Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
111 | TITAH GODFATHER



Doorr..


Doorr..


Doorr..


Suara tembakan yang saling bersahutan bergema dihalaman belakang mansion Scander. Aldre dan Jovan begitu fokus pada target didepan mereka, berlomba-lomba menunjukan kemampuan mereka.


Leo dan Kevin terperangah, mereka tau jelas Aldre pasti bisa menggunakan senjata, karena lelaki itu pernah menjadi pemimpin kelompok mafia.


Tapi Jovan? Isabella mengatakan bahwa ia tidak pernah mengajarkan Jovan menggunakan senjata api, dirinya hanya sekali mengajarkan putranya itu menggunakan pisau dan belati.


Tapi lihat sekarang, Jovan bahkan lebih mahir dari Aldre. Satupun targetnya tidak ada yang meleset.


"Kau yakin tidak pernah mengajarkannya apapun selain menyusup dan menggunakan pisau, Isabella?" Leo memicing menatap Isabella. Mencoba mencari kebohongan dari adik sahabatnya itu.


"Dia anak yang cepat tanggap, ka Leo. Jovan mengamati sekelilingnya dengan baik, ia mampu menyerat segala hal hanya dalam sekali lihat" Isabella menjelaskan dengan tenang.


Justin meremat tangannya erat, ia bukanlah sosok seperti yang dikatakan istrinya, tapi Isabella sendiri adalah sosok yang seperti itu. Dan sejak awal, ia sudah yakin bahwa putranya yang satu itu mewarisi 75% kemampuan sang bunda.


Dirinya sudah sangat berhati-hati soal Aldre kecil yang dulu begitu terobsesi menjadi murid Isabella, tapi sekarang justru malah Jovan yang begitu mirip dengan bundanya.


"Don't worried, Justin" tenang Leo.


"I can't " jawab Justin dengan suara tercekat.


Suara dentingan peluru berhenti, latihan mereka selesai untuk hari ini. Jovan menoleh pada sang ayah, bisa ia rasakan tatapan khawatir ayahnya padanya. Senyum kecil ia tampilkan, memberitaukan bahwa dirinya baik-baik saja.


Justin membalas senyuman Jovan dengan senyum tipis miliknya. Kekhawatirannya tetap tidak bisa hilang.


"Jovan akan baik-baik saja, Boo. Kau hanya perlu percaya padanya" Isabella mengelus lembut pundak sang suami.


Apa yang dikatakan istrinya itu benar. Dia hanya harus percaya pada putranya, makan semuanya akan baik-baik saja.


"Aku mengerti" balasnya lirih.


"Cukup bagus untuk permulaan. Ingat ini masih awal sebelum kalian melakukan latihan yang lebih berat. Persiapkan diri kalian sebaik mungkin, sekarang istirahatlah, latihan untuk hari ini cukup" ucap Leo dengan tegas.


Aldre dan Jovan mengangguk mengerti, keduanya pun masuk kedalam rumah. Tubuh mereka cukup lelah walau hanya menembakan peluru pada target.


Ara mengahampiri keponakan dan kekasihnya dengan dua gelas jus dimasing-masing tangannya. "Minumlah, untuk memulihkan energi kalian"


"Terimakasih sayang"


"Thank you bibi"


.


.


Devan melangkah tegap memasuki bangunan besar yang hampir tidak pernah didatanginya ini, kecuali saat dirinya masih kecil dulu. Ia senang sekali datang kesini.


"Selamat datang, Lord" sapa salah satu anak buah The Fault Blood pada sang putra sulung Godfather.


"Mm. Dimana Godfather?"


"Beliau berada diruangannya, Lord"


Setelah memastika keberadaan sang papah, Devan bergegas menuju ketempat dimana saat ini sang papah berada.


Langkahnya cepat dan tegas menyisir lorong dimana ruang kerja pemimpin kelompok Mafia terkuat didunia itu berada.


William berdiri cepat didepan Devan, menghalangi lelaki itu untuk masuk. "Maaf, Lord. Tapi Godfather tidak bisa diganggu saat ini" dengan wajah datarnya William menyampaikan pesan pemimpinnya sebelum masuk kedalam ruang kerjanya.


"Katakan pada papah aku ingin bertemu" pintanya tanpa perlawanan.


William menyentuh aerphone ditelinga kanannya, menghubungi sang tuan guna menyampaikan permintaan putra sulungnya.


