Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
117 | ALDRE SADAR



Dua hari setelah semua orang tau bahwa Ara tengah mengandung, Isabella tidak main-main dengan ucapannya yang akan mendiamkan sang suami. Sudah dua hari dan wanit itu tidak berbicara sepatah katapun jika Justin ada didekatnya, dan hal itu sukses membuat Justin uring-uringan. Isabella bahkan tidur bersama si bungsu dikamar khususnya.


"Masih pada keputusanmu, Justin? Kau bisa membiarkan Ara kembali ke mansion Courtland atau biarkan dia tinggal di mansion Skholvies" usul Leo.


Justin menggeleng, ayah mertuanya masih belum bisa diajak bicara baik-baik, hanya akan menjadi masalah jika membiarkan Ara tinggal bersama Aldre.


Justin menatap yang lebih tua frustasi. "Bisakah kau memberikan usulan yang lebih baik? Atau... Bisakah kau membawa Ara ke markas Phoenix?"


"Tentu. Jika kau ingin Ara menjadi bulanan kaka sulungnya" jawab Leo santai.


"Kau mau kemana Isabella?" Leo menegur Isabella yang berjalan melewati dirinya dan Justin tanpa sepatah katapun. Ditangannya ada semangkuk sup panas yang sepertinya baru saja diangkat.


Isabella tidak menjawab, matanya hanya melirik sinis kedua pria itu, lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan Leo.


"Dingin sekali"


"Jangan membuatnya semakin kesal ka Leo" tegur Justin.


"Tapi dia tetap perhatian membawakan sup untuk adiknya, kan?"


"Perhatian apanya?! Ada mamah disana, dia membawanya untuk mamah! Isabella tidak perduli pada Ara, dia bahkan menunggu mamah menyelesaikan makannya hanya untuk memastikan bahwa mamah tidak memberikan makanannya pada Ara!"


"Isabella tidak pernah main-main dengan perkataannya ka Leo!"


Leo tergelak, apa Isabella gila? Adiknya sedang hamil tapi wanita itu sama sekali tidak perduli? Wahh benar-benar luar biasa Isabella Scander.


"Lalu? Apa yang Ara makan?"


"Aku membelikan bahan makanan untuk sebulan kedepan, ada tante Riyani disana jadi aku tidak terlalu khawatir"


"Isabella pasti tidak tau kan?" Justin mengangguk lemas. "Aku tidak yakin apakah dia belum tau atau dia sudah tau tapi hanya diam"


"Aku pilih opsi kedua"


"Jangan bercanda ka Leo!" Justin menatap kesal Leo yang tidak serius.


Leo balas menatap Justin geli, "siapa yang bercanda?" Ucapnya diiringi kekehan kecil. "Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Aldre sekarang?"


"Kau tidak tau?" Justin menatap Leo heran. Bagaimana bisa lelaki itu tidak tau keadaan bocah yang hampir setiap saat diikutinya.


Leo menggeleng, "aku belum sempat melihatnya lagi. Jadi?"


"Dia belum sadar, tapi dokter bilang kondisinya semakin membaik"


"Apa Ara sudah melihat keadaannya?"


"Apa kau pikir istriku akan membiarkannya? Memang seharusnya kau diam dan tutup mulutmu ka Leo, kau hanya membuatku kesal! Dimana sikap dinginmu itu hah?" Netra Hazel Justin mendelik pada Leo. Lelaki itu sangat tau bagaimana menguras segala emosinya.


Leo tertawa lebar, menyenangkan juga membuat orang lain kesal. "Emosian! Pantas Isabella tidak pernah tenang berbicara denganmu" ledeknya.


"Berisik!"


.


"Mah, sarapan dulu" Isabella meletakkan semangkuk sup hangat yang dibawanya dihadapan sang mamah.


"Mamah sudah sarapan, princess" ucap Sofia lembut. "Tapi adikmu belum. Dia mual dan belum memakan apapun sejak tadi" lanjutnya.


Isabella melirik sang adik yang bersembunyi dibalik tubuh mamahnya, menunduk takut tanpa suara. "Terserah"


Isabella menyerah, ia tidak bisa abai dengan kesehatan adik bungsunya. Meski begitu bukan berarti dirinya akan memaafkan Ara begitu saja.


Sofia tersenyum senang, menarik mangkuk sup yang masih hangat kemudian menyuapkannya ada Ara setelah mengaduknya pelan.


"Isabella pulang dulu" Isabella pamit untuk kembali ke mansionnya.


"Mm. Terimakasih sayang" jawab Sofia lembut.


"Ibu? Kenapa berdiri disini?"


Galih yang baru keluar dari dapur menatap heran sang ibu yang bersembunyi dibalik tembok. Riyani menoleh, terkejut dengan keberadaan Galih yang tiba-tiba berada dibelakangnya.


"Jangan ngagetin ibu" omel Riyani.


"Ya lagian ibu ngapain sembunyi disini? Pake acara ngintip segala lagi"


"Husssh, ada Isabella. Ibu masih takut ketemu dia"


Galih terkekeh geli. "Kamu kok malah ketawa? Gak sopan ngetawain ibu" lagi, Riyani kembali mengomel pada putra keduanya.


"Lagian ibu aneh-aneh aja. Isabella gak mungkin marah sama ibu, udahlah gak usah takut"


"Iya ibu. Tapi anak itu serem kalo lagi marah, kan ibu jadi takut"


"Terserah ibu ajalah, Galih mau kekamar dulu ya"


"Mm"


.


.


Rayyan mengucap syukur dalam hati begitu dokter memberitahu bahwa putra bungsunya sudah sadar. Setelah dokter keluar, Rayyan dan Kevin bergegas masuk kedalam ruang rawat Aldre.


Begitu keduanya masuk, mereka bisa melihat Aldre yang sudah duduk diatas ranjang. Ada perban yang melilit kepalanya, juga sebagian punggunya yang tertutup perban.


"Hai, little boy. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Rayyan dengan nafas lega.


Aldre meringis, kepalanya berdenyut karena memaksa bangyn dari posisi berbaringnya. "Lumayan" jawabnya lemas.


"Hal bodoh apa yang ada didalam pikiranmu hingga berani melakukannya, Aldre?" Cecar Kevin.


Aldre melirik tajam kaka iparnya. "Salahkan alter ego suamimu! Dan harusnya ka Bella tidak membiarkan mereka begitu saja!"


"Hanya untuk membuat si brengsek Cloe tenang?! Cih memangnya sejak kapan Cloe berani melawan seorang Revano dan Isabella Courtland!! Omong kosong!" Lanjutnya lagi dengan tatapan penuh hardik kepada Kevin.


Kevin terdiam, begitupun Rayyan. Apa yang Aldre katakan memang benar, dan itu tidak bisa dijadikan alasan oleh Isabella. Bagaimanapun Isabella tidak bisa hanya menyalahkan Ara dan Aldre, karena Cloe adalah tanggung jawabnya.


"Biar kaka yang bicara padanya nanti"


"Itu memang harus"


"Sudah-sudah, apa kamu lapar, boy? Ayah suapi ya"


Rayyan mengambil nampan berisi sarapan milik Aldre yang baru saja diantar oleh suster. Menyuapkan bubur yang masih hangat itu kedalam mulut Aldre.


"Pelan-pelan, boy. Tidak akan ada yang mengambil buburmu"


"Mhm"


.....


T B C?


BYE!