
Roxy membalikkan tubuhnya dengan panik. Wajahnya langsung berhadapan dengan tubuh besar Haybie. Lelaki itu tidak percaya dengan pemandangan didepannya. 'Bagaimana bisa ada Harimau sebesar ini? ' pikirnya.
Leo mengangkat tangannya, memberi perintah pada warga desa untuk tidak panik, dan menjauh secara perlahan. Menyisakan Sin, Thomas, dan anak buah Roxy.
"Beraninya kau menjebakku?! " Roxy berteriak marah pada Isabella.
"Menjebak? Kau saja yang bodoh. Para warga desa tau siapa aku, Roxy! Tentu mereka akan lebih memilihku! " Isabella menatap angkuh bajingan didepannya.
Geraman Haybie terdengar keras. Memberikan peringatan pada Roxy yang hendak menyerang Isabella.
"Habisi mereka, boy! " perintah Galih pada Aeion dan Tier.
Harimau putih dan singa jantan tersebut menyerang anak buah Roxy dengan brutal. Thomas menutup matanya, tidak berani melihat pemandangan didepannya, begitupun Metio. Sin menangis tanpa suara, gadis itu ketakutan.
"Kau tau ini bukan akhirnya, Isabella! " desis Roxy tajam.
"I know"
Roxy menyeringai. Melihat bantuannya sudah datang. Sekarang ia akan dengan mudah menaklukan sang Godmother. Menurut pikiran brengseknya tentu saja.
Lebih dari 100 orang dengan senjata ditangan mereka mengepung Isabella dan yang lainnya.
Mereka adalah Mafia Rusia. Kelompok Mafia yang dipimpin langsung oleh ayah Roxy. Salah satu dari 10 yang terkuat dalam jajaran kelompok mafia, walau berada diurutan terakhir. Dan kini mereka ada disini untuk melindungi puta pemimpin mereka.
"tunduklah, Godmother! " perintah Roxy.
"Cih! Kalian bahkan tidak sebanding dengan The Phoenix! " cibir Isabella.
"Benarkah? "
"Kau tau kenapa aku menjadi Godmother, Roxy? "
"Karena aku tidak bisa disentuh!! " sorot mata dark grey Isabella berubah menjadi dingin dan mematikan.
Kelopak jari Isabella terbuka, matanya terpejam, bibirnya merepalkan beberapa kata. Tak lama kemudian sebuah pedang yang sangat tajam, panjang, dan begitu mengkilap muncul diatas tangannya.
Blood of Phoenix
Semua yang berada didunia bawah tanah pasti pernah mendengarnya. Pedang berwarna putih yang rumornya terbuat dari darah burung Phoenix. Memiliki kekuatan magic dan hanya bisa digunakan oleh pemilik yang dipilih oleh pedang itu sendiri.
Ada gambar burung Phoenix disetiap sisi pedang. Gambar yang tidak akan terlihat tanpa pengamatan yang jelas. Yang jelas semua orang tau bahwa Phoenix adalah lambang keabadian.
Tidak ada yang pernah lolos dari ayunan pedang indah tapi sangat mematikan itu. Mereka akan selalu berakhir dalam kondisi yang sama. MATI dengan tubuh penuh luka bakar.
ETERNAL FIRE
Kelopak mata sang Godmother kembali terbuka. Netra abunya berubah menjadi lebih gelap dari sebelumnya.
Devan menatap sang adik gusar. Tidak ada yang bisa mengendalikannya sekarang. Kemudian menatap kearah kedua sahabatnya.
"Godmother! " panggilnya. "Izinkan kami membereskan lebih dulu! " Devan ingin mengulur waktu sebelum Isabella menghabisi mereka dengan tangannya sendiri. Karena bagaimanapun ia butuh mengevakuasi warga desa.
"Izin diberikan! " Isabella menacanpkam pedangnya ke tanah. Memberi kode pada ketiga kesayangannya untuk menyerang.
Pertempuran pun terjadi. Sebagian pasukan yang Devan bawa menyerang lebih dulu dan sebagian lagi mengevakuasi warga desa keatas bukit. Cloe yang mengambil alih tubuh Ara, juga Masev yang mengambil alih tubuh Galih juga ikut dalam pertempuran.
Dan kini hanya tersisa Roxy dan Isabella yang masih berdiri tegak diposisi mereka. Dan juga Sin yang menyingkir dan tidak ingin terlibat.
Sin tertegun melihat Ara yang begitu lihai menangkis setiap serangan. "Sejak kapan dia bisa berkelahi seperti ini? " ujarnya heran.
20 menit
40 menit
Satu jam
Pertempuran ini tidak kunjung selesai. Isabella mendengus bosan. Kedua kubu sama-sama memiliki posisi yang kuat. Hanya saja kubu lawan terlalu bodoh hanya untuk menyerang dua ekor harimau dan seekor singa yang bahkan sudah sangat tua. Mereka sama sekali tidak bisa menjatuhkan ketiganya.
Roxy masih memandang Isabella penuh kekaguman, tidak perduli dengan pasukannya yang tengah bertempur. Sedangkan yang dipandang hanya memainkan kukunya bosan.
AAAKKKHHHHH
Suara teriakan kesakitan Ara terdengar yang langsung menghentikan pertempuran tersebut.
