
Hari ulang tahun si kembar Scander tiba.
Ara kembali menjadi sponsor pesta ulang tahun keponakannya. Tapi yang satu ini ia bersyukur karena clientnya sama sekali tidak merepotkan, walau masih ada aura menyebalkannya.
"Haiiisshh, mentang-mentang aku punya EO, semuanya aku yang urus" Ara mendengus sebal.
"Jangan mendumal seperti itu. Harusnya kamu bersyukur, yang ini menguntungkan kamu 1000x lipat, kan?" Ucap Nemora.
"Hehehehe, ka Nemora mah ah. Jadi malu hihihi"
"Hilih! lagakmu"
"Ouh, Aldre belom dateng?" Tanya Nemora dengan kepala celingukan mencari sosok si bungsu Skholvies.
Ara mengedikkan bahunya, "gak tau. Nanti kali"
"Dih, pacar sendiri juga"
"Yakan Ara sibuk kaaaaa"
"Alasan!"
"Kaka mahhhhh"
"Hahaha. udah ah kaka mau kedalam" Nemora melangkah masuk kedalam. Karena sedari tadi keduanya mengobrol didepan pintu utama, sudah macam pengawal yang sedang berjaga.
Sejujurnya sejak tadi Ara juga sedang menunggu sang kekasih, ia sengaja berdiri didepan pintu sekalian menyambut tamu.
Belum banyak tamu yang datang sebenarnya, tapi seluruh keluarga sudah berkumpul semua, hanya tinggal Aldre yang masih belum muncul. Entah kenapa lelaki itu senang sekali menjadi yang terakhir datang?
Pukk
Pundak Ara ditepuk pelan, membuat siemph berjengit kecil. Kepalanya menoleh kebelakang, bersiap mengomeli siapapun yang mengejutkannya. "Haiiisss, kamu ngagetin tau gak!" Omelnya.
Ia berdiri setengah jam disini menunggu kekasihnya, tetapi lelaki itu justru muncul dari dalam? Memang ba-- sudahlah..
"Kamu kok udah dateng?"
"Aku lewat samping tadi" Aldre menunjuk bagian samping mansion yang menjadi tempat parkir mobil keluarga.
Ara mencebik kesal, sia-sia ia menunggu. "Kamu ngapain disini?" Tanya Aldre. "Kepo!" Balas Ara ketus.
"Aku salah apa lagi kali ini?" Ucap Aldre dengan helaan nafas panjang.
"Gak ada salah apa-apa. Awas ah aku mau masuk"
Aldre menahan lengan Ara yang hendak melewatinya. "Ra..."
"Issshhh awas. Aku aus tau gak?"
Dari kejauhan, Carissa yang menyaksikan perdebatan keduanya didepan pintu tertawa. Kalau tidak ia beritau Aldre tadi bahwa Ara ada disana, sahabatnya itu pasti akan terus menunggu hingga acara selesai.
Ara mendelik kesal pada Carissa yang menertawakannya. Sahabatnya itu tidak bersimpati sama sekali padanya.
"Jangan ketawa! Kamu jelek" omelnya.
"Kkkkk, kan aku udah bilang tunggu didalam aja. Batu sih" ucap Carissa yang masih cekikikan.
Ara meraih asal gelas berisi minuman berwarna merah yang entah apa itu, menenggaknya dengan rakus. Sedetik kemudian gadis itu meringis merasakan perih ditenggorokannya.
"Makannya jangan marah-marah, sakit kan?" ledek Carissa.
"Issshh, siapa yang naro soda disini sih?"
"Dari tadi gelas itu ada disana, kamu aja yang gak jelas. Marah-marah terus kerjaannya" sambar Aldre yang sejak tadi memperhatikan tingkah gadisnya itu.
"Apasih, kamu tuh gak diajak!"
"Kayanya aku ngapa-ngapain selalu salah dimata kamu!"
"Ya cowo kan emang selalu salah"
"Si maha benar!"
Ara menatap Aldre tajam, raut wajahnya menampilkan ekspresi penuh permusuhan.
"Ara tuh nungguin kamu dari tadi loh, Al. Ngedumel terus karena kamu gak dateng-dateng, kangen sih kayanya" lagi, Carissa kembali menggoda sahabatnya.
"Hihihihihi"
Grepp
Aldre merengkuh pinggang Ara, membuat kedua mata gadis itu membola lebar. "Bilang dong kalau kangen, sabar ya sayang nanti aku cium. Ok?" bisik Aldre dia depan telinga kiri Ara.
"Gak jelas lo ah" Ara mendorong tubuh kekasihnya menjauh, kemudian pergi meninggalkan dua orang menyebalkan itu.
