Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
104 | PERTIKAIAN SAUDARA IPAR



"Ka Charlesss"


Ara menerobos masuk kedalam kediaman sang kaka yang berada di setelah kanan mansion Courtland.


Teriakannya menggema begitu ia membuka pintu utama bangunan megah dengan nuansa perak itu.


"KA CHARLES!!!" Teriak Ara lagi.


"Hush! Berisik!" Dari pintu samping yang menghubungkan antara ruang santai, dan taman, Ceyora muncul dari sana.


Wajah Ara merengut mendengar teguran kaka iparnya itu. "Kenapa cari ka Charles? Hah?" Tanya Ceyora galak.


"Ka Ceyora Jelek!" Kesal Ara.


"Hehh!"


"Apasih ribut-ribut?" Charles keluar dari ruang kerjanya dilantai satu.


Ara berlari memeluk Charles. "Ka Charles--"


"Heh heh lepas lepas. Gak boleh peluk peluk suami orang sembarangan" Ceyora menarik kecil lengan Ara yang memeluk erat tubuh suaminya.


Ara menggeram marah. Kaka iparnya yang satu ini selalu saja senang menggodanya. Pelukan Ara pada tubuh Charles semakin erat, seirama dengan tarikan Ceyora pada lengan gadis itu.


"Ka Ceyoraaaaa, lengan Ara sakit iihhhh" serunya kesal. "Lepasin!"


Ceyora melotot tajam. "Gak mau sebelum kamu lepasin suami kaka!" Balasnya tak mau kalah.


"Aaahhhh, ini kakaknya Araaaa" rengek Ara kencang.


Ceyora menggeleng tak terima. "Tapi ini suami ka Ceyoraaaa"


"Ka Ceyoraaa!!"


"Araaa!!"


Ketika kedua saudara ipar itu asik bertengkar, yang menjadi objek pertengkaran mereka malah duduk santai di atas sofa. Dan Ara tidak sadar bahwa pelukannya pada sang kaka sudah terlepas sejak tadi.


Lengan putih Charles terjulur, meraih setoples kacang yang berada diatas meja. Membuka tutupnya dan memasukkan isinya kedalam mulut satu persatu.


Lelaki 37 tahun itu sama sekali tidak berniat menghentikan kedua wanita kesayangannya. Dirinya malah asik menonton sambil nyemil seolah berada didalam bioskop.


"Jangan tarik rambut Ara, ka Ceyoraaaa!" Lagi, teriakan Ara kembali terdengar.


"Kamu duluan yang narik rambut kaka!" Balas Ceyora.


"Iiihhh lepasin, sakit tauuu!"


"Gak! Kamu duluan yang lepasin"


"AAAKKKHHH"


Lima menit kemudian Ara dan Ceyora akhirnya berhenti. Rambut mereka yang sebelumnya rapih kini persis sarang burung. Baju yang semula rapih, dan halus kini bagai terkena angin bandang. Keduanya persis pasien RSJ.


Keduanya kelelahan setelah sesi tawuran yang bisa aja si sebenernya.


Ara menatap kaka iparnya penuh permusuhan, begitupun Ceyora yang memandang adik iparnya sinis.


"Ka Charlesss... Liat nih penampilan aku! Ayo omelin ka Ceyoranya"Ara menatap Charles, meminta pembelaan dari kaka kesayangannya.


Ceyora mendelik tidak terima. "Jangan ngomporin suami, kaka ya. Yang harusnya diomelin disini tuh kamu! Masuk rumah orang teriak-teriak"


"KA CEYORAAA!!!"


"BERISIK!!"


Lelaki yang sejak tadi tidak lelah mereka perebutkan masih asik dengan setoples kacang ditangannya. Charles lebih memilih menikmati pertikaian istri dan adiknya daripada melerai keduanya.


"Ya tuhan, anak mamahhh!! Kenapa jadi jelek beginiiii" di ambang pintu utama, Sofia menjerit histeris melihat sang putri yang penampilannya tak tertolong. Bahkan menantunya juga sama.


"Kalian berdua kenapa?!"


"Tawuran" jawab Charles santai. Sofia menepuk keningnya, lupa kalau dua wanita ini tidak boleh disatukan.


Charles menjerit karena kupingnya ditarik kencang oleh sang mamah. "Aduhhh mahhhhh. Kenapa jadi Charles yang dijewerrrrr"


"Ya ini pasti gara-gara kamu semuanya!" Omel Sofia setelah melepaskan jewerannya.


"Kok charles sih?!"


"Terus siapa lagi yang mau mamah salahin, papahmu?! Mereka kaya gini tuh pasti merebutin kamu!" Lagi, Sofia kembali menarik telinga sang putra.


"Ampunnnn mahhh, ampunnn mahhh. Sakittt loh iniii"


"Busehhhh, badai topan darimana nih?" Rafael, Michaell, dan Hyansen yang baru saja tiba terkejut melihat keadaan si bungsu dan kaka ipar mereka.


"HAHAHAHA"


Tawa mereka meledak. "Kalian berdua kenapa?" Tanya Hyansen diselingi tawa.


Ceyora mendengus kesal, hancur sudah rambut indahnya yang baru selesai perawatan. Jari-jarinya merapihkan kembali rambutnya yang kusut.


"Pasti ngerebutin ka Charles lagi" tebak Michaell. "Apalagi kalau bukan itu?" Timpal Rafael.


Hyansen meringis kecil kearah sang kaka yang masih mendapat jeweran sayang mamahnya. "Lagian ka Charles juga seneng banget ngeliat mereka berantem-- aduuhhh"


"Maaahhhj, kucing Charles sudah panas ini lohhhh" Charles kembali merengek. Menatap wanita paru baya kesayangannya agar mau melepaskan telinga kirinya yang sudah semerah tomat.


"Mangkannya kamu tuh jangan bikin mamah kesel. Entar kepala istri sama adik kamu copot gimana?!"


"Ya gak gitu juga atuh, mahhh"


"Ara pulang dulu sayang yuuk. Sakit gak kepalanya sayang?" Sofia mendekat pada putri bungsunya. Mengusap kepalanya lembut.


"Kamu juga, berenti ngeledik adik ipar kamu. Satu geng sama Rafael" kini gantian sang menantu yang mendapat omelannya. Sedangkan yang diomelin hanya cengengesan.


"Hehehehe"


"Kompres kepalanya biar gak sakit nanti yah?"


"Iya mah"


Sesampainya di mansion utama


Aldre yang baru saja tiba menatap bingung penampilan kekasihnya yang persis korban bully. "Kamu kenapa sayang?"


"Kepo" jawab Ara sinis.


"Abis dibully siapa kamu?"


"AAAHHHH ALDREEEE. KESEL BANGET SAMA KA CEYORA!!" Ara memeluk tubuh Aldre, menangis keras dipelukan kekasihnya.


"hah?"


"Biasa. Abis tawuran sama Ceyora" timpal Sofia. Aldre semakin mengernyit bingung.


"Charles, Aldre"


"Ouuhhh" Aldre baru paham sekarang. Ia hampir lupa kalau Ara selalu menempel pada Charles dan Ceyora yang tidak pernah lelah menjahilinya.


"Udah-udah, jangan nangis lagi. Mending sekarang kamu mandi, siap-siap kita keluar makan es krim" ucap Aldre menenangkan sang kekasih.


Mata Ara berbinar. "Beneran?"


"Iya sayang"


"YESSSS"


"ARA JANGAN LARI!!"


.....


T B C?


BYE!