
Darren tersentak saat mendengar suara teriakan yang familiar untuknya. Sang adik, Sin yang tengah memegang ponsel didepan wajahnya terkikik geli.
Darren menunjukan ekspresi bingung. "Kamu telponan sama siapa?" Seingatnya tidak ada yang diizinkan berkomunikasi dengan sang adik selain dirinya.
Sin membalikkan ponselnya, menunjukan layarnya kehadapan sang kaka. "KA DARREN!!!" Dua suara teriakam menggelegar itu menyambut Darren.
Matanya membola saat menangkap dua sosok adik sahabatnya didalam layar. Darren meneguk ludahnya kasar, keringat dingin membanjiri keningnya dengan deras.
Dua pasang netra berbeda warna itu menatapnya tajam, seolah siap mengulitinya hidup-hidup.
"Tidak setia kawan! Akan aku adukan pada ka Jason!" Seru Carissa marah.
"Emm" Ara mengangguk setuju dengan wajah cemberut.
"Mati aku" bisik Darren pelan. "Kenapa kalian bisa menghubungi Sin?" Darren berusaha mengalihkan amarah dua gadis ini.
"Kepo!!" Jawab kedunya kompak.
"Aww? Baiklah-baiklah ka Darren minta maaf oke. Ka Darren gak mau bikin kalian sedih"
"Seenggaknya kita kan mau nitip sesuatu buat Sin. Ka Darren jelek" seru Ara marah.
"Ka Darren minta maaf ya bumil. Lain kali ka Darren akan bilang pada kalian, janji" Darren mengangkat jari kelingkingnya, melakukan pinky promise.
"Awas aja kalau ka Darren bohong. Carissa akan bilang sama ka Linea untuk jangan kasih jatah ka Darren"
"Kejamnyaaa"
"Biarin"
"Kalau gitu aku makan siang dulu ya" Sin hendak mematikan panggilan videonya, tapi Ara melarangnya.
"Jangan dimatiin. Kita tungguin sampai kamu selesai makan" ucap Ara, yang diangguki setuju oleh Carissa.
Sin menghela nafas kecil tidak ingin membantah ibu hamil ini atau dia akan merajuk. "Baiklah terserah kalian aja"
Darren dan Sin melangkah masuk kedalam rumah. Sudah ada beberapa masakan lezat yang tersaji diatas meja makan.
Sin kembali mengangkat tinggi ponselnya. "Oke guys jadi hari ini aku bakaln makan siang dengan menu spesial yang sudah disiapin sama kaka aku tersayang walaupun sebenarnya dia juga beli di restaurant" Sin berbicara ala Food Vlogger yang seeing dirinya tonton akhir-akhir ini.
Carissa dan Ara terkikik geli dengan tingkah sahabat mereka itu, Sin memang selalu bisa bertingkah ajaib. Sedangkan Darren hanya bisa menatap sinis adiknya, tidak berani mengomel, atau dia akan kenapa sembur gadis itu.
"Adek kurang asem" cibir Darren dengan bibir mengerucut.
"Nyinyinyi"
"Kekekeke"
"Tempat pelelangan adek dimana sih ya? Ngeselin banget punya adik"
"Hah hah apasih ka? Mulut kaka bau"
"Oh asuuu"
"Ekekekekek"
Setelah hampir setengah hari mereka melepas rindu. Ketiganya akhirnya menghentikan panggilan video mereka karena ponsel Carissa yang sudah kehabisan daya. Walau rasanya berat untuk berpisah kembali karena setelah ini mereka pasti tidak akan diizinkan untuk menghubungi lagi sampai masa hukuman Sin selesai.
"Sudah sudah yu, kalian udah hampir setengah hari telponan" ucap Darren.
"Huhuhuhu gak mau. Abis ini pasti gak boleh telpon lagi" Ara berucap dengan sedih. Ingin menangis rasanya tapi malu.
"Kalian masih bisa menghubungi Sin lewat ka Darren nanti" Darren memberikam usul yang sempat menjadi ide pertama Ara sebelumnya. Kerana tidak tega melihat wajah sedih dua gadis itu.
senyum sumringah keduanya tampil lebar. "Janji ya ka Darren?"
"Iya ka Darren janji"
"Yaudah kalau gitu kita tutup, lagipula baterainya Carissa tinggal 10% hehehe"
"Dua gadis ini benar-benar"
"Dahh Sin, sampai berjumpa dilain hari...untuk kita bertemu lagi..." Carissa menyanyikan seenggal lirik dari sebuah lagi asal penyanyi Indonesia yang kebetulan dirinya ingat.
