
Seperti pesan yang Aldre kirimkan semalam. Hari ini Aldre dan Ara akan melakukan date.
Ara sudah bangun sejak pagi subuh, meski masih mengantuk ia memaksakan untuk tetap memulai ritual paginya. Memilih pakaian yang tepat yang sekiranya bisa membuat sang kekasih terpesona.
Jam 6 pagi lewat 15 menit. Ara sudah selesai dengan penampilannya. Rambutnya ia biarkan teruai, sedikit polesan make up tipis diwajahnya.
Dengan bosan Ara menunggu. Gadis itu menunggu pesan dari sang kekasih. Medudukan tubuhnya dipinggiran ranjang, dengan kedua kaki yang terayun kesana kemari.
Tok..tok..tok..
"Little princess"
Ara berjalan cepat menuju pintu begitu mendengar ketukan pintu dan suara panggilan sang mamah.
"Ya mah" ucapnya begitu ia membuka pintu.
"Eeiii, anak mamah cantik sekali. Ayo turun, Aldre udah nunggu dibawah. Jangan sampe telat kencannya" puji Sofia.
Ara tersenyum malu. "Sebentar, Ara ambil tas dulu" gadis itu kembali masuk kedalam kamar, meraih tasnya yang berada diatas ranjang, lalu kembali berlari keluar.
"Ayo mah" ajaknya. Sofia mengangguk, menarik lembut lengan sang Putri.
Sesampainya dibawah, sudah ada Rafael, Charles, Ceyoura, dan Sang papah, Revano disana.
Keempat orang dewasa itu menatap Ara menggoda. Rafael bahkan menaik turunkan alisnya semakin menggoda adik bungsunya itu. Hal itu sukses membuat Ara tertunduk malu.
Kedua pipi Ara terasa hangat. Warna blush on yang hanya ia poles tipis kini berubah menjadi tebal.
"Ehem, Cantik banget yang mau ngedate" celetuk Rafael.
"Jangan gitu Raf" tegur Ceyoura. "Kamu yakin blush on kamu gak ketebelan Ra?"
"Ka Charlesssss" Ara menatap sang kaka Charles. Meminta lelaki itu untuk menolongnya.
Charles hanya tertawa kecil. Adik bungsunya ini terbilang jarang bahkan hampir tidak pernah mengenakan dress. Persis sang kaka Isabella, karena sejak kecil Ara selalu mengikuti apapun yang Isabella lakukan.
"Sudah sudah. Gih berangkat, nanti kalian kesiangan" ucap Charles.
"Memperpanjang quality time maksud kamu?" Ceyoura mengeringkan matanya pada sang suami.
"Kaka ihhhhh"
"Hahahaha"
Sofia dan Revano hanya menggeleng melihat tingkah anak-anak mereka. Sudah lelah menegur mereka yang senang menggoda si paling bungsu.
Aldre berdiri, tangannya merengkuh pinggang Ara. "Kalau begitu kami pergi dulu" pamitnya.
"Jaga baik-baim putri paman jangan sampai tergores sedikitpun" titah Revano.
Aldre memberi hormat. "Perintah dilaksanakan. Ayo sayang"
"Dadah sayangggg"
"Hati-hati ya sayangg"
"Papaaahhhh"
"Rafael, Ceyoura"
"Hahahahah"
.
"Kita mau kemana Al?" Ara menoleh kan kepalanya kesamping. Menatap sang kekasih yang tengah fokus menyetir.
Untuk sesaat Ara tertegun. Dilihat dari samping seperti ini saja lelaki itu terlihat sangat tampan. Hidungnya yang mancung dengan kacamata hitam yang bertengger, rahang tegas dan kokoh, juga bibir merahnya yang.....
'Aiiisssshhh, Ara bodoh! Hentikan pikiran kotormu sialan!" Ara mengumpat dalam hatinya. Kepalanya menggeleng kencang menghilangkan segala pikiran kotor yang muncul dalam kepalanya.
Satu sudur bibir Aldre tertarik. Tau apa yang saat ini dipikirkan kekasihnya. Lelaki memutar setir ke kiri, menepikan mobilnya dipinggir jalan.
"Kenapa kita berhenti, Al?" Tanya Ara bingung.
Tangan Aldre bergerak melepaskan sealtbet yang melilit tubuhnya. Menyondongkan tubuhnya mendekat pada Ara. Tangan kanannya menarik lembut kepala kekasihnya. Tidak butuh waktu lama bagi Aldre untuk menginvasi seluruh bibir manis Favoritenya.
Mata Ara membola, terkejut dengan tindakan tiba-tiba lelaki yang kini tengah melahap bibirnya. Namun sedetik kemudian kedua mata Ara terpejam, menikmati sesapan nikmat sang kekasih dibibir ranumnya.
Ara kembali membuka matanya saat dirasa Aldre melepaskan tautan mereka. Ada rasa tidak rela dalam hatinha, ingin menahan tapi ia malu.
Hampir dua menit waktu yang mereka habiskan, dan itu membuat nafas Ara terengah.
"I like strawberry" Aldre berbisik tepat didepan bibir merah itu.
Ara menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, kedua pipinya kembali memerah sampai telinga. Mengerang kecil dibalik telapak tangannya.
Aldre terkekeh melihat tingkah gemas kekasihnya. Kembali melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda.
