
Dorrr
Dorrr
Dorrr
Tiga tembakan beruntun mampu menghilangkan nyawa seseorang dalam sekejap. Tubuh bersimbah darah itu tergeletak diatas tanah, dengan tiga lubang di dada dan keningnya.
Senyum miring terbit di bibir sang pelaku. Kekehan sinisnya memenuhi seluruh ruangan, dengan aura yang mencekam, membuat para bawahannya bergidik ngeri. Bos mereka ini sangat mengerikan.
"Harusnya kau menutup mulutmu, tapi justru kau lebih senang berpesta di neraka. Maka nikmatilah pestamu. " suara yang dalam dan dingin, sorot mata tajam juga angkuh, dan jangan lupakan senyum miringnya yang penuh akan kekuasaan.
"Berikan tubuhnya pada Toris. " perintah sosok itu pada pengawalnya.
Para pengawal menganggkata mayat pria itu. Mengeluarkan peluru ditubuhnya sebelum memberikannya pada singa putih kesayangan bos mereka.
"Harusnya kau tetap seperti daddymu, Vion. Tidak perduli dengan urusan orang lain. " desis sosok itu sinis.
.
Di markas besar Phoenix, remaja 18 tahun itu tidak berhenti mondar-mandir dengan gelisah, membuat sang saudara kembar menatapnya jengah.
Kabar yang baru didapatkannya membuat lelaki itu panik seketika. "Ada apa denganmu sebenarnya hah? Kau tidak bosan mondar-mandir terus? " Tanya Vien dengan kesal.
"Diamlah Vien, aku sedang panik sekarang. " balas Vion.
"Ada apa denganmu? "
Vion terdiam sesaat, sebelum menoleh pada saudara kembarnya. "Kava mati! "
Dahi Vien mengernyit bingung, siapa Kava? Seperti tidak asing. "Kava? " Vion mengangguk. "Temanku yang memberikan informasi tentang paman Aldre. " jelasnya.
Mata biru Vien melotot, mulutnya menganga cukup lebar. "WHAT THE--- Bagaimana bisa?! "
"Aku tidak tau. Saudaranya bilang, ibunya menemukan kepala putranya dihalaman rumah. "
"****-- bukankah ini peringatan Vi? Paman Aldre pasti tahu bahwa informasi tentangnya bocor. "
"apa yang akan kau lakukan sekarang hah? "
"aku tidak tau.... "
"bodoh, kenapa aku bisa memiliki saudara kembar sebodoh dirimu. "
"ck. "
"......"
"Apa menurutmu paman Aldre yang membunuhnya? " ucap Vion gugup.
"Who knows? " Vien menghela napasnya sejenak, "kita harus berhenti mengincar itu dan berhenti mencari tau tentangnya. Atau kita yang akan mati. " gadis itu memperingatkan saudara kembarnya, meski dia jelas tau bahwa lelaki itu pasti menolak.
"Kau gila?! Aku tidak akan melepaskan itu begitu saja! " nah!! Benarkan?
"Ayolah Vion? Jangan bodoh, kita bukan bibi Isabella yang bisa melawannya dengan mudah. Aku tidak mau mati konyol!! ". "Lebih baik kita berhenti. Tapi jika kau masih keras kepala, lakukan saja sendiri. "
Setelah mengatakan hal itu, Vien pergi dari sana, meninggalkan saudara kembarnya yang terlihat kesal.
.
Brendon menatap ngeri kearah bosnya. Lelaki ini baru saja menghilang selama dua hari setelah mereka tiba di Rusia, dan sekarang dia muncul tiba-tiba. 'Apa lelaki ini jelmaan hantu? ' batin Brendon merinding.
Sedangkan yang ditatap hanya duduk santai menikmati secangkir teh hangat. Terkekeh kecil melihag ekspresi lucu assistantnya. "Ayolah, Bren.. Jangan berekspresi seperti itu. Kau seperti menahan buang air, hahaha. " canda Aldre.
"Anda menyeramkan, tuan. Hilang dan muncul tiba-tiba. Seperti hantu. " suara mengecil diakhir kalimat. Aldre tersenyum miring, "itu keahlianku kau lupa? "
"Iya juga. "
"Sudahlah, lebih baik kau pesan makan siang, aku lapar. "
"Anda ingin makan apa, tuan? "
"Apa saja, kau juga pesanlah, kita makan bersama. "
"Baik tuan. "
Aldre terdiam, menatap fokus pada noda merah dilengan jasnya, menyesap aromanya. "Hmm, aroma pecundang. " lelaki itu bangkit menuju kamar mandi.
Aldre berdiri lamat didepan cermin westafel, menatap pantulan dirinya sendiri dengan tajam. Kalai saja, kalau saja kejadian 6 tahun lalu tidak terjadi, mungkin Aldre si pendiam dan kaku masih hidup.
"Tapi aku menyukai Aldre yang sekarang, yang bisa melakukan apapun tanpa khawatir. Thanks loser! "
Senyuman yang tercatut pada bibirnya memiliki banyak arti. Arti yang jauh dari kata baik. Jahat, sangat sangat jahat.
"Let's play the game. "
.
"Anda ingin kesuatu tempat, tuan? Kita masih memiliki 2 hari untuk bersantai. "
"Orang Rusia tidak seramah itu, Brendon. Kau tidak bisa tertawa lepas didepan umum. Tapi jika kau ingin bersenang-senang maka pergilah. " ucap Aldre tanpa mengalihkan pandangannya dari benda berlayar lebar yang menempel didinding.
"O-ohh, kalau begitu saya disini saja bersama anda, tuan. " Brendon mengumpat dalam hatinya. Dia lupa ini buka Amerika.
"Hmm, terserah kau. "
Berjam-jam duduk diam menonton tv cukup membuat assistant tampan itu kebosanan. Layar besar itu hanya menampilkan berita politik negara ini sejak tadi, dan lelaki itu sama sekali tidak mengerti karena dia bukan pengamat politik. Tapi bos mudanya ini sepertinya cukup tertarik, lelaki yang lebih muda darinya itu begitu fokus memperhatikan berita.
"Sepertinya anda begitu tetarik dengan politik negara ini tuan? " Brendon bertanya penasaran.
"Hmm, tidak terlalu. Tapi kita harus memastikan keamanan sebuah negara sebelum menaruh bisnis kita disana bukan? "
"A-ahh, anda benar. Saya tidak terpikirkan hal itu. "
"Aku mau istirahat. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau Brendon. Seperti marathon film misalnya. " sindir Aldre. Lelaki itu jelas tau bahwa sang assistant begitu hobi mengoleksi berbagai macam film.
Brendon tercekat, cengiran lebarnya keluar. "Hehehe, anda tau ya tuan? " wajah dan kelakuanmu benar - benar tidak sinkron Brendon.
....
T B C?
see you!