
Jeven bersama saudara-saudaranya yang lain saat ini tengah berada didalam ruang bermain. Sang bunda, Isabella meminta mereka untuk tidak keluar dari sana sampai waktu makan malam tiba.
"Apa paman Aldre akan baik-baik saja, abang?" Keano menatap Jeven dengan seksama. Wajahnya yang terlihat polos menunggu dengan hidmat jawaban dari yang lebih tua.
Jeven menghelas nafas berat, ia bungung harus menjawab bagaimana. Pasalnya kelima remaja ini terus bertanya hal yang sama padanya, apakah paman Aldre akan baik-baik saja? Apakah paman Aldre akan sembuh? Apakah bibi Ara dan paman Aldre akan berpisah ? Dan seterusnya.
"Abang tidak tau, Keano. Berhenti menanyakan hal yang sama, oke?" Jawab Jeven berusaha menekan emosinya.
Keano mengangguk, ia tidak akan bertanya apapun lagi sekarang. Ia akan menjadi anak baik yang diam tanpa bersuara apapun.
Jeven mendekat kearah Valerie yang tengah sibuk dengan buku gambarnya. "Valerie sedang menggambar apa sayang?" Tanya Jeven.
Valerie menghentikan gerakan tangannya, memberikan buku gambarnya pada sang abang. Buku itu menampilkan gambar tujuh orang yang tengah duduk berjejer diatas hamparan padang rumput yang indah sambil memandang kearah langit.
Ketujuh orang itu tak lain adalah dirinya dan para keenam bocah yang sedang bersamanya kini. Untuk sesaat Jeven tercengang dengan lukisan indah yang dibuat Valerie. Gadis kecil ini sudah berbakat sejak usia dini ternyata.
"Bagus sekali" pujinya. "Kenapa menggambar ini sayang?"
Valerie hanya tersenyum sebagai jawaban, tangan kecilnya mengambil kembali buku gambar miliknya dari tangan Jeven, melanjutkan memberi warna pada gambarnya.
"Valerie memang mirip sekali dengan bunda" celetuk Jesslyn.
"Tapi ayah bilang waktu kecil bunda cerewet" timpal Jeno.
Jeven dan yang lainnya tertawa, sedangkan Jesslyn menatap kesal kaka kembarnya itu. "Iya, kaya kamu!" Serunya kesal.
"Iri aja shayyy"
.
.
"Princess, tolong jangan bersikap keras pada adikmu, bagaimanapun Ara sedang hamil" Bujuk Sofia. Setelah berhasil menguasai dirinya, Sofia memutuskan mengajak sang putri berbicara.
"Lalu mamah ingin aku bagaimana? Tersenyum saat tau adikku hamil tanpa ikatan pernikahan?!" Isabella berbicara dengan tenang, meski masih menyimpan emosi dalam dirinya.
Yang saat ini tengah berbicara padanya adalah sang ibu, bagaimanapun tidak ada hak baginya untuk berbicara dengan nada tinggi seperti yang ia lakukan pada adik bungsunya tadi.
Sofia mendesah bingung, jika putrinya saja seperti ini bagaimana suaminya nanti. "Tapi--"
"Mah! Mamah tau aku tidak akan pernah mentolerir hal-hal seperti ini" ucap Isabella tegas.
"Mamah tau. Tapi adikmu melakukannya karena ia tidak ingin kehilangan cintanya lagi" Sofia masih berusaha membujuk sang putri.
"Itu bodohnya dia! Hidupku tidak untuk terus mengurusi masalahnya, mah! Aku tidak pernah meminta tolong siapapun ketika aku bermasalah dengan ka Justin. Jadi berhenti membelanya karena keputusanku akan tetap sama, dan-- aku tidak mau repot-repot membujuk papah!"
Tidak ada yang berani membantah perkataan Isabella. Charles bahkan hanya menundukkan kepalanya tidak berani bersuara. Seandainya ia lebih memperhatikan sang adik, semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Adiknya tidak akan kembali melakukan kesalahan.
"Tuan" Robert berlari masuk dengan panik. Tepat setelah dirinya memanggil Justin, suara helikopter terdengar dari arah luar.
