For My Family

For My Family
98



Ardan terus menggenggam jemari Hazel saat wanita berperut buncit itu menjalani pemeriksaan. Sementara Surya ia titipkan pada salah satu suster dan menunggu di luar.


Ketika Dokter itu beranjak mengambil sesuatu, Ardan mendekat, membungkukkan badannya seraya mengecup lembut dahi istri cantiknya itu.


"Apa masih sakit, Sayang?" tanya Ardan cemas.


Wanita berlesung pipi itu hanya tersenyum, tanpa harus dijawab, dari senyum yang ia tunjukan saja Ardan tahu jawabannya.


Perlahan ibu jari Ardan mengelus lembut pipi putih itu, tersenyum manis sekadar menyembunyikan kekhawatiran yang kian bersarang di dalam dada.


"Kuatlah, saat ini kamu tidak menghadapi apa pun sendiri. Jangan takut," ucap Ardan lembut. Bibir tipis itu mendesah panjang, melepaskan beban yang sempat mengganjal pernapasannya.


Ia mengatakan agar Hazel jangan pernah takut, nyatanya saat ini, ialah yang sangat kalut.


Tangan lemah wanita itu meraih rahang Ardan, menghela napas panjang untuk mengurangi nyeri pada kandungannya.


"Maaf, ya, Mas," lirihnya lembut.


"Maaf kenapa?"


"Maaf udah buat Mas khawatir, dan juga, sudah menykiti bayi kita."


Ardan tersenyum tipis, ia mengambil jemari Hazel yang membelai rahangnya, lalu menciumnya lembut.


Ada desiran yang menghanggat di dalam dada. Jadi seperti ini rasanya, saat menghadapi segala ketakutan berdua?


Nyaman dan juga tenang. Ketika dia yang tersayang mau ikut menanggungnya bersama.


Tanpa sadar, bulir bening itu keluar dari iris berwarna madu tersebut. Cepat, jari kekar itu menyambutnya.


Netra itu menatapi wajah Ardan, ada kebahagiaan di balik kekhawatiran yang ia rasakan, ketika ada tangan dari tubuh yang berbeda sudi menyambut air matanya.


Embunan itu kembali ada, bukan hanya karena rasa takutnya, namun, juga karena rasa bahagianya.


"Kumohon jangan menangis terus, Hazel. Ada aku, tak apa, Sayang. Anak kita tak akan kenapa-napa," bujuk Ardan lembut.


Ardan kembali menegakkan badannya, ketika wanita berjas itu kembali mendekati.


"Gula darahnya mencukupi, malah semakin membaik. Karena Hazel pendarahan, kita inap semalam, ya," pinta Dokter wanita dengan name tag Abel itu.


"Lalu calon bayinya, apakah baik-baik saja?" tanya Ardan cemas.


Dokter kandungan itu tersenyum, ia melihat ke arah Hazel.


"Untuk saat ini, baik. Kami menyarankan untuk inap guna memastikan pendarahannya agar tidak terus berlanjut."


Ardan mendesah panjang, lalu ia mengangguk dan berkata, "Baik, lakukan saja yang terbaik, Dokter."


"Baik. Sebentar saya siapkan kamarnya dulu." Wanita itu berlalu, sibuk menyiapkan segala keperluan pasiennya tersebut.


Pandangan Ardan teralih pada istrinya lagi. Tangan kurus itu terulur mencoba meraih tasnya yang ada di atas nakas. Gesit lelaki bermata elang itu lebih dulu mengambil benda putih itu.


"Mas, coba buka, sepertinya dari tadi hapeku bergetar," pinta Hazel lembut.


Menuruti perintah sang istri, Ardan mengeluarkan benda pipih tersebut. Matanya langsung melirik Hazel, ketika mengetahui siapa penelpon istrinya tersebut.


"Siapa, Mas?" tanya Hazel penasaran.


Ardan menghela napas, ia memberikan ponsel itu untuk segera diangkat. Wanita itu menekan tombol pengeras suara, agar lelaki di depannya ikut mendengarkan.


"Hazel, kamu di mana?" tanya lelaki di seberang sana.


"Saya ... di rumah sakit," jawab Hazel lembut.


"Apa Ardan ada bersamamu?" tanyanya lagi.


"Mas Ardan ...." Hazel melirik ke arah lelaki itu. Yang ditatap hanya memasang wajah datar sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Tolong katakan padanya Hazel, perusahaan saat--" Omongan lelaki yang ada di seberang sana langsung terputus ketika Ardan mengambil alih ponselnya. Mematikan panggilan dari Ferdi sepihak.


Sedang wanita itu hanya berdiam, tangannya mengelus perut buncitnya lembut.


"Ada rapat yang harus Mas pimpin, ya?" tanya Hazel lembut.


Ardan hanya diam.


"Mas." Lembut wanita itu meraih jemari Ardan. "Pergilah, Mas. Ferdi sedang menunggumu di sana."


"Bagaimana aku bisa pergi saat kamu begini?"


"Aku baik-baik saja, Mas. Lagian ada Surya dan perawat di sini."


"Kamu gak akan pendarahan jika baik-baik saja," jawab Ardan ketus.


"Mas, aku masih akan di sini dan akan selalu menunggu kamu pulang. Tapi Ferdi dan puluhan karyawan lainnya sedang mempertaruhkan masa depannya di sana. Di sini hanya ada dua nyawa, di sana, ada puluhan nyawa, bisa saja mereka sedang berujang buat keluarga mereka."


