Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 06. RINDU (REVISI)



Sejak satu jam yang lalu Ara tidak berhenti memasuki satu persatu toko didalam mall. Gadis itu seperti mengabsen setiap toko, entah apa yang dicarinya.


Tangannya sibuk memilih kemeja laki-laki. Tadi sebelum berangkat, Jeven puta sulung kakanya Isabella menitip kemeja hitam padanya, dan disini sekarang dia disalah satu toko merek terkenal pakaian pria. Gerakannya yang hendak mengambil sebuah kemeja hitam berlengan pendek terhenti, begitu ada tangan lain yang ikut menyentuhnya.


Ara mendongak, terpaku melihat sosok didepannya. "Aldre.. " lirihnya. Aldre menatap tajam Ara, amarah terlihat jelas pada kilatan matanya.


Lelaki itu segera berbalik, dan pergi begitu saja dari sana. Ara ingin mengejar, tapi kedua kakinya tidak mau bergerak. Mendongakkan kepalanya menahan air mata yang hendak jatuh. Hatinya berdenyut sakit mengingat sorot mata lelaki itu padanya. Dengan perlahan gadis itu pergi dari sana, dan memutuskan untuk pulang.


Ara berjalan dengan lunglai, pandangannya kosong, tubuhnya bahkan beberapa kali tanpa sengaja menabrak orang lain. Gadis itu tiba di basemant, tapi langkahnya kembali terhenti begitu melihat sosok Aldre berdiri didepan mobilnya.


"Al...."


.


Aldre melangkahkan kakinya dengan cepat, tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras, dalam hati mengumpat kenapa harus bertemu orang itu disini. Moodnya hancur sudah.


Begitu tiba dibasement, kakinya melangkah terburu-buru menuju mobil, tapi langkahnya terhenti begitu melihat sebuah mobil Lamborghini yang tak asing baginya. 'Dia masih menggunakan mobil ini? ' batinnya.


"Al.... "


"Seingatku mobil ini sudah hancur. " Aldre berucap sinis tanpa mengalihkan pandangannya.


"Aku meminta papah memperbaikinya seperti semula. " jawab Ara pelan.


Aldre berdecih, "anak manja! "


"Bisakah kita bicara sebentar Al? " tanya gadis itu hati-hati. Aldre melirik sinis, "kau pikir aku sudi? "


"Aku mohon.. "


"Menjauh dari hidupku, aku muak denganmu. " setelah mengatakan itu Aldre masuk kedalam mobilnya yang terparkir tepat disebelah mobil gadis itu. Dengan cepat meninggalkan area basement.


Ara menatap sendu mobil lelaki itu yang mulai menjauh. 'Sebesar itukah rasa bencimu padaku Al? Tidak bisakah aku mendapatkan kesempatan? '


Lamborghini Huracan berwarna merah yang saat ini Ara gunakan adalah hadiah ulangtahunnya yang ke 14 dari Aldre. Lelaki itu menabung hasil kerja part timenya dengan sang ayah untuk membeli mobil yang diinginkan gadis kesayangannya.


"Setidaknya kamu tau bahwa aku masih menyimpan hadiah dari kamu dengan baik Al. "


"Ini awal yang bagus kan? Aku berbicara denganmu walau hanya sebentar. "


*****


Pagi ini para petinggi perusahaan sudah berkumpul diruang meeting. Aldre yang mengadakan evaluasi kerja dadakan membuat para staff berkeringat dingin. Pasalnya evaluasi itu harusnya dilaksanakan akhir bulan nanti, tapi ceo muda itu sepertinya memang ingin mengerjai para karyawannya.


Yang menjadi sasaran utamanya adalah para jajaran manager dan direktur, baru setelah itu dia akan mengincar para karyawan.


Aldre Skholvies, dikenal sebagai sosok yang dingin dan tajam. Tidak kenal ampun, dan sangat cekatan dalam urusan pekerjaan. Berhadapan langsung dengan lelaki itu sama seperti bertemu malaikat maut, begitu kata para karyawannya. Meski tampan, tapi lelaki itu mengerikan.


