
"Aku akan memberikan waktu untuk kalian membuktikannya, kalau kalian memang berhasil membawa Nola memenangkan salah satu kompetisi Asia. Maka aku akan memikirkan ulang untuk melakukan kerjasama dengan Erlangga."
Ardan tersenyum dan menggeleng pelan.
"Bukan lagi menunggu keputusan, Pak Ahkem. Tapi Anda harus menyetujuinya jika kami mampu membawa Nola menembus pasar Asia."
Ahkem tertawa getir, benar-benar lawan bicaranya kali ini. Mengapa kerjasama ini malah terlihat seperti desakan dibalut ancaman?
"Baiklah," kata Ahkem mengalah akhirnya. Terus terang jika semakin lama dia menentang, maka akan terlihat kelemahannya di depan Ardan. Putra Erlangga itu memang memiliki pandangan yang sangat tajam.
"Aku akan menunggu kabar baik dari kalian semua." Lalu kepala itu menoleh ke arah putri tunggalnya yang duduk di sisinya.
"Buktikan kamu mampu, Nola. Tak ada lagi kesempatan lain kali. Ini yang terakhir kali, Dady tak hanya omong kosong. Karena posisi pewaris sudah harus kau tanggung."
Nola tersenyum dengan lebarnya, meletakam satu tangannya dengan hormat seraya berkata.
"Siap, Sir!"
Tawa Ahkem pecah, dia tarik tubuh putrinya dan memeluk dengan erat. Satu-satunya perhiasan yang paling berharga baginya adalah Nola itu sendiri.
"Kami pastikan Anda tidak akan menunggu lama, Pak Ahkem. Karena akan saya pastikan bahwa kontrak kerja sama Anda dengan Ruby Jewelry tak perlu diperbarui lagi."
Ahkem sempat terdiam, lalu dia teringat bahwa kontrak kerjasamanya dengan Ruby Jewelry memang akan berakhir dalam kurun waktu kurang dari empat bulan lagi.
Sudut bibir Ahkem kembali tertarik, dia tatap Ardan lamat-lamat. Bahkan lelaki dengan wajah tampan itu telah memikirkan sampai celah terkecil.
Pantas saja banyak orang yang mengatakan padanya agar tak menjadi lawan Ardan. Ternyata, cara dia menghancurkan sangat teliti dan halus. Perlahan, tapi mampu membuat lawan terpuruk dan kesulitan untuk bangkit. Luar biasa, Erlangga memiliki pewaris yang sangat menakjubkan.
"Ardan," panggil Ahkem melepaskan dekapan putrinya.
"Ya?"
"Apa kau sudah menikah?"
Ardan menggulum senyum, dia mengangguk pelan. "Ya, saya ayah dari 2 orang anak."
"Apa kau memiliki putri?"
"Ya, sepasang."
"Pantas saja," sahut Ahkem.
"Apanya?" tanya Ardan seraya menautkan dua alis matanya.
Ahkem menggeleng, pantas saja dia mampu menangkap semua bahasa tubuh Ahkem yang sangat menyanyangi putrinya. Selain sebagai pebisnis yang kejam, mungkin dia juga ayah yang penyayang. Karena itu setiap gerakan Ahkem telah dibaca olehnya.
***
Ferdi menyerahkan beberapa lembar dokumen dan sebuah spidol berwarna merah ke atas meja yang ada di depan Nola.
"Baca ini, kamu lihat syarat dan ketentuannya, lalu tentukan kamu ingin memenangkan kompetisi yang mana?"
Tak membuang banyak waktu, Ardan dan Ferdi mencari banyak informasi tentang kompetisi-kompetisi desain perhiasaan. Dari yang menengah hingga yang kompetisi kecil. Mempersiapkan pengalaman Nola terlebih dulu sebelum dia mengajukan diri ke kompetisi Asia tiga bulan mendatang.
Naif sekali jika mereka berpikir Nola akan menang hanya dalam sekali pertarungan. Untuk itu Ardan menyokong pengalaman Nola dari kegagalan-kegagalan pada kompetisi kecil-kecil seperti ini. Untuk menambah wawasan dan pandangan gadis itu dalam menentukan desain yang lebih baik lagi.
Bukannya membalik lembaran kertas itu, Nola malah menatap Ferdi dengan senyum simpul.
"Temanku mengadakan party di pinggir pantai nanti malam. Ayo temani aku ke sana," ajaknya.
"Nola seriuslah sedikit. Kita tidak banyak waktu untuk terus bermain-main."
"Ayolah, Ferdi! Aku yang akan mengikuti kompetisi, kenapa kau yang tegang?"
Pria berwajah teduh itu menghela napas, dia silangkan tangan di depan dada dan memalingkan wajah ke arah pantai.
Pulang dari kediaman Ahkem Shahrir, mereka langsung sibuk untuk menyiapkan kompetisi Nola. Sebaliknya, gadis berkulit eksotis itu malah bersantai di pinggir pantai.