"Papah?" Tanya Justin.
Robert mengangguk. "Iya, tuan. Tuan Leo yang menghubungi William" jelas Robert.
"Sofia" Riyani dan Ana berlari masuk kedalam bertepatan dengan helikopter milik Revan yang berhasil mendarat dihelipad mansion Scander yang berada diujung halaman depan.
"Riyani" Sofia buru-buru menarik sang sahabat kebelakang tubuhnya. Ia yakin dengan jelas suaminya pasti akan mengamuk.
Suara hentakan dua pasang sepatu yang terdengar keras membuat semua orang didalam ruangan sontak berdiri, tanpa sadar menarik nafas berat. Kecuali Isabella yang masih setia dengan posisi awalnya.
Dua pasang netra biru gelap yang menyorot tajam menatap satu persatu manusia yang ada disana. Netra biru yang paling tua terhenti pada dua wanita paruh baya yang terlihat seperti saling melindungi satu sama lain.
"Kenapa kau bersembunyi dibalik tubuh istriku, Riyani?" Deep voice Revan yang sudah lama tidak pria paruh baya itu perdengarkan kini kembali dirinya keluarkan.
"Sofia... Tidak mau menyambut suamimu, sayang" ucap Revan masih dengan deep voicenya yang menurut Sofia sangat menyeramkan. Apalagi jika suaminya itu sedang marah seperti ini.
Sofia menggeleng, kakinya tanpa sadar mundur perlahan bahkan hampir menabrak pembatas tangga.
Revena melangkah mendekati sang istri, dirinya sangat tidak suka jika wanita yang dicintainya takut padanya.
"Revan!!" Sentak Sofia dengan keras.
Revan memiringkan sedikit kepalanya kekanan. "Revan? Kau tidak pernah memanggilku Revan, sayang" ada tekanan dalam setiap intonasi yang dikeluarkannya.
"Papah membuat mamah takut!"
Suara Javin menghentikan kegiatan Revan. Javin muncul dari lorong lantai dua, menatap datar papahnya.
"Ana, temani Ara dikamar"
"Baik abang" Ana berjalan dibelakang melewati tubuh Revan naik kelantai dua.
Javin turun dengan perlahan. "Kalian terlalu berisik! Suara kalian terdengar sampai kamar Ara!" Omelnya.
"Dimana Aldre?" Tanya Devan yang sejak tadi diam.
"Rumah sakit, ka. Isabella melempar tubuhnya kering basket" jawab Justin.
Revan melirik sang putri yang tidak bersuara. "Apa kau membentak mamahmu, princess? Papah melihat sungai kecil dipipinya"
"...."
Diam! Tidak ada jawaban dari Isabella, wanita itu enggan mengeluarkan sepatah katapun lagi.
"Mamah pingsan, pah. Mamah menangis karena membujuk Isabella" Charles memilih menjawab pertanyaan sang papah, sebelim pria ith meledak.
Revn sangat benci melihat kekasih hidupnya menangis, apalagi jika itu karena anak-anaknya. Pria paruh baya itu tidak akan segan-segan memberikan hukuman berat pada mereka.
"Aku harus bicara dengan si bungsu"
"Ara sedang tidur, jangan ganggu dia!" Cegah Javin.
"Kau tidak memiliki hak mengatur papah!"
"Pah!!"
"Bawa putri pergi dari sini, aku tidak mau melihatnya!" Perkataan Isabella membuat semuanya tercengang.
Jantung Sofia berdetak 5x lebih cepat. Jika Ara dibawa kembali kemansion Courtland, Revan jelas tidak akan melepaskan putrinya itu.
"Ara akan tetap disini, Bee! Suka atau tidaknya kau!" Justin membantah perkataan sang istri.
"Kecuali jika kau ingin anak-anak melihat pertengkaran kita lagi"
"Ada tiga mansion disini, aku akan menempatkan Ara dimansion belakang"
Isabella memandang murka suaminya, tangannya mengepal kuat. "Sampai masalah ini selesai, aku tidak akan pernah bicara denganmu!!"
"Kaka ipar yang baik, Justin" cibir Devan.
.....
T B C?
BYE!