
"Hentikan apapun yang ada dalam otak kotormu itu, Cloe!" Kevin menatap jengah Cloe yang terus memperhatikan istrinya sejak beberapa menit lalu.
Lelaki itu jelas tau bahwa alter ego Ara itu tengah berharap sosok lain istrinya keluar. Tapi sayangnya, Masev tidak akan pernah menunjukan dirinya jika didepan Kevin, lelaki itu tidak akan pernah bertingkah dihadapannya.
Cloe mendesis keras, sejak kemarin ia bertahan dalam kesadarannya hanya untuk bertemu sang kekasih. Kemarin ia gagal karena Aldre langsung menyeretnya pergi tak lama setelah Galih datang, dan sekarang ia harus kembali merasakan kegagalan karena manusia menyebalkan yang baru saja menegurnya.
"Diam kau! Aku tidak memiliki urusan denganmu!!" Nada dingin yang dikeluarkan Cloe membuat anak-anak ketakutan, kecuali Jovan, dan Jeve.
Galih sama sekali tidak perduli dengan apa yang dilakukan gadis itu, ia hanya sibuk menenggelamkan kepalanya didada suaminya.
"Cloe!" Ohh! Cloe lupa bahwa Isabella ada disini. "****!" Tidak ingin mati lebih cepat, Cloe langsung menukar posisinya dengan Ara.
"Kau sudah kembali, Ara?" Tanya Justin. "Mm" Ara menjawab dengan sedikit linglung. Ini pertama kalinya ia tertidur cukup lama.
"Kau baik-baik saja, sayang?" Aldre merengkuh tubuh Ara, mengelap keringat yang sedikit mengucur dari dahi gadisnya.
"Pusing" ucap Ara pelan.
"Istirahatlah, little Princess. Bawa Ara kekamar, Al" ucap Justin.
Aldre mengangguk, tanpa basi-basi langsung mengangkat tubuh Ara, dan membawanya kekamar tamu.
Sesampainya dikamar Aldre meletakkan tubuh kekasihnya hati-hati keatas ranjang. Melepaskan sepatu dan jaket yang dikenakan Ara, kemudian menarik selimut menutupi setengh tubuh Ara.
"Temenin ku disini ya, Al" pinta Ara dengan masa yang setengah terbuka. Aldre beringsut naik keatas renjang, kembali memeluk tubuh mungil kesayangannya. "Tidurlah, sayang" ucapnya lembut.
Ara kembali memejamkan matanya, kepalanya berdenyut sangat hebat sekarang, mungkin dengan tidur sebentar akan menghilangkan rasa sakitnya.
.
Pintu kamar tamu yang Ara dan Aldre tempati terbuka, Isabella muncul dari balik pintu dengan sebuah nampan dikedua tangannya, dan si gemas Valerie yang berdiri dibelakang kedua kaki bundanya.
Aldre bangkit dari posisi berbaringnya, matanya berbinar memdapati sigemas yang tengah mengintip malu-malu. Kekehan kecil keluar dari bibir lelaki itu.
"Bangunkan Ara dulu, dia belum sarapan kan tadi?" Tanya Isabella
"Aku juga belum sarapan, ka Bella" Aldre melirik sebuah mangkuk yang berada diatas nampan, dari aromanya bisa ia tebak bahwa itu adalah sup ayam.
Isabella mendengus, "aku tidak perduli padamu, jika kau lapar turun kebawah"
"Kejamnya"
"Hai cutie, ouhh, uncle kangen sekali padamu" Aldre turun dari ranjang, meraih tubuh mungil Valeri dan membawanya kedalam gendongannya.
"Apa bibi Ara sakit?" Tanya Valerie dengan suaranya yang lucu.
Aldre menggeleng, "tidak sayang, bibi Ara hanya sedikit kelelahan. Dia akan baik-baik saja setelah bangun"
Mata Valerie berkedip polos, ekspresi tenang yang selalu ditunjukannya selalu berhasil menyihir siapapun yang melihat gadis kecil itu.
