
Tangan putih itu bergetar hebat saat memegang benda panjang berukuran kecil yang menampilkan dua garis berwarna merah dilayar kecilnya.
"Gak, gak mungkin! Ini pasti salah..." Ara ingin menyangkal hasil dari benda ditangannya ini, tapi kelima benda itu menunjukan hasil yang sama.
Tok tok tok...
"Ara? Kamu baik-baik saja? Ara? Buka pintunya Ara!"
Suara khawatir Ana yanh berteriak dari luar nyatanya tidak berhasil menyadarkan Ara dari keterkejutannya. Ara menangis histeris didalam kamar mandi, membuat Ana semakin panik.
"Ara, ka Ana mohon buka pintunya sayang" bujuk Ana. "Jangan buat kaka khawatir, Ara..."
Ceklek
Suara kunci yang berputar membuat Ana dengan cepat mendorong pintu berwarna cokelat tersebut.
"Ara... Ada apa?" Tidak ada jawaban dari Ara, matanya basah oleh air mata yang masih menggenang meski ada aliran sungai kecil dipipinya
Ana mengambil testpack digenggaman Ara, tidak ada keterkejutan dalam ekspresinya, dirinya sudah menduga hasil apa yang akan didapatkannya.
"Tenang, sayang. Semuanya akan baik-baik saja" Ana mengelus punggung Ara yang bergetar, menenangjan gadis itu dari panic attacknya.
"Ka Ana hiks hiks bagiaman jika mama tau hiks hiks?" Tangi Ara dengan panik.
"Mamah akan tau, beliau harus tau apa yang terjadi pada putri bungsunya" ucap Ana.
"Tapi ka--"
"Dengerin kaka, semuanya akan baik-baik saja ok" Ana menuntut tubuh Ara keluar dari kamar mandi, membawanya menuju ranjang lalu menuntunnya untuk berbaring.
"Biar ka Ana periksa dulu ya"
Ana mengeluarkan peralatan miliknya yang selalu ia bawa kemanapun dirinya pergi. Memasang stetoskop ditelinganya, lalu mulai memeriksa bagian perut Ara yang memang sudah terlihat sedikit membuncit.
Ana bisa merasakan ada kehidupan lain didalam sana, tapi untuk memperjelas ia tetap butuh melakukan USG, tapi sayangnya tidak ada alatnya disini. Dirinya harus membawa Ara ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Istirahatlah, kaka akan keluar sebentar"
Ana kembali merapikan baju Ara yang sebelumnya ia singkap sedikit. Membereskan peralatannya lalu keluar dari kamar.
BUGH..
Suara pukulan keras mengejutkan Ana ketika dirinya tiba dianak tangga terakhir. Dengan langkah cepat wanita 32 tahun itu berlari menuju area taman belakang mansion besar ini.
Dengan langkah perlahan Ana berjalan mendekat, berdiri tepat dibelakang Isabella. "Ka Bella"
Bisa Ana lihat Isabella yang menolehkan sedikit kepalanya. "Ara hamil"
BRAKK..
Belum Ana daat mempresos apa yang baru saja terjadi, ia sudah melihat tubuh Aldre yang tergeletak tepat dibawah ring basket dengan tubuh bersimbah darah. Tubuh Ana membemu, ia begitu shock dengan pemandangan dihadapannya.
"Aldre!!!" Daniel berlari kencang mendekati tubuh sang adik, diikuti Kevin, dan Leo dibelakangnya.
Begitu sang suami berteriak Ana baru tersadar dari keterkejutannya, tanpa basi-basi wanita itu menelpon pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruang operasi.
"Kita bawa Aldre kerumah sakit" ucap Leo. Ketiganya pun mulai mengangkat tubuh Aldre.
"Aku sudah telfon pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruang operasi" ujar Ana.
"Terimakasih, sayang" balas Daniel.
Setibanya dirumah sakit Aldre langsung dimasukkan kedalam ruang operasi. Darah segar masih bercucuran dari tubuh lelaki tampan yang sudahtak sadarkan diri itu.
"Apa kita harus menghubungi ayah dan ibu?" Tanya Ana pada sang suami.
Daniel terdiam, bingung apakah ia harus menghubungi kedua orang tuanya atau tidak.
"Hubungi ayah dan ibu, mereka harus tau apa yang terjadi, juga... Hubungi bibi Sofia" sahut Kevin.
Ana mengangguk mengerti mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan segera menghubungi kedua mertuanya dan juga ibu kandung Ara.
