Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
126 | HARI PENYERANGAN



Hari penyerangan.


Segala macam persiapan sudah selesai dilakukan sejak pagi tadi, siang ini seluruh pasukan kembali memeriksa persiapan agar tidak ada yang kesalahan nanti. Penyerangan ini harus berjalan sempurna atau akan menjadi pembuka bagi masalah berikutnya.


Tubuh tegap Justin bersandar pada pintu ruang penyimpanan bawah tanah. Netra hazelnya terpaku pada satu objek yang sama sejak satu jam yang lalu, sang putra Jovan Scander. Justin bisa melihat seberapa miripnya Jovan dengan istrinya, Isabella. Anak itu menuruni sikap teguh dan tenang bundanya, tidak mudah terusik dengan hal sekecil apapun tapi begitu teliti dalam segala hal.


"Perasaan yang sama yang pernah ayah rasakan bertahun-tahun lalu, kini kembali ayah rasakan karenamu nak. Ayah tidak bisa lagi melarangmu jika ini jalan yang kau pilih, ayah akan tetap mendukungmu Jovan" gumaman lirih keluar dari bibir tipis itu.


Jovan yang merasa diperhatikan menoleh kebelakang, senyumnya tampil membalas senyuman sang ayah yang Jovan yakin, ayahnya itu pasti sudah sejak tadi memperhatikannya.


Jovan kembali fokus pada pekerjaannya. "Keputusan yang tepat ka Justin" Saka berseru dari samping tubuh Justin.


"Sebenarnya tidak ada pilihan lain karena kalian terus menceramahi ku hal yang sama" cibit Justin.


"Hahaha, tidak sia-sia usaha kami menekan egomu yang seluas langit"


"Sialan"


.


.


"Sudah dapat kabar dari suamimu, princess?" Sofia berdiri disebelah Isabella yang sedang mengawasi putri bungsunya bermain dengan Trio biggest.


"Hari ini mereka akan melakukan penyerangan, mah. Ada apa? Mamah khawatir?" Isabella menatap mamahnya lembut


"Tentu saja mamah khawatir, mamah tidak sudi menjadi janda diusia tua" Sofia mendengus.


Kekehan kecil keluar dari bibir Javin yang berjalan kearah mereka. "Tenanglah mah, papah akan pulang dengan selamat. Kita harus percaya itu" ucapnya menenangkan.


"Semoga papahmu baik-baik saja"


Kali ini gantian Isabella yang mendengus. "Paling papah bertemu Laxo lagi. Pertarungan mereka adalah pertarungan paling tidak berguna didunia" ujarnya ketus.


"Laxo? Pemimpin Mafia yang menduduki kursi nomor satu musuh terkuat papah maksudnya?"


"Siapa lagi? Memangnya ada berapa musuh papah yang bernama Laxo!"


Sofia ingat sekarang siapa yang dimaksud putrinya. "Mamah ingat dulu saat mamah dan papah baru menikah, dia datang kerumah untuk mengucapkan selamat. Mamah cukuo terkejut saat paman Jieun mengatakan bahwa dia adalah musuh papahmu, tapi wajah papahmu terlihat santai dan tidak perduli"


"Dia datang untuk mengucapkan selamat?" Tanya Javin.


Sofia mengangguk. "Ya, walau akhirnya dia malah bergibah dengan pamanmu dan yang menjadi bahan pergibahan mereka adalah papahmu"


"HAHAAHAHAHA" Javin bisa membayangkan wajah kesal sang papah saat itu.


"Oh, bagaimana dengan Galih?" Topuk berganti. Javin kini bertanya tentang Galih yang terlihat semakin murung.


"Gengsi" jawab Galih singkat.


"Gengsi?"


"Ya abang tau kan gengsi Ge segede beban negara?"


"Ohhh hahahaha"


"Aww!!!"


Isabella meringis ketika merasakan sakit akibat lemparan benda dibelakang kepalanya. Wanita itu menoleh dengan raut kesal, siap menghajar siapapun pelakunya. Namun sedetik kemudian menampilkan cengiran tanpa dosanya.


"Selamat pagi, Ge" sapa Isabella dengan senyum lebarnya.


"It's 11pm" jawab Galih ketus.


"Oh? hehehe"


Galih berbalik memilih kembali masuk kedalam rumah. Moodnya kacau mendengar perkataan sahabatnya. Ya walaupun memang benar dirinya belum memaafkan suaminya bukan karena masih marah, tapi karena gengsi.


Sofia menyikut pinggang putrinya membuatsi si empu meringis main-main. "Kamu tuh kebiasaan"


"Tapi emang bener kan? Gengsinya ge lebih tinggi dari egonya ka Justin. Eehh tapi enggak deh sama aja" saut Isabella santai.


"ISABELLA!!!"


Isabella melotot panik. "Iya Ge I love you!! Galak banget" lirihnya diakhir kalimat.


"HAHAHAHAHA"


"Rasakan itu!"


Ara keluar dari lift dengan langkah pelan. "Ka Galih" sapanya begitu berpapasan dengan Galih didepan tangga.


