Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
180



Sudah tiga tahun sejak terakhir kali dirinya berbicara dengan Jeno melalu telpon. Erick tidak menyangka bahwa dirinya akan selemah ini, begitu bahagia bisa mendengar kembali suara lelaki itu.


Dirinya jadi membayangkan bagaimana rupa sang kekasih saat inu. Jeno pasti semakin tampan dan gagah. Dia pasti menjadi lelaki idaman para wanita. Hanya membayangkannya saja sudah cukup membuat Erick kesal.


"Masih ada tiga tahun untuk bertemu kamu, Jen. Tapi aku udah rindu" Erick bergumam sedih.


Seandainya saja Jeno tidak egois, dirinya tidak perlu kabur seperti ini. Menyebalkan! Lelaki itu selalu menyebalkan. Namun sayangnya, hatinya justru jatuh pada sosok semenyebalkan Jeno.


"Tidur aja deh"


Erick membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah meletakkan ponselnya di meja nakas. Rasa lelah menghinggapi tubuhnya. Jadwal yang padat seharian penuh, di tambah mengobrol dengan Jeno yang semakin menguras emosinya membuat Erick terlelap begitu cepat. Lelaki cantik itu bahkan lupa makan malamnya.


**


"Kenapa kopernya di beresin lagi?" tanya Isabella heran. Pasalnya dirinya baru saja hendak membangunkan Jeno yang tak kunjung turun untuk sarapan. Tapi yang di dapatinya justru sang anak sedang membereskan kopernya kembali. Seperti hendak pergi.


"Jeno mau kembali ke Jerman" jawab Jeno kalem.


Isabella tercengang mendengar jawaban sang putra. "Hah?"


"Jeno pulang untuk Erick, kalau Erick gak ada buat apa Jeno di sini" ucap Jeno.


"Haisshh! Anak ini benar-benar" Isabella meletakkan kedua tangannya di pinggang, netra abu gelapnya menatap kesal sang putra.


"Lepaskan koper mu dan turun untuk sarapan. Atau bunda akan lenyapkan semua foto-foto Erick!" ancam Isabella.


"Bunda!!" Jeno menoleh kesal pada sang bunda. Koper miliknya ia banting begitu saja, lalu berjalan keluar dari kamar dengan ekspresi marah.


"Dasar bucin" cibir Isabella gemas.


Di ruang makan.


"Ada apa dengan wajah jelek mu itu?" tanya Jesslyn pada kaka kembarnya yang baru saja datang dengan wajah tertekuk.


"Diam kau!" desis Jeno sini.


"Hell yah!!"


"Kau apakan putramu, bee? Kenapa wajahnya kusut seperti itu?" tanya Justin pada sang istri yang baru saja datang.


"Tanyakan saja padanya! Dia sama menyebalkannya dengan mu" jawab Isabella sinis.


"Kenapa jadi aku yang salah?"


"Diam ah! Kamu bawel"


"....."


****


Pagi harinya di tempat Erick.


Pagi ini Erick bangun terlambat, dirinya bangun pukul 9 pagi. Untung saja ini weekend, jadi Erick tidak perlu panik karena terlambat.


Erick bangkit dari atas ranjangnya, berjalan menuju kamar mandi untuk memulai ritual paginya. Lima belas menit kemudian Erick keluar dengan keadaan yang lebih segar.


"Lapar" gumam Erick yang baru teringat bahwa ia melewatkan makan malamnya lagi.


"Makan dulu deh, baru mulai ngerjain tugas"


Erick berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan memilah masakan apa yang akan ia buat pagi ini.


"Buat Bircher müesli aja deh" Erick mulai mengeluarkan satu persatu bahan dari dalam kulkas dan menatanya di atas konter dapur.


Note : Bircher müesli adalah salah satu hidangan sarapan favorit di Swiss. Makanan ini terbuat dari kombinasi serpihan gandum, berbagai macam buah, kacang-kacangan, perasan lemon, dan susu.


Setelah selesai menyiapkan, Erick membawa sarapan miliknya menuju sofa. Dirinya akan menikmati sarapan miliknya sambil menonton acara pagi di TV.


Drrrtttt...


Getaran di saku celananya menghentikan gerakan tangan Erick yang hendak menyuap makanan ke mulutnya. Dengan malas Erick mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celana.


Umpatan kecil keluar dari bibir pemuda itu begitu melihat siapa yang baru saja menelponnya.


"Aku lupa mencabut nomor ini" ucapnya.


"Pagi sayang" sapaan riang di ujung sana menjadi hal pertama yang menyambut pendengaran Erick.


Tidak ada jawaban dari pemuda itu, Erick hanya fokus pada sarapan miliknya.


"Sayang~ kenapa tidak menjawab?"


"Hallo sayangggggg"


"Sayangku cintakuuuuu uuuuuuuuu"


"Sayanggggg kenapa gak di jawab?" Suara riang itu berubah menjadi sedih.


Erick mendengus, acara sarapannya terganggu dengan tingkah menyebalkam Jeno.


"Apa?" Jawabnya ketus.


"Yeayyyy di jawab"


"Apasih gak jelas"


"Ihh marah marah terus. Aku tuh kangen loh"


"Bodo"


"Sayang~ tega sama aku"


"Cermin di kamar kamu gede"


"......"


"Ayang lagi apa?"


"Sarapan"


"Aku ganggu ya?"


"Banget"


"Jujur sekali"


"Kangen~"


"Bawel ah! Matiin nih"


"Jangan dong"


"Ayang kapan pulang?"


"Nanti kalau kamu udah balik ke Jerman"


"Ihhh jahatnya. Aku loh mau ketemu, kangen tau"


"Aku gak"


"Kok gitu?!"


"Gak perduli maksudnya"


"SAYAAANGGGGG"


"BERISIK JEN!! Kenapa jadi kamu yang kaya anak kecil?"


"Hehehehe lucu kan?"


"Gak!"


"Galaknya"


"Terserah"


"Aku tau kamu dimana sekarang"


Perkataan Jeno sukses membuat nafas Erick tercekat. Apa Jeno sudah tau dimana dirinya berada? Apa lelaki itu berhasil menemukannya?


"Di-dimana emangnya?" Tanya Erick agak gugup.


"Hatiku" seru Jeno dengan tawa gelinya.


"Sialan!"


Erick mematikan telponnya sepihak. Padahal dia sudah ketakutan, tapi lelaki itu justru malah bercanda.


"Memang bajingan!"


**


"Kok dimatiin?"


*****


T b c?


Bye!