Ardan tersenyum sinis, lantas ia menggelengkan kepalanya.


"Hanya dua nyawa kamu bilang?" tanyanya sinis. "Kalian hidup aku, Hazel!" tekan Ardan ketus.


"Tapi hidup kamu bukan hanya untuk aku dan anak kita saja, Mas. Ada puluhan keluarga yang bergantung hidup pada perusahaanmu. Termasuk sahabat karibmu itu juga, kan?"


Lelaki itu berdiam, ia tak lagi mampu menjawab ucapan wanitanya itu.


"Tapi, bagaimana aku bisa meninggalkanmu? Apa kamu pikir aku bisa tenang meninggalkanmu sendiri?"


Wanita itu tersenyum, jemarinya terus mengelus lengan berbalut kemeja marun itu dengan lembut.


"Sudah kukatakan. Aku akan menunggumu, Mas. Bukankah kamu sudah dengar sendiri? Aku hanya butuh inap, pergilah, jangan korbankan perusahaanmu, Mas."


Ardan masih bergeming, ia tak berniat meninggalkan wanitanya. Bagaimana bisa dia pergi, sementara istrinya sedang berujang di dalam sini.


"Mas," panggil Hazel lagi.


"Kumohon jangan paksa aku, Hazel. Aku gak mau," balas Ardan kesal.


Hazel hanya menatap Ardan lekat, perlahan tangannya yang mengenggam lengan Ardan terlepas. Lelaki itu mengacak rambut yang tak gatal. Mengerti dengan perlakuan istrinya tersebut.


"Kalau aku pergi siapa yang akan menjagamu?" tanya Ardan melunak.


"Nanti aku minta Mbok Darmi ke sini, Mas pergilah dulu."


"Kamu yakin?" tanya Ardan sekali lagi.


Hazel tersenyum dan mengangguk mantap. "Kamu bisa kembali ke sini jika sudah selesai, Mas. Aku ada di sini dan akan selalu di sini. Menunggumu kembali."


Ardan tersenyum, jarinya membelai lembut dahi wanita itu. Lantas sebuh ciuman mendarat di sana.


"Tunggulah aku. Aku akan kembali dengan cepat, Sayang."


"Hem, pergilah. Aku akan menunggumu, Mas."


Sedikit ragu, lelaki itu meninggalkan ruangan pemeriksaan. Entah bagaimana ia bisa memimpin rapat saat pikirannya terbagi oleh wanita dan calon bayinya.


***


Nyatanya, pikirannya langsung berkecamuk saat melihat dua lelaki itu hadir di ruang rapat. Papa dan juga kembarannya, seperti ingin menyaksikan kehancurannya dengan mata kepala mereka sendiri.


Ferdi menarik badan Ardan keluar dari ruang rapat dengan segera. Sementara mata lelaki beralis tebal itu masih mengancam ke arah dua anggota keluarganya itu.


"Masalah, Ardan," ucap Ferdi bingung.


"Aku tau." Mata lelaki itu masih lekat menatap tubuh tegap Gerald dan Arfan dari balik kaca. Menyadari tatapan mata Ardan, Ferdi mendengkus kesal.


"Bukan cuma mereka, tapi juga Nara. Di mana gadis itu?" tanya Ferdi kesal.


"Mana aku tau," jawab Ardan enteng.


"Bagaimana bisa gak tau? Rebecha bilang kamu mengurus izinnya."


Ardan tercekat, kapan dia bilang mau mengurus izin gadis itu? Detik kemudian Ardan tersadar, ia menatap Ferdi dan menyeringai pasrah.


"Sumpah aku gak tau. Hazel hanya bilang gadis itu pulang kampung."


"Astaga! Laporan penjualan sama dia, Dan. Bagaimana kamu bisa kacau begini?" bentak Ferdi ketus.


Lelaki yang dibentak hanya tertunduk, "Maaf, Hazel pendarahan. Aku panik, semua yang ada dipikiran jadi kacau," sesal Ardan lirih.


Ferdi mendesah panjang, ia mengacak rambut. Frustrasi.


"Sebenarnya perusahaan ini masih prioritasmu bukan sih, Dan? Ha? Ke mana profesionalitas kerjamu? Kenapa kacau sekali sekarang caramu?" tanya Ferdi meradang.


"Saat genting ponselmu mati, beginikah caramu?" Lelaki itu kembali memarahi GMnya. Sedang yang dimarahi hanya diam, walau dia adalah anak pemilik perusahaan. Tetapi menurut jabatan, tetaplah Ferdi pimpinannya.


"Sekarang rapat ini bagaimana? Bagaimana jika Nara tidak ada?"


"Aku juga gak tau dia di mana? Hazel bilang dia pulang kampung. Itu saja."


"Oh ... Lord, Ardan! Lantas jika istrimu bilang dia tidak masuk kamu diam saja? Perusahaan ini juga memiliki prosedurnya, bukan?"


Ardan diam, itu yang dia katakan sebelum keadaan Surya memburuk. Lalu setelahnya, ia lupa segalanya karena keadaan Hazel yang memburuk.


"Baik, kenapa gak kita lepaskan saja perusahaan ini?" tanya Ferdi lirih.


Seketika pandangan Ardan menajam, jelas dia tidak setuju pada usulan sahabatnya itu. Namun, jika Nara tidak ada, masihkah ada hal yang bisa menyelamatkan?