Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
83 | KECEWA ?



Sejak berita yang Galih sampaikan padanya, Isabella tidak bisa berhenti memikirkan hal itu sedikitpun. Bayang-bayang sang suami yang berbohong padanya terus menusuk pikirannya.


Ia ingin sekali marah, tapi entah pada siapa. Karena rasanya sangan tidak mungkin jika suaminya itu berbohong padanya.


"Haruskah aku bertanya langsung padanya?"


"Bagaimana jika boo tidak mau menjawab"


Hatinya bimbang, tidak pernah ia merasa sebingung ini. Jika bukan suaminya, Isabella jelas tau apa yang harus dilakukannya. Tapi ini Justin Scander! Sosok yang hingga detik ini bahkan tidak pernah bisa ia lawan.


"Kenapa dunia sialan ini tidak ada habisnya?!" Keluhnya lelah.


Isabella meremat rambut cokelap gelapnya kasar. Kepalanya pening sekarang, tidak bisakah hidupnya lebih buruk dari ini?!


"Bee"


Justin yang baru masuk kedalam kamar berlari cepat menuju sang istri. "Ada apa bee?"


"Sayang, jangan remat rambut kamu seperti ini!" Justin berusaha melepaskan tangan Isabella yang kini menjambak kasar rambutnya.


Wanita itu memberontak, menolak setiap sentuhan yang Justin berikan.


"Bee, ada apa denganmu?!" Seru Justin lagi.


"Don't touch me!!!" Mendengar suara sang suami membuat amarah wanita itu meledak.


Sudah lama, sangat lama sejak Isabella menatap seperti ini kearahnya. Tatapan yang penuh amarah dan kekecewaan.


"Ada apa denganmu, bee?" Justin menatap tidak mengerti istrinya. Apa kesalahannya sampai Isabella tak ingin ia sentuh?


"You lie to me!" Suara Isabella bergetar, menahan emosi dan tangis yang hampir meledak.


"Apa maksudmu? Berbohong apa?"


"Kau berbohong padaku, boo! Kenapa?!"


"Aku tidak mengerti yang kau katakan! Apa maksudmu?!! Jangan buat aku marah, bee!"


"Aku! Aku yang seharusnya marah padamu!!" Isabella menunjuk dirinya sendiri, lalu bangkit dari tempat tidur.


"Apa yang Galih katakan sampai kau seperti ini?"


BRAKKK


Isabella membanting lampu tidur yang berada diatas nakas ke lantai. Menimbulkan suara kencang yang mengejutkan baby Fero yang sedang tertidur.


BRAKK BRAKK BRAKK


Tangisan sang putra sama sekali tidak membuat Isabella berhenti. Wanita itu justru malah menghancurkan seisi kamar.


Dengan cepat Justin mengangkat tubuh kecil baby Fero, membawanya berlari menuju kamar Jeven.


"Ayah?" Kaget Jeven saat sang ayah mendobrak paksa kamarnya.


"Jaga adikmu sebentar"


"Ada apa ayah?"


BRAKKK BRAKKK


Belum sempat Justin menjawab, suara kencang yang berasal dari kamarnya kembali terdengar.


Jeven menatap sang ayah khawatir. Dimana bundanya? Apa yang terjadi?


"Ayah titip adikmu, bantu redakan tangisnya. Ayah harus mengatasi bundamu dulu"


"Tapi--"


Justin berlari keluar, kembali menuju kamarnya dan sang istri. Rahangnya mengetat, menandakan amarahnya yang mulai naik.


Belum masuk kedalam kamar, langkah Justin terhenti. Karena tepat dihadapannya kini ada Blood of Phoenix yang seolah siap menusuknya.


Pedang putih dengan ukiran burung Phoenix itu melayang dengan posisi bagian ujung yang menghadap kearah wajah tampan Justin.


Seperti siap menghabisi nyawa tuan Scander kapan saja.


Justin memejamkan matanya sebelum kembali membukanya. Menatralkan emosinya. Mengahadapi sang istri yang dalam situasi seperti ini harus menggunakan hati, bukan otak.


"Apa yang ingin kau tau dariku?" ucapnya dengan tenang.


"Dimana kalung milik Aldre?"


"Masih ada padaku"


"Apa hubungannya kalung itu dengan 'itu'?" tangan Isabella masih terangkat, mengendalikan pedang putih itu.


Justin menatap kedua bola mata favoritenya itu lekat. Rahasia yang coba ia sembunyikan justru akhirnya terbongkar.


"Kau bohong! Kau bohong padaku, boo. Kenapa?" air mata luruh dari kedua netra dark grey itu.


"Bee...."


"Go away! Go away from me!!!"


"Bertahun-tahun aku memegang janjiku padamu! Ini balasan mu?! "


Tangisnya tak lagi bisa ia bendung. Bertahun-tahun ia menjaga janjinya untuk tidak lagi berbohong tentang apapun. Tapi suaminya justru menghancurkan segalanya.


"Akan aku jelaskan semuanya" Justin berusaha mengambil langkah untuk mendekat. Tapi semakin ia berusaha, semakin dekat juga pedang itu padanya.


