
Sin dan Darren saling pandang, tidak ada satupun suara yang keluar dari keduanya, mereka menunggu Isabella untuk berbicara. Wanita itu saat ini sedang menerima telpon dari sang suami yang jika Sin tidak salah dengar, sepertinya ka Justin tidak tau kemana istrinya pergi.
Beberapa menit kemudian Isabella selesai dengan telponnya, lalu bergabung dengan dua kakak beradik yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Bicara sekarang aku sudah tidak tahan menunggi lagi" cecar Darren tak sabaran.
Isabella memutar bola matanya jengah. "Bereskan barang-barang mu Sin. Masa hukuman mu ditangguhkan, kau akan dipindahkan kembali ke LA tapi masih dalam pengawasan kami" Isabella berucap dengan cepat.
"Hah?!" Darren dan Sin berteriak kompak. Apakah telinga mereka tidak salah dengar? Benarkah masa hukumannya ditangguhkan? Tapi ini bahkan belum setahun jika tidak dihitung waktu rehabnya.
"Ka Bella se-serius?" Tanya Sin memastikan. Isabella mengangguk. "Kau bisa mulai mencicil barang-barangmu, kita akan kembali lusa"
"Tapi kaal berikutnya akan datang minggu depan, Isabella" ucap Darren.
Sebelah alis Isabella terangkat. "Kau lupa siapa suamiku?" Serunya dengan nada sombong yang kentara.
"Oh iya juga. Aku lupa kau istri seorang Trillionaire" balas Darren sarkas.
"Itu kau tau. Jadi tolong jangan dilupakan ya"
"Sombong amat" Sin menyahut ketus.
"Berisik! Bereskan saja barangmu!" Lagi. Isabella selalu mengeluarkan kata-kata andalannya, Berisik!
"Kaka bantu kamu beres-beres ya" Darren mangajukan diri untuk membantu membereskan barang-barang sang adik, yang dibalas anggukan setuju oleh Sin. Sedangkan Isabella tidak perduki dengan apa yang dilakukan keduanya, memilih bersantai dengan segelas es teh manis kesukaannya.
"Ka, berarti Sin bisa bertemu Ara dan Carissa kan?" Binar bahagia terpancar diwajah Sin. Dirinya sudah sangat tidak sabar untuk bertemu kedua sahabatnya.
"Tentu saja sayang. Dan Sin harus tau satu hal--"
"Apa itu?"
"Ara sudah melahirkan kemarin"
"Benarkah? Aaaaa akhirnya Sin bisa gendong dede bayi" Sin memekik bahagia. Meraih tubuh sang kaka untuk ia peluk dengan erat.
"Setelah ini, perbaiki semua yang sudah kamu rusak ya? Dan jangan kembali merusaknya karena kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk memperbaikinya lagi"
Darren menatap wajah Sin lekat. Sorot matanya menyiratkan sebuah harapam besar.
"Sin janji ka. Sin akan memperbaiki semuanya dan berubah menjadi lebih baik" ucap Sin dengan penuh keyakinan.
"Itu baru adiknya Darren Forins"
"Hihihi"
Satu jam sebelum makan siang Darren dan Sin keluar dari kamar Sin. Keduanya memutuskan untuk menyudahi kegiatan beberes mereka mengingat sebentar lagi waktunya makan siang. Lagi pula mereka sudah mengemas hampir setengah dari barang-barang Sin, jadi tidak perlu terburu-buru untuk menyelesaikan sisanya.
"Cepat sekali" celetuk Isabella yang tengah berbaring diatas sofa sambil menontkn tv.
"Belum semua ka Bella, aku akan melanjutkannya lagi nanti" jawab Sin.
Isabella mendongak, menatap dua saudara yang berdiri ditengah ruangan. "Kau tidak berniat membawa seisi rumah ini bukan?" Serunya penuh selidik dengan masa memicing.
Darren mendengus kesal mendengar pertanyaan konyol sahabatnya ini. "Tentu saja tidak wanita tua! Sin hanya membawa beberapa pakaian saat berangkat kesini, jadi dia membeli banyak barang begitu tiba disini"
"Membeli barang?"
"Mm. Ada pasar tak jauh dari sini"
"Wahh benarkah? Ayo kita ke pasar" Isabella berseru antusias.
Mata Sin mengerjap cepat. Apa tadi katanya? Ayo ke pasar? Wahhh memang agak lain wanita satu ini.
Darren memandang sahabatnya itu heran. "Cuma kau istri seorang Trillionaire yang seneng main kepasar"
"Memangnya kenapa? Pasar itu lebih seru daripada mall" ujar Isabella kalem.
"What the ****?!"
"Wahhhh wanita ini memang impressive"
"Pppffftt. Jadi kapan kita ke pasar?"
"Nanti malam aja ka Bella, biasanya suka ada Beach food kalau malam" jawab Sin.
"Beach food?"
"Street food sih sebenernya, cuma karena ini pantai disebutnya Beach Food"
"No problem. Yang penting banyak jajanan. Dah, sana masak aku lapar" Isabella mengangkat setelah tangannya membuat gerakan mengusir, lalu kembali membaringkan tubuhnya diatas sofa.
"Dasar tamu gak tau diri" umpat Darren.
