Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 37. KEJUJURAN CARISSA (REVISI)



"Paman"


"Carissa? Kau disini? " kaget Galih. Melihat adik sahabatnya yang kini berdiri didepan pintu kamar sang ayah.


"Ya ka Galih. Semua yang dikatakan ka Darren tadi benar" Carissa bergerak maju, memberanikan diri untuk mendekat. Kedua jari tangannya saling memilin gugup.


"Apa maksud perkataanmu, Carissa? Kamu tau sesuatu? " Tanya Galih bingung.


Gadis cantik itu memejamkan matanya erat, menghembuskan nafas pelan, lalu kembali membuka kedua matanya. Menatap sang kaka, Jason lalu menoleh kebelakang menatap Ara, yang dibalas anggukan keduanya.


"Sin-- Sin yang memperkenalkan Ara pada Thomas, itu benar. Sin menyukai Aldre dan kalian pasti tau bahwa Aldre mencintai Ara" Carissa terdiam sejenak, kemudian kembali melanjutkan ucapannya.


"Sin mendekatkan Ara pada Thomas karena Sin ingin Aldre membenci Ara. Dia sudah pernah mengatakan perasaannya, tapi Aldre menolak dengan tegas dan menjauhinya, itu karena Sin berkata buruk tentang Ara"


"Aldre memperingatkan Ara tentang Thomas, tapi Ara terlalu naif saat itu, jadi dia memilih Thomas daripada kami. Sin-- Sin yang meminta Thomas dan teman-temannya memperkosa Ara, dengan meyakinkan Thomas bahwa Ara hanya akan menjadi miliknya"


PLAKK


Suara tamparan terdengar keras. Jason baru saja menampar adiknya, tepat setelah Carissa menyelasaikan perkataannya. Ara dengan cepat berlari, melindungi sahabatnya.


"Ka Jason!! " teriak Ara. Gadis itu bisa merasakan tubuh Carissa yang mulai bergetar.


"Enam tahun Carissa!! ENAM TAHUN!! APA YANG KAU PIKIRKAN HAH?!! KAMU MEMBIARKAN ARA MENANGGUNG KESALAHAN YANG BUKAN MILIKNYA!! "


"DIMANA OTAKMU?! " Jason murka, tidak menyangka adiknya menyembunyikan hal ini bertahun-tahun.


"KAMU LUPA BAGAIMANA ARA BEGITU MENYAYANGIMU?! DIA MENERIMAMU YANG TIDAK NORMAL DAN MELINDINGIMU DARI MEREKA YANG MENYAKITIMU!! YOU FORGET IT!! " Jason mengamuk, memaki adiknya dengan kasar. Melupakan bahwa adiknya tidak bisa diperlakukan dengan kasar.


"KA!!! " Galih menjerit, berusaha menghentikan sahabatnya itu. "Jangan berbicara seperti itu pada Carissa, ini juga bukan hal yang mudah baginya" ucap Galih menenangkan.


Jason memberontak, menjauhkan Galih darinya. "Tidak mudah apanya? Kalau dia jujur dari awal hal ini tidak akan terjadi!! "


"Kemari Carissa!!! " Carissa menggeleng keras sambil menangis, Ara dengan sigap menarik tubuh Carissa menjauh dari Jason.


"Carissa!!! " bentak Jason. lelaki itu menarik paksa tubuh adiknya.


"JASON!!! " Jason berhenti begitu mendapati atensi kedua kakanya di depan pintu.


"Apa yang kau lakukan Jason?! Tidak begitu caranya berbicara dengan adikmu! " ucap David. Kaka kandung Jason dan Carissa. "Tapi ka? "


"Diam!! "


"Carissa, kemari sayang, kaka ingin bicara"


David menarik lembut lengan adik bungsunya, merapihkan rambutnya yang menutupi wajah. "Beritahu kaka jika Carissa sudah lebih tenang, ok? " ujar David lembut.


Carissa mengangguk dengan tubuh yang masih bergetar kecil. "Maafkan Carissa hiks hiks" isaknya.


