
Setelah sebuah fakta baru yang baru dirinya ketahui, Jeno merasa bahwa sebagian semangat dan amarah dalam tubuhnya lenyap seketika.
Dengan langkah gontai Jeno berjalan menghampiri Galih yang tengah asik bercanda dengan Geo. "Papah.." panggilnya lirih.
Galih yang merasa namanya di panggil menoleh, ia mendapati Jeno yang berdiri lemas di belakangnya.
"Hai, kenapa lemas begitu?" tanya Galih dengan nada lembut.
Perlahan Jeno berjalan mendekati Galih dan Geo yang memandangnya bingung. Galih menarik Jeno untuk duduk di samping kanannya.
"Ada apa, nak? Kenapa wajah mu lemas seperti itu?" Tanya Galih lagi.
"Papah, bisakah papah cerita tentang bunda? Bagaimana bunda sebelum menikah dengan ayah" pinta Jeno.
Galih menatap Jeno dengan pandangan yang sulit di artikan. "Apa yang sudah kamu tau tentang ayah mu?"
"Sebagian besar hal yang membuat ayah berubah menjadi sosok yang dingin dan keras. Hanya itu"
"Kau yakin hanya itu?"
Jeno mengangguk kecil. "Ya, hanya itu yang paman Javin cerita kan"
Hening, Galih terdiam cukup lama berfikir sejenak bagian mana yang harus ia ceritakan pada Jeno. Karena sahabatnya itu memiliki 1000 cerita yang membutuhkan waktu panjang untuk menceritakan nya.
"Bagaimana papah harus bercerita? Bunda mu terlalu memiliki banyak cerita dalam hidupnya"
"Papah bisa memulainya dari mana pun" seru Geo yang juga penasaran.
"Isabella.... Sosok wanita paling keras yang papah kenal, bagaimana mendeskripsikan nya? Dia.... Orang yang selalu melakukan segala hal sesuai keinginannya.
Isabella tidak suka di atur, di kekang, di paksa, di tuntut segala macam hal sesuai keinginan orang lain. Dia manusia yang bebas, segala hal yang di lakukannya harus sesuai keinginannya, ambisius, keras, tapi sosok yang baik dan juga penyayang"
"Justin adalah seorang diktator, tidak suka di bantah, keinginannya harus selalu terpenuhi itu sebuah kewajiban, dan segala perkataan nya adalah perintah muntlak bagi Isabella.
Tapi Isabella adalah Isabella dia tidak akan patuh semudah itu, pemberontak, dan akan melawan dengan keras kekasihnya jika dia tidak menyukai hal tersebut"
"Bukankah saat kecil bunda adalah sosok yang periang, papah? Grandma pernah bercerita bahwa saat kecil bunda sangat lucu dan bawel. Tidak pernah marah dan suka menggoda orang-orang"
Geo seketika teringat dengan cerita Sofia tentang sosok Isabella kecil yang selalu di panggil 'adek'.
Senyum simpul terbit di kedua sudut bibir Galih. "Ya, itu benar. Tapi semua orang bisa berubah seiring berjalannya waktu, dan banyak faktor yang mempengaruhi perubahan mereka. Salah satunya adalah hal traumatis"
Kening Jeno mengkerut dalam mendengar kalimat Traumatis yang keluar dari mulut Galih. "Traumatis?"
Galih menatap Jeno lekat, dirinya paham pasti akan ada banyak pertanyaan di dalam otak keponakannya itu. Tapi selain dari Isabella sendiri, dirinya tidak akan pernah menceritakan hal itu pada Jeno atau pun saudara-saudaranya. Karena itu bukanlah haknya untuk memberitahu mereka, kecuali dirinya mendapatkan izin dari sahabatnya itu.
"Jika kau ingin tau tanyakan lah langsung pada bunda mu. Karena bukan hak papah untuk mengatakannya" ucap Galih. Tanpa bicara apapun lagi Galih bangkit dari sofa dan meninggalkan kedua remaja itu sebelum banyak pertanyaan lain yang di ajukan padanya.
Setelah memastikan tubuh sang papah telah hilang di balik tembok, Geo beralih pada sahabatnya yang masih termenung.
"Apa kau ingin menanyakannya langsung pada bunda?" Tanya Geo.
"Apa itu akan menyakiti bunda?" Bukannya menjawab, Jeno justru balik bertanya.
"Jika menyangkut hal-hal traumatis maka jawabannya 100% iya. Kecuali jika orang yang memiliki traumatis bisa berdamai dengan rasa traumanya" ujar Geo menjelaskan hal yang pernah ia baca tentang kesehatan mental.
"Aku takut itu akan menyakiti bunda" ucap Jeno dengan suara lirih.
