Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 50



Sudah terhitung tiga hari sejak pengeboman yang Isabella lakukan pada istina Romanov.


Kini baik dirinya dan Aldre, maupun Roxy dan pasukannya. Mereka sama-sama menyiapkan rencana mereka sebaik mungkin, dan memastikan bahwa musuh akan bertekuk lutut dikaki mereka.


Mansion tengah hutan


Lelaki berusia 30 tahun itu terus melangkah mondar mandir di dalam ruangannya. Tangannya terus menerus menempelkan ponsel ditelinga. Mencoba menghubungi seseorang di tempat yang berbeda.


Sudah hampir 15 menit, tapi tidak satupun dari mereka yang dihubunginya menjawab panggilannya.


"Kemana mereka? Kenaa tidak satupun menjawab panggilanku!! "


"Haisshhh!! " Roxy membanting ponselnya kesal, membuat benda pipih itu remuk seketika.


Tok tok tok


"Masuk! " teriaknya.


Pintu terbuka, menampilkan tubuh tegap Metio. "Apa?! " Tanya Roxy sinis.


Metio melangkah masuk tanpa menutup pintu. Wajahnya memandang Roxy datar. "Kau anggota keluarga Romanov bukan? " Tanya Metio. Roxy tersenyum angkuh. "Kau baru menyadarinya? Bodoh! " sinisnya.


"Aku turut berduka cita! " ujar Metio. Roxy menatap sepupu Thomas itu bingung. "What do you mean? "


Metio menyodorkan iPad ditangannya yang menampilkan sebuah laman berita. Roxy menerimanya dengan kasar. Rahangnya mengeras membaca barisan kata dalam berita tersebut.


"Apa maksudnya ini?! " serunya murka. "Apa kau sedang membuat lelucon?! "


Sin, Thomas, dan beberapa anak buah berlari terburu-buru masuk kedalam ruang kerja Roxy. Mereka terkejut dengan teriakan lelaki itu


"Berita itu diterbitkan tiga hari yang lalu, Roxy. Dan pemerintah Rusia sudah mengonfirmasi kebenarannya. Tidak ada yang tersisa disana" jelas Metio.


"Ada apa ini? " Sin menatap bergantian kedua orang itu. Tangannya merampas iPad digenggaman Roxy.


"WHAT THE ****!! " Teriak Sin terkejut. Thomas mendekat mencari tau apa yang terjadi. Ekpresinya sama terkejutnya dengan Sin.


"Romanov tidak memiliki lab didalam istana dasar sialan!! " seru Roxy marah.


Metio mengedikkan bahunya, "mana aku tau, itu rumahmu! " ujarnya santai.


"Ini pasti ulah bajingan Aldre!! Aku yakin itu! "


"Apa kau bodoh? Apa menurutmu Aldre akan melakukan tindakan senekat itu? Hah?! "


"Siapa lagi kalau bukan dia?! "


"Godmother! "


"Aku yakin dia yang melakukan semua ini! Tidak ada orang segila dia didunia bawah tanah! " Metio menoleh pada sepupunya. Tatapannya mengisyaratkan bahwa langkah yang sepupunya ambil adalah kesalahan besar.


"Aku sudah katakan bukan? Kalian pasti akan berhadapam dengannya. Sekarang nikmatilah, aku tidak mau ikut campur"


"Bukankah kau juga akan mati karena menjadi bagian dari kami! " ucap Sin cepat.


"Godmother tidak akan menyentuh apa yang bukan targetnya, nona Forest! Dan aku bukanlah musuhnya. Aku disini hanya mengawasi sepupuku. Jadi aku sarankan siapkan pemakaman kalian dari sekarang! "


Setelah itu Metio berlalu pergi. Seperti sebelumnya lelaki itu akan meninggalkan ketiganya setelah selesai berbicara.


