Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 66



Rumah sakit


Sena tengah menyuapi Carissa makan siang. Gadis cantik itu sempat menolak untuk makan karena menunggu kedua sahabatnya.


Semalam kaka sepupunya, Justin mengatakan bahwa kedua sahabatnya akan menjenguknya pagi ini. Tapi hingga jam makan siang kedua orang itu tidak kunjung muncul.


"Jangan cemberut terus, putri kecil" tegur Sena. Sejak tadi ekspresi kesal Carissa dan bibirnya yang mengerucut tidak kunjung hilang.


Carissa menatap sebal kaka iparnya. "Mereka mungkin ada sedikit urusan, sayang"


"Urusan apa? Bercinta? " sahutnya kesal.


"Carissa! " Sena mendelik mendengar perkataan adik iparnya.


"Akan aku tendang wajah mereka jika muncul nanti"


"Emang bisa? " goda Sena. Carissa melotot lucu, "kalau gitu kaka yang tendang"


"Iiihhh, berani bayar kaka berapa? "


"Kakaaaaaa"


"Hahaha. Udah ah, kamu tuh. Biarin Ara sama Aldre lepas kangen dulu. Kalau mereka beneran bercinta, kamu kan dapet keponakan juga nanti" lanjut Sena menggoda adiknya.


"Apasih! Ka Sena jelek"


"Hihihi, ngambek. Dasar cewek" Sena meletakkan mangkuk bubur kembali diatas nakas. Kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci tangan.


Carissa menatap tanpa minat kearah tv yang entah sedang menampilkan acara yang dirinya tak mengerti.


Tak lama pintu kamar rawatnya terbuka, Isabella dan Valerie muncul, diikuti Jovan.


"Selamat siang" sapa Isabella.


Valerie berlari kecil kearah sang bibi. Gadis kecil itu beringsut naik keatas kursi. Tanpa bicara kedua tangan kecilnya memeluk tubuh berbalut perban Carissa.


"Bagaimana kabar bibi? "Tanya Jovan sambil meletakkan keranjang buah diatas meja sofa.


"Aku merasa seperti mumi" celetuk Carissa asal. Valerie mengangkat kepalanya, kedua matanya menatap lucu kearah bibinya.


"Mumi menyeramkan. Arie gak suka" suara imut Valerie yang jarang dikeluarkan membuat Carissa histeris.


"Aaaaaaa, keponakan bibi yang imut akhirnya bicara. Ouuuhhh lucunya. Aduhhh aww"


Valeri menatap bingung bibinya yang meringis, padahal sebelumnya gadis itu berseru heboh.


"Nah, rasakan itu! Tidak mau diam! " sembur Sena yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ka Sena, mahhhh"


Suara tawa Jovan yang juga jarang keluar, kini terdengar. Carissa kembali terperangah, mulutnya menganga lebar.


"Wahhh, ka Bella. Anak-anakmu sungguh luar biasa" puji Carissa.


Isabella tersenyum. "Kau lihat aku dan kaka sepupumu tidak banyak bicara, Carissa. Tidak seperti......"


Sena mendengus jelas tau bahwa sang kaka tengah menyindirnya. "Ya ya ya, Sena tau kaka menyindir Sena. Tak usah diperjelas, oke "


"Hahaha. Ouh, Ara gak bareng ka Bella? " Tanya Carissa.


"Dia sedang sibuk membuat keponakan untukmu"


"H-hah? "


Sena menatap adik iparnya tak percaya, perkataan Carissa tadi ternyata sungguhan. "Apa kau cenanyang, putri kecil? "


Jovan menatap kedua bibinya dengan heran. "Kenapa? "


"Tadi bibimu mengumpat bahwa mereka pasti sedang bercinta, mangkannya tidak kunjung datang. Tapi ternyata.... "


"Woahhhh, daebakk"


"Ka Bella tidak marah? " Tanya Carissa hati-hati.