Dengan sabar Devan menungu papahnya mengijinkannya masuk, walau dalam hati ia ingin sekali mendobrak paksa pintu bedar dihadapannya ini yang tertutup rapat.


William menyingkir dari posisinya, membukakan pintu untuk mempersilahkan Devan masuk setelah mendapat izin dari pemilik ruangan.


Pintu kembali tertutup, Devan mendekat kearah meja kerja sang papah. Revano menyingkirkan berkas dihadapannya kesamping, menatap lekat sosok yang merupakan replika dirinya.


"Ada apa, son?"


"Apa papah tidak percaya padaku?" Tanya Devan tajam.


"Apa maksudmu?" Revano memicing bingung.


"Aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri! Tidak perlu papah harus ikut campur" jawab Devan sarkas.


Revano menghempaskan tubuhnya kebelakang, matanya membalas tak kalah dingin pada putra sulungnya.


"Papah tau kau bisa, tapi paph tidak percaya lagi padamu!"


"Apa?!"


"Kau pernah gagal dikesempatan pertama, dan papah tidak ingin mengambil resiko lebih buruk dari itu! Dan lagi jika sampai Justin menjadi korban, kau tau apa yang akan terjadi pada adikmu bukan?"


Tidak ada jawaban dari Devan, lelaki itu sibuk berperang dengan pikirannya. Apa yang dikatakan papahnya benar. Jika ia gagal lagi kali imi, makan sudah bisa dipastikan suami dari adiknya yang akan menjadi korban. Kemungkinan terburuknya adalah Isabella akan kehilangan kendali atas dirinya, dan menghabisi semua orang yang menjadi penyebab kematian sang suami tanpa terkecuali.


"Serahkan semuanya pada papah. Jika kamu tetap ingin terlibat, makan ikuti aturan yang papah buat. Jika adikmu bisa patuh, makan kau harus melakukan hal yang sama!" Titah mutlak dari Revano.


Devan mengepalkan tangannya erat, tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah sang papah.


.


.


"Apa kalian bodoh?! Bagaimana bisa melakukan hal semudah itu saja gagal?!"


Meso menghantamkan kepalan tangannya dengan sangat kuat kearah lima orang anak buahnya yang berlutut dihadapannya. Memar dan luka menghiasi wajah dan tubuh kelima lelaki bertubuh besar itu.


"Maafkan kami, tuan. Tapi Godmother tiba-tiba saja muncul saat kami sudah memasukkan Blacksweeper kedalam mobil" ungkap salah satu dari mereka.


"Godmother?" Meso menelengkan kepalanya kekiri. Apa hubungannya dengan Godmother?


"Kau tidak tau Meso? Godmother adalah saudara ipar Blacksweeper. Dan kuharap kau tidak lupa apa hubunvan Blacksweeper dan Lord" sambar Faros, pria berambut gondrong yang memperingati Meso untuk tidak bertemu Aldre sebelumnya.


Lelaki itu adalah tangan kanan Aldre tadinya, sebelum Aldre memutuskan untuk keluar dari kelompok mereka.


"Tidak masalah" jawab Meso santai.


Faros menggeram keras, merasa kesal dengan tingkah bodoh dan tolol pria tua didepannya ini.


"Tentu saja masalah sialan! Godmother adalah keturunan langsung mafia terkuat dan paling ditakuti. Posisinya dengan Devan sama-sama anak kesayangan bajingan mengerikan itu! Apa kau pikir, bajingan itu tidak akan ikut campur mengatasi kelakuan tolol mu itu?! Dan satu lagi, pemimpin The Cruel'd sebelum Aldre, adalah suami Isabella Courtland sang Godmother!" Sembur Faros penuh kemarahan.


"Siapa bajingan yang kau maksud?"


"Aissssh Brengsek! TENTU SAJA GODFATHER SIALAN!!"


Meso melotot tajam, brengsek! Dia tidak mau berurusan dengan bajingan itu!! Kakeknya selalu mewanti-wantinya untuk tidak berurusan dengan orang gila seperti Godfather.


Tapi ia tidak mungkin berhenti. Bagaimanapun dendamnya atas apa yang sisialan Devan lakukan pada keluarga dan leluhurnya harus terbalas. Hingga tuntas!


"Pikirkan matang-matang rencanamu!"


"Aku butuh daftar musuh-musuh Godfather. Sekarang Faros"


"Baiklah"


.....


T B C?


BYE!