Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 13. KEPULANGAN CARISSA (REVISI)



Seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang di curly dibagian bawah, menyeret sebuah koper besar, keluar dari terminal kedatangan bandara. Kaki jenjangnya yang dibalut heels, berjalan dengan anggun. Kacamata hitamnya ia lepaskan, matanya mengedar mencari sosok yang menjemputnya.


Senyumnya terbit begitu yang ia cari ketemu dengan sebuah bener besar. Kekeahan kecil keluar dari bibirnya, tidak tahan dengan tingkah laku sang kaka.


Seorang anak kecil berusia 8 tahun berlari kearahnya, dengan cepat gadis itu menyambutnya dan memeluknya erat. "Bibi, Vania kangennn. " ucap bocah itu manja.


"Ohhh, keponakan bibi yang cantik, bibi juga kangen. Kamu sudah semakin besar sekarang. " balasnya. Gadis kecil itu terkikik geli, karena sang bibi terus menciumi wajahnya.


"Carissa.. " suara lembut seorang wanita membuat kedua orang itu menoleh. Gadis bernama Carissa itu tersenyum, berjalan menghampiri kaka iparnya. "Ka Sena, kangennnn. "


Sena balas memeluk lebih erat, "kaka juga, kamu sehat kan? " Tanya Sena. Carissa mengangguk, "sangat sehat. "


"Ohhh, aku baru sadar. Hei siapa ini? " Carissa terpaku pada bayi didalam kereta dorong. Wajanya yang menggemaskan dan pipi tembemnya membuat gadis itu gemas seketika. "Namanya Jieun. "


"Jieun? Hai sayang, ohh come to aunty. Ohhh, tampannya. " Jieun sangat penurut, anak itu tidak rewel meski disentuh orang baru, persis sang kakek.


Carissa baru tersadar sesuatu, kepalanya menoleh kanan kiri, lalu tertawa pelan. Dia melupakan sosok sang kaka, lelaki itu hanya mengedarkan kepalanya karena merasa diabaikan. "Gausah diinget, cuma pajangan disini. " Sindir Jason.


"Aahhh, kaka jangan ngambek gitu dong. Sini peluk, kangen tauuu. " gadis itu menghampiri setelah meletakkan kembali bayi mungil itu kedalam keretanya.


"Gak usah, gak usah cuma pajangan disini ka. Hiraukan aja hiraukan. "


"Apasihh papih, ambekan. " Vanian meledek sang papih, membuat lelaki itu mendelik pada putrinya.


"Udah-udah ayo pulang, mamih dan yang lain sudah menunggu. " Sena melerai, mereka harus segera pergi dari sana karena mereka sudah menjadi pusat perhatian.


.


Didalam kamarnya Ara tengh berteriak kegirangan, gadis itu sampai melompat - lompat diatas kasur.


Tadi kaka sepepunya, Sena mengirimi pesan bahwa sahabatnya, Carissa akan kembali hari ini. Dia sangat merindukan sahabat kecilnya itu, hampir 5 tahun mereka tidak bertemu. Rasanya pasti akan sangat lengkap jika sahabatnya, Sin juga ikut pulang.


Tiba-tiba Ara terdiam, bahunya melemas, apakah mereka masih marah padanya seperti Aldre? Bagaimana jika mereka belum memaafkannya. Gadis itu terduduk lemas, matanya berkaca-kaca.


"Bagaimana jika mereka tidak mau bertemu denganku? Hahh, padahala aku rindi sekali dengan Sin dan Carissa. Huftt.. " bibirnya mulai bergetar, dengan susah payah Ara menahan tangisannya.


Bendungan kecilnya tidak cukup mampu menahan bobot air matanya, dalam sepersekian detik suara isakan lirih itu terdengar. Kepalanya menunduk, tubuhnya bergetar, sungai kecil mulai mengalir dikedua pipi tirusnya.


"Al-- maaf--- maafkan aku Al. Carissa, Sin, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi hiks hiks. "


.


"Kaka sudah memberitahu Ara tentang kepulanganmu Carissa. " perkataan Sena membuat semua orang terdiam, begitupun Carissa yang tengah bermanja dengan sang ibu. Gadis itu menegakkan badannya, wajahnya berubah datar.


"Kaka mengerti jika kau dan Sin masih marah padanya. Tapi kepergian kalian sudah cukup untuk menghukumnya. " lanjut Sena lagi.


"Tidakkah dia berhak mendapatkan kesempatan? "


"Sena!! " Jason memperingatkan sang istri untuk berhenti. "Dia tidak sepenuhnya salah, kalian harus mendengarkan penjelasannya. "


"Apa yang tidak salah ka? Ohh, kaka adalah keluarganya jelas kaka akan membelanya. " kesal Carissa.


"Sudahlaha, aku gak mau bahas ini, aku baru pulang dan kaka mencari masalah. "


Carissa bangkit, hendak pergi menuju kamarnya. Baru beberapa langkah, ucapan Sena selanjutnya membuat gadis itu mematung.


"Dia depresi Carissa. Dokter mengatakan bahwa mentalnya terguncang, dia diagnosa mengidap DID. "


Semua orang terkejut, Jason menatap sang istri tidak percaya. "Kau bercanda, dia hanya terkena Anxiety, Sena! "


Sena menggeleng kencang, "tidak ka-- Keluargaku merahasiakan hal ini. Ka Galih sendiri sudah membuktikannya, Erick dan ka Galih berkomunikasi bergantian dengannya saat Ara masih dikurung di penjara bawah tanah Phoenix. "


"Ka Galih bilang, suara, warna mata, tatapannya, tingkahnya, dan bagaiman dia tertawa itu bukanlah Ara. Ada lebih dari satu dalam tubuhnya ka. Kita tau bahwa Ara memiliki warna mata papah, Biru. Tapi yang ka Galih temui memiliki warna seperti ka Justin dan yang ditemui Erick, memiliki warna mata hijau sepertinya. " Jelas Sena.


Semuanya kembali terdiam, tidak ada satupun yang membuka suara. Carisaa berlari menuju kamarnya, gadis itu menangis kencang begitu menutup pintu.


Jason menatap tajam sang istri, tidak seharusnya dia membahas hal itu sekarang. Adiknya baru saja kembali, kenapa istrinya ini tidak sabaran.


Sena menunduk mendapat tatapan tajam dari suaminua, wanita itu jelas sadar kesalahannya, tapi dia sungguh tidak sabar dengan keadaan mereka, mulutnya lepas kontrol untuk tetap diam.


....


T B C?


bye !


sisi cantik Carissa Alexander 🥰