"Inginnya, tapi jika dipikir biarkan saja. Aldre bukan yang pertama menyentuh tubuh Ara, kau tau itu kan? "


"Hahhh, setidaknya mereka tunggu aku sembuh dulu. Kalau kaya gini kan aku gak bisa gangguin" keluhnya.


"Masih bisa bibi" celetuk Jovan. Carissa menatap keponakannya memicing. "Gimana caranya? "


"Kaya gini" Jovan mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikaso rekaman suara, lalu meminta sang bibi berteriak seolah sedang kesakitan.


Carissa menurut, lalu berteriak keras diiringi tangisan. Jovan merekam teriakan sang bibi. Kurang lebih hampir Lima menit Carissa berteriak, gadis itu bahkan membuat beberapa perawat datang dengan wajah panik.


Isabella dan Sena hanya saling pandang. Memandang jengah bibi dan keponakan tersebut. Sedangkan Valerie, anak manis itu hanya menatap polos semua orang.


"Selesai" ujar Jovan senang. "Mau kau apakan rekaman itu? " Tanya Sena penasaran.


"Tunggu 30 menit"


"Hah? "


"Tunggu saja bibi. Kalian akan tau nanti"


Isabella menggeleng, tau apa tujuan putranya. Otak jahil anaknya yang satu ini memang sulit diduga siapapun. Sifat pendiam dan acuhnya hanya topeng.


30 menit kemudian


Pintu kamar rawat Carissa didobrak kencang oleh dua pelaku yang sejk tadi ditunggu pemilik kamar.


Sena dan Carissa tercengang dengan kedatangan Aldre dan Ara yang dalam kondisi berantakan. Keduanya seperti korban perampokan.


"Tepat sasaran" gumam Jovan.


Ara melangkah cepat menuju sahabatnya, wajahnya terlihat begitu panik, sama halnya dengan Aldre yang tak jauh berbeda.


"Carissa! Mana yang sakit? Kasih tau aku mana yang sakit? " setu Ara dengan kepanikannya.


Aldre menatap Isabella, "kenapa ka Bella diam saja? Bagaimana keadaan Carissa? Kenapa dia teriak kesakitan seperti itu? "


Isabella hanya menatap malas keduanya. Kemudian melirik sang putra. Jovan menunjukan aplikasi rekamannya.


"Hahahahahaha" Carissa tertawa keras. Sekarang ia mengerti maksud keponakannya.


"Sudah selesai memproduksi keponakan untuk kami? " Tanya Isabella sarkas.


Ara menuduk malu, menggigit bibirnya gugup. Aldre mengusap tengkuknya yang sama sekali tak gatal. 'Sial ketauan' batinnya mengumpat.


"Kaka terkejut kamu masih bisa berlari, Ara! " ujar Isabella lagi. Semakin menyudutkan adik bungsunya.


Ara menatap sang kaka memelas. "Ka Bellaaa~"


Sebelah alis Isabella terangkat, "kenapa? Kaka hanya bertanya? "


"Aku menunggu kalian sejak tadi! Tapi kalian justru sibuk membuat keponakan untukku?! Luar biasa" Carissa menatapa tak percaya keduanya. Dirinya merasa terhianati disini.


"Aku seperti dihianati! " lanjutnya.


Aldre menatap Carissa cepat, tidak senang dengan apa yang diucapkan gadis itu. "Jangan berbicara seperti itu, Car"


"Tapi itu benar kan? Kalian berpacaran tapi melupakan aku. Setidaknya bantu aku cari pacar"


"Bukannya Vion suka kamu? " goda Aldre. Ia ingat dulu Vion selalu menempel pada Carissa dan mengatakan akan menjadi suami bibinya yang cantik.


Carissa melotot kearah Aldre."Hehh! Gak ya. Apaan sih! Gua gak suka brondong! "


"Jangan ngomong gitu? Nanti kami kaget ketemu dia. Gagah loh sekarang, type idaman kamu banget" sahut Ara. Gadis manis itu mengedipkan matanya pada sang sahabat.


"Ka Bellaaaa~"


"HAHAHAHA"


.....


T B C?


BYE!