Her And Bitter Memories

Her And Bitter Memories
BAB 63



"Ini akan sama sakitnya dengan apa yang Carissa rasakan, Sin! Meski bukan kau yang melakukannya, tapi kau harus tau bagaimana perasaan ketiga sahabatmu dan keluargamu akibat perbuatan bodohmu!! "


Isabella melempar rantai yang digenggamnya ke tanah, menimbulkan bunyi yang sangat nyaring. Kemudian meraih pedangnya yang ia sampirkan dipinggang.


Tangannya mengelus permukaan pedang putih dengan gambar burung Phoenix disetiap sisinya. "Aku hanya akan memberikanmu satu luka, Sin! Tapi itu sepadan dengan setiap luka yang kau goreskan pada kami! "


Tubuh Sin bergetar hebat berusaha melawan kerakutannya. Merasakan sapuan lembut pedang putih itu tidak pernah terbayangkan dalam pikirannya, dan sekarang ia justru akan dengan sukarela merasakannya.


"Apa aku aku dimaafkan setelah ini, ka Bella? "


"Tergantung bagaimana sikapmu! "


"Kau siap? " Sin mengangguk. Tubuhnya dibalik paksa menghadap dinding.


Tangan yang menggenggam pedang panjang berwarna putih itu mulai terangkat, siap melukis tubuh gadis cantik yang kini terikat.


Mata Sin terpejam erat, kesepuluh jarinya menggenggam rantai dengan sangat kuat. "Aku akan menerima apapun yang terjadj padaku setelah ini. Aku harap kalian masih mau memaafkan ku" batin Sin menyesal.


SRAKK


Tetesan darah mengucur deras keatas lantai. Sin menggigit kuat bibirnya menahan sakit dan perih yang menjalari tubuhnya. Rasanya seperti terbakar di api yang sangat panas.


Perlahan genggamannya pada rantai melemah, tubuhnya melemas, matanya perlahan mulai sayu. Kevin menarik rantai yang melilit tubuh Sin, membuat gadis itu ambruk seketika.


"Apa itu saja cukup? " ujar Jason. Rion menunjuk kearah luka dipunggung Sin. "Perhatikan lukanya! "


Luka panjang ditubuh Sin perlahan berubah menjadi melepuh, persis seperti luka bakar. Jason terbelalak tak percaya.


"Bagaimana--"


"Phoenix adalah simbol api abadi, Jason! Aku tidak perlu menjalaskan lebih detail agar kau paham bukan? " ucap Isabella.


Mereka akhirnya pergi dari sana meninggalkan Sin yang tengah sekarat. Di sel berbeda, Thomas dan Roxy masih menanti giliran mereka. Keduanya terikat dikursi listrik.


.


Di kamar Ara


"KELUAR!!! "


"ARA! "


"AKU BILANG KELUAR!! AKU GAK MAU LIHAT KAMU! GAK MAU GAK MAU!! "


Pukulan bertubi-tubu Aldre dapatkan ditubuhnya dari gadis pujaan hatinya. Ara marah dan mengamuk sejak tiba dikamarnya.


"Ara stop! Stop !"


"KELUAR!!! ARA GAK MAU LIAT KAMU!!! "


Aldre menangkap kedua tangan Ara, menahannya dibelakang punggung. Netra cokelatnya menatap tajam dua netra biru milik Ara.


"Diam!! " ucap Aldre.


"Ara benci kamu! " balas Ara kesal. "Aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu, Ra. Harusnya kamu ngerti " ucap Aldre lembut.


"Tapi Ara mau sama Sin. Ara gak mau ka Bella nyakitin Sin, Al. Dia sahabat Ara" Ara mulai terisak kembali.


"Ra, berapa kali aku bilang sama kamu untuk gak perduli sama dia. Dia sudah jahatin kamu, Ra. Dia sudah buat semuanya kacau kaya gini"


"Gak! Ara gak perduli. Pokoknya Sin tetep sahabat Ara"


"Aldre jelek! Ara benci Aldre! "


Untuk kesekian kalinya Ara kembali mengamuk pada Aldre. Ia melemparkan semua bantal diatas ranjang ke arah Aldre. Sedangkan yang menjadi target hanya bisa pasrah.