Sama seperti Aldre, lelaki tampan itu bahkan sudah memasukan setengah pipi chubi Valeri kedalam mulutnya, seolah sedang memakam pipi gembil itu.
Valerie tidak merengek, gadis kecil itu seolah tidak perduli dengan apa yang dilakukan pamannya. Netra yang serupa Isabella itu hanya fokus menatap sang bibi yang mulai tersadar.
"Aku tidak tau jika kekasihmu seorang kanibal!" Celetuk Isabella. Ara terkekeh, lagipula siapa yang tidak gemas pada putri bungsu Scander, jika itu Ara ia akan melakukan hal yang sama seperti kekasihnya.
Isabella memandang Aldre kesal, wanita itu sangat tidak suka jika pipi anak-anaknya disentuh seperti itu, karena ia sendiri juga tidak suka jika ada yang menyentuh pipinya.
"Akan ku tebas burung sialannya jika bocah itu tidak nuga melepaskan putriku" kesalnya penuh ancaman.
Ara menatap sang kaka ngeri, "sayang, sudah ya lepasin Valerienya" Ara menvoba membujuk sang kekasih yang begitu asik dengan kegiatannya.
"Tidak mau" tolak Aldre. "Ouhh, ayolah sayang. Atau kau akan kehilangan burungmu" bujuk Ara lagi.
Brukk!!
"Rasakan itu, bocah!"
Aldre tersungkur, wajahnya menghantam tembok karena terburu-buru keluar dari kamar. Niat menghindari tatapan maut sang pemilik rumah justru malah mendapatkan ciuman cinta dari dinding berwarna cream itu.
"Aaiiisshshsh!" Tangan kekarnya menggosok hidungnya yang terasa perih. Semoga saja hidung mancungnya tetap utuh.
.
Aldre tiba diruang makan dengan hidung yang memar. "Hidung paman kenapa?" Tanya Jeven begitu Aldre duduk didepannya.
"Kepo" jawab Aldre ketus.
"Dih gak jelas"
"Ara sudah bangun?" Galih meletakman semangkuk sup hangat didepan adiknya.
"Mm. Baru bangun, lagi disuapin ka Bella" Jawab Aldre.
"Baguslah. Sekarang kamu makan, habis itu ikut ka Justin dan ka Kevin latihan"
"Hah? Latihan apa?"
"Latihan fisik tentu saja. Apa kau ingin melawan sibajingan Meso tanpa persiapan?" Sembur Galih.
Aldre menggaruk rambutnya yang tak gatal, ia luoa soal itu."ok ok, aku akan ikut"
"Tentu saja kau harus ikut!"
Selesai makan, Aldre langsung bergegas menuju taman belakang, dimana mereka akan latihan. Disana sudah ada Justin, Kevin, Jovan, dan oh... Sejak kapan pria tua itu ada disini?
Leo tersenyum miring pada Aldre. "Hai bocah, tidak usah memelukku aku tau kau merindukanku"
Aldre berdecih, "tidak sudi. Dasar pria tua!"
"Kalian sangat akrab ternyata" Kevin menatap interaksi keduanya dengan senyum tertahan.
Aldre bergidik, siapa juga yang ingin akarab dengan pria tua itu. Dia sendiri yang membuntutinya seperti bodyguard.
"Sudahlah, ayo kita mulai latihannya" lerai Justin.
"Sebentar ka Justin, perutku masih kembung" Aldre meminta waktu sejenak karena perutnya yang masih terasa penuh. Ia tidak mau jika sampai muntah saat latihan nanti.
"Dasar bocah"
"Berisik kau pria tua!"
Latihan pun dimulai. Aldre harus menahan kesal karena Leo yang teru mengacaukan konsentrasinya. Jika ia memilikk keberanian besar, sudah sedari tadi ia arahkan moncong pintolnya pada pria tua itu.
"Berhentj mengganggunya ka Leo" tegur Kevin. Leo menyerah, bocah itu sudah sangat kesal sekarang. "Baiklah baiklah, aku akan berhenti bocah"
"Bajingan!"
.....
T B C?
BYE!