
Kamar dengan warna peach yang dihiasi oleh beberpa lukisan bewarna merah yang menyeramkan, masih terasa sunyi. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Suara deringan alarm membangunkan sang pemilik kamar. Tangannya terjulur kearah nakas, meraih ponselnya yang terus berbunyi.
Tubuhnya menggeliat, membuka selimut yang melindunginya sejak semalam. Kemudian bangkit dengan sedikit malas sambil meregangkan tubuhnya, dengan diiringi erangan kecil.
Suara deringan kembali berbunyi, kali ini bukan alarm tapi suara panggilan telpon. Si pemilik kamar mendengus, ia jelas tau siapa yang menghubunginya sepagi ini.
Meski begitu, ia tidak berniat sama sekali untuk menjawab panggilan tersebut. Sang pemilik kamar, Ara lebih memilih turun dari tempat tidurnya untuk memulai ritual pagi harinya.
Oh... Jangan lupakan tirai jendela yang harus dibuka lebar, agar cahaya kebahagiaan sang Mentari menghiasi seluruh kamarnya.
Setengah jam kemudian, Ara selesai dengan ritual paginya. Gadis itu sudah rapih dengan setelannya, karena pagi ini ia harus rapat dengan para staff tentang persiapan Event yang akan mereka selenggarakan.
Tidak lupa meraih ponselnya diatas nakas, lalu berjalan menuju keluar.
Drrrrtttt
Ara terperanjat, kaget dengan ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Kali ini sebuah pesan masuk, tapi lagi-lagi gadis itu menghiraukannya. Persetan! Ia tidak perduli dengan siapapun yng saat ini menghubunginya.
Setibanya dibawah, untuk kedua kalinya gadis manis itu kembali mendengus. Diatas sofa, sosok yang sejak tadi menghubunginya sudah duduk anteng sambil menatap tajam kearahnya.
"Ara" panggil Sofia begitu melihat sang Putri. "Aldre udah nungguin kamu dari tadi. Kenapa telfonnya gak diangkat?"
"Ara gak tau" jawab Ara cuek.
Sofia mendesah lelah, pasti gadis kecil ini merajuk lagi. "Ngambek lagi, hm?"
"Enggak" elaknya.
"Bohong"
"Enggak mamah"
"Ya kalau gak kenapa Aldrenya dicuekin atuh"
"Aaa mamah"
"Udah ah, mamah mau nyiapin sarapan. Jangan ngambek terus" setelah itu Sofi pergi dari sana.
Meninggalkan kedua bungsu Courtland dan Skholvies untuk menyelesaikan masalah mereka yang entah apa lagi kali ini.
Ara mencebik sepeninggal sang mamah. Karena demi apapun ia sedang tidak ingin melihat lelaki itu.
"Kenapa kamu gak angkat telpon aku?" tanya Aldre datar.
Bisa Ara lihat dari sudut matanya, lelaki itu bangkit dan berjalan kearahnya. Kedua bola matanya mengedar kesegala arah, tidak ingin menatap sang kekasih.
"Kenapa diam? Kamu tau kan aku gak suka dicuekin" masih dengan intonasi yang sama, Aldre berbicara tepat ditelinga Ara.
"Aku juga gak suka dicuekin" balas Ara dengan sewotnya.
Sebelah alis lelaki tampan itu melengkung keatas, tanda tidak mengerti maksud perkataan kekasihnya.
"Cih! Pura-pura gak bersalah"
"Ouh, aku ngerti sekarang" Aldre tersenyum, mengangguk mengerti. "Jadi kamu kesel karena aku gak ada kabar semalem?"
"Enggak" sergah Ara cepat. Tertegun sejenak menatap wajah tampan kekasihnya yang tengah tersenyum manis.
Gadis itu kembali memalingkan wajahnya. Pipinya bersemu merag dan terasa panas. Karena sungguh, kekasihnya semakin tampan jika tersenyum seperti itu. Dan ia sangat tidak rela jika ada wanita lain yang menikmati senyum kekasihnya.
Aldre mendekatkan wajahnya, menelisik pipi kekasihnya yang memerah dari samping. "Blush on kamu tebel juga, ya"
"Apasih Al!!""
"Au ah, kamu jelek"
Ara meninggalkan Aldre begitu saja menuju ruang makan. Sedangkan Aldre masih tersenyum geli menatap tingkah lucu kekasihnya.
Di Ruang makan
Dentingan sendok terakhir dari sang kepala keluarga terdengar, diikuti anggota keluarga yang lainnya.
Revano menatap kearah putra bungsu sahabatnya, yang pagi inj kembali ikut sarapan bersama keluarganya.
"Apa kau akan berangkat hari ini, Aldre?"
"Ya, paman. Aldre akan menuju bandara setelah ini"
"Bandara? Kamu mau kemana?" tanya Ara tidak santai.
"Kamu lupa? Aldre kan mau perjalanan bisnis sayang" timpal Sofia.
