
Isabella berdiri tegak didepan jendela, menatap lurus dengan pandangan tajam. Entah apa yang diperhatikannya, padahal jendela itu tertutup rapat oleh kain.
"Mau sampai kapan kau diam?! " Justin bertanya dengan sarkas. Isabella tidak bergeming, otaknya berpikir keras tentang rencananya. Tidak memperdulikan sang suami yang terus mencecarnya untuk bicara.
"ISABELLA!!! "
"DIAMLAH!!! "
"Tutup mulutmu, boo!! Bukankah sudah aku katakan bahwa aku ingin menjelaskan semuanya?! Siapa yang bertindak bodoh dengan pergi dan menghindar dariku?! "
"Sekarang tutup mulutmu dan jangan ganggu aku!! "
"Kau--"
"KELUAR!!!! " Isabella berteriak marah, wajahnya memerah, tangannya meremat perutnya yang terasa nyeri.
BRAKK
Justin membanting pintu dengan kencang, berjalan keluar tanpa menoleh pada istrinya yang tengah kesakitan. Sifat egois lelaki itu begitu melekat dalam dirinya. Emosinya jauh lebih penting daripada apapun.
BRAK!!!
"Argggghhh!!! Hiks hiks hiks " Isabella terisak keras, dugaannya tidak meleset sedikitpun, rumah tangganya harus dipertaruhkan untuk hal ini.
"Tidak bisakah kamu mengerti ku sekali saja boo? Tidak bisakah? I need you now " Lirihnya.
Dibalik pintu, seseorang yang sejak tadi menyimak dari luar mengepalkan kedua tangannya erat. Orang itu, Jeven, mendengarkan semua yang terjadi diantara ayah dan bundanya. Tangannya mengepal erat, merasa marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun. Dia masih terlalu takut untuk melawan sang ayah, tidak seperti adiknya Jovan, yang tidak takut apapun.
Remaja 16 tahun itu berlalu pergi dari sana, meninggalkan ruang kerja sang bunda, masih dengan emosi yang tertahan di hatinya.
.....
"Bertengkar lagi? " Tanya Javin pada sang sahabat yang terlihat kacau. Justin mendengus, "ini semua karena adikmu! "
Javin melepaskan asap cerutunya ke udara, menghembuskan nafas pelan. "Ini bukan salah Isabella, tapi kau! "
"Apa maksudmu? "
"Satu - satunya yang menjadi masalah disini adalah kau, Justin. Kau dan sifat egoismu yang tidak berubah "
"Kau menuntut adikku dalam segala hal sesuai keinginanmu, tapi sekalipun kau tidak pernah bertanya apa keinginannya. Itu mengapa aku tidak berusaha menghentikannya seperti sebelumnya, karena kali ini kau yang harus mengalah, atau rumah tangga kalian yang hancur! "
Javin melempar cerutunya ketempat sampah setelah mematikan benda itu. Menatap sahabatnya jengah, "tidak ada gunanya berbicara denganmu, kau tidak akan pernah mengerti. Lakukan apapun yang kau inginkan, Just. Dan siapkan drama penyesalanmu seperti sebelumnya "
Justin menendang kesal tempat sampah didepannya dengan kesal. Dirinya hanya ingin membuat sang istri keluar dari dunia gelapnya. Tidak tahan dengan rasa khawatir yang menyelimuti hatinya setiap kali mengantar wanita yang dicintainya pergi menghabisi musuh. Meski tidak pernah menyentuh dunia gelap, tapi Justin jelas tau seberapa berbahayanya situasi disana.
Untuk beberapa saat Justin termenung, lipatan kecil didahinya mulai terlihat, memberikan tanda bahwa lelaki itu tengah berpikir keras.
"Apakah aku seegois itu? " ucapnya lirih. "Apakah aku sejahat itu padamu, bee? "
"Apakah aku suami yang baik? " pandangan matanya berubah sayu, mata berkilat oleh air mata yang tertahan. "I'm sorry- I'm sorry to hurt you "
"Kau tau seberapa berharganya kau bagiku, Rayyan? "
"Kau bukan hanya seorang sahabat, tapi juga kaka untukku dan Jieun! Aku sudah kehilangan adikku, bagaimana bisa aku kehilangan kakaku? "
"Kenapa kau berbohong padaku? Seorang adik tidak akan menyembunyikan sesuatu dari kakaknya, Revan! "
"Apa aku begitu tega memberitahumu begitu saja? Aku tidak ingin kau seperti ini, aku ingin memberitahumu dengan tepat "
"Maafkan aku. Tapi aku tidak ingin salah mengambil langkah "
Tuan Revano masih setia menemani sahabatnya yang terbaring lemah di ranjang. Meminta maaf atas kesalahannya, meski beliau tidak berniat sama sekali.
"Bagaimana jika Aldre tidak bisa kembali? " Tanya tuan Rayyan. Mata tuanya memandang sendu langit - langit kamar.
"Dia akan kembali ka! Aldre akan kembali. Dia hanya ingin membalas enam tahunnya yang hancur. Percaya padaku, aku tidak akan membiarkannya lebih lama "
"Istirahat lah ka, jangan memikirkan apapun ok? Kau harus sehat kembali "
Tuan Rayyan menurut, menutup matanya untk masuk ke alam mimpi. Tuan Revano mengalihkan pandangannya kearah pintu, menatap istri sahabatnya yang berdiri diam disana. "Terimakasih Revan " ucap nyonya Riyani lembut.
Tuan Revank menggeleng, "jangan berterimakasih padaku, Riyani. Aku tidak melakukan apapun. Kemarilah, temani suamimu "
"Emm "
"Kalau begitu aku keluar dulu "
.......
Diujung ruangan, Vion meringkuk ketakutan. Lelaki itu tidak pernah seperti ini, cukup membuat Vien tertegun. Saudara kembarnya terlihat trauma akan sesuatu. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau meringkuk seperti ini? " Tanya Vien. Lelaki itu tidak menjawab, masih dengan posisi yang sama, ditambah tubuhnya yang terus bergetar.
"Vion!! "
"Damn! Ada apa denganmu hah?!"
Vien mulai geram, tidak tahan melihat situasi dihadapannya. Tubuhnya yang hendak bangun berhenti seketika, begitu menangkap kaka kembarnya yang melirik takut kearah Jovan. "Kau takut pada Jovan? " Vien bertanya dengan berbisik, yang dibalas anggukan saudara kembarnya.
Jovan berjongkok dihadapan keduanya, dirinya memperhatikan interaksi mereka sejak tadi. "Kau takut padaku ka? " Tanyanya pelan dan dalam. Vion menundukkan kepalanya dalam, semakin meringkuk di pojok.
"Aku akan bersikap baik jika kau menjadi anak baik. Okay? " Jovan berucap pelan dan tajam.
"I-iya " ketakutan itu terpancar jelas dalam sorot mata birunya. ketakutan yang tidak dapat tergambarkan.
"Good boy"