
Erick turun dengan perasaan yang sedikit tidak nyaman. Dirinya takut jika keluarga Scander menganggapnya tidak sopan karena memakai pakaian putra mereka tanpa izin.
"Lo bener-bener se kangen itu ya sama Jeno?" Tanya Jesslyn begitu Erick sampai di hadapan mereka. Erick hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam , kemudian mengangguk ragu sebagai jawaban.
"Gak apa-apa, sayang. Kami mengerti perasaan mu" ucap Isabella sambil memberikan usapan halus di punggung remaja 14 tahun itu.
"Ayo berangkat, nanti keburu siang" ajak Isabella pada semuanya.
Jesslyn menarik lembut lengan Erick menuju mobil, mempersilahkan Erick untuk masuk terlebih dahulu setelah membukakan pintu mobil. Gadis itu sangat berhati-hati agar calon kaka iparnya itu tidak terluka sedikitpun. Sesuai amanat sang kaka padanya.
Perjalanan mereka diisi dengan canda tawa, tidak ada kecanggungan yang Erick rasakan. Ia justru merasa sangat nyaman meski kekasihnya tidak ada di antara mereka.
"Kalau Harena tau kita piknik bareng ka Erick, pasti dia ngambek" celetuk Valerie tiba-tiba. Erick tertawa kecil, dirinya baru tersadar soal sang adik.
"Ha ha ha, hayoloh Erick di ambekin Harena" ledek Jesslyn yang di sambut tawa senang Jovan dan kedua orang tuanya.
Erick meringis kecil. "Suuutttt, rahasia akan tetap aman kalau informasi tidak bocor" ucap Erick dengan nada memelas.
Jovan, Jesslyn, Jeven, dan Valerie tertawa puas. Dalam hati mereka sudah sangat siap menjadi sumber informasi untuk Harena nanti.
Setelah menempuh 30 menit perjalanan mereka akhirnya sampai di sebuah perkebunan strawberry. Erick bisa menebak bahwa tempat ini pasti milik keluarga Scander.
"Punya Scander family nih pasti" ucap Erick.
Justin yang mendengarnya terkekeh kecil, tebakan Erick memang tidak salah tapi tidak benar 100%.
"Punya Jeno" ujar Justin yang membuat Erick menoleh cepat ke arahnya. "Hah?"
"Semua strawberry yang ada disini milik Jeno. Dia yang menanamnya sendiri" lanjut Justin menjelaskan.
Isabella maju merangkul pundak kekasih putranya itu. "Jeno menanam semua strawberry ini sejak dia berumur 8 tahun, biasanya sebulan sekali dia akan datang kesini untuk mengecheknya. Jeno belum sempat mengajak kamu kesini karena dia sempat gagal panen beberapa kali" jelas Isabella.
Mata Erick memanas, penjelasan Isabella dan Justin membuatnya semakin merindukan sosok kekasihnya itu.
"Tau gak apa yang lucu?" Tanya Jeven. Erick menggelengkan kepalanya tidak tau. "Jeno tidak suka Strawberry" ucap Jeven.
Seolah baru menyadari sesuatu, Erick sama sekali tidak ingat jika Jeno dangat tidak menyukai buah berwarna merah itu. Tapi....
"Strawberry buah kesukaan Erick, abang" bisik Erick dengan suara lirih.
Mata Jeven membola lebar karena terkejut. 'Gila! Dasar bocah bucin!' Gumamnya dalam hati. Jeven tidak menyangka adiknya sudah bucin sejak dini.
Justin dan Isabella saling pandang, kini keduanya mengerti kenapa saat itu Jeno tiba-tiba mengatakan bahwa dia ingin memiliki perkebunan strawberry. Karena jika diingat, Jeno pertama kali bertemu Erick saat ulang tahun Vi yang ke 8. Dan saat itu Erick hanya memakan buah strawberry sepanjang acara berlangsung.
"Berarti tebakan Jeno sama sekali tidak salah" ucap Justin. "Maksud ayah?" Tanya Jovan tidak mengerti.
"Jeno pasti berfikir bahwa Erick sangat menyukai strawberry. Karena saat kalian pertama kali bertemu di acara ulang tahun Vi, yang Erick makan hanya strawberry" ucap Justin. Jovan mengangguk paham, ia sangat ingat kejadian itu.
"Lama-lama wajah kamu berubah jadi strawberry" celetuk Jeno yang sudah mulai jengah melihat Erick yang hanya memakan buah merah berbintik itu.
Erick yang kesal melempar satu buah strawberry berukuran besar ke arah Jeno yang langsung mengenai mata kirinya, membuat Jeno mengaduh kesakitan karenanya.
"Yaudah, sekarang kita makan dulu ya? Setelah makan kalau Erick mau metik strawberry silahkan aja" ucap Isabella.
Erick menatap Isabella dengan wajah sumringah. "Bolehkan bunda?" Tanyanya penuh semangat.
Isabella tertawa gemas. "Boleh, sayang" jawabnya dengan senyum manis.
Mereka akhirnya mulai menggelar tiker yang mereka bawa di atas rumput. Jesslyn membantu sang bunda menata makanan di atas tiker, Jeven menggelar tiker lain agar tempat mereka lebih luas Dan menaruh beberapa bantal di atasnya.
Justin memutuskan untuk berkeliling dan menyapa beberapa pekerja yang ada di sana, sedangkan Jovan dan Erick membuat minuman. Lalu Valerie dan si kecil Fero hanya memperhatikan kegiatan para orang dewasa di depan mereka.
"Nah, sudah selesai. Arie, tolong panggilin ayah ya sayang" pinta Isabella pada si bungsu. "Oke bunda" jawab Valerie bergegas bangun dan menyusul sang ayah.
"Nda nda tuh tuh, uuu uuuuu nam nam"
Jeven yang gemas dengan ocehan si kecil langsung meraih tubuh mungil Fero dan menciumi pipi gembilnya dengan gemas. Bayi tampan itu tidak menghiraukan apa yang di lakukan sang abang pada pipinya, ia hanya terus mengoceh sambil menunjuk bungkus biskuit favoritenya.
Tindakan Jeven mendapatkan tatapan kesal dari sang bunda. Sudah pernah di katakan bukan, kalau Isabella sangat tidak suka jika ada yang menyentuh pipi anak-anak nya. Bahkan jika itu sang suami sekali pun.
"Lepaskan pipi adikmu atau bunda akan menendang mu" geram Isabella.
Jeven menyengir lebar. "Hehehe"
----
Piknik 🥘🥪
Jovan mengirim pesan pada Jeno.
mau cosplay jadi Jeno katanya. kkkkk
Jovan kembali mengirimkan pesan, namun kali ini ia melampirkan foto Erick yang tengah bergaya seperti Jeno.
-----
See you!