
Carissa menghembuskan nafas kasar dari mulutnya. Sejak pergi dari butik milik Sin dengan terburu-buru setengah jam yang lalu, bibir gadis itu tak berhenti mengerucut sebal. Kalau bukan karena mantan kekasihnya yang menyebalkan terus menerornya, Carissa tidak akan sudi berdiri seperti orang bodoh di halte bus.
Carissa menghentakan kaki nya kesal, hatinya begitu dongkol. Ia merasa di tipu oleh lekaki itu. Pasalnya sudah terlalu lama dirinya hanya diam berdiri di halte bus tanpa melakukan apa pun.
'Harusnya aku tidak perlu menghiraukan bajingan itu' batinnya kesal.
Tiba-tiba sebuah Audi hitam berhenti tepat di depan halte bus tempat Carissa berdiam diri. Dan Carissa jelas sangat tau siapa pemilik mobil ini.
"Maaf ya, aku terlambat. Kamu udah nunggu lama ya?" sapa seseorang yang sejak tadi Carissa tunggu kedatangan nya.
Carissa hanya melirik kesal lelaki itu, kemudian melenggang pergi, dan masuk menuju mobil. Dirinya sudah tidak tahan dengan teriknya sinar matahari yang terus menabrak kulitnya.
Lelaki itu, Rolen terkekeh gemas dengan tingkah sang mantan kekasih. Gadis yang masih menjadi gadis yang paling di cintainya itu, begitu menggemaskan ketika marah.
Rolen menyusul Carissa yang s
udah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya. Kemudian melajukan benda besi itu menuju tempat yang sudah di siapkannya.
Tidak ada pembicaraan apa pun yang tercipta di antara keduanya selama perjalanan mereka. Carissa membungkam rapat mulutnya, begitu pun Rolen yang sepertinya tidak ingin merusak mood gadis itu.
40 menit perjalanan akhirnya mereka tiba di sebuah taman yang sangat Indah. Dimana terdapat sebuah danau besar di sana. Kening Carissa mengkerut dalam, gadis itu kebingungan. Bukankah mereka akan makan siang? Lalu kenapa Rolen malah membawanya ke sini?
"Ayo turun" ajak Rolen lembut. Carissa menoleh dengan tatapam bingung. "Bukannya kita mau makan siang?"
Rolen mengangguk. "Hm. Kita makan di sini, ayo"
Rolen beranjak keluar lebih dulu, berjalan memutar ke sisi lain mobil tepat di samping Carissa, kemudian membuka pintu penumpang di sebelah gadis itu. Carissa meraih tas miliknya, lalu beranjak keluar dari dalam mobil.
Tidak jauh dari pinggir danau, Netra biru Carissa bisa menangkap sebuah tikar yang di bentangkan di atas rumput. Di atasnya ada berbagai macam hidangan juga sebuah keranjang kayu yang biasa di gunakan untuk piknik.
"Kamu nyiapin semua ini?" tanya Carissa. Senyum manis Rolen terbit. "Iya, makannya tadi aku lama. Maaf ya, kamu gak suka ya?"
Kekehan kecil keluar dari bibir Carissa, gadis itu menjatuhkan dirinya ke atas tikar. "Ayo duduk. Aku udah lapar tau" ucapnya tiba-tiba yang sontak membuat Rolen terkejut.
Rolen pikir, mantan kekasihnya itu akan menolak kejutan yang telah di siapkannya, tapi nyatanya justru Carissa menerimanya dengan senang hati. Pikiran buruk yang sempat hinggap kini hilang seketika.
"Mau sampai kapan kamu bengong begitu?" lagi, Carissa kembali bersuara setelah mendapati Rolen yang bengong.
"A-ah? O-oh iya"
Jari lentik Carissa meraih sepotong kue, mencicipinya dengan satu gigitan. Mata gadis itu membola setelah lidahnya mencecap rasa dari kue tersebut.
"Ini enak. Kamu beli dimana?" tanyanya sambil menatap Rolen.
"Aku bikin sendiri" jawab Rolen kalem.
"Hah? Serius?" Rolen mengangguk sebagai jawaban. "Sejak kapan? Aku gak tau kamu bisa bikin kue"
Sontak ekspresi Carissa berubah, menjadi merengut. Netra birunya mendelik kesal pada sang mantan karena telah menyindirnya.
"Rese." cibir Carissa sambil melanjutkan acara makannya.
"Ngomong-ngomong, aku baru tau kalau kamu baru sembuh dari operasi"
Carissa menatap lamat kedua netra gelap Rolen. Bisa dirinya tebak bahwa lelaki itu pasti tau dari sepupunya.
"Mm" hanya deheman singkat yang Carissa berikan sebagai jawaban.
"Boleh aku tau kenapa kamu di operasi? Itu pun jika kamu mau cerita" Rolen bertanya dengan hati-hati.
Hembusan nafas kasar Carissa keluarkan dari sela-sela bibirnya. Matanya terpejam erat untuk beberapa detik, sebelum akhirnya kembali terbuka.
"Cangkok tulang" setelah meyakinkan dirinya, Carissa kembali bersuara.
"Cangkok tulang? Kamu kecelakaan?" kerutan dalam di kening Rolen nampak jelas terlihat.
"Lebih dari itu"
"Aku gak ngerti"
"Aku gak bisa cerita sekarang. Suatu saat nanti kamu pasti akan tau apa yang terjadi sama aku. Tapi yang jelas kejadian itu bikin aku hampir lumpuh total, dan beruntungnya cangkok tulang yang aku lakukan berhasil"
Rolen meringis, dirinya tidak bisa membayangkan seberapa sakit yang gadisnya rasakan saat itu. Dan bodohnya karena dirinya tidak ada untuk menemani Carissa di saat terpuruknya.
"Maaf karena aku bikin kamu ingat kejadian itu lagi"
"Gak apa-apa. Aku udah lupain semuanya kok"
Tangan Rolen menarik kedua bahu Carissa, membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangatnya. Carissa menyambut pelukan mantan kekasihnya itu dengan senang hati. Membenamkan kepalanya di dada bidang lelaki itu.
"Mulai sekarang, aku yang akan jagain ku, aku gak akan biarin kamu terluka lagi. Itu janji ku"
"Jangan tinggalin aku ya Rolen"
"Iya sayang"
.....
Gak jelas? Maaf ya
Tbc? Bye!