
"Ya, grandpa? "
Kali ini gantian Jovan yang menempelkan ponselnya ketelinga. "Dimana bundamu, nak? " Tanya Tuan Revano diseberang sana.
"Bunda disini, grandpa. Baru saja menerima telepon dari ayah" ucap Jovan.
"Berikan ponselmu pada bunda"
"Baik, grandpa"
Jovan menyerahkan ponselnya pada sang bunda, yang lansung diterima Isabella. "Ya, pah"
"Princess, Sin... " belum tuan Revano menyelesaikan perkataannya, Isabella sudah lebih dulu menebak."***! Video ***! " serunya cepat.
Terdengar helaan nafas berat dari ujung sana. "You know it, Princess" ucap tuan Revano lemas. "Bisakah kau selesaikan ini dengan cepat. Darren sudah menuju kembali kerumahnya, untuk memberitahu kedua orang tuanya"
"Tidak bisa secepat itu, papah. Jika aku tidak membiarkan Aldre, dendam itu akan terus menumpuk dihatinya"
"Bagaimana sekarang? "
"Percayakan padaku semuanya, dan tolong beri tahu mereka untuk tidak khawatir tentang Sin"
"Dan, bisakah aku minta tolong satu hal pada papah? " ujar Isabella.
"Apa itu nak? "
"Tolong awasi Ara! cepat atau lambat Cloe akan mengambil alih tubuhnya, dan aku tidak mau dia mengacaukan rencanaku"
"Papah mengerti, biar itu menjadi urusan papah"
"Terimakasih, aku tutup telponnya"Isabella kembali memutus sambungan setelah mendapat jawaban dari sang papah.
"Apa kita akan mengubah rencana? " Kevin menatap Isabella lekat. "Tidak, tapi punya rencana tambahan"
Jovan menatap kagum wanita yang melahirkannya ini. Merasa tidak percaya dengan kinerja otak bundanya yang begitu cepat. "Apa bunda punya kekuatan magic? Kenapa bunda bisa berpikir tentang sesuatu hal begitu cepat? " Jovan bertanya dengan antusias.
Isabella sontak tertawa mendengar pertanyaan lucu putranya. "Itu karena bunda sudah terbiasa. Jika kamu bekerja dibidang ini, ini adalah hal biasa bagimu"
"Aku mengerti"
.
.
"Siapa lagi yang menyusup kedalam kamar ku? Kenapa alarmnya tidak berbunyi? "
Didalam layar besar itu kini tak lagi menampilkan rekaman cctv, tapi sebuah sistem ruangan yang cukup besar.
Ada titik baru yang muncul dalam sistem tersebut, dan seharusnya alarm didalam ruangan itu menyala. Tapi alarmnya justru tidak mendeteksi apapun.
"How can? "
Aldre mencoba memeriksa sekali lagi, apakah sistemnya diretas atau tidak. Hasilnya masih sama, sistemnya memang diretas tapi alarmnya tidak mati, bahkan keamanannya tidak bisa dipecahkan.
"Jika Isabella tidak bisa memecahkannya, bagaiman mungkin penyusup itu bisa lolos? "
"Kevin? Tidak, tidak mungkin"
"Who? Who's this? "
10 detik berikutnya, jari panjang itu berhenti bergerak. Matanya kembali menatap layar dengan tajam. "Jovan Nicholas Scander! "
"Aku lupa memperhitungkan soal si jenius, Jovan! Sialan licik Isabella! "
Drrrtt
Aldre meraih ponselnya kasar, moodnya menjadi semakin buruk melihat panggilan dari ayah angkatnya.
"Katakan, Daddy! " ucapnya tajam.
"Ada sesuatu yang hilang dari kamarmu"
"Apa itu? "
"Kalung kesayangan mu, nak! "
Dengan spontan Aldre menggebrak meja didepannya kencang. "Apa maksud daddy? " serunya marah.
"Salah satu pengawal bilang, ada seorang budak baru yang masuk kedalam kamarmu untuk membersihkannya. Dan setelah Daddy periksa, hanya kalung kesayanganmu yang hilang" Tuan Ferosa mencoba berbicara dengan tenang.
"Bagaimana bisa?! Dad tau kalung itu sangat berharga bagiku!! "
"I really sorry for that! But, aku menemukan sesuatu... "
"Katakan! "
"Ada sepasang sepatu didalam kamarmu yang sepertinya memang sengaja ditinggalkan, dan.... " tuan Ferosa menghentikan ucapannya, sedikit ragu untuk melanjutkan.
"Dan apa?! " Aldre berteriak tak sabaran. "Sepatu itu milik bocah dipinggir desa, yang sering kau ajak bermain, Aldre" lanjut tuan Ferosa.
Aldre terdiam sesaat, hanya keheningan yang tercipta. Dengan sabar, tuan Ferosa menunggu reaksi selanjutnya dari putra angkatnya.
"No, not him!"
"Apa kau tau siapa yang menyelinap ke kamarku, dad? "
"Bocah--"
"NO!!! "
"JOVAN-- JOVAN NICHOLAS SCANDER!! SIBUNGSU DARI THE TRIPLES SCANDER!! ". Aldre berteriak penuh amarah.
Tuan Ferosa terhenyak. Bukankah artinya sang godmother sudah bergerak? Dia terlalu meremehkan perempuan itu! Dan sekarang mereka kecolongan.
"Aku tidak perduli bagaimanapun caranya, kau harus mendapatkan kalung itu kembali, Dad! Understand? " ucap Aldre tajam.
"I see. Aku akan mendapatkannya untukmu" panggilan terputus. Saat ini tuan Ferosa jelas harus menuruti perkataan putra angkatnya, atau bisnis keluarganya akan beranib buruk. "Harusnya aku tidak menyerahkan bisnis keluarga dengan cepat padanya! Hah!"
.....
"Jika kamu menghabiskan terlalu lama berpegang pada orang yang memperlakukanmu seperti pilihan, kamu akan kehilangan menemukan orang yang memperlakukanmu seperti prioritas."
.....
T B C?
Bye!