
Sejak pembicaraan terakhir dan penjelasan yang dirinya dapatkan, Jeno tak lagi berbicara dengan kedua orang tuanya. Bocah itu bahkan terkesan menghindar jika Isabella atau Justin mencoba mengajak nya berbicara.
"Kalian mau balik ke asrama?" Virzan bertanya dengan pandangan yang tak lepas dari Geo.
Kanfa mengangguk bukannya tidak sadar dengan tatapan Virzan pada Geo tapi ia memilih untuk berpura-pura tidak sadar.
"Iyalah, gak boleh nginep di luar karena ini bukan waktunya liburan" jawab Kanfa.
"Oh, kalian mau balik sekarang?" tanya Virzan lagi. "Gak tau tuh Geo" bukannya menjawab, Kanfa melempar jawaban pada Geo.
Geo yang tengah asik bermain game pun terkejut. "Lah kok gua? Jeno noh" serunya sambil menunjuk Jeno yang kini sudah duduk di sebelahnya.
Satu tangan Jeno menepuk pelan pundak Geo. "Lu kan kaka gua, Ge jadi gua mah ngikutin lu aja" ucap Jeno.
Kepala Virzan menunduk, bibirnya ia kulum dengan senyum yang tertahan. Sahabat-sahabat nya ini jelas tau apa yang dirinya inginkan.
"Gak jelas lo ah. Ayo balik udah sore nih" ujar Geo dengan raut kesalnya.
"Baru jam 3 anjir" protes Brian. Geo mengibaskan sebelah tangannya. "Do amat" lalu pergi dan berjalan lebih dulu.
"Besok maen ya Ge, ajak kita keliling Jerman" seru Virzan dengan suara agak keras.
Geo berbalik dengan wajah cengonya. "Heh bajingan! Lo aja lahirnya disini ya bangsat!"
"Kkkk marah-marah mulu lo" timpal Keano.
"Bicik lo jamet"
"Si anjing"
"Nyenyenye"
"Pamit lo sama papah"
"Iye bawel"
Jeno dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, Keano dan Geo memang tidak cocok jadi saudara kembar. Love language nya mengumpat setiap saat.
"Aku pamit ya, besok kita ketemu lagi" pamit Jeno pada Erick yang menatapnya cemberut. "Janji ya?" ucap Erick.
"Janji sayang"
"Pacaran mulu lo, Jen. Ayo balik, keburu si Geo bersabda entar" seru Hiro yang mulai jengah dengan kemesraan keduanya.
"Sirik aja jomblo"
"Yee asu"
"Udah ayo ah, malah berantem lo berdua" ujar Kanfa. "Pamit yo gaes, jangan kangen karena gua bukan dilan"
"Bacot" balas Jovan.
"Yee emosian"
"Wkwkwkwk"
Di tempat para orang tua.
"Pah"
Geo berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya. Galih yang merasa namanya di panggil menoleh lalu tersenyum hangat begitu mendapati kehadiran putra sulungnya.
"Hai sayang" Galih merentangkan kedua tangannya meminta Geo untuk menyambut pelukan hangatnya yang diterima Geo dengan senang hati.
"Ada apa? Kenapa tidak bersama sahabat-sahabat mu?" tanya Galih.
"Geo mau pamit, udah mau sore. Jadi Geo mau balik ke asrama" jawab Geo.
Wajah Galih berubah sedih, ia masih ingin bersama putranya. "Geo disini aja ya, nanti papah minta izin sama mrs. Rena" bujuk Galih.
Geo menggeleng. "Geo si gak apa-apa, tapi Kanfa sama Hiro kan harus balik ke asrama. Gak mungkin dong Geo ninggalin mereka, lagian kan besok masih bisa ketemu. Selama masa belajar belum di mulai, Geo masih bisa keluar masuk sekolah" ucap Geo mencoba menjelaskan kepada sang papah dengan lembut agar lelaki itu tidak sedih.
Galih mengangguk paham, ia jelas tau aturan di Cartesy. "Yaudah kalau gitu. Tapi besok papah mau sama Geo ya dan pokoknya Geo harus sama papah"
Kekehan kecil Geo meluncur dari bibirnya. "Iya papah, pokoknya besok Geo cuma punya papah"
"Mmm sayangnya papah" Galih mengeratkan pelukannya, tak rela melepaskan putra sulungnya untuk kembali ke asrama.
"Sama daddy enggak?" seru Kevin yang merasa di abaikan anak dan istrinya.