Sin tertawa kecil mendengar suara serak Carissa. "Lucu banget nyanyinya"
"Hehehe. Dadahhh"
"Dadahhhh"
Telpon ditutup. Carissa dan Ara saling berpandangan, mereka masih kangen meski hampi 5 jam melakukan panggilan video tapi rasa rindu mereka tidak surut sedikitpun.
Carissa memeluk Ara erat, keduanya menangis bersamaan. Mereka lebih rela jika Sin berada di tempat rehabilitasi karena setidaknya mereka masih bisa melihat gadis itu sesekali. Kalau begini bagaimana mau bertemu, jika menghubungi saja tidak boleh.
"Masih kangen Car... Hiks hiks"
"Aku juga Ra... Hiks hiks hiks"
Sin memandang ponselnya sedih. Tidak hanya Carissa dan Sin, dirinya juga merasakan rindu yang teramat berat. Rindu itu seolah bertambah besar. Kapan masa hukumannya berakhir? Ia ingin sekali menemani Ara bersama Carissa, dan melihat sahabatnya itu melahirkan. Ia juga ingin meninju wajah Aldre karena menyentuh sahabat kecilnya sebelum menikah.
"Kaka...." Sin menatap sang kaka dengan masa berkaca-kaca, sedetik kemudian menangis kencang.
*
Dibalik pintu kamar Ara. Michael dan Charles tengah mengintip kedua gadis yang berada didalam sana. Mereka cukup terkejut saat salah satu pelayan mengatakan bahwa dia mendengar suara tangisa keras dari dalam kamar Ara.
"Kasian mereka ka. Sampai kaya gitu nangisnya" ucap Michael tak tega.
"Kaka juga kasihan. Tapi mau bagaimana lagi? Kita tidak bisa membujuk papah ataupun Isabella" ucap Charles.
"Hah. Jadi pengen nangis juga" Michael menghapus air mata yang menggenang disudut matanya.
"udah yu kita pergi, biarkan mereka melepas kesedihan. Kalau kita samperin nanti makin sedin" Charles menarik adiknya untuk pergi dari sana.
Tanpa mereka sadari Isabella berdiri diujung koridor mendengarkan semua pembicaraan mereka.
*
*
"Terlambat!" Ujar Aldre ketus.
Daniel mendengus. Bocah ini senang sekali marah akhir-akhir ini. "Ini makan malam bocah!"
"Lalu makan siangku?!"
"Lah?"
"Aku belum makan siang ka Daniel!!!" Aldre menjerit keras. Dirinya menunggu berjam-jam untuk makan siangnya dan sekarang yang datang hanya makan malam? Bagaimana jika dirinya kelaparan nanti malam?
"Hah?!" Daniel melongo bingung.
"Tidak ada yang mengantarkan makan siang untuk tuan Aldre, tuan Daniel" lerai Henry.
"Kenapa?"
"Karena anda tidak ada"
"Lah iya lupa"
"AAAAAKKKKKHHHHH LAPARRRRRR!!!!"
"Maaf maaf, maaf ya. Ka Daniel benar-benar lupa heheheh"
Aldre menatap kakanya itu penuh permusuhan. Tangannya gatal ingin menjambak rambut jelek kakanya itu. "Makan siangku ka! Makan siang!!"
"Yaudah-yaudah ini makan siang nanti kaka ambilin lagi untuk makan malam"
"Awas saja jika kau lupa. Oh, jangan lupa bawakan snackku"
"Iya bawel"
Daniel bangkit dariposisi duduknya, lalu kembali keatas untuk membuat makan malam untuk Aldre.
"Kau mau Henry?" Tanya Aldre menawakan makanannya. Henry menggeleng. "Saya sudah makan tuan"
"Kejam"
"Maaf. Saya sudah menawarkan untuk membawa makan siang anda, tapi nona Isabella melarang dan mengatakan untuk menunggu kaka anda kembali"
"Dimana ka Ana?"
"Nona Ana memiliki pasien saat ini"
"Ck! Tidak bisa dipercaya"
Di dapur.
"Kau memasak lagi Daniel? Untuk apa?" Galih berdiri dibelakang sang adik.
"Untuk Aldre ka" jawab Daniel dengan tangan yang sibuk menyiapkan bahan.
"Bukankah kau baru saja mengantarkan makan malamnya?"
"Iya. Tapi dia belum makan siang dan aku lupa. Anak itu mengamuk"
"Hahahaha. Mangkannya kalau pergi tuh bilang"
"Namanya juga lupa ka"
"Yasudahlah lanjutkan pekerjaanmu"
"Hah"
.....
T b c?
bye!