
Hari demi hari berlalu. Sejak kencan terakhir mereka, Aldre, dan Ara menjadi jarang bertemu. Aldre sibuk dengan pekerjaannya dan masalah yang ada didalam perusahaannya. Sedangkan Ara gadis itu sedikit santai, segala urusan EO miliknya sudah ditangani orang kepercayaannya. Sesekali ia akan mengecek langsung hasil kerja mereka. Tapi terkadang Ara akan menemani Carissa menjalani terapinya.
Seperti hari ini. Sejak pukul 7 Ara sudah berada dikediaman Alexander, rencananya ia akan menemani sahabatnya itu untuk terapi.
"Maaf ya Ra, agak lama" ucap Carissa setelah ia keluar dari kamar.
Ara bangkit menghampiri sahabatnya. "Gak apa-apa Car, udah biasa. Dari dulu kan emang kamu yang paling lelet" balas Ara tersenyum polos.
"Aaaaahhhh Araaaa mahhh"
Carissa memukul kecil lengan sahabatnya. "Kita berangkat sekarang?" Tanya Ara. Carissa mengangguk, lalu berpamitan pada sang mamih.
Ara mendorong kursi roda Carissa keluar. Mereka akan pergi hanya berdua kali ini, dengan satu orang supir yang menemani juga beberapa bodyguard yang akan mengawasi mereka dari jauh tentunya. Karena rencananya setelah dari rumah sakit, keduanya akan berjalan-jalan sebentra sekalian quality time. Sebab mereka sudah lama tidak melakukannya.
Ara dan Carissa tiba dirumah sakit. Begitu memasuki lobi, mereka cukup terkejut melihat Aldre sudah berdiri disamping resepsionist menunggu mereka.
Ara mendelik kesal pada kekasihnya itu. Setelah berhari-hari tidak ada kabar, lelaki yang menurut Ara jelek itu kini muncul tanpa rasa bersalah.
Carissa mendongak menatap sahabatnya, diam-diam gadis itu meringis. 'Perang dunia lagi nih' ucapnya dalam hati.
"Kamu kok disini, Al?" Tanya Carissa begitu mereka sampai didepan Aldre.
Aldre tersenyum, menundukan sedikit tubuhnya. "Aku mau nemenin kamu terapi hari ini" ucap Aldre lembut.
"Mm, oke"
"Aku udah registrasi ke resepsionist, kita bisa langsung menemui dokter sekarang" Aldre bergerak hendak mengambil alih kursi roda Carissa, tapi belum satu langkah gerakannya terhenti karena pelototan tajam kekasihnya.
Lelaki itu menelan ludahnya kasar, tubuhnya mendadak kaku. Memilih untuk berjalan dibelakang keduanya. Carissa terkikik geli, jarang-jarang melihat Aldre sepanik ini.
Sampai didepan ruang terapi. Dokter yang menangani Carissa sudah menunggu, tapi Ara tidak melihat kehadiran sang kaka disana.
"Maaf sus, dokter Bella gak dateng ya?" Tanya Ara pada suster.
Suste tersebut mengangguk, "dokter Bella sedang memiliki pasien darurat saat ini. Beliau berada diruang operasi sekarang" jelas suster.
"Kalau begitu, kita masuk ya Carissa. Dokter sudah menunggu didalam. Hari ini kita hanya akan melakukan terapi 40 menit, karena dokter harus pergi kerumah sakit lain satu jam lagi"
Carissa berseru senang. Quality timenya dengan Ara akan lebih panjang. Biasanya ia membutuhkan hampir dua jam untuk terapi.
Suster mendorong kursi roda Carissa masuk kedalam ruang terapi, sedangkan Aldre dan Ara menunggu diruang tunggu.
Tidak ada suara yang keluar dari keduanya sejak Carissa masuk. Lebih tepatnya Ara yang enggan berbicara dengan kekasihnya, dan Aldre yang masih agak panik.
Tak tak tak
Suara hentakan sepatu mengalihkan atensi keduanya. Ara bisa melihat sang kaka, Isabella berjalan kearah mereka masih dengan baju operasinya.
"Kaka sudah selesai operasi?" Tanya Ara. Isabella mengangguk. "Carissa sudah didalam?"
"Baru masuk 10 menit yang lalu"
"Kenapa dengan kalian berdua?" Isabella menatap aneh keduanya.
"Tidak ada"
"Terserah. Ouh, kau belum mengambil kalungmu kembali, Al" setelah mengatakan itu Isabella membuka pintu ruang terapi, lalu masuk kedalam.
"Kalung? Kalung apa?" Ara menatap Aldre meminta penjelasan.