.


.


Jovan keluar dari kamar mandi. Remaja 13 tahun itu baru selesai membersihkan tubuhnya.


"Woaaahhh" Jovan berjengit kaget. Matanya membola mendapati para sepupunya berkumpul didalam kamarnya.


"Kalian ngapain disini?! " kesalnya.


"Aku tidak menyangka kau punya badan sekeren itu, Jov" ucap Virsan yang tadi berseru kagum.


"Ck! "


"Tubuhmu tidak terluka sama sekali ya? " Kanet, putra Kenzo dan Feliciya menatap kagum tubuh Jovan yang tak terluka sedikitpun. Padahal sahabatnya itu datang dengan kondisi tak jauh berbeda dari bundanya, berlumuran darah.


"Kau lupa aku siapa? Putra Godmother" balas Jovan sombong.


"Sombong amat“


"Udah-udah jadi ribut. Makan dulu Jov" Erick melerai mereka. Jarinya menunjuk makanan yang berada di meja Sofa.


"Bentar, pake baju dulu" Jovan melangkah menuju walk in closet untuk berpakaian. Bocah itu hanya mengenakan bathrobe ditubuhnya.


Tidak lama Jovan keluar, kemudian duduk disofa dan menyantap makanannya dengan tenang.


"Bagaimana keadaan bibi Carissa? " tanyanya begitu ia menyelesaikan suapan terakhirnya.


"Bibi sudah sadar, tapi tidak bisa bergerak. Tubuhnya penuh dengan perban" jawab Jesslyn lemas.


"Setidaknya kondisi bibi jauh lebih baik"


"Kau ingin melihatnya? " Tanya Jeno pada adik kembarnya itu. Jovan mengangguk, "aku akan menjenguknya nanti, ada hal yang harus aku bicarakan dengan ayah sebentar lagi"


"Jov, kamu.... " Jesslyn ragu untuk melanjutkan ucapannya. Jovan menatap sang kaka, ia mengerti apa yang ingin gadis itu tanyakan.


"Ya" jawabnya cepat. Jeno dan Jesslyn terkejut, begitupun yang lain.


"Jangan khawatir, aku akan berusaha mengontrol diriku. Aku akan baik-baik saja ka" Tangannya menarik tubuh Jesslyn kedalam pelukannya, menenangkan kakanya yang merasa khawatir.


"Baiklah, aku harus menemui ayah sekarang" Jovan bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar kedua orangtuanya.


.


"udah marahnya? Capek? " sindir Aldre. Ara melirik sinis Aldre yang duduk diujung ranjang.


"Sekarang kamu mandi, aku akan minta bibi siapkan makanan. Terus abis itu istirahat"


"Gak mau! "


"Yaudah kalo gitu aku bakal bilang sama Carissa kalo kamu gak perduli sama dia dan gak mau liat dia" ancam Aldre.


"Aldre!!!"


Dengan kaki yang dihentak keras, Ara masuk kedalam kamar mandi menutup pintunya dengan gebrakan kencang.


Aldre terkikik geli, lucu juga mengerjai gadis itu. Lelaki itu merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menghebuskan nafas lelahnya yang kesekian kali.


Matanya terpejam. Memorinya kembali mengingat kenangan dulu saat ia dan ketiga sahabatnya masih melakukan segala hal bersama.


"Kau atau aku yang harus disalahkan Sin. Kau tidak mengerti betapa berartinya kalian bagiku" tanpa sadar air mata Aldre mengalir.


Ara yang baru keluar dari kamar mandi mematung. Hatinya ingin tau apa yang sebenarnya lelaki itu rasakan selama ini.


.....


Aku benci mendapatkan kilas balik dari hal-hal yang tidak ingin aku ingat.


.....


T B C?


BYE!