
Didalam sebuah ruangan yang sangat besar dengan nuansa merah dan hitam, dengan gaya klasik khas Eropa, juga berbagai furniture mewah yang menghiasi setiap sudut ruangan.
Seorang lelaki bertubuh besar, dengan stelan jas hitam, dan senjata dipinggangnya memasuki ruangan. Menunduk hormat pada sosok lelaki yang berdiri menghadap jendela membelakanginya.
"Tuan. " panggil lelaki itu.
"Say it. " jawab dingin sosok tersebut.
"Mereka mulai mencurigai anda tuan, dan sepertinya godfather sudah menyadari hal ini sejak lama. "
"Mm, how about her? "
"Dia masih mencoba mencari tau tentang kebenarannya, tapi saya yakin wanita itu pasti akan mendapatkan jawabannya dengan cepat, mengingat siapa dia sebenarnya. " lelaki itu menjelaskan dengan khawatir.
"I see. Be careful, she alone is enough to kill us! " nada suara dingin itu berubah menjadi lebih tenang.
"Saya mengerti tuan. "
"Bagaimana dengan 'dia' ? "
"Kami masih mengikutinya tuan, sejauh ini 'dia' belum melakukan tindakan apapun. Tapi beberapa kali 'dia' datang kesebuah rumah bordir. "
"Mm, terus awasi jangan sampai terlewat sedikitpun. Aku ingin informasi sekecil apapun. " perintahnya.
"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi. " lelaki berbadan kekar itu menunduk hormat sekali lagi sebelum berjalan mundur dan keluar dari sana. Meninggalkan sosok itu yang masih setia dengan posisinya.
.
"Kau mendapatkan sesuatu princess? "
Wanita cantik yang tengah hamil itu hanya memandang singkat sang ayah. Ekpresi wajahnya yang tenang, menyiratkan banyak hal. Pikirannya tertuju pada banyaknya kemungkinan, tapi hanya satu yang pasti.
Tuan Revano menatap hikmat putri kesayangannya itu. Menunggu dengan tenang apa yang akan dikatakannya.
"Terlalu tenang. " ucapnya singkat. Tuan Revano tersenyum tipis, mengerti maksud putrinya. "Dia pasti tau pergerakanmu bukan? "
"Dan terlalu bodoh untuk bertindak. " Tuan Revano terkekeh. "Jadi? "
"Aku akan menjalankan rencana ku secara perlahan mulai dari sekarang. Tunggu perintahku dan kalian bisa bergerak. "
"Mm, lakukan apapun yang menurutmu benar princess. "
"Cucumu sudah mengetahuinya papah, peringatkan dia! Bocah keras kepala itu bisa mengacaukan segalanya. " pandangan matanya berubah tajam, mengingat apa yang dilakukan keponakan tercintanya membuat Isabella kesal.
"Don't worried princess, papah yang akan menanginya. "
Isabella kembali menatap sang ayah. "Baiklah, aku harus kembali kekamar sebentar lagi suami ku akan pulang. " Tuan Revano mengangguk. "Jangan lupa untuk memberitahu suamimu. Dia sudah menaruh kepercayaannya padamu, sayang. "
"Mm, aku akan mengatakannya setelah ini. "
"Hmm, istirahat pah jaga kesehatanmu. " setelah mengatakan itu, Isabella melangkah keluar dari sana.
"Punya putri seorang dokter ternyata cukup cerewet. Ahh, tidak - tidak walau bukan dokterpun dia tetap cerewet. "
.
Wanita hamil itu berjalan menghampiri sang suami yang baru saja keluar dari mobilnya. "Boo.. " panggilnya. Justin menoleh, tersenyum merentangkan kedua tangannya, dan disambut dengan baik oleh sang istri. "Lamaaa... " rengeknya manja.
Justin terkekeh, "maaf sayang, pekerjaan ku menumpuk. Apa baby merindukan ayahnya?" Tangannya mengelus lembut perut buncit itu. "Tidak! " ngambeknya.
"Hahaha, gemasnyaaa... "
"Ihh jangan dicubit, sakit tauuu. "
"Ayo masuk, aku lapar. "
"Mmm. "
mereka tiba didalam kamar, Isabella membantu Justin melepaskan pakaiannya, menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.
"ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu boo... "
"katakanlah. "
"ini tentang rencanaku. "
Justin terdiam sesaat, memandang lekat istrinya, membuat wanita itu gugup dengan sorot tajam sang suami. "kamu tau aku tidak ingin mendengar kegagalanmu bukan? "
"mm, aku tau. aku ingin mendengar rencanaku dan berikan tanggapanmu. "
"dan mungkin aku akan membutuhkan sedikit bantuanmu. "
"jangan sampai anak - anak mengetahui hal ini, terutama Jovan. " Justin sedikit khawatir dengan putranya yang satu itu. anak itu memiliki ketertarikan terhadap dunia gelap seperti sang bunda.
"aku tidak bisa berjanji boo, kau jelas tau bagaimana Jovan kan? dia sulit dikelabui sepertimu. "
"setidaknya jangan biarkan dia terlibat. "
"akan aku usahakan. "
Justin melangkah masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Isabella yang termenung. wanita itu melupakan tentang sang putra, dia harus mengubah sedikit rencananya.
......
T B C?
SEE YOU!