Dua jam kemudian mereka tiba disebuah kebun bunga yang sangat indah. Ada berbagai macam bunga dengan berbagai jenis disana. Bahkan ada sebuah rumah seperti Villa ditengah-tengahnya.
Ara terperangah. Senyum lebarnya terbit dengan cepat. Bagaimana bisa ada tempat seindah ini dipinggiran kota?
Bunga-bunga yang sebelumnya tidak pernah ia jumpai ada disini. Bahkan bunga termahal didunia, Juliet Rose juga ada.
Aldre melangkah mendekati sang kekasih merengkuh pinggang ramping itu. "Kamu suka?"
Anggukan penuh semangat sebagai jawaban lelaki itu terima. "It's so beautiful "
Ara benar-benar terpesona dengan pemandangan didepannya. "Tapi... Ini punya siapa Al?" Kepala Ara mendongak menatap Aldre yang lebih tinggi darinya.
"Milikmu sayang"
"Hah? Milikku?"
"Mm. Aku membuatnya untukmu"
Grapp
Ara memeluk tubuh Aldre erat. Bibirnya memberikan kecupan bertubi pada wajah Aldre. "Terimakasih sayang"
Setelah mengatakan itu Ara berlari kecil masuk kedalam perkebunan. Tawa riangnya masih bisa Aldre dengar dari tempatnya berdiri, karena lelaki itu belum beranjak sedikitpun.
Ara menyusuri setiap kebun tanpa ada yang terlewat. Beberapa kali ia melihat pohon Apel dan Jeruk yang mengelilingi kebun bunga ini.
"Apakah ada kebun buah juga disini?" Gumamnya kecil.
"Bahkan ada perkebunan teh diujung sana, nona" ucap seoarang pekerja yang tak jauh dari Ara. Tangannya menunjuk kearah bukit yang berjarak 200 meter.
Ara sempat terkejut sesaat, tidak menyadari ada orang lain didekatnya.
"Heheh, maafkan saya nona. Apa saya mengejutkan anda?"
"Tidak apa paman. Apa aku bisa kesana? Bolehkah?"
"Tentu saja, nona. Kebun teh itu menjadi satu dengan perkebunan ini" jelas pekerja tersebut.
"Waahhh, terimakasih paman" ucap Ara riang.
"Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi dulu" pekerja tersebut menunduk kecil, mengangkat keranjang miliknya yang sudah penuh oleh bunga, lalu pergi darisana.
"Bunganya mau dibawa kemana Al?" Tanya Ara begitu Aldre sampai disebelahnya.
"Sebagian akan dibawa ke toko, sayang. Sisanya akan dijual kepasar, atau diproduksi oleh ibu-ibu disini"
Dahi mengkerut bingung. "Diproduksi jadi apa?"
"Apa saja, minuman, hiasan, makanan, apapun yang berguna dan menguntungkan. Beberapa jenis bunga disini bisa kita konsumsi" penjelasan Aldre mengingatkan Ara akan sesuatu. "Apa mereka juga membuat cokelat?"
"Sure"
"Kalau begitu Ara mau lihat pembuatannya, Al"
"Nanti kita lihat, sekarang kita makan dulum kamu gak sempat sarapan tadi" Aldre menarik lengan Ara menuju rumah. Bibi pelayan sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.
.
"Ada beberapa banyak hal yang memenuhi pikiranmu, Love. Sejak tadi kau tidak mendengarku sama sekali"
Sudah yang kesekian kalinya Kevin menegur sang istri, tapi Galih tak juga bergeming. Membuag Kevin mulai jengah.
Sejak beberapa hari yang lalu istrinya ini senang sekali melamun, bahkan pekerjaannya tidak selesai karena aksi melamunnya.
"Apa kau punya hobi melamun sekarang?" Tanya Kevin sarkas.
"Maaf hubby. Aku sedang banyak pikiran" jawab Galih pelan.
"Apa kau pikir hanya kau yang memiliki masalah? Pekerjaan kita tidak selesai karena aksi melamun konyolmu itu!"
Kevin melempar berkas ditangannya ke meja. Tepat dihadapan Galih. Lelaki dengan julukan black swiper itu berbalik, menghempaskan tubuhnya disofa dengan kasar. Satu kakinya menendang meja kesal.
Galih yang menyaksikan sikap sang suami hanya terdiam, tidak berani berbicara apapun.
"Semalaman Kiran menangis karena kau lupa janjimu padanya. Apa kau ingin membuatnya menangis lagi hari ini?!"
"Maafkan aku. Aku akan selesaikan pekerjaanku sekarang"
"Jika sampai jam dua siang pekerjaanmu belum selesai, aku akan membawa anak-anak ke Chicago!"
Setelah mengatakan itu, Kevin membaringkan tubuhnya disofa. Tidak perduki dengan sang istri. Pikirannya penuh memikirkan masalah adik iparnya yang tak kunjung kelar, putri yang baru sembuh masih rewel, ditambah istrinya yang entah ada apa dengannya.
Galih menghela nafas kasar, matanya melirik jam yang menempel didinding, lalu menatap tumpukan berkas disebelah laptopnya.
Sudah jam 10 pagi, waktunya tidak banyak untuk menyelesaikan ini semuanya. Itu artinya ia harus melewatkan makan siangnya.
....
T B C?
BYE!