
Laporan yang Brendon serahkan pagi tadi membuat Aldre murka. Lelaki itu hampir menghancurkan seisi gedung. Tidak ada yang lolos satupun dari amukannya, bahkan office boy yang mengantarkan kopinya pun terkena sapaan indah bos muda itu.
BRAKK!
Tindakan Aldre barusan membuat Brendon yang hendak masuk terkejut. Lelaki itu membuka pintu dengan panik. Dan pemandangan selanjutnya cukup membuat lelaki 26 tahun itu tercengang.
Pasalnya, meja kerja bosnya itu sudah terbalik dengan barang-barang yang semula tersusun rapi diatasnya, kini berserakan dilantai.
"Anda baik-baik saja, sir?" Tanyanya hati-hati.
"Apa menurutmu aku baik-baik saja?!" Ucap Aldre tajam. Meregangkan otot-otot lehernya yang kaku. "Dimana para tikus sialan itu?"
"Mereka tidak terlihat sejak kemarin, sir. Sepertinya mereka sudah mengetahui bahwa anda tau apa yang mereka lakukan"
"Tapi anda tidak perlu khawatir, saya sudah melacak keberadaan mereka" jelas Brendon.
"Kau mendapatkannya?"
"Iya, sir. Mereka akan melakukan penerbangan malam ini ke Amerika dan Eropa"
"TOLOL!!! MANUSIA-MANUSIA TOLOL!!"
Aldre membalikkan badannya menghadap jendela, menatap senja yang mulai tenggelam."Hubungi kaka iparku, minta dia untuk mengatasi mereka"
"Baik, sir. Tapi bagaimana dengan yang di Eropa?"
"Tangkap mereka sebelum mereka berhasil lolos, bawa mereka menuju Amerika!"
"Dan siapkan pesawatku, lusa kita kembali, Brendon. Aku akan menyelesaikan seluruh pekerjaanku hari ini dan besok"
"Baik, sir"
"Masalah ini tidak akan berakhir begitu saja" gumamnya lelah.
Aldre memijat pelipisnya pelan. Kepalanya sedikit pusing sekarang, mungkin sepertinya ia harus makan malam dulu baru melanjutkan pekerjaannya.
Aldre meraih gagang telpon, menghubungi sekretarisnya. "Noya" panggilnya.
"Iya, sir. Apa anda membutuhkan sesuatu?" jawab Noya cepat.
"Pesankan makan malam untukku"
"Anda ingin makan malam apa, sir?"
"Apa saja. Kau tau mana yang boleh dan tidak aku makan disini kan?"
"Tentu, sir"
"Bagus" Aldre kembali meletakkan telpon kantornya.
30 menit kemudian, Noya masuk mengantarkan makan malam Aldre, bertepatan dengan ob yanh keluar setelah merapihkan meja kerja lelaki itu.
Nasi goreng kimchi, dan seporsi pangsit rebus menjadi menu makan malam Aldre di Seoul kali ini.
Noya meletakkan nampan yang dibawanya keatas meja sofa. Tidak lupa dengan sebotol soju.
"soju?" Aldre menaikkan sebelah alisnya, menatap sekretarisnya.
"Saya pikir anda butuh menyegarkan pikiran anda, sir. Kadar alkoholnya seperti yang biasa anda minum, jadi anda tetap bisa melanjutkan pekerjaan anda" Noya menjelaskan maksudnya dengan lugas.
Aldre terkekeh kecil, "tidak salah aku memilihmu menjadi sekretaris" pujinya. lelaki itu mengamati botol soju ditangannya. "Kau tidak memasukkan sesuatu kedalamnya kan?"
"Saya tidak akan berani, sir. Lagipula...." Noya tidak melanjutkan perkataannya, karena sang bos pasti sudah mengerti maksudnya.
"Ya ya ya, aku tau. Kau boleh pergi dan istirahat, noya. Terimakasih makan malamnya"
"Saya akan istirahat setelah pekerjaan saya selesai, sir"
"Kalau begitu kau bisa menyiapkan makan malam bersamanya. Aku akan memintanya untuk kembali"
Noya membungkuk kecil. "Terimakasih, sir. Kalau begitu saya permisi"
"Mm"
.
"Tentu, Brendon. Terimakasih infonya"
"Halo"
"Kenapa? Kangen?"
"Sialan! Dimana lo?"
"Markas. Beneran kangen rupanya"
"Bawel lo ah"
"Sewot amat. Kenapa?"
"Anak buahnya Aldre bakal ngirimin beberapa tikus malam ini. Gua mau lo tahan mereka dulu sampe gua dateng"
"Jama berada mereka sampe?"
"Mungkin sekitar 2 atau 3 jam lagi. Lu urus dulu sebentar, ada hal yang harus gua selesain"
"Bayarannya kaya biasa ya boss. Taukan rekening gua?"
"Sialan!!"
"Hahahaha"
Bibir Kevin mencebik. Dalam situasi serius saja sahabatnya masih bisa bercanda, memang bocah bajingan.
"Ada apa Hubby?" Tanya Galih yang baru saja tiba.
"Anak buah Aldre akan mengirimkan tikus-tikus itu kesini. Tapi Brendon menghubungiku, meminta tolong untuk mengatasi mereka sampai Aldre kembali lusa nanti" jelas Kevin.
"Dia sudah mendapatkannya?"
"Aku harus ke kantor pusat Aldre. Ada sesuatu yang ingin aku cari tau" ucap Kevin.