"Oh iya, aku lupa"
"Mangkannya jangan kebanyakan ngambek" ledek Rafael. Ara mendelik sinis pada sang kaka.
Aldre menyenderkan tubuhnya kebelakang kursi, menatap sang kekasih. "Aku kesini mau pamit sama kamu. Kamunya malah ngambek. Padahal semalem aku gak ngabarin karena aku lagi ngobrol bareng saudaraku"
"Apasih? Siapa yang ngambek coba. Lagian kamu gak bilang" masih Setia dengan bibir mengerucut andalannya.
"Itu tandanya kamu ngambek, little princess" ledek Rafael lagi.
"Ka Ael jelek, diem aja. Ini urusan anak muda, yang tua gak diajak"
"Bodo amat"
Revano hanya menggeleng lelah dengan kelakuan anak-anaknya yang sekali menggoda si bungsu.
"Jadi penyebab kamu teriak tengah malam karena ini, little princess?"
Ara melototkan matanya pada sang papah. "Papahhhhhh" serunya panik.
Revano tersenyum geli dengan reaksi sang putri. "Loh, emang bener kan?"
"Mamahhh, papah mah!" Ara menatap sang mamah meminta pertolongan.
"Pahhh, jangan ikut-ikutan ah" peringat Sofia pada sang suami. Wanita paruh baya itu kemudian menatap sang putri. "Coba cerita sama mamah kenapa kamu bisa teriak-teriak"
"Mamaaaahhhhh"
"HAHAHAHA" Rafael tertawa puas. Menggoda si bungsu memang sebuah kesenangan.
.
.
Setelah kejadian di ruang makan. Ara dan Aldre kini berakhir di bandara, dengan Aldre yang memaksa sang kekasih untuk mengantarnya.
Penerbangan Aldre akan dilakukan tepat pukul 9 nanti, dan ini sudah pukul 08.30. Aldre sudah mendapat intruksi untuk segera masuk kedalam pesawatnya.
Tapi lelaki itu tidak bergeming sedikitpun dari posisinya di ruang tunggu. Bukan tanpa sebab, pasalnya Ara sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangannya.
"Sayang" panggil Aldre lembut.
Ara mengedipkan matanya berkali-kali, membuat wajah seimut mungkin agar sang kekasih mau membatalkan keberangkatannya. Tapi sayangnya usahanya tak berhasil.
"Aku harus segera berangkat" ucap Aldre lagi.
"Gak mau. Gak usah berangkat"
"Kamu mau pekerjaan aku terlantar?"
"Suruh ka Dion aja yang pergiiiii"
"Sayang, ka Dion kan udah ngehandle pekerjaan aku kemarin"
Ara menggeleng keras. "Mm, gak mau! Pokoknya aku gak mau ditinggal" kekehnya.
Aldre menghela nafas sabar, ia harus menekan emosinya untuk tidak membentak sang kekasih.
"Aku janji akan pulang cepat. oke?" Bujuknya lagi.
"Nanti kalau aku kangen gimana?"
"Aku akan hubungin kamu selalu, sebelum aku mulai bekerja, saat istirahat, dan saat aku pulang"
Ara tidak bergeming. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Aldre. Para staf yang sudah menunggu bergerak gelisah, khawatir dengan peringatan yang dikeluarkan pihak bandara.
Pasalnya waktu tinggal 15 menit lagi. Meski menggunakan pesawst pribadi, tapi kondisi bandara yang tengah sibuk tidak memungkinkan untuk mereka menunda penerbangan.
"Keynara Revano Courtland!" Mendengar nama panjangnya yang keluar dari bibir sang kekasih membuat Ara dengan cepat melepaskan genggamannya.
Menunduk takut karena Aldre yang menatapnya tajam. Aldre yang mengerti ketakutan kekasihnya mengubah kembali sorot matanya seperti semula.
"Aku berangkat sekarang ok?" Pamitnya lembut.
"Janji pulang dengan cepat ya?" ucap Ara lagi.
"Aku janji sayang"
"Jangan kegoda sama cewe lain. Aku potong pusaka kamu!" ancamnya.
"Pak jagain ya? Kalau dia macem-macem timpuk aja kepalanya pake kelapa" Ara berseru pada para staf, yang dibalas acungan jempol oleh mereka.
"Siap ibu bos" jawab mereka kompak.
Cup cup cup
Tiga kecupan di pipi dan bibir Aldre sematkan sebelum ia pergi. "Hati-hati pulangnya, ya?" Ara mengangguk kecil.
"Kamu juga hati-hati"
"Aku pergi dulu, sayang "
"Hm"
Aldre berjalan menuju landasan, diikuti para staf dan pengawalnya.
Setelah memastikan pesawat Aldre lepas landas, Ara melangkah menuju mobil. Untung tadi ia datang dengan supir. Jadi tidak perlu menyetir dengan keadaan badmood.
......
T B C?
BYE!