"Kalau begitu jangan, tunggu saja sampai bunda yang menceritakannya sendiri pada mu"
Jeno melemparkan tubuhnya kebelakang dengan kasar, kepalanya mendongak ke atas dengan masa tertutup.
*
"Kau mengatakannya Galih?" Tanya Javin begitu Galih duduk di samping Kevin.
Galih mendengus geli. "Aku bukan kau, abang. Yang bisa menceritakan sesuatu dengan mudah hanya karena tidak tega"
Bukannya kesal dengan sindiran Galih, Javin justru terkekeh cukup keras. "Maaf, tapi Jeno terlihat seperti mayat hidup"
Hanya gelengan lelah yang bisa Galih lakukan. Galih menoleh pada Isabella yang juga tengah menatap kearahnya. "Selanjutnya adalah tugas mu untuk jujur pada anak-anak mu"
"Aku selalu izinkan, Ge. Jika itu kamu"
"Jauh lebih baik jika kau sendiri yang menceritakan nya, princess" sela Kevin.
"Aku tidak bisa. Aku tidak ingin mengingat apa pun" Isabella jelas menolak jika dirinya harus kembali mengingat salah satu hal yang hampir menghancurkan hidupnya.
"Kau bisa berdamai dengan keadaan tapi tidak dengan rasa sakitnya. Hal itu yang membuat kalian berdua jadi seperti ini" ucap Kevin.
Isabella memberikan tatapan tajam pada sosok yang selalu di panggilnya kaka itu. "Jangan menceramahi ku, kau sendiri tidak mau berdamai dengan orang tua mu!"
"Dear...." tegur Galih.
"Aku masih mengizinkan anak-anak ku untuk bertemu omah dan opah mereka meski harus menjaga jarak! Sedangkan kau malah menyikiti putramu untuk bertahan pada keluarga yang bahkan tidak menyayanginya hanya karena kebencian mu!!
Kita tidak ada bedanya ka! Jadi jangan menceramahi ku!"
"ISABELLA!!!" Bentakan keras meluncur dari mulut Galih yang membuat Isabella terkejut begitupun yang lainnya.
Karena seumur hidup mereka, ini pertama kalinya Galih membentak Isabella sekeras ini.
"Kau membentak ku Ge?" ujar Isabella tal percaya.
"Itu karena kau keterlaluan!!" bentak Galih lagi.
"Apa yang salah dengan perkataan ku?! Aku hanya mengingatkannya, apa yang salah?" kedua mata Isabella mulai berkaca-kaca. Ia tidak suka di bentak apalagi oleh sahabatnya. Dia benci hal itu.
"Aku tidak suka di ceramahi oleh orang yang bahkan tidak bisa mengendalikan amarahnya sendiri. Dan kamu membentak ku karena mengingatkan suamimu?! Kalau begitu mulai sekarang tidak usah ikut campur kehidupan ku!! Urus saja masalah keluarga mu yang menyedihkan itu!! Kau pikir bisa menangani ayah mu tanpa aku?!! Persetan dengan mu!!"
"Bee" Justin mengejar sang istri yang pergi begitu saja meninggalkan semua orang yang terkejut dengan pertengkaran kedua soulmate itu.
Setelah Isabella pergi, Galih baru tersadar bahwa tindakannya adalah salah. Tidak seharusnya ia membentak sahabatnya seperti itu. Ya tuhan, Isabella pasti sangat marah padanya.
**
Di dalam kamar Galih dan Kevin hanya saling terdiam, keduanya duduk di masing-masing sisi tempat tidur.
"Maafkan aku, love. Aku membuat mu dan Isabella bertengkar" Kevin mulai membuka suara. Memandang punggung Galih yang membelakanginya.
"Tidak hubby. Salahku yang tidak bisa mengendalikan diri ku" Galih hanya menolehkan kepalanya ke samping tanpa berniat untuk berbalik.
"Aku akan membantu mu untuk baikan dengannya"
"Tidak, tidak perlu. Tidak apa-apa aku bisa melakukannya. Dia pasti sangat marah sekarang"
"Maaf..."
"Tidak apa-apa hubby, aku.... "
"Aku tidak tersinggung dengan perkataannya. Aku melakukan ini karena tidak ingin dia bertindak bodoh seperti ku. Bagaimana pun rasanya akan sangat sakit jika di benci oleh anak kandung mu sendiri"
"Apa Geo benci aku?"
"Dia tidak akan bisa membenci mu, love. Kau laki-laki yang paling dia cintai dalam hidupnya"
"Tapi dia benci keluarga ku"
"Dia benci saudara kandungnya sendiri"
Nafas Galih tercekat, dirinya jelas paham siapa yang suaminya maksud.
"Seberapa benci?" tanya Galih dengan suara bergetar.
"Belum sebesar rasa benci ku pada mereka" jawab Kevin.
****
See you!