
"Mah, misi mereka sudah selesai dan mereka akan segera kembali" Cassandine berlari menemui mamah mertuanya, memberikan kabar yang disampaikan sang adik.
"Sungguh?" Senyum bahagia Sofia terbit, perasaan lega menyelimuti hatinya. "Syukurlah. Apa mereka baik-baik saja?" Tanyanya.
"Ya. Mereka baik-baik saja"
"Kita harus mempersiapkan sesuatu untuk menyambut mereka" usul Sofia. "Aku akan menyiapkan semuanya" Cassandine berbalik, dirinya ingin memeriksa beberapa hal untuk menyambut kedatangan suaminya dan yang lain.
Galih yang mendengar kabar sang suami akan kembali tersenyum manis. Rasa khawatirnya sedikit berkurang setelah mengetahui bahwa suaminya baik-baik saja.
"Cepetlah pulang, hubby" bisiknya lirih.
Berbeda hal dengan Galih, Isabella justru merasakan perasaan tidak nyaman dihatinya. Sejak semalam, Isabella merasa dirinya begitu gelisah pikirannya hanya tertuju pada dua orang yang sebentar lagi akan kembali.
"Apa kau benar baik-baik saja, Boo? Kenapa perasaanku tidak tenang. Dan kenapa tidak satupun dari kalian mau mengangjat telponku?"
Isabella meremat bagian depan bajunya tepat didadanya, berharap bisa mengurangi keresahan dihatinya.
.
.
"Bunda menelpon" gumam Jovan pelan yang masih bisa didengar yang lainnya.
"Ini sudah yang kesekian kalinya dia menelpon sejak semalam" ucap Kevin.
"Kenapa tidak diangkat?" Laxo memandang satu persatu wajah orang -orang didepannya ini yang terlihat begitu panik.
Revan menghembuskan nafas berat. "Putriku yang satu ini seorang indigo, Laxo. Isabella pasti tau apa yang terjadi pada suaminya"
Laxo memadang kearah Justin yang terbaring diatas ranjang dengan masa terpejam. Alat-alat rumah sakit menempel pada tubuhnya, lelaki ambruk begitu mereka tiba dimarkas utama The Fault Blood.
"Apa kalian akan membawanya kembali dalam keadaan seperti ini?" Farthur meletakkan gelas kopi ditangannya ke meja, menatap Revan dengan seksama.
"Mau tidak mau. Atau Isabella akan menghancurkan tempat ini"
"Juga tentang Justin yang sempat kehilangan nyawanya?"
Revan mengangguk, tidak ada pilihan lain selain jujur pada putrinya. "Putrimu menyeramkan Revan, tapi aku ingin melihat seberapa besar cintanya pada suaminya" Ujar Farthur.
"Konyol" Revan mendengus.
Plakk
Laxo melayangkan sebuah geplakan sayang dibelakang kepala Farthur. "Kau hanya ingin membandingkannya dengan istrimu kan?" Ucapnya sinis.
"Hehehe, itu kau tau tujuanku"
"Apa yang mereka bicarkan sebenarnya?" Rion memandang aneh ketiga orang tua dihadapannya ini.
Agak terkejut menyaksikan para pemimpin mafia seperti mereka bisa mengobrol hal-hal random. Agak lain memang.
"Lihat wajah paman Revan, luar biasa tertekan bertemu kedua musuh setianya" sahut Saka.
"Untung paman pensiun dini"
Jovan kembali masuk kedalam kamar rawat sang ayah setelah menerima telpon dari kaka kembarnya, Jeno. Wajahnya terlihat gusar dengan keringat yang mengucur deras dari dahinya.
"Grandpa.." Panggilnya pelan.
Revan menoleh, "ada apa little Prince?"
Jovan meremat kedua tanganbya kuat menghilangkan ketakutan yang melandanya. "Kita harus kembali sekarang, grandpa. Bunda mengamuk, Jeno bilang bunda berkelahi dengan Masev dan bibi Ara menyaksikannya. Mereka khawatir Cloe akan mengambil alih tubuh bibi Ara"
"Masev? Siapa dia?" tanya Farthur yang merasa asing dengan nama tersebut.
"Alter ego putra kedua Rayyan" jawab Laxo.
Kevin yang tadi duduk disebelah Justin dengan cepat berdiri setelah mendengar perkataan Jovan. Begitupun Devan yang tanpa menunggu waktu lama langsung memerintahkan William menyiapkan pesawat mereka.