"Sssttt it's ok, tenangkan dirimu dulu"


"Kontrol emosimu, Jason" ucap Justin. Jason hanya menunduk, tidak berani menatap kaka sepupunya. Dadanya masih bergemuruh akibat amarahnya yang meledak.


Beberapa menit kemudian tangisan Carissa mulai mereda, meski gadis cantik itu masih sesunggukan kecil. "Jadi, sudah lebih tenang? " Tanya David. Carissa mengangguk kecil.


"Beritahu alasannya sayang, biar semua orang tau kenapa Carissa diam selama ini" ucap David lembut.


Carissa mendongakkan kepalanya, menatap semua orang satu persatu. "Sin-- mengancam akan bunuh diri jika Carissa buka suara" ucapnya pelan.


Hah?!


"Tidak ka Leandra! Sin adalah orang yang terobsesi dengan sesuatu yang dia sukai. Dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dan dia tidak akan berhenti sebelum keinginannya terwujud" Jelas Darren.


"Ini bukan pertama kali Sin seperti ini. Iya kan Carissa? "


Untuk kesekian kalinya Carissa kembali mengangguk. "Waktu Sin pertama kali pacaran, dia juga ngelakuin hal kaya apa yang dia lakuin ke Ara. Bedanya mereka adalah pasangan kekasih, dan Sin bikin hubungan mereka hancur"


"Lalu apa yang terjadi? " Tanya Tuan Revano. "Sin dan cowok itu jadian, tapi pacarnya.... Masuk rumah sakit jiwa, paman. Bahkan sampai sekarang gadis itu masih ada disana"


"Apa yang Sin lakukan? "


"Menjualnya ke bar! gadis itu berhasil kabur, tapi dia depresi berat karena sempat disiksa disana"


"Ka Darren.... " panggil Galih menatap sendu sahabatnya. "Lakukan apapun yang ingin kalian lakukan padanya, aku tidak akan membela adikku. Dia pantas mendapatkannya" ujar Darren lemah.


"Tidak!! Jangan hukum Sin, pah" Ara menolak, menatap sang papah memohon. "Tapi Sin berhak mendapatkannya, little princess! "


"Sin pasti bisa berubah, Ara yakin. Ara mohon jangan hukum Sin"


"Kau tidak akan bisa menyelamatkannya dari Cloe, Ara!! " Galih berucap dengan dingin. Suaranya tiba-tiba saja berubah, begitupan warna matanya. Sorot matanya begitu tajam menatap Ara.


Semuanya terdiam, menerka siapa sosok yang mengambil alih tubuh Galih. "Who are you? " Tanya Justin.


"Masev... " Ara memanggil lirih.


"Kau menunjukan dirimu yang asli, Masev" sindir tuan Revano. Masev melirik dingin, menghiraukan ucapan mantan godfather itu.


"Tapi ka Bella bisa menghentikan Cloe" ucap Ara. Masev tersenyum sinis. "Isabella tidak memaafkan penghianat!"


Ara tertegun, pria didepannya ini benar, ka Bella tidak akan menuruti keinginannya. Bagiamana caranya agar Cloe tidak mengambil alih tubuhnya?


"Bisakah kau menghentikannya? " pinta Ara.


"Aku tidak berniat ikut campur urusannya" jaeab Masev dingin.


"Tapi dia kekasihmu Masev" perkataan Ara membuat Masev menatapnya semakin dingin.


Apa?! Masev kekasih Cloe?


"Tidak ada hubungannya dengan itu"


"Aku mohon!!"


"Masev, please! " bujuk Ara.


"Ara" suaranya berubah, itu bukan lagi Masev tapi Galih yang telah sadar kembali.


"Ka Galih"


"Cloe mungkin bisa dihentikan, tapi kakamu tidak Ara" ujar Galih lembut. Ara menunduk lemas. "ka Justin...." Ara menatap Justin penuh permohonan.


Justin mengalihkan pandangannya, tidak berniat untuk menuruti keinginan adik iparnya.


.....


T B C?


Bye!