
Beberapa hari kemudian, Jeno akhirnya resmi menjadi siswa Cartesy High School. Setelah melewati serangkaian acara penyambutan kedatangan siswa-siswi baru, Jeno dan Geo akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin.
Keduanya kelaparan karena sempat melewati sarapan mereka akibat terlambat bangun.
"Bukankah harusnya kau tidak perlu melewati acara penyambutan?" tanya Jeno. "Kau kan sudah lama disini" lanjutnya.
"Jangan membuat ku kesal ya bajingan! Ini masih pagi" semprot Geo marah.
"Aku kan hanya bertanya, sensi sekali"
"Berkaca pada dirimu beberapa hari kemarin"
Drrrtttt drrrttt
Getaran pada saku celananya mengalihkan atensi Geo dari sahabatnya itu. Cowok itu langsung bergerak cepat meraih ponselnya takut-takut jika sang papah yang menelpon.
Karena sejak dirinya pergi tanpa pamit kemarin dan sang daddy memberitahu kondisi sang papah, Geo bersumpah dirinya tak akan pernah melewatkan telpon dari lelaki paling di cintainya itu.
"Papah?" tanya Jeno yang di jawab anggukan oleh Geo.
Belum sempat dirinya menjawab panggilan tersebut lebih dulu mati. Geo cukup terheran setelah mendapati begitu banyak panggilan telpon dari sang papah. Yang pertama pukul 4 pagi, itu artinya papahnya sudah menelpon sebelum dirinya terbangun.
'Ada apa? Kenapa papah menelpon ku pagi buta?' Pikirnya bingung.
Tanpa banyak berpikir Geo langsung berbalik menghubungi nomor papahnya dan langsung di jawab Galih di dering pertama.
"Halo, pah"
"Geo!!" Seruan keras Galih bisa Geo dengar. "Ada apa? Kenapa papah menghubungiku pagi buta?" Tanya Geo.
"Apa Jeno bersama mu?"
"Ya"
"Geo, papah tau ini tidak mungkin tapi bisakah kamu dan Jeno pulang ke Amerika?"
Kening Geo mengkerut dalam. "Ada apa pah?"
"Ayah dan bunda akan bercerai" jawab Galih cepat.
Mata Geo sontak membola lebar. "Sebentar" setelah mengucapkan itu Geo menoleh pada sahabatnya, yang membuat Jeno balas menatapnya heran.
"Jen, ayah dan bunda akan bercerai" seru Geo. Jeno terdiam, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi apapun.
"Tidak perlu bercerai! Mereka hanya perlu jujur pada anak-anak mereka!" ujarnya dengan suara yang cukup keras dan jelas saja bisa di dengar oleh Galih.
Setelah mengatakan kalimat itu, Jeno berlalu pergi meninggalkan Geo begitu saja. Geo kembali menempelkan ponsel miliknya ke telinga.
"Pah.." panggilnya lirih. "Papah dengar, papah mengerti apa yang harus papah lakukan. Terimakasih sayang" ucap Galih lalu memutuskan panggilan telponnya.
"JEN!!!"
****
"Bagaimana?" tanya Kevin. Galih menatap suaminya sebentar, menghembuskan nafas halus lalu beralih menatap sahabatnya yang juga menunggu jawaban darinya.
"Jeno tidak akan pulang" ucap Galih.
Kedua kelopak mata Isabella terpejam, hatinya terasa begitu sesak. Putranya pasti sangat kecewa padanya.
"Jeno bilang, tidak perlu bercerai kalian hanya perlu jujur pada anak-anak kalian" Galih memberitahukan apa yang Jeno ucapkan kepada semua orang.
Justin menatap penuh harap pada sang istri. Dalam hidupnya, ini kali pertama Isabella memutuskan untuk mengakhiri hubungannya yang dimana kata-kata itu keluar sendiri dari bibir istrinya. Sebelumnya selalu dirinya lah yang mengancam Isabella dengan sebuah perpisahan.
"Dear..." panggil Galih membuat Isabella langsung menoleh ke arahnya. "Keputusan ada di tangan mu" ucap nya dengan suara lembut.
Isabella menggeleng. "Aku tetap ingin bercerai, Ge" kalimat itu mampu membuat tubuh Justin melemas.
"Kenapa?"
"Berkata jujur saja tidak cukup. Jika nyatanya anak-anak memilih untuk mengikuti jejak ku, tetap aku yang akan di salahkan"
"Aku akan tetap pada keputusan ku!"
Galih beralih menatap Justin, wajah lelaki itu begitu pucat dan lemas. Bahkan tubuhnya terlihat lebih kurus dari sebelum nya.
"Persidangan akan tetap memberikan mediasi untuk kalian berdua sebagai jalan terakhir sebelum kalian benar-benar bercerai. Pikirkan lagi keputusan mu, dear" Galih berusaha membujuk Isabella, karena bagaimana pun ia memikirkan bagaimana nasib keponakannya.
"Kau tidak mengerti kata-kata ku, Ge?! Aku meminta mu mendampingi ku untuk memudahkan perceraian ini!! Jika kau tidak bisa membantu, pergi saja dari sini!" Sentak Isabella tajam.
Pikiran wanita itu sedang tidak baik, membujuknya seperti ini bukanlah hal yang tepat.
"Sudah love. Lebih baik kita urus perceraian nya sekarang" Kevin menarik keluar tubuh Galih dari kediaman Courtland. Mengajaknya untuk mengurus perceraian Isabella sebelum wanita itu semakin meledak.
"Bee..."
"Tutup mulut mu!!"
"Biarkan Isabella dulu Justin. Beri dia waktu sampai dia tenang" Patricia mengelus pundak putra sulungnya penuh sayang.
Dirinya tak bisa membantu apapun, karena bagaimanapun ia ikut adil menghancurkan hubungan keduanya dulu yang mengakibatkan hubungan mereka menjadi seperti ini.
'Maafkan mommy nak'
Jika bisa Patricia ingin sekali menangis dan memohon ampun di kaki menantu kesayangannya. Tapi semua penyesalan itu seolah tak berarti lagi. Isabella bahkan menutup diri darinya dan keluarganya.
****
See you!