Thomas memggerak gerakkan jarinya gugup. Ia ingin sekali mengikuti perkataan sepupunya, tapi Roxy pasti tidak akan membiarkannya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


BRAKKKKK


ARRRGHHHHH


"Tentu saja diruang bawah tanah"jawab Sin cepat.


Roxy melangkah cepat menuju ruang bawah tanah, diikuti Sin, dan Thomas. Tangannya meraih tongkat baseball disebalh pintu.


Mereka tiba di tempat kumuh dan menjijikan itu. Suara ketukan tongkat pada tanah membangunkan Carissa yang tengah tertidur. Matanya bergetar takut melihat Roxy yang berdiri didepan selnya dengan sebuah tongkat besar.


"Apa yang ingin kau lakukan Roxy? " Tanya Sin cemas. Roxy menyeringai, gadis didalam sana sangat cantik sebenarnya dan cukup membangkitkan gairahnya. Tapi amarahnya jauh lebih besar saat ini.


Carissa merapatkan tubuhnya pada tembok begitu anak buah Roxy membuka pintu sel. Tubuhnya bergetar ketakutan.


"Apa kau takut cantik? " Tanya Roxy dengan suara yang menyeramkan. Carissa menatap Sin, meminta pertolongan.


"Roxy!!! Aku membawanya kesini bukan untuk kau siksa sialan!! Jauhkan tongkatmu bajingan!!! " seru Sin dengan nada tinggi.


Roxy tertawa keras. Suaranya membuat bulu kuduk merinding. Langkahnya semakim dekat kearah Carissa. "Sin.... Tolong aku.... Aku mohon..... " ucap Carissa.


AKKKKHHHHH


Teriakan kesakitan Carissa terdengar nyaring begitu tongkat besar itu menyentuh tubuhnya.


"ROXY!!!! " teriak Sin.


"ROXY BERHENTI!!! KAU GILA HAH!!! " Thomas tidak menyangka bahwa lelaki itu tenyata seorang psikopat.


Roxy tidak mengindahkan keduanya, tangannya terus mengayunkan tongkatnya lebih keras.


Kondisi Carissa begitu mengenaskan, tubuhnya penuh dengan darah. Dan sudah bisa dipastikan bahwa seluruh tulangnya remuk.


Sin menatap ngeri tubuh Carissa yang tak berdaya. Wajih gadis itu bahkan sudah tak terlihat akibat darah yang mengalir dari kepalanya. Begitupun Thomas yang memalingkan wajahnya tak tega.


Nafas Roxy terengah. Tangannya kembali terayun, kali ini ia akan memastikan bahwa gadis dihadapannya ini mati. Sebagai ganti nyawa seluruh keluarganya.


Belum sempat tongkat besar itu terayun, gerakan Roxy terhenti oleh sebuah auman keras. Auman itu terus bersahutan.


"Suara apa itu? " Tanya Roxy.


"Sepertinya itu auman seekor harimau, bos"


"Harimau? Tidak ada harimau dihutan ini sialan! "


Suara auman itu semakin dekat dan terdengar semakin keras. Seolah berada tidak jauh dari mereka. Tidak lama kemudian disusul suara teriakan yang bersahutan.


Metuo berlari masuk, menarik lengan sepupunya. "Ayo pergi Thomas, kau bisa mati jika terus disini! " serunya panik.


"Ada apa? " Thomas menatap Metio bingung. "Ada dua ekor harimau dan seekor singa besar menyerang mansion ini" ucap Metio dengan suara bergetar.


"A-apa?! "


"Ayo pergi!! " Metio menarik lengan Thomas menuju pintu belakang yang tak jauh dari tempat mereka.


Sin mengikuti keduanya, begitupun Roxy yang membanting tongkatnya ke lantai lalu menyusul mereka.


Tepat setelah mereka keluar, kedua harimau, dan seekor singa besar itu masuk. Carissa yang masih setengah mencoba mengayunkan kepalanya, bibirnya tersenyum lemah begitu mengetahui siapa ketiganya.


"Hai boy... " panggilnya.


.....


T B C?


BYE!