Disana tangan kanan Roxy, tengah menginjak tubuh Ara yang tersungkur diatas tanah, dengan unjung tombak yang menempel pada tengkuk gadis itu.
Isabella menatap malas. Ada berapa banyak orang tolol sepertinya didunia ini?
Roxy kembali menyeringai,menatap puas wajah cantik Isabella. "Kau kalah, Godmother" ejeknya.
Aldre mengepalkan tangannya erat. Dia ingin menyerang lelaki sialan itu yang berani menyentuh tubuh gadisnya. Bahkan Masev hampir kehilangan kendali karena saat ini yang mengambil alih tubuh Ara adalah kekasihnya.
Tapi mereka tidak boleh gegabah atau sang Godmother akan semakin murka.
"Kau ingin membunuhnya? Bunuh saja! Aku ingin tau apa kau bisa melakukannya! "
"Jangan meremehkanku Godmother! Aku yang paling berbahaya di Rusia! " ucap lelaki bernama, Erd itu dengan sombong.
"Tapi didunia bawah tanah aku penguasanya, Erd. Bukan kau!! "
"Kau hanya tikus pengganggu! " ejek Isabella. Mengibaskan jarinya yang terpoles kutek berwarna merah.
Erd menggeram marah, semakin menekan pijakan kakinya pada tubuh Ara. Gadis itu meringis kuat.
Light grey Ara menggelap. Warnanya hampir menyerupai milik sang kaka. Kini kedua pasang netra abu tersebut saling melempar tatapan tajam, memberi isyarat satu sama lain.
Tanpa mereka sadari, Haybie mengendap dibelakang Erd, bersiap memberikan sedikit kejutan pada lelaki itu. Sedangkan Roxy lelaki itu masih asik menatap wajah cantik Isabella, bahkan sudah berani mendekatkan wajahnya.
Isabella menyadarinya, tapi bersikap acuh membiarkan bajingan Romanov melakukan aksinya.
"Kau akan mendapatkn Jackpot yang besar Roxy! " teriak Erd. "Tentu saja! " balas Roxy dengan percaya dirinya. Bibirnya telah siap menelusuri wajah cantik yang sejak tadi dikaguminya ini.
.
Devan menahan geraman yang hampir keluar dari mulutnya. Sangat tidak sudi melihat adiknya disentuh bajingan itu. Tapi ia tau sang adik memiliki rencana yang lebih baik.
"Kenapa bunda hanya diam saja? " Tanya Jovan. Harves terkekeh kecil. "Percayalah, bundamu sedang menikmati permainannya"
Keadan remaja 13 tahun itu sangat berantakan, baju yang tak lagi rapih seperti sebelumnya, dan tangan yang penuh dengan darah.
"Berjalanlah mengendap secara perlahan, Aldre! Isabella akan memberikan celah bagimu untuk menghabisi Roxy dan Thomas. Jangan sampai mereka menyadari pergerakanmu!" Leo berbisik pada Aldre disebelahnya.
Aldre mengangguk, memundurkan badannya perlahan. Berjalan sepelan mungkin diantara kerumunan. Kevin yang melihat adik iparnya mulai bergerak ikut memundurkan tubuhnya. Menghampiri Sin yang sedang bersembunyi dibalik pohon tanpa gadis itu sadari.
Sin menyadari pergerakan Aldre dengan cepat, karena sejak tadi gadis itu hanya memperhatikan sang pujaan hati.
"TH--- HMMMMPPP" Kevin membekap mulut Sin yang hendak berteriak memanggil Thomas, karena saat ini Aldre sudah berdiri tepat dibelakangnya.
Tubuh Sin terikat dibatang pohon, dengan mulut yang tersumpal kain. Gadis itu memberontak, meski usahanya sia-sia.
"Kau siap? " Isabella menoleh pada Roxy.
"Siap mengucap janji suci denganmu? Tentu saja aku siap"
"HAHAHAHAHA" Isabella tertawa keras, tawa yang terdengar sangat menyeramkan. Membuat mereka yang mendengarnya bergidik ngeri.
"Now!! "
AAAARRRGRRGRHHH
Suara teriakan Thomas terdengar, membuat semua orang mengalihkan atensi kearahnya. Pemandangan mengerikan masuk dalam penglihatan mereka.
Disana, Thomas berdiri dengan leher yang tertancap sebuah belati yang sangat tajam. Belati itu menancap dari belakang tengkuk hingga tembus ke rahang. Dan pelaku penusukan itu adalah Aldre.
Aldre menendang tubuh Thomas hingga terjerembab ke depan. Thomas masih bernafas, bahkan masih sadar penuh, hanya tidak lagi bisa mengeluarkan suaranya.
Lelaki itu menoleh pada sepupunya, memadangnya dengan memohon agar menyelamatkannya. Metio panik sekaligus khawatir, bagaimanapun Thomas adalah satu-satunya saudara yang ia miliki.
"Bantu dia, Metio! Kau akan mati ditanganku! " ucap Isabella lembut namun penuh ancaman.
"Maafkan aku, Thomas. Aku tidak bisa membantumu! Harusnya kau dengar peringatanku! " Metio mengalihkan tatapannya, tidak lagi ingin menatap sepupunya.
Aldre menyeringai, mengangkat kepalanya yang menunduk. "Hai, Roxy! Long time no see!! "
.....
T B C?
BYE!