperti orang itu tengah menahan rasa gugupnya.


"Jika kau tidak ingin bicara akan aku tutup telponnya!!" seru Jeno akhirnya mulai kesal karena orang di seberang sana tidak kunjung berbicara.


"Hai"


Setelah beberapa menit akhirnya Jeno bisa mendengar suara dari si penelpon. Namun hal itu sukses membuatnya terdiam dengan mata yang melebar.


"Erick..." panggil Jeno lirih.


"Ya" jawab Erick.


"Kamu dimana, sayang ?" tanya Jeno dengan nada sedih yang terdengar jelas. Dan Erick sangat menyadari hal itu.


"Sekolah" jawab Erick singkat. Ya, yang menelpon Jeno adalah Erick.


Setelah mendapat kabar dari orang tuanya bahwa Jeno pulang dan mencarinya, Erick memutuskan untuk menghubungi Jeno. Sekedar memberitahu lelaki itu bahwa dirinya baik-baik saja.


"Sekolah?" tanya Jeno memastikan.


"Hmm" hanya deheman singkat Erick sebagai jawaban iya.


"Dimana? Beritahu aku kamu dimana, sayang" pinta Jeno lagi.


"No" Erick menolak. Jelas dirinya tidak ingin Jeno tau, karena lelaki itu pasti akan langsung menyusulnya.


"Why?"


"Karena aku memang gak mau kamu tau" ucap Erick dengan nada dingin.


"Erick.... Kenapa? Kamu marah sama aku hm? Aku tau aku salah, tapi aku mohon jangan seperti ini. Aku kangen kamu, sayang. Aku mau peluk kamu"


"2 years. Tunggu aku, dan aku akan kembali"


"Tapi itu terlalu lama" protes Jeno.


"Aku menunggu mu tiga tahun dan aku tidak protes sama sekali" sentak Erick keras.


"Maaf... Janji sama aku, saat aku kembali nanti kamu akan ada di sini menyambut aku. Janji ya?"


"Mm"


"Aku mau video call boleh? Aku mau liat kamu" pinta Jeno.


"No"


"Kenapa?"


"Just no!" masih dengan nada dingin yang Erick gunakan.


Jeno memejamkan matanya, menahan rasa nyeri yang meremat dadanya. Erick tidak pernah semarah ini padanya, pujaan hatinya itu bahkan tidak pernah berbicara sedingin ini. Rasanya begitu sakit mendengar Erick berbicara dingin padanya.


"Kalau gitu aku mau ngobrol yang lama sama kamu. Boleh kan?" Jeno berusaha menahan air matanya yang hendak kembali jatuh. Dirinya tak ingin jika sang kekasih mendengarnya menangis.


"Mm"


"Kamu lagi apa sekarang?"


"Istirahat"


"Disana sudah malam ya?"


"Bagaimana sekolahnya?"


"Good. Tapi banyak cowok yang ngajak aku kencan" sengaja, Erick jelas sengaja ingin membuat Jeno cemburu.


Mendengar perkataan Erick membuat Jeno spontan menahan nafasnya. Ketakutan melanda dirinya seketika, bagaimana jika Erick meninggalkannya dan memilih bersama orang lain? Tidak!! Jeno tidak mau hal itu terjadi. Erick hanya miliknya! Hanya untuknya!


"Sayang!"


"Aku menolak mereka. Aku mengatakan pada mereka bahwa kekasih ku seorang psikopat"


"Astaga..." yang ini justru membuat Jeno lebih terkejut. Kenapa kekasihnya ini random sekali.


"Kenapa? Tidak suka?!" seru Erick sewot.


"Tapi aku bukan Jovan, sayang" ucap Jeno dengan nada memelas.


"Aku memang membayangkan Jovan saat mengatakannya"


"Eriiccckkkk"


"Kkkkkk"


"Itu tidak lucu sama sekali! Kamu cuma boleh membayangkan aku, tidak boleh membayangkan orang lain!!"


"Termasuk orang tua ku?"


"Itu pengecualian"


"Cih! Si paling posesif tapi soksokan gak ada kabar!"


"....."


"Kenapa? Merasa ya?"


"Sayang...."


"Jelek! Kamu pasti sekarang makin jelek!"


"SEMBARANGAN!!"


"Aku bahkan lebih tampan dari Jovan! THE MOST HANDSOME IN THE WORLD!!"


"PEMBOHONG!"


"AKU GAK BOHONG!!"


"MASAAAA?!!!"


"SAYANGGGG!!!!"


"HAHAHAHA"


"Tega~"


"Udah ah. Aku mau tidur. Agak nyesel juga nelpon kamu"


"Heh! Gak boleh sembarangan ngomong!!"


"Bodo amat. Bye!"


Tut tut tut!


"Say-- halo haloooooo!!!"


Erick langsung mematikan sambungannya begitu saja. Tidak perduli dengan Jeno yang mengumpat karena di tinggalkan begitu saja.


"Kebiasaannya tidak berubah. Suka sekali meninggalkan seenaknya" ucap Jeno menggerutu.


**


Di lain tempat.


"Maaf ya, sayang. Aku masih menyimpan rasa kecewa sama kamu"


"Aku kangen kamu, Jen. Kangen banget sampe aku rasanya mau gila"


"Tapi kamu terlanjur bikin aku kecewa"


"Setidaknya aku tau kalau kamu baik-baik aja. Dan aku tau kalau hati kamu masih milik aku"


"Awas aja kalau sampai kamu berani sama cewe lain!! Aku jorokin kalian ke rawa-rawa!!"


*****


T b c?


Bye!