"Sir, kami semua sudah selesai. " ucap Mr. Kansa, manager keuangan. Aldre mengangguk, "aku akan meninjau ulang hasil kerja kalian, minta para staff keuangan dan pemasaran untuk berkumpul di aula setelah makan siang. Kalian boleh kembali bekerja. " para manager dan direktur mengangguk paham, "baik sir. " satu persatu dari mereka meninggalkan ruang meeting.


Aldre melemparkan kepalanya kebelakang, 'setidaknya hari ini tidak terlalu buruk. ' monolognya.


"Maaf sir, anda ingin makan siang di kantor atau diluar? " pertanyaan Brendon menyadarkan lelaki itu dari lamunan singkatnya.


"Aku akan makan dikantor saja. Pesankan steak dan air mineral. "


"Baik, sir. " sang assistant melangkah keluar dari ruang meeting untuk segera menyiapkan makan siang untuk atasannya itu.


Aldre mengalihkan pandangannya keluar jendela, otaknya kembali memutar kejadian saat dirinya bertemu gadis itu kemarin. Kilas balik kenangan mereka dulu ikut berputar dalam pikirannya. "Kau terlalu bodoh untuk mengambil langkah, kenapa aku begitu bergantung padamu dulu? Kenapa harus kau yang menjadi pusat duniaku? "


"Sekarang kau menghancurkan hidupku, apa yang akan kau lakukan hah?! "


Lelaki itu tiba-tiba terkekeh, ketika dirinya teringat akan satu hal. Bagaimana kabar kedua sahabatnya yang lain? Dimana mereka sekarang?


"Apa kalian masih hidup? Aku bahkan melupakan kalian berdua. " kekehannya berubah menjadi tawa keras.


"Bodoh kau Aldre, bisa-bisanya kau hanya mengingat gadis sialan itu. "


"Dimana kalian? Sin, Carissa, kalian pasti kecewa padaku kan? "


"I miss you two so much. " suaranya berubah lirih, ekspresinya sendu, matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku akan bertanya pada ka Daniel nanti, aku harus bertemu kedua sahabatku. Aku merindukan segala macam umpatan Sin. "


"Hah, waktu berlalu terlalu cepat. "


.


Disebuah kamar apartment di negara spanyol. Seorang gadis tengah termenung menatap pemandangan kota. Gadis itu adalah Sinfanka Forins, gadis berusia 22 tahun itu adalah sahabat Ara dan Aldre. Sin sudah mendengar dari sang kaka bahwa Aldre telah kembali dari pengasingannya. Gadis itu memutuskan akan kembali ke amerika minggu depan, dia sudah tak sabar bertemu satu satunya sahabat prianya itu.


Sejak kejadian enam tahun lalu, dan juga sejak kepergian Aldre, akhirnya Sin dan Carissa memutuskan meninggalkan Amerika. Mereka merasa tanpa Aldre persahabatan mereka tidak ada gunanya. Ketika Sin memutuskan pergi ke Spanyol, Carissa justru memutuskan untuk kembali ke kampung halaman ayahnya di Melbourne. Sampai saat ini kedua gadis itu masih berkomunikasi. Kadang juga mereka memutuskan untuk saling mengunjungi satu sama lain.


Mereka tidak melupakan Ara, tidak sama sekali. Hanya ingin memberikan hukuman kepada si bungsu di antara mereka itu. Sin dan Carissa bahkan terus memantau keadaan Ara dari jauh. Tidak berhenti berkomunikasi dengan kedua kaka gadis itu. Isabella dan Javin.


Sin menutup tirai jendela, berbalik arah menuju dapur. Ini sudah jam 2 pagi, gadis itu baru saja terbangun. Dia terlelap setelah pulang dari butiknya sore tadi dan baru terbangun 30 menit yang lalu.


Gadis itu membuka kulkas, mencari bahan makanan yang bisa dia olah. Hanya ada sepotong dada ayam dan beberapa butir telur juga sebungkus spageti instan. "Huft, aku lupa belanja lagi." gumamnya.


Tidak mungkin memesan makanan di pagi buta seperti ini, semua restoran sudah tutup. Kecuali restoran cepat saji. "Baiklah, spagetti lagi untuk malam ini."