"Gak!" jawab Geo singkat. Bibir Kevin mencebik. "Pilih kasih"
"Do amat. Bagi duit dong dad" Geo menedengkan tangannya di depan wajah Kevin membuat sang daddy menatapnya sinis.
"Pulang sono lu, cucian lu lari-larian noh"
"Do amat"
"Pah daddy pah" adu Geo pada sang papah.
"Ngadu ama bini gua" cibir Kevin. "Ngapa si sirik aja orang tua" balas Geo sinis.
"Udah-udah, malah berantem. Nanti papah tf ya, dari rekening daddy tapi" Galih melerai perdebatan keduanya.
Kevin mendelik tak terima. "Dih!"
"Gak usah protes ini anak ku" omel Galih. Geo meleletkan lidahnya ke arah Kevin, mengejek daddy nya yang tak mendapat pembelaan dari sang papah.
**
"Kamu gak mau pamit sama bunda dan ayah, Jen?" Jesslyn menatap lekat kaka kembarnya itu. "Besok juga ketemu lagi" jawab Jeno santai.
"Tapi gak sopan kalau kamu gak pamit" tegur Jesslyn.
"Kamu aja yang pamitin, dah aku pulang ya. Jangan pergi kemana-mana tanpa Jovan" ucap Jeno tanpa menatap sang adik. Melayangkan satu kecupan di Puncak kepala Jesslyn sebelum berjalan kembali menuju sekolah.
"Woi Jen!!! Anjrit gua di tinggal. Bye Jess" Geo berlari mengejar Jeno yang sudah berjalan menjauh setelah melambaikan tangan pada Jesslyn.
"Jeno tidak pamit" gumam Galih. Jesslyn yang mendengar itu menggeleng. "Jesslyn udah bujuk pah, tapi Jeno gak mau"
"Yaudah gak apa-apa, ayah sama bunda pasti ngerti. Kaka mu itu kalau marah susah di bujuknya, yuk kita pulang"
"Apa mereka sudah pulang?" tanya Isabella pada Galih. "Baru saja"
Isabella menarik nafas berat, putranya bahkan tidak mau menghampiri nya sama sekali.
"Pikirkan lagi niat mu, dear. Perceraian kalian hanya akan memperburuk keadaan. Kau akan melihat sosok ka Justin yang lain dalam diri Jeno"
"Aku gak tau"
"Ayo kita pulang, kau perlu istirahat"
Setibanya di mansion.
Dengan gerakan hati-hati Justin masuk ke dalam kamar, dirinya tak ingin mengganggu dan membuat Isabella menjadi tak nyaman dengan kedatangannya.
Pemandang pertama yang ia dapat adalah punggung Isabella yang membelakangi pintu, wanita cantik itu menatap lurus keluar jendela.
"Be--"
"Bagaimana cara kita menyelesaikan masa lalu ini?" suara lirih yang terdengar penuh keputusasaan masuk ke dalam pendengaran Justin.
"Bee...."
"Aku lelah boo, kita tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu"
"Maafkan aku"
Tes tes tes
Perlahan air mata Isabella mukai menetes dan mengalir deras membentuk aliran sungai kecil di pipinya.
"Aku hanya ingin hidup tenang, tidak bisakah sekali saja aku menjalani hidupku tanpa masalah?"
"....."
"Apa keputusan ku selama ini salah karena bertahan dengan mu? Aku tidak tau jalan apa yang sebenarnya aku ambil. Aku sama sekali tidak tau hiks hiks hiks"
"Jangan bicara seperti itu Bee"
"LALU AKU HARUS BAGAIMANA?!" Isabella berbalik dan menatap Justin penuh amarah. "HIDUPKU HANCUR KARENA MU!! SIAPA YANG HARUS AKU SALAHKAN JIKA BUKAN KAU!!"
"Bee...."
Justin berjalan mendekat memeluk erat tubuh yang jauh lebih mungil darinya itu, tidak perduli sekalipun Isabella memberontak minta di lepaskan.
"Maafkan aku bee, jangan seperti ini aku mohon..."
"Aku membenci mu, boo. Aku sangat membenci mu"
"Mereka bertengkar lagi" ucap Galih pelan.
"Biarkan mereka bicara, mereka harus menyelesaikan masalah yang tidak pernah ada habisnya ini" ucap Kevin lalu menarik tangan sang istri untuk masuk ke kamar mereka.
****
Mohon maaf kalau semakin tidak nyambung
See you!!