"Biarkan aku bicara bee. Aku mohon...." Ucap Justin lagi. Raut wajahnya sirat penuh permohonan.


"Pergi!!"


"Bee..."


"Go!!!!"


Dengan perasaan kacau, Justin pergi meninggalkan sang istri. Ia ingin menjelaskan semuanya, tapi Isabella terlanjur kecewa padanya.


TRANGGG


Pedang putih yang tadi melayang anggun kini jatuh begitu saja ke lantai, berbarengan dengan tubuh Isabella yang ambruk.


Pandangan netra abu gelap itu kosong, seolah tidak ada cahaya apapun didalamnya. Tapi sungai kecil dipipinya masih mengalir deras.


.


"Apa yang kau pikirkan Galih?" Dion berdiri disamping sang adik yang tengah melamun di pinggir balkon.


"Tidak ada" jawab Galih kalem.


"Kau yakin? Sejak tadi siang kaka perhatikan kamu seperti orang linglung"


Tidak ada jawaban yang Dion dapatkan. Hampir 10 menit ia hanya menatal wajah adik pertamanya itu yang terlihat resah.


"Apa menurutmu.... Selama 6 tahun, hanya hubungan dengan Romanov yang Aldre bangun, ka?" kini Galih menatap kearah Dion.


"Apa maksudmu?"


"Bagaimana jika Aldre membangun hubungan lain yang tidak kalah berbahayanya dengan Romanov? How?"


"Apa kau terlalu banyak pikiran Galih? Kau tidak tau kita tidak boleh lagi berpikiran buruk tentangnya"


"Aku tau tapi--"


"Sudah, lebih baik kau istirahat. Kau pasti kelelahan" Dion merangkul bahu Galih, menuntunnya menuju kamar.


"Ka..."


"Kita bicarakan lagi besok, lebih baik kau istirahat sekarang"


Galih menurut, kemudian masuk kedalam kamarnya setelah mengucapkan selamat.


Dion sangat tau apa yang akan Galih katakan, tapi dia tidak ingin membicarakannya disini. Karena jika sang ayah sampai mendengar, hal itu akan kembali mengganggu kesehatannya.


.


.


Pukul 08 pagi, pesawat Aldre tiba di LAX Airport. Lelaki itu turun dari pesawat dengan para pengawal Yang menunggunya.


Begitu sampai dimobil, Aldre memerintahkan sang supir untuk langsung menuju lokasi yang sudah Kevin kirimkan padanya.


35 menit kemudian mobil Aldre tiba didepan sebuah bangunan usang yang sudah lama tidak terpakai.


Aldre masuk kedalam bangunan itu, diikuti Brendon dibelakangnya. Satu Demi satu anak tangga ia pijaki, hingga kakinya tiba dilantai 3 bangunan.


"Dateng juga yang ditunggu-tunggu" seruan Rion menjadi kata penyambutan yang Aldre terima.


"Bagaimana perjalanan mu, Al?" tanya Verrel yang baru selesai dengan Batang nikotin terakhirnya.


"Good. Kenapa ka Verrel ada disini?" Aldre menelisik penampilan lelaki itu yang tidak pernah berubah. Kalem tapi maskulin.


"Hanya ingin menonton" jawab Verrel santai.


"Ka Maxime tidak akan senang mendengarnya"


"Aku sudah mengatasinya, jangan khawatir" Verrel mengedipkan sebelah matanya menggoda.


"Dia sudah menyerahkan seluruh isi dompetnya pada Maxime, dan kau tau kelanjutannya. Jadi masalah teratasi" timpal Rion.


"Apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanya Verrel. Mata birunya melirik para tikus yang terikat.


"Kalian mendapatkan informasi?"


Kevin menggeleng, "mereka tidak ingin bicara apapun"


"Brendon"


"Ya, sir"


"Cari keluarganya. Mereka pasti menikmati uang curian itu"


"Baik, sir"


5 menit kemudian Brendon menyerahkan tabnya pada Aldre.


"Kalian menyekolahkan anak-anak kalian di Carrtesy?" ranya Aldre mengejek. "Kalian bercanda? Dengan uang hasil korupsi? HAHAHAHAHAHA"


"Kau tidak bisa menyentuh Carrtesy tanpa izin Isabella, Al" ucap Kevin.


"Aku tau. Aku tidak akan menyentuh bangunan itu. It's weekend"


Aldre menatap Verrel. "Bisa bantu aku ka Verrel?"


"Itulah gunanya aku disini" seru Verrel senang. "Berikan tab mu, Brendon"


Brendon menyerahkan tabnya pada Verrel, menunjukan delapan orang remaja yang harus lelaki itu lacak keberadaannya.


Tidak lama bagi Verrel untuk meretas cctv disana. Karena sistem didalam sekolah kerajaan itu adalah ciptaannya dan sang kaka Isabella tentu saja.


"I got it"


"Apa anak buah kita masih berada di Jerman?"


"Masih, sir"


"Kill them!"


.....


T B C?


BYE!


Alurnya kacau banget ya