For My Family

For My Family
25



Hazel membuka ruang rawat inap milik putranya itu. Melihat wajah putranya yang sedang lelap dalam mimpi indahnya.


"Hazel, kamu di sini?" tanya mbok Darmi yang baru kembali dengan sakantung kresek di tangannya.


Hazel mengalihkan pandangan dan tersenyum. Jemarinya lembut membelai wajah putra semata wayangnya itu.


"Bagaimana keadaan Surya, Mbok?"


"Surya sudah puasa dari semalam, kata Dokter Pedro, sore ini Surya akan dioperasi."


Hazel menghela napasnya, menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah ranjang Surya.


"Maaf ya, Mbok. Aku bukannya bantuin Mbok jagain Surya. Malah Mbok harus jagain aku juga," ucap Hazel lembut.


"Sudahlah, Hazel. Mau sampai kapan kamu terus sungkan sama Mbokmu ini?"


Hazel tersenyum dan menumpuhkan dagunya di atas pembatas tempat tidur Surya.


"Mbok."


"Iya."


"Apa Surya akan baik-baik saja?" tanya Hazel sembari memandangi wajah pucat putranya itu.


"Pasti Surya akan baik-baik saja, Hazel. Kita berdoa saja," jawab mbok Darmi lembut.


"Aku ... mungkin akan menikah minggu depan, Mbok. Surya, apa dia mau menerima Ayah baru?"


Mbok Darmi menarik sebuah kursi dan meletakannya di depan Hazel. Menatap wajah wanita yang tak kalah pucat dari putranya itu.


"Hazel, jujur sama si Mbok, Nak. Apa kamu mau menikahi lelaki yang kemarin bersamamu di ruang perawatan?"


"Hem," jawab Hazel malas.


"Apa, dia memang benar mencintaimu. Atau ada hal yang kamu janjikan padanya?" tanya mbok Darmi menyelidiki.


Hazel langsung mengangkat kepalanya, menegakan posisi duduknya sembari tersenyum lembut.


"Dia atasan aku di kantor, Mbok. Dia, selalu mengangguku sejak awal bertemu. Dia juga posesif sekali, aku rasa dia tertarik padaku," jawab Hazel mengelak.


"Alangkah baiknya, jika dia hanya atasanmu saja, Hazel. Benarkah kamu memang ingin menikah dengannya?"


Hazel menganggukan kepalanya, tersenyum lebar dengan menampilkan dua lesung di pipinya.


"Mbok gak yakin. Kamu, merahasiakan sesuatu kan, Hazel. Apa ... kamu menikahi dia karena uang dua ratus juta?" tanya mbok Darmi langsung.


Sejenak Hazel terdiam, ia kembali melihat wajah Surya yang sedang tertidur lelap.


"Tidak, Mbok. Aku hanya merasa sangat lelah. Alangkah baiknya, jika ada lelaki yang membantuku menopang segala beban ini," jawab Hazel berbohong.


"Apa itu benar?" tanya mbok Darmi sekali lagi.


"Benar." Hazel tersenyum dan mengambil cairan infus miliknya.


"Aku kembali ke kamar ya, Mbok. Jemput aku saat Surya sudah harus masuk ruang operasi."


Hazel kembali tersenyum dan keluar dari ruang rawat Surya. Perlahan Hazel menempelkan kepalanya di depan daun pintu kamar itu.


Menghela napas dengan sedikit berat.


'Alangkah baiknya jika aku bisa berpikir seperti itu. Akan lebih bagus jika aku bisa menjadi wanita yang hanya menyukai harta. Tapi kenapa? Kenapa aku merasa kecewa pada diriku yang seperti ini?' lirih Hazel dalam hati.


Perlahan kaki Hazel melemas, terduduk di depan daun pintu kamar Surya dengan membenamkan wajahnya di atas kedua lutut.


'Kenapa? Aku sangat sakit hati saat harus menikahi lelaki lain. Terlebih, aku harus melahirkan seorang anak untuknya?'