"Nyenyenye"
Seperti yang dikatakan Sin siang tadi, bahwa setiap malam dipasar ada Beach Food Night atau jajanan malam pantai. Dua wanita dan satu ptia itu tiba didepan pintu pasar. Baru sampai depan pintunya saja beberapa aroma berbagai macam makanan tercium begitu harus, apalagi jika masuk kedalam, dan berkeliling.
Netra abu gelap milik Isabella berbinar melihat banyanyka stand makanan yang berjejer rapih. Tidak hanya seafood atau makanan khas laut yang tersedia, ada beberapa kedai hotdog, dan makanan lain yang biasa ditemui dikota.
"Oh my good. Aku akan berpesta malam ini" Isabella berjalan lebih dulu, meninggalkan kaka beradik yang masih mematung didepan pintu pasar.
"Sin mau beli gurita bakar aja" jawab Sin kemudian bangkit dari duduknya untuk berjalan ke stand penjual gurita bakar tak jauh darinya.
"Belikan dua untukku" Isabella menyerahkan beberapa lembar uang 1000$ pada Sin.
"Kaka mau apa?" Tanya Sin pada sang kaka.
"Kaka mau chicken hotdog aja" jawab Darren. "OK. Tunggu bentar ya"
Darren ingin terkejut dengan wanita dihadapannya ini, tapi masalahnya dia adalah Isabella Courtland, bukan sekali dua kali bagi Darren melihat ibu enam anak itu seperti ini. Lihat saja, baru beberapa menit disana Isabella sudah menggenggam lebih dari 10 kantong jajanan ditangannya. Belum termasuk yang sudah lenyap kedalam perutnya.
"Apa?"
"Sudah bertahun-tahun tapi porsi makanmu tidak berubah juga"
"Kenapa memangnya?"
"Ya tidak apa-apa. Tapi perhatikan sekelilingmu, mereka memandangmu sejak tadi"
Isabella mengikuti perkataan Darren menatap sekitarnya. Semua orang mentapa kearahnya, mereka takjub melihat seorang wanita cantik dengan porsi makan yang luar biasa. Walau begitu, Isabella tidak perduli dengan pandangan orang-orang, lebih tepatnya ia tidak perduli dengan apa yang orang pikirkan tentangnya.
"Biarkan saja. Mereka punya, jadi bebas melihat apapun yang ingin mereka lihat"
Darren mendesah lelah. "Kau yakin itu akan habis?"
"Kau meragukanku?"
"Siapa yang bisa meragukan Isabella Courtland memangnya?"
Isabella kembali fokus pada makanannya, sedangkan Darren fokus pada ponselnya. Pria itu sedang bertukar pesan dengan anak an istrinya.
"Kau tidak memberitau siaapun jika aku ada disini bukan?"
"Tidak penting"
"Sialan!"
"Kkkkkk"
10 menit kemudian. Darren meletakkan benda pipih kesayangannya ketas meja. "Waaahhh" seruan kerasnya muncul begitu melihat banyaknya tumpukan kantong makanan diatas meja. Dan yang lebih hebatnya, semua kantong itu sudah kosong seolah isinya sudah lenyap.
"Memang bukan maen wanita ini" serunya menatap sahabatnya itu tak percaya. Sedangkan yang ditatap bersikap tidak perduli.
"Apa kau masih lapar?" Tanya Darren. Berharap dirinya mendengar jawaban tidak.
"Apa tidak ada nasi disini?" Isabella berujar dengan santai. "Benar-benar. Memang salah mengajakmu kesini"
Isabella bangkit setelah matanya menangkap sebuah stand makanan yang sepertinya terlewat olehnya. Entah berapa kali lagi Darren harus mengeluarkan kata wah dari mulutnya.
"Aku rasa dia bisa menghabiskan semua makanan ditempat ini"
Beberapa menit kemudian Isabella kembali bersama seorang lelaki muda yang bisa Darren tebak adalah pemilik dari stand yang barusan wanita itu datangi.
Pria itu meletakkan sebuah nampan yang berisi tiga mangkuk yang terbuat dari batok kelapa. Aroma lezat menubruk masuk indera penciuman Darren begitu salah satu mangkuk diletakkan dihadapannya.
"Silahkan dinikmati" ucap pria muda tersebut ramah dan diiringi senyum manis.
"Terimakasih"
"Apa ini?" Tanya Darren pada Isabella setelah pria muda itu pergi.
"Sup seafood. Aku sudah mencoba tasternya, dan ini sangat lezat"
"Bukankah kau alergi udang?"
"Tentu saja tidak ada udangnya bodoh"
"Santai dong"
"Waahhhh, apanih?" Sin tiba dengan lima kantung jajanan ditangannya. Salah satunya berisi tiga gelas minuman.
"Pantes lama" seru Darren.
"Aku cukup terkejut penduduk pantai seperti mereka masih menggunakan plastik"
"Tidak perlu khawatir ka Bella. Sampah plastiknya akan langsung mereka hancurkan jadi tidak perlu khawatir akan mencemari laut"
"Dibakar?"
"Mm. Tapi ada proses lain setelah dibakar. Sin tidak tau, karena tidak pernah melihat langsung"
"Bagus kalau begitu.Setidaknya lautnya akan baik-baik saja. Nah makan sup mu, ini sangat enak"
.....
T b c?
Bye!