Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
149 | PULANG



Setelah seminggu dirawat dirumah sakit, Ara dan si kembar akhirnya diperbolehkan untuk pulang hari ini. Saat ini Aldre tengah membereskan barang-barang milik Ara, memasukkan kedalam tas, dan memastikan tidak ada yang tertinggal.


Kebetulan Twins Al sudah bisa keluar dari inkubator sejak sore kemarin, jadi saat Ara meminta untuk pulang dokter langsung mengijinkannya.


"Siapa yang akan jemput kita, Al?" Tanya Ara yang baru selesai menyusui Alaner.


"Ka Charles dan ka Daniel. Nanti yang lain nunggu dirumah" jawab Aldre.


Aldre menyusun tigas tas besar diatas meja, satu muliknya, dan dua lainnya milik Ara. Setengah jam lagi kedua kakanya akan tiba, masih ada waktu bagi Aldre untuk bermesraan dengan sang kekasih.


Aldre mendekat keranjang, duduk disamping Ara yang masih menggendong Alaner. Si cantik Aldara masih terlelap di box bayinya, dan Aldre tidak berminat untuk mengganggu putri kecilnya itu.


"Aku akan langsung mengurus persiapan pernikahan kita setelah ini" ucap Aldre. Satu tangannya memainkan rambut Ara.


"Apa tidak terlalu cepat?" Tanya Ara dengan wajah polos.


"Kita sudah memiliki dua anak dan kamu masih bertanya apakah tidak terlalu cepat? Wahhh gadis ini benar-benar" Aldre menatap takjub pada Ara, wajahnya menempelkan ekspresi kesal yang tidak kentara. Rasanya ia ingin melihat isi kepala gadis cantik tercintanya ini.


Ara tertawa pelan, senang sekali jika melihat wajah kesal kekasihnya. Aldre saat kesal sangat lucu bagi Ara.


"Apa hah?! Mau alasan apalagi kamu?!" Seru Aldre sewot.


"Hihihi. Aku kan cuma tanya, kok kamu marah?"


Aldre manarik kepala Ara, mencium puncak kepalanya dengan gemas. "Muaacchh"


Alaner tertawa melihat tingkah tidak jelas kedua orang tuanya. Mungkjn dalam otak mungilnya bayi tampan itu bertanya-tanya ada apa dengan kedua orang tuanya ini?


"Apa hm? Tawa-tawa kamu. Emangnya ngerti?" Aldre mengajak ngobrol putra kecilnya, yang hanya dibalas tawa menggemaskan Alaner.


"Aku gak ngerti deh, Al. Umurnya kan baru satu minggu, tapi Alaner itu jarang banget tidur loh. Padahal kan bayi harusnya tidur terus ya?" Ekspresi bingung Ara membuat Aldre gemas. Lelaki itu menarik pelan pipi sang kekasih.


"Waktu bayi aku juga gitu ko" ucap Aldre.


"Emang? Kok kamu tau?"


"Ibu yang bilang. Ibu sampai gak bisa ngapai-ngapain karena aku gak merem-merem, soalnya kalo ditinggal aku nangis"


"Pantesan aja kamu kuat gak tidur seharian. Sudah terlatih begadang dari bayi ternyata"


"Hahaha. Ya namanya gak ngantuk" Aldre menggedikkan kedua bahunya.


"Kamu jangan gitu ya sayang. Kalau waktunya tidur harus tidur, jangan kaya daddy. Mommy curiga dia vampire" Ara mengajak Alaner bicara.


Aldre mendengus mendengar perkataan Ara. Ia merasa baru saja disindir. "Kalau aku vampir3 darah kamu pasti udah abis aku hisap" balas Aldre ketus.


"Kekekeke, emosian"


Ceklek..


"Twinssss uncle cominggg" seru Daniel setengah berteriak.


Aldre menatap kakanya kesal. Teriakan lelaki itu bisa membangunkan putri kecilnya. "Sssttt berisik!"


Daniel tidak menghiraukan Aldre yang kesal, memilih mendekat kepada keponakan cantiknya yang masih terlelap.


"Jangan menyentuhnya sebelum kau mencuci tanganmu, Daniel" peringat Charles.


"Iyaiyw, Daniel tau" kemudian Daniel berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan, setelah selesai Daniel mengeringkan tangannya, dan kembali mendekat kebkx bayi Aldara.


Daniel mengangkat Aldara hati-hati dari tempatnya, membuat bayi mungil itu menggeliat kecil. Aldre menatap kesal sang kaka, ia tidak suka anaknya disentuh orang lain selain dirinya, dan Ara.