"Aku sudah meminta William menyiapkan semuanya, sekarang kita bersiap untuk kembali" ucap Devan mutlak.
.
.
"Isabella stop!!" Harves dan Leo berusaha menghentikan Isabella yang kehilangan kendali.
Harves mengangkat tangannya hendak melayangkan tinjunya pada Isabella, namun gerakan tangannya ditepis cepat oleh wanita itu. Melawan Isabella yang sedang seperti ini memang tindakan tidak berguna.
Leo meraih tubuh Galih yang tersungkur ditanah, wajahnya babak belur dengan memar dimana-mana.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Isabella menyerangmu?" Tanya Leo pada Galih. Lelaki itu sudah bertuka posisi kembali dengan Masev.
Galih meringis, bisa dia rasakan darah yang mengalir dari pelipisnya. "Masev berbicara hal tolol pada Isabella" desisnya kesal.
"Hal tolol?"
"Dia meminta bertukar posisi denganku, kemudian mengatakan hal yang benar-benar-- aiishsh" Galih kembali meringis saat tiba-tiba pipinya yang membiru berdenyut hebat.
"Pelan-pelan Galih" tegur Leo.
"Masev sialan!!"
"Kita obati dulu lukamu"
Leo menuntun Galih untuk masuk kedalam rumah meninggalkan Isabella dan Harves yang bertarung. Harves terpaksa menggantikan posisi Galih demi mengalihkan perhatian wanita yang sedang mengamuk ini.
"Cukup!! Apa kau gila hah?!" Sentak Harves.
Isabella memandang tajam kaka iparnya itu. "Berisik!! Jangan ikut campur brengsek!"
"Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur jika kau tiba-tiba mengamuk seperti itu"
"Selesaikan dengan tenang oke"
Diruang keluarga.
Suara ringisan sakit sesekali keluar dari mulut Galih. Bahkan Keano dan yang lainnya ikut meringis melihat seberapa kacaunya wajah sang papah.
"Memangnya apa yang Masev katakan sampai Isabella semurka itu?" Tanya Leandra.
" 'kau tidak ingin menyiapkan pemakaman untuk suamimu, Isabella?' Itu yang dikatakan si tolol!" Jawab Galih ketus.
Leo memijit pelipisnya pelan, Riyani dan Sofia mendelik tajam pada Galih. Galih yang merasa dirinya dijadikan tersangka mendengus.
"Jangan salahkan aku, bukan aku yang berbicara. Salahkan si bangsat itu!!" Serunya membela diri.
Isabella masuk bersama Harves setelahnya, matanya masih memandang tajam sahabatnya membuat lelaki itu meneguk ludahnya kasar.
"Ka Bella.." Ara perlahan mendekati sang kaka.
"Kenapa?" Tanya Isabella ketus.
"Maafkan Masev, maaf kalau perkataannya menyakiti hati kaka" ucap Ara pelan. Kepalanya menunduk dengan kedua tangan yang saling bertaut.
Isabella melengos, nafasnya masih memburu. "Aku tidak sudi memaafkannya"
Rematan Ara pada kedua tangannya semakin kuat. Bagaimanapun Masev adalah kekasih Cloe, dan Cloe adalah bagian dari dirinya, Ara hanya tidak ingin hubungan Cloe dan kakanya hancur karena masalah ini.
"Ara harus apa supaya kaka mau memaafkan Masev?"
"Kenaoa jadi kau yang repot?!" Isabella menatap adik bungsunya itu kesal.
Kepala Ara semakin menunduk dalam. "Ara cuma gak mau hubungan kaka dan Cloe menjadi berantakan"
"Aku tidak perduli. Lebih baik kau masuk ke kamarmu dan jangan keluar saat kekasihmu itu datang! Kau paham?!"
Cassandine memeluk pundak Isabella lembut, menenangkan adik iparnya. "Tenanglah Isabella"
Ara menggigit bibirnya yang bergetar dengan kuat, matanya berkaca-kaca sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia tidak ingin mendapatkan amukan lebih dari ini jika kakanya itu melihat dirinya menangis.
Carissa meraih lengan Ara, mengajak sahabatnya itu untuk kembali kekamarnya.
"Ayo kita ke kamar Ra" Ara mengangguk kecil, tidak berani membantah.
.....
T b c?
Bye!