"Nola, sebenarnya kau serius atau tidak ingin membuat Brand sendiri?"
"Tentu saja serius!"
"Kalau begitu antusiaslah sedikit. Jangan hanya memikirkan main saja!" bentak Ferdi mulai geram.
Sementara Ardan dan Evan berdiri di dekat pesisir, membicarakan hal yang lainnya. Sudah pasti trik dan strategi untuk membawa Nola naik kepermukaan dunia desainer.
"Ferdi, mendesain bukan hal yang bisa aku paksakan. Itu datang dengan inspirasi, aku tak bisa apa-apa jika tak mendapatkan Ilham Tuhan."
Ferdi menarik napas, mengusap wajah dengan sedikit kasar. Benar juga apa yang dikatakan Nola.
"Modus!"
"Mau atau tidak?" Gadis itu merebahkan badannya di kursi pantai, menyilangkan kedua tangannya untuk dijadikan bantal.
Ferdi diam, dia tarik kursi yang ada di depan Nola dan mengusap wajah kasar.
"Baiklah, sekarang kau periksa ini."
Tergesa, gadis itu kembali duduk dan membuka lembaran dokumennya. Semangat saat Ferdi menerima ajakannya.
"Tandai yang ingin kau menangkan kompetisinya, nanti aku dan Ardan akan mencari jalan."
Baru selesai mengatakan itu saat Nola mencoret punggung tangan Ferdi. Lelaki berwajah teduh itu menghela napas, kesabarannya benar-benar terkuras menghadapi gadis yang satu ini.
"Jangan seperti anak SD yang suka mencoret-coret orang lain."
Pemuda itu mengambil tissue yang ada di tengah meja, mengusap punggung tangannya untuk memudarkan tinta.
Nola bangkit dari duduknya dan mencondongkan badan ke arah Ferdi. Gadis itu kembali mencoret, kali ini di salah satu pipi pemuda berwajah teduh tersebut.
"Nola—"
"Apa kamu tak paham?" tanya Nola sebelum sempat Ferdi menyelesaikan ucapannya.
"Kompetisi yang paling ingin kumenangi itu kamu, Ferdi. Kamu tak paham juga? Selain membuat brand sendiri, aku pun ingin membuat kamu jatuh hati padaku."
Segurat keseriusan tampak dari wajah Nola, badan yang masih condong ke depan tentu membuat sebagian dada Nola terlihat.
Ferdi membuang wajahnya, di sana Ardan dan Evan tengah memperhatikan mereka.
"Bagaimana bisa Ferdi begitu tahan dengan godaan? Nola telah menyerahkan diri dan hati padanya."
Ardan tersenyum simpul, dia sugar rambut hitam legamnya yang sempat terbang terempas angin pantai.
"Jangan kau pertanyakan soal pendiriannya. Jika dia saja bisa setia selama bertahun-tahun pada gadis yang sudah tidak ada di dunia ini lagi. Apalagi saat ini," kata Ardan seraya menaikan bingkai kacamata hitam yang sedang dia kenakan.
"Maksudmu, Ferdi sudah punya pacar?"
"Calon istri lebih tepatnya. Jika tidak mengurus masalah ini, mungkin dia sudah menikah."
"Oh, pantas saja semalam dia terlihat lebih fresh setelah menerima panggilan. Ternyata masih ada lelaki setia sepertinya di dunia ini."
Ardan terkekeh, "tentu saja ada! Aku pun begitu."
Iris di balik kacamata hitam milik Evan memutar malas. Ardan berkata seakan-akan dia tak tahu siapa Ardan di masa lalu.
"Tapi dari dulu Ferdi memang tipe laki-laki yang selalu dikejar wanita, kan?" tanya Evan lagi.
Alis Ardan naik secara bersamaan, mengiyakan jawaban atas pertanyaan Evan.
"Ah, aku jadi penasaran. Seperti apa calon istrinya."
Ardan tersenyum simpul, melirik Evan. Jiwa usilnya kembali hadir saat melihat Evan penasaran.
"Menurutmu, lelaki seperti Ferdi akan menyukai yang seperti apa?"
Evan mengernyitkan dahinya, berpikir sejenak.
"Jika seperti Nola dia tak suka, mungkin yang menutup auratnya. Seperti gadis-gadis yang taat agama."
Jawaban Evan memang tak melesat, satu-satunya gadis yang mampu membuat Ferdi tertarik tanpa dia harus di desak terlebih dulu adalah gadis seperti Nigar. Namun, itu hanya tipe keinginannya Ferdi.
"Kau salah," kata Ardan menjahili.
"Kau liat dia seperti lelaki baik-baik dan tenang bukan? Aslinya dia mengerikan," kata Ardan terkekeh pelan.
"Yang benar?"
"Tentu saja! Kau pikir calon istrinya gadis seperti yang kau katakan itu?"
"Jadi?" tanya Evan semakin penasaran.
"Selera dia adalah gadis belia yang baru lulus SMA."
"What?!"