Galih menatap Ara dengan sesama dari atas hingga bawah, meniti penampilan gadis itu. "Kamu ini tidak bisa diam ya? Kehaliman mu masih muda masih rentan, seharusnya kamu diam didalam kamar" omelnya.


Binir Ara mengerucut, matanya bergulir didalam kamar. "Aaahh ka Galih, Ara bosan didalam kamar" rengeknya.


"Keras kepala. Mau kemana?"


"Ke taman, berjemur"


"Berjemur apa jam segini?! Itu namanya kau memanggang diri"


"Issshh ka Galih marah-marah terus. Kangen ka Kevin ya?" Ujar Ara dengan ekspresi menggoda sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Hihihihi"


"Gengsinya ka 5000$ gengsi gengsi" teriakan Carissa terdengar dari arah pintu masuk. Gadis cantik itu tak sengaja mencuri dengar percakapan Ara dan Galih.


"Dijual gengsinya...gak bisa nego ya sudah harga limit soalnya. Gengsi yoo gengsi" teriak Carissa lagi.


Wajah Galih memerah, bibirnya membentuk garis lurus. "CARISSAAAAA"


"KABORRRRRR"


"Hihihihi"


"Bocah asu"


"Issshh ka Galih kasar"


"Bodo amat"


.


.


"Kalian sudah siap? Kita akan berangkat beberapa jam lagi" ucap Revan.


Yang lainnya mengangguk kecuali Kevin. Lelaki itu menatap ponselnya nanar, Galih masih belum mau berbicara dengannya. Lelaki manis itu berkali-kali meriject panggilannya didering pertama.


"Hahh" desah putus asa Kevin terdengar keras. Jovan yang duduk disebelahnya menepuk pelan bahu lebar Kevin.


"Fokus daddy. Rencananya akan kacau jika daddy seperti ini. Ingatkan aturannya? Jangan campurkan misi dan masalah pribadi!" Ucap Jovan dengan tegas.


Kevin sedikit terhenyak, dirinya sedang dalam menjalankan misi bagaimanapun masalah pribadinya dengan sang istri tidak boleh menghambat misinya.


"Daddy mengerti, terima kasih Jovan dan maaf, daddy akan mulai fokus sekarang" balasnya.


"Good man"


"Anak itu makin mirip dengan bundanya" gumam Revan yang masih bisa didengar oleh Devan dan Justin yang duduk tak jauh darinya.


"Kau terlihat lebih tenang Justin" ujar Devan.


Justin memasang senyum miringnya. "Kau tidak berpikir aku akan depresi bukan?" Balasnya sinis.


Devan tersenyum geli. "Berlebihan jika aku berpikir seperti itu. Aku berpikir kau mungkin akan segila saat Isabella dulu"


"Cih"


Rion dan Saka menatap interaksi Jovan dan Kevin dengan seksama, mereka merasa dejavu.


"Apa menurut kalian Jovan akan semenyeramkan ka Bella?" Tanya Aldre tiba-tiba.


Hening, tidak ada jawaban. Setelah lama terdiam Rion akhirnya bersuara. "Jika Isabella bisa melampaui paman, mungkin Jovan juga bisa melampai dirinya atau mungkin tidak"


"Aku begitu ingin menjadi murid ka Bella dulu, tapi melihat Jovan sekarang harusnya aku bersyukur karena masih menjadi waras" seru Aldre lagi.


Saka menendang tulang kering Aldre dengan penuh perasaan, membuat yang lebih muda meringis kesakitan.


"Ada apa denganmu?!" Seru Aldre sewot.


"Kau menyindirku sialan!"


"Aku tidak mengatakan apapun tentangmu, Saka Rosbern! Apa teman-temannya ka Daniel tidak ada yang waras?!"


DAKK!!


Saka kembali menendang Aldre untyk yang kedua kalinya. "Aiiisshhh ada apa denganmu pria tua?!"


"Pertama kau menghinaku dan sekarang kau kembali melakukannya!"


"Sudah kukatakan aku tidak mengatakan apapun!"


"Kau mengatakan bahwa menjadi murid ka Bella bisa menghilangkan kewarasan dan aku adalah muridnya! Dan yang kedua, kau bilang teman-temannya Daniel tidak ada yang waras! Kau yang tidak waras sialan!!" Saka berucap dengan emosi yang menggebu-gebu.


Aldre speechless. "Ouh.....? Hehehe"


"Haha hehe haha hehe! Bocah Sialan!!"


Saka sudah bersiap akan menendang kembali kaki Aldre tapi Rion lebih dulu menahannya.


"Sudah bodoh! Kau membuang-buang energimu!" Lerainya.


"Salahkan bocah sialan itu!" Tunjuk Saka pada Aldre yang menurutnya menampilkan wajah songong. Padahal lelaki itu hanya menampilkan senyuman menyebalkannya.


"Sudah-sudah, meladeninya sama dengan kau tidak waras sepertinya"


"Sialan!" Umpat Aldre.


.....


T B C?


BYE!