Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
168



"Dadadada ngeheue hooo"


"Maamamashs dgauwjsb"


Ocehan-ocehan lucu yang keluar dari bibir kedua bayi mungil itu menjadi lagu yang mengiringi indahnya pagi.


Sejak terbangun pukul 5 pagi tadi, keduanya tak henti mengoceh menggunakan bahasa bayi yang hanya mereka sendiri yang mengerti.


Aldre hanya bisa tertawa gemas melihat interaksi kedua bayi kembarnya. Bayi berusia 5 bulan itu semakin cerewet setiap harinya. Mereka hanya akan terdiam ketika tidur dan minum susu.


"Kalian ini ngomong apa sih? Daddy gak ngerti loh" ucap Aldre yang mulai pusing dengan ocehan absurd kedua anaknya.


"Dadadakwiu nskwowhssh nggeengg" Alaber menjawab sambil tertawa lebar. Memperlihatkan gusinya yang belum memiliki gigi sama sekali.


"Hah? Ngeeengg? Al mau naik motor?"


"Ngengeeeee ngengeeeennggg ngengeeengg" sahut Alaner lagi.


"Et dah. Anak siapa sih ni bocah?"


"Dadadada" Alaner kembali menjawab ucapan sng daddy dengan nada riang khas bayi.


Aldre terhenyak mendengar jawaban sang putra. Bayi mungil itu mengerti apa yang dirinya katakan. "Waduh! Siaga satu nih"


Kepala Alaner menoleh ke samping begitu merasakan atensi sang mommy, sedangkan Aldre masih sibuk dengan keterjutannya sampai tidak menyadari kehadiran sang istri.


"Myyyyyy" seru Alaner kencang yang sukses membuat Aldre tersadar.


"Aktif sekali baby Al" Ara memberikan satu kecupan singkat di pipi gembul sang putra, kemudian beralih menatap sang suami. "Kamu kenapa Al?" Tanyanya heran.


"Hah?"


"Dih. Masih pagi udah linglung"


Tangan Ara meraih tubuh Alaner ke dalam gendongannya. "Ayo sarapan. Kamu bawa Aldara ya" ajaknya sambil berjalan keluar dari kamar.


D3ngan sigap, Aldre menggendong sang putri yang ternyata sudah kembali tertidur. Padahal seblumnya bayi cantik itu masih mengoceh bersama sang adik.


Setibanya di ruang makan, Ara mendudukan Alaner di kursi khusus bayi, begitu pun dengan Aldre yang melakukan hal yang sama.


"Loh, Aldara tidur?"


"Mm. Aku juga gak sadar dia udah tidur lagi"


"Yaudah biarin aja. Kecapean kali dia ngoceh terus dari tadi"


"Kalo bocah ini kapan tidurnya? Aku pusing denger dia ngoceh terus dari tadi" dengan santai Aldre menunjuk sang putra dengan jarinya.


Ara menepis tangan sang suami, wajahnya berubah kesal. "Jangan kaya gitu sama anak aku" protesnya.


"Nyinyinyi" cibir Aldre.


***


"Kamu ngapain sih pagi-pagi ke sini?" tanya Erick dengan nada tak santai. Pasalnya dirinya baru saja selesai sarapan, tapi Erick justru sudah kedatangan tamu tak di undang, padahal dirinya ingin menghabiskan weekendnya dengan tidur.


Jeno yang menjadi sang tamu tak di undang, hanya tersenyum mendapat omelan dari sang pujaan hati.


"Gak usah senyum-senyum. Kamu ngapain di sini? Lagian tau darimana sih aku di rumah kakek?"


Saat ini, Erick dan keluarganya memang sedang menginap di rumah sang kakek, tuan Rayyan Skholvies. Tidak hanya keluarganya, tapi ada keluarga sang paman, Galih dan Dion.


"Aku cuma mampir. Memangnya gak boleh?" jawab Jeno kalem.


"Gak. Pulang sana" usir Erick.


"Ouh? Jeno" panggilan itu membuat keduanya sontak menoleh. Erick mendengus kesal begitu mendapati sng kakek yang sudah keluar dari ruang makan. Bersama sang nenek, juga saudaranya yang lain.


"Aiihhh, masih pagi udah ada yang mau di ajak kencan aja" goda Keano.


"Weesss. Kalem dong brader"


Jeno bangkit dari posisi duduknya, menyapa tuan Rayyan dan nyonya Riyani.


"Ohh jadi ini pacarnya Erick?" setelah Keano, kini gantian nyonya Riyani yang menggoda sang cucu.


"Nenekkkk~" Erick merengek saat sang nenek ikut menggodanya.


"Doain aja ya, nek" timpal Jeno. Erick melotot kesal. "Apasih ah!"


"Tuh nek. Restuin udah, dari pada dia galau-galau gak jelas" sahut Keano.


"Diem gak lo?! Gua bilangin bang Jeven lo jalan sama cowok laen kemaren" ancam Erick.


"Heh?!"


"Gak usah di bilangin, bang Jeven udah tau kok" timpal Jeno lagi, yang sukses membuat Keano panik seketika.


"Mampus" Erick tersenyum penuh kemenangan.


"Pantes Jeven gak mau main ke rumah" gantian, kini Kevin yang menimpali.


"Sudah-sudah biarkan Keano selesaikan sendiri masalahnya. Jadi, Jeno kesini ingin mengajak Erick pergi?" tanya Rayyan.


Jeno mengangguk. "Jeno ingin mengajak Erick ke rumah keluarga ayah. Kebetulan ada acara keluarga hari ini. Itu pun jika boleh kakek"


Kening Erick mengkerut dalam. "Ngapain ngajak aku? Itu kan acara keluarga kamu"


"Aku mau kenalin kamu sama omah dan opah"


"Mereka udah kenal aku"


"Ngenalin sebagai calon menantu. Sekalian bikin diam teman omah yang ingin menjodohkan aku sama cucunya"


"Gak ada urusannya sama aku"


"Jadi kamu mau aku di jodohin sama orang lain?"


"Ya emang kenapa?"


"Yakin? Yaudah kalo gitu. Gak apa-apa aku nikah sama yang lain nanti, yang aku perjuangin gak perduli soalnya" ucap Jeno dengan nada sedih.


"Tunggu disini! Bawel!!" dengan hentakan kaki kesal, Erick pergi menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.


"Jen"


"Hm"


Keano merapatkan tubuhnya pada sang sahabat. Mendadak kepo dengan ucapan sahabatnya itu. "Lu beneran mau nikah? Kan masih 14 tahun?"


"Ya enggaklah. Ayah bisa ngamuk anaknya nikah sekarang. Lagian itu cuma gertak" jawab Jeno kalem.


"Ettt dahhhh. Bikin kaget aja lo"


"Yang suruh lo percaya sape?"


"Au ahh"


Para orang tua yang mendengarkan hanya bisa menggeleng geli. Ada saja tingkah para remaja baru puber ini.


.....


T b c?


Bye!