"Kepo banget" jawab Aldre asal.
"Iihhhh, rese banget sih lo!"
"Hahaha, bercanda sayang. Sini duduk" pergalangan tangan Ara ditarik oleh Aldre untuk kembali duduk.
"Waktu di Rusia. Jovan nyelinap ke kamar aku untuk mencari sesuatu atas perintah ka Bella, tapi ngambil kalung kesayangan aku yang sengaja aku gantung didinding"
"Orang gila mana yang naro kalung kesayangan didinding?" Tanya Ara sewot.
"Aku belum selesai bicara sayang" tegur Aldre. "Aku sengaja gantung disana karena kalungnya bakalan cantik banget didalam gelap. Tapi Jovan malah ngasih kalung itu ke Harena, dia nuker permatanya dengan yang palsu. Jadi aku minta tolong ka Justin untuk ambilin kalung aku"
"Oohhh"
"Aku cerita panjang lebar cuna dijawab oh?" Aldre menatap tak percaya kekasihnya.
"G-gak, gak apa-apa "
"Galak banget"
"Ngomong apa?!"
"Gak sayang, gak"
Di dalam ruangan.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya suster heran. Kepalanya melongok kearah jendela mencari tau apa yang terjadi diluar.
Isabella dan Carissa saling pandang, mereka jelas tau apa yang terjadi. "Bukan apa-apa sus. Biarin aja, paling orang gila ribut" ucap Carissa.
"Ouuhh, tapi kan ini bukan rumah sakit jiwa"
"Abaikan aja sus, abaikan"
.
.
Sepasang sepatu boot kulit berwarna hitam, melangkah masuk kesebuah area bangunan tak terpakai. Sisa reruntuhan bangunan tersebut masih berserakan dimana-mana.
Langkah kaki tersebut menyusuri semakin dalam area bangunan tersebut. Bangunan yang bertahun-tahun lalu sengaja ia hancurkan. Lebih tepatnya memusnahkan apa yang ada didalamnya.
Sepasang Netra berwarna hazel itu mengedar kepenjuru arah. Mencari sesuatu yang bisa menjadi sebuah jawaban untuknya.
Salah satu tangannya menggenggam sebuah kalung dengan permata berbentuk love berwarna merah. Benda yang ia kira selama ini berhasil ia hancurkan bersama bangunan tersebut.
Sosok itu mengangkat tangannya, sinar terang keluar dari permata Indah itu. Bisa ia rasakan getaran hebat disekitar bangunan itu, seperti sebuah gempa berskala tinggi. Sosok itu menunduk, melindungi kepalanya dengan kedua tangan.
Sekita 15 menit ia kembali membuka matanya setelah dirasa tidak ada lagi getaran. Netra hazelnya membola. Bangunan yag semula hanya sebuah reruntuhan, kini kembali kokoh seolah baru saja dibangun kembali.
Kedua tangannya mengepal erat. "Tidak! Mereka tidak boleh kembali bangkit!" Geramnya penuh amarah.
Sosok itu berbalik pergi melangkah keluar dari sana. Begitu tiba didepan pintu mobil, bisa ia lihat beberapa warga yang tinggal di sekitar sini memandang terkejut bangunan itu. Seingat mereka beberapa detin lalu, bangunan itu masih sebuah reruntuhan, kenapa sekarang justru kembali seperti semula?
"Sial!"
Bugatti Veyron berwarna hitam itu melaju kencang meninggalkan area bangunan tersebut. Menyisakan tanda tanya bagi para warga yang menyaksikan mobil mahal itu melaju keluar.
.
Justin masuk kedalam rumah dengan perasaan marah. Ia ingin menghabisi siapapun yang menurutnya bersalah atas semua ini.
"Bajingan!" Umpatnya marah.
"Apa kau sedang mengumpati dirimu sendiri, Justin?" Sebuah suara berat mengalihkan atensi sang pemimpin keluarga Scander.
"Ka Devan..." Panggilnya lirih.
"Sepertinya kau lelah. Tapi aku tidak perduli" ucap Devan sarkas. Kaka sulung Isabella itu menatap dingin adik iparnya.
"Apapun yang ingin kau cari tau saat ini, jawabannya adalah aku tidak tau apapun!" sergah Justin cepat.
"Benarkah?" tanya Devan tak percaya.
"Kau tidak akan mendapatkan jawaban apapun dariku. Tapi kita bisa mendapatkan jawabannya bersama"
"Dimana kalung itu?"
Justin merogoh saku celananya, mengeluarkan kalung milik Aldre.
"Isabella know?"
"I'm not sure"
.....
T B C?
BYE!