"Perlukah aku ikut?"
"Tidak perlu, Love. Aku akan segera kembali"
"Ouuhh, bisakah kamu memeriksa kembali data keuangan yang Aldre kirimkan?"
"Tentu"
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu" Kevin mencium singkat kening sang istri, lalu segera beranjak keluar dari kamar.
Galih menatap kepergian suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan. Satu tarikan kecil disudut bibirnya. "Sejak obrolan panjang kita sebelumnya, kau tidak lagi canggung untuk berbicara dengan kami, Al" gumamnya lirih.
.
Kevin tiba di perusahaan Aldre. Langkahnya ia bawa cepat menuju ruang Manajer keuangan. Mengumpat pelan begitu ia tiba disana.
Pintunya terkunci dan membutuhkan akses sidik jari untuk bisa masuk. "Sialan!" umpatnya. Tidak mungkin kan ia turun kebawah dan meminta satpan membukanya.
Kevin terdiam sejenak, menatap lekat layar kecil yang menempel ditembok dengan beberapa tombol. Memutar otaknya bagaimana membuka kunci ruangan ini.
Sedetik kemudian lelaki berbaju lebar itu mengeluarkan ponselnya. Memfoto layar kecil itu, lalu mengirimkannya pada seseorang.
"Bantu gua retas nih kunci" pesan terkirim.
Tidak lama sebuah balasan ia dapatkan. "Sistem siapa ? Gua gak mau retas sembarang sistem"
"Perusahaan Aldre. Ini ruang manajer keuangan, ada sesuatu yang mau gua cari disini" balasnya lagi.
"Ada masalah?"
"Ya. Lumayan gede, bisa kacauin Skholvies Corp"
"Ok, gua bantu. 10 menit"
10 menit kemudian.
Orang yang Kevin mintai bantuan kembali mengirimkannya pesan. Sederat angka cukup panjang membuat Kevin mengernyit.
Kevin menelpon orang itu. "Lo gak salah?"
"Lo liat di layar kecil itu? Ada kotak hitam dibagian bawahnya. Kalo bagian itu lo buka, ada deretan tombol dibaliknya. Selain sidik jari, kuncinya bisa dibuka pake Pin"
"Pin?"
"Mm. Pinnya sederhana, cuma gabungan dari tanggal ulang tahun beberapa petinggi perusahaan. Tapi tanggalnya diacak, jadi agak susah buat nebak"
"Thanks bro"
"Gua tebak ini pasti masalah korupsi?"
"Ya gitulah. Jangan sampe Isabella tau, Aldre gak mau ngerepon keluarga Courtland"
"Gak janji. Lu tau gimana ka Bella dan papah kan?"
"Iya ya gua paham. Kalo gitu gua tutp dulu, sekali lagi thanks ya"
"Santai"
Kevin menutup sambungannya. Mengeluarkan sepasang sarung tangan karet dari saku belakang celananya, dan memakainya dengan cepat.
Lelaki itu membuka kotak hitam yang dimaksud. Benar saja, ada beberapa tombol angka dan tombol lainnya.
Kevin mulai menekan satu persatu angka sesuai yang orang itu kirimkan. Memastikan bahwa ia tidak salah menekan.
Klik
Bunyi pintu yang terbuka membuat kelaki itu tersenyum sumringah. Meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian mendorong pintu dengan pelan.
Tanpa lelaki itu sadari, Aldre tengah memantau kegiatannya dari rekaman cctv yang ditampilkam dilayar laptopnya. "Good job ka Kevin. Kau memang selalu bisa diandalkan" ucapnya bangga.
Kembali pada Kevin.
Lelaki itu mulai menjalajahi seluruh ruangan, memgobrak-abrik setiap tempat tanpa tertinggal. Tidak perduli dengan berkas-berkas yang berserakan. Tujuannya saat ini hanya menemukan apa yang dicarinya.
Hampir dua jam lelaki itu mengobrak-abrik seluruh ruangan. "Sialan! Dimana berkas itu?"
Matanya kembali mengedar keseluruh ruangan. Lalu terhenti pada sebuah lukisan yang tidak terlalu besar yang berada tepat dibelakang meja kerja.
Kevin menurunkan lukisan tersebut. Senyum lebarnya terbit, ada sebuah pintu berangkas dibaliknya.
Kevin menerka-nerka pin dari brangkas hitam tersebut. Mencoba memasukkan pin yang sama dengan pintu.
Klik
Brangkas terbuka. Mengeluarkan semua isi dari Brangkas. Yang ia cari berada didalam sana.
Lelaki itu berjalan kearah mesin fotocopy. Membuka tempat penyimpanan kertas, memeriksa berapa kertas yang ada disana. Jika kertas ini berkurang maka mereka akan mengetahuinya.
Atensinya tertuju pada tumpukan kertas bekas. Mengambil beberapa lembar dan memasukkannya kedalam sana.
Lelaki itu memfotocopy berkas ditangannya menjadi beberapa lembar. Setelah selesai kembali mengeluarkan sisa kertas bekas tersebut, dan mengembalikannya ketempat semula.
Kevin kembali ke tempat brangkas. Mengembalikan berkas tersebut kedalam sana. Menguncinya, dan kembali menempelkan lukisan itu ketempat semula.
Melangkah keluar menuju pintu, tidak perduli dengan kondisi ruangan yang kacau karena ulahnya. Ia segera pergi dari sana.
.....
T B C?
BYE!
PLEASE PLEASE KEHABISAN IDE ðŸ˜