"Apa? Mau marah? Marah aaaja" Daniel menatap sang adik dengan ekspresi tengil.


"Ck! Anakku akan terkontaminasi virus"


"Nyenyenyenye"


"Sudah siap?" Tanya Charles megabaikan keributan Daniel dan Aldre.


Ara mengangguk dengan senyum manis. Kemudian merubah posisinya untuk turun dari ranjang.


"Pelan-pelan sayang" ucap Charles. Kedua tangannya memegang tubuh Ara, membantunya turun dari ranjang. Sedangkan Aldre mengambil alih Alaner dari gendongan Ara.


"Naik kursi roda aja ya" Ara menggeleng. "Gak mau ka, Ara bisa jalan ko"


"Tapi jaitan kamu belum kering sayang"


Charles hanya bisa menghela nafas berat. Terkadang adik bungsunya ini memunculkan keras kepalanya diwaktu yang tidak tepat.


"Biarin aja ka. Aldre berdebat semalaman sama Ara cuma karena masalah ini" timpal Aldre.


"Sifat keras kepalanya selalu muncul diwaktu yang tidak tepat" balas Charles.


Daniel hanya menatap ketiga orang didepannya, dirinya tidak ingin terlibat percakapan apapun. Biarkan mereka saja yang berdebat.


"Kalau gitu kaka gendong ya" bujuk Charles lagi. Ia khawatir membiarkan Ara berjalan dari kamarnya sampai lobi. Yang menjadi masalah adalah kamar Ara yang berada di lantai 5. Meski mengenakan lift, tetap saja itu jauh.


"Kakaaaa!" Ara merengut, menatap kakanya kesal.


"Baiklah-baiklah" Charles mengalah, tidak ingin membuat mood adiknya memburuk.


Daniel berjalan lebih dulu didepan, tangannya mengambil satu tas kemudian ia sampirkan dipundaknya. Aldre berjalan dibelakang Ara dan Charles, mengawasi sang kekasih dari belakang.


Ara berjalan dengan hati-hati. Tapi baru beberapa langkah gadis itu sudah merasakan nyeri diperutnya. Charles yang tak tahan akhirnya menggendong paksa Ara. Membuat ibu muda itu menjerit kesal.


"Iiiihhhh kakaaaaa"


"Bawel"


Aldre hanya menggeleng, berpindah posisi berjalan disebelah Daniel. Dirinya tidak perlu khawatir lagi calon istrinya akan merasa kesakitan saat berjalan.


"Gitu dong sat ses sat set ngeennnggg" seru Daniel.


"Hahahahaha"


"Nyebelinnn"


*


*


Riyani dan Sofia menyambut kedatangan kedua cucunya dengan gembira. Kedua wanita paruh baya itu langsung bergegas mengambil alih cucu mereka dari gendongan Aldre dan Daniel.


"Mukanya kenapa kesel begitu sayang?" Tanya Sofia pada sang putri yang baru saja turun dari mobil. Ara tidak menjawab, hanya melirik sang kaka kesal.


"Dia tidak mau mengenakan kursi roda mah, malah ingin berjalan dari lantai 5 sampai lobi" adu Charles.


Sofia melotot. "Araaaa"


"Aaaaa mamah mahhh"


"Apa?! Gendong calon istrimu Aldre dan bawa dia kekamar!" Titah Sofia.


Ara hanya bisa pasrah. Setelah ini mamahnya pasti akan mengadu pada papahnya, dan semua orang abis itu Ara yakin dirinya akan mendapatkan siraman rohani.


Aldre menggendong Ara membawanya menuju kamar. Setibanya di kamar, Aldre meletakkan Ara diatas ranjang demga hati-hati.


"Kenapa mamah menatap Ara seperti itu?" Tanya Javin.


"Lihat adikmu, baru melahirkan tapi sudah ingin berjalan dari lantai 5 sampai lobi rumah sakit" jawab Sofia. Matanya masih melotot tajam pada putri bungsunya.


Javin yang mendengar hal itu ikut menatap tajam Ara yang kini hanya menunduk takut sambil bersembunyi dibalik punggung Aldre.


"Sepertinya kamu sangat menyukai liburan dirumah sakit ya" sindir Neoura. Dirinya bahkan tidak berani bergerak dari tempat tidur selama sebulan setelah melahirkan putranya dulu.


"Iya maaf" cicit Ara pelan.


"Jangan diulangi little princess. Kurangi sifat keras kepalamu yang selalu salah waktu itu, paham?" Ucap Javin tegas.


Ara mengangguk kaku, tidak berani menatap siapapun. "Iya abang"


"Bagus. Sekarang istirahatlah"


"Mm"


.....


T b c?


Bye!