Beberapa menit kemudian Rayyan dan Riyani tiba dirumah sakit. Wajah panik keduanya menjadi pemandangan pertama yang terlihat.
"Ada apa? Kenapa Aldre bisa sampai seperti ini?" Riyani bertanya dengan nada histeris. Kedua tangannya mencengkram erat bahu lebar menantunya.
"Isabella menjadi lawan Aldre dalama latihan bertarung, dia menendangnya hingga Aldre terpental, dan menghantam tiang ring basket" jelas Leo dengan tenang. Tidak ada raut kepanikan dalam wajah lelaki 43 tahun itu.
"Ini karena Ara, ayah" jawab Ana pelan.
"Apa hubungannya dengan Ara?"
Ana menatap sang suami ragu-ragu, anggukan Daniel meyakinkan istrinya untuk melanjutkan perkataannya.
"Ara.... Ara hamil, ayah"
"A-apa?!"
"Dan itu anak Aldre. Ka Bella murka, jadi ia mengajak Aldre untuk bertarung" timpal Daniel.
"Yatuhan, Aldre" Rayyan memegang dadanya yang terasa nyeri, kepalanya pun ikut berdenyut hebat. Tubunya hampir tumbang jika saja Leo tidak dengan sigap menahannya.
"Jika ka Revan tau Aldre pasti akan habis ka" kehkawatiran Riyani semakin bertambah, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada putranya nanti.
"Ayo duduk paman"
Leo memapah tubuh sang paman untuk duduk dikursi ruang tunggu. "Aldre melakukannya bukan tanpa alasan, ibu. Semuanya karena Masev!"
Riyani menatap tak mengerti menantu lelaki satu-satunya. "Apa lagi hubungannya dengan Masev?"
"Ibu pasti tau Masev dan Cloe beracaran kan? Hubungan mereka sudah jauh, ibu. Aldre bukan orang pertama yang menyentuh tubuh Ara, meski saat itu bukan yang mengendalikan tubuhnya. Ini salah satu alasan utama yang memicu Aldre berani melakukannya" jelas Kevin.
Air mata Riyani luruh setelah mendengar penjelasan Kevin, begitupun Rayyan yang tak mampu lagi berucap satu katapun.
"Dimana Ara sekarang?"
"Di mansion ka Bella, ibu" jawab Ana.
"Kita kesana Ana, ibu mau melihatnya" ajak Riyani. "Ibu tidak ingin melihat Aldre?"
"Biarkan saja, biar mati sekalian" ujar Riyani kesal.
"Ibu" tegur Daniel.
.
.
"Bukankah kaka sudah pernah memperingatkanmu, Ara?!"
"Hanya kamu!! Hanya kamu yang membuat kaka gagal menjaga adik kaka!!! Tidakkah kamu mengerti apa yang kaka ucapkan?!! Kaka membiarkan Masev dan Cloe karena hanya itu cara agar alter ego sialan kamu itu tidak banyak bertingkah! Bukan berarti kamu bisa melakukan hal yang sama!!! Aldre akan menghentikan niatnya jika kamu menutup jalan untuknya!!"
"Harus bagaimana lagi kaka menghadapi kamu, hah?! JAWAB!!"
Isabella murka, benar-benar murka sampai tidak lagi bisa mengontrol dirinya.
Ara menangis keras, kepalanya tertunduk ke bawah tidak berani menatap sang kaka. "M-maafk k-ka hiks hiks maafin Ara" cicitnya kecil.
"MAAF?! UNTUK APA? UNTUK APA KAMU MINTA MAAF?!!"
"Bee--"
"DIAM!!!"
"Princess? Ada apa ini? Kenapa kamu memarahi adikmu seperti itu?" Sofia yang baru tiba terkejut dengan situasi yang didapatinya begitu masuk kedalam kamar.
Wanita paruh baya itu tidak datang sendirian, ada Charles, Neyoura, dan Ceyora bersamanya.
Isabella menatap kaka lelaki ketiganya itu murka. "URUS ADIK KESAYANGANMU!! AKU TIDAK MAU LAGI MELIHATNYA DISINI!!" Murkanya. Kemudian berlalu pergi tanpa menatap sang ibu yang kebingunan.
Justin mengejar sang istri, ia tidak mau istrinya melakukan hal gila dalam keadaan marah.
"Ara..." Panggil Charles lembut.
"Paman, bibi Ara hamil" ucap Jeven.
.....
T B C?
BYE!