Mulutnya mendumal serentetan umpatan sepanjang kakinya berjalan.
.
Acara ulang tahun si kembar berjalan dengan lancar. Setelah obrolan panjang dengan para kolega, dan teman-teman sekolah yang datang, kini waktunya bagi sang pemilik acara untuk bersantai dengan keluarga. Acara masih berlangsung, diwakili dengan orang kepercayaan sang tuan rumah.
Sama seperti saat ulang tahun sikembar Vion dan Vien, Aldre menepi dipojok, menjauhi semua orang. Dan untuk pertama kalinya lagi, ia bertatap muka kembali dengan dua bocah menyebalkan itu.
Kedua netra cokelap gelap Aldre terpejam, tidak perduli dengan situasi disekitarnya. Meski begitu, lelaki itu tau semua orang tengah menatapnya kini.
Suasana hening dan senyap, tidak ada suara apapun yang terdengar bahkan deru nafas seseorang. Seperti hanya ia sendiri yang berada didalam ruangan besar itu.
Aldre bisa merasakan seseorang yang mendekat kearahnya, tapi ia tidak mendengar satupun langkah kaki. Setahunya hanya satu orang yang bisa seperti ini. Sang tuan rumah, JUSTIN SCANDER.
Lelaki 41 tahun itu cukup menyeramkan, karena bisa melakukan segala sesuatu tanpa menimbulkan suara. Bahkan hembusan nafasnya sekalipun.
Aldre menjulurkan tangannya tanpa membuka kedua matanya. "That nakclace ain't yours, Aldre" suara berat Justin menginterupsi.
"I don't care. return the necklace to me"
Justin tidak bergeming. Sebelah tangannya yang menggenggam kalung dengan permata hati berwarna merah itu hanya diam, tidak bergerak sedikitpun.
"Masa kepemimpinan mu sudah berakhir, ka Justin! Dan kau sendiri yang mengakhirinya. Jadi jangan mengganggu jalanku!"
"Ini tidak semudah menurutmu, Aldre"
"Jangan menceramahiku. Kembalikan kalung itu, dan fokus saja pada rumah tanggamu!"
Justin menatap lekat kedua netra gelap Aldre. "Kalung itu tau siapa pemiliknya, dia tidak akan pernah kembali padamu"
Aldre menggeram, matanya menatap tajam si bungsu yang berulang tahun hari ini. 'Bocah itu merusak segalanya! Kau 1000x lipat lebih menyebalkan dari sepupumu, Jovan!' batin Aldre kesal.
Aldre mencondongkan tubuhnya kearah Justin, berbisik tajam didepan wajah tuan besar Scander. "Fine! Tapi jika adik iparmu hamil, aku tidak akan pernah bertanggung jawab. Lebih baik jika aku mati!"
"Kau keterlaluan, Aldre!" geram Justin
"Kau dan seluruh keluargamu terlalu banyak ikut campur urusanku, terutama istrimu. Dan ajarkan sopan santun pada putramu untuk tidak mengambil barang yang bukan miliknya" ucap Aldre lantang.
Aldre merampas kalung miliknya dri tangan Justin, memakaikan kalung itu kelehernya. "Kau harus tau Mr. Scander, bukan kalung ini yang memilihku, tapi aku yang tidak membiarkannya menyatu dengan jiwaku!"
"Darimana kau mendapatkan kalung itu?"
"Tidak penting darimana aku mendapatkannya"
"Seharusnya kalung itu sudah lama musnah" Justin berusaha mencari jawaban dari lelaki muda didepannya ini. Tapi sepertinya Aldre memang tidak beminat untuk bekerja sama dengannya.
"Kau yakin?" Aldre memasang senyum culas diwajahnya. "Lain kali pastikan sesuatu dengan benar, ka Justin. Maaf karena aku tidak bisa membantu masalah rumah tanggamu"
"Kau!"
Aldre bangkit dari duduknya, bersiap melangkah keluar sebelum panggilan sang kaka mengintrupsinya.
"Kau sudah pernah berjanji pada ayah, kau harus menepati janjimu jika kau memang seorang laki-laki, Aldre" ucap Galih tegas.
"Jangan menginterupsi ku dengan janjiku, ka Galih. Jaga saja suamimu, karena banyak yang mengincarnya saat ini!" setelah mengatakan itu, Aldre benar-benar pergi meninggalkan semua orang disana.
Galih menatap khawatir suaminya, lalu menoleh pada sang sahabat. "Ada masalah besar yang dihadapi sosok yang memberikan kalung itu pada Aldre" ucap Isabella.
"Lalu apa hubungannya dengan suamiku?"
"Dia ingin suamimu membantunya, karena hanya Black Sweeper yang bisa menolongnya"
.....
T B C?
BYE!