***


Hazel memandangi lampu di atas ruangan operasi itu dengan lekat. Sudah hampir dua jam, tetapi lampu di atas sana masih belum berubah warna.


"Hazel," panggil mbok Darmi sembari menyentuh lembut pundak Hazel.


Hazel memalingkan wajahnya, melihat mbok Darmi yang duduk di sebelahnya.


"Kamu kembali saja ke kamar, kamu kan juga pasien rawat inap."


"Tapi aku baik-baik saja, Mbok. Aku khawatir, kenapa Dokter Pedro belum keluar juga ya, Mbok."


"Tenanglah, Hazel. Si Mbok yakin, Surya pasti akan baik-baik saja."


Hazel tersenyum kecut, matanya kembali teralih menatap lampu di atas ruangan itu.


Beberapa kali ia menghela napas, mencoba melepaskan rasa cemas yang terus bersarang di dalam dadanya.


Hazel mengambil tangan mbok Darmi, merematnya dengan kuat. Terasa, tangan Hazel sangat dingin dan sedikit gemetar.


"Hazel, kamu baik-baik saja?" tanya mbok Darmi kembali.


"Iya, Mbok."


"Tapi wajahmu semakin pucat, Hazel. Kembali dulu ke kamarmu, tidak baik jika cairan infusmu dibiarkan terhenti selama ini."


"Tapi Surya, Mbok?"


"Ada si Mbok yang jaga. Kembalilah, Mbok akan menemuimu kalau Surya sudah kembali ke rawat inapnya."


Hazel melirik ke arah punggung tangannya, memang jarum infusnya terasa semkin perih. Sebagian warna di ujung selang itu sudah berubah warna merah.


"Mbok, aku kembali dulu ya. Tiga puluh menit lagi aku kembali. Em ... bukan, lima belas menit lagi."


"Istirahatlah, Hazel. Ada Mbok yang menjaga putramu di sini. Mbok janji akan menjaganya dengan baik. Istirahatkan dirimu, Sayang."


Hazel tersenyum dan mengambil cairan infus miliknya. Kembali berjalan menuju ruang rawat inapnya.


Sudah ada Ardan yang menunggu ia di sana. Duduk sembari membaca beberapa majalah yang ada di atas buffet.


"Dari mana? Sakitpun masih suka jalan-jalan," ucap Ardan tanpa melihat ke arah Hazel.


Hazel tak menjawab, ia berjalan ke depan Ardan. Berniat ingin kembali menggantung botol infus miliknya.


Cepat, Ardan menyentuh tangan Hazel. Seketika wanita itu berbalik, menatap Ardan yang berdiri tepat di belakangnya.


Tanpa memperdulikan Hazel, Ardan mengambil botol itu dan menggantungnya kembali ke tiang. Menaikan tiangnya lebih tinggi saat melihat infus itu sudah bercampur darah.


Ardan menghela napas, menaikan badan Hazel ke atas ranjang. Perlahan ia membuka aliran itu dan menekannya di beberapa bagian.  Mencoba menurunkan darah Hazel yang menaiki selang infus.


"Kamu ini, kenapa ceroboh sekali? Darahmu sudah naik hampir setengah selang, apa kamu mau bergantian? Memberikan tetesan darahmu untuk botol infus?" tanya Ardan sembari mengetuk selang itu lembut.


"Pelan sedikit, rasanya perih sekali," rintih Hazel lemas.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Ardan mengalihkan pembicaraan.


Hazel menggelengkan kepalanya, lelaki itu melirik jam di dinding kamar. Ini sudah lewat tengah hari. Apa yang sebenarnya dilakukan wanita ini?


"Berarti belum minun obat juga?" tanya Ardan kembali.


Hazel kembali menggelengkan kepalanya. Ardan melepaskan selang infus wanita itu. Membuka menu makan siang yang masih tertutup rapat di atas buffet.


"Kamu tahu berapa lama saya menghabiskan waktu untuk mengantre obat?" tanya Ardan geram.


Hazel hanya diam, ia mengalihkan pandangan ke arah luar jendela kamar.


"Dua jam, Hazel. Dua jam," ucap Ardan ketus.


"Kamu tahu? Dua jam waktu saya itu seharga berapa rupiah? Tetapi kamu malah menyia-nyiakannya begitu saja."


"Memang saya yang minta anda untuk mengantre?"


"Em, bukan. Tetapi--"


"Sudahlah, jika anda ke sini hanya untuk memarahi saya. Lebih baik anda kembali saja," putus Hazel langsung.


"Kamu, tidak bisa ya menghargai sedikit waktu saya, hah?" tanya Ardan meradang.


Hazel kembali diam, ia tidak berniat untuk melanjutkan perdebatan dengan lelaki ini. Pikirannya tidak tenang saat ini. Anaknya, masih berada dalam ruangan mengerihkan itu.


Kapanpun itu, napas Surya bisa terhenti di dalam sana. Memikirkan itu, semakin membuat jantung Hazel berdenyut nyeri.


"Kamu mau makan apa? Saya tahu makanan rumah sakit sudah ada obatnya, tetapi makanan itu sudah dingin. Pasti rasanya juga sudah tidak enak lagi," ucap Ardan sembari mengeluarkan ponselnya.


"Apa saja," jawab Hazel malas.


"Kamu, baik-baik saja?" tanya Ardan sembari menatap wajah Hazel yang terus lesu.


Hazel menggelengkan kepalanya, ia menarik selimut di bawah kakinya. Berniat untuk membaringkan badan.


"Hazel, kamu ada sakit di bagian yang lainnya?" tanya Ardan mencoba melihat ekspresi wanita itu.


Hazel membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Tidur membelakangi Ardan. Perlahan ia meluruhkan air matanya.


Kesal sekali, kesal pada tubuhnya yang tidak bisa bertahan lama untuk mendampingi putranya. Kesal karena ia harus sakit saat Surya membutuhkan dirinya.


Sebagai seorang Bunda, hal apa lagi yang bisa ia berikan. Ia merasa sangat buruk, tidak mampu melakukan apapun untuk membantu mbok Darmi mengurus putranya.


Padahal anak itu lahir dari rahimnya, namun sering kali Surya lebih nyaman berada dalam pelukan mbok Darmi di bandingkan dirinya.


"Hazel," panggil Ardan sembari menyentuh ujung bahu Hazel.


Bukannya berhenti, Hazel malah semakin memecahkan tangisannya. Sesegukan sampai membuat badannya bergetar.


Melihat Hazel yang menangis begitu pilu, Ardan berusaha menarik badan Hazel. Mencoba melihat wajah wanita itu yang terus terbenam ke dalam bantal.


"Hazel," panggil Ardan lembut.


Ardan berpindah, duduk di atas kasur  Hazel. Tepat di sebelah kepala Hazel terbenam.


Ardan menarik bahu bahu Hazel, wanita itu berbalik. Tangannya langsung melingkari pinggang Ardan dan membenamkan wajahnya ke dalam pangkuan Ardan.


Sejenak, Ardan terdiam. Bibirnya sedikit tersenyum saat mendapati perlakuan seperti ini.


Lembut, tangan Ardan mulai membelai helaian cokelat rambut wanita itu.


"Mas," lirih Hazel di tengah sesegukannya.


"Hem," jawab Ardan lembut.


"Mohon maafkan, aku." Hazel semakin mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya jauh ke dalam paha lelaki itu.


"Maaf kenapa?" tanya Ardan bingung


"Maaf, maaf mas Iqbal."


Sesaat tangan Ardan yang mengelus kepala wanita itu terhenti. Batinnya memaki kesal, apa maksudnya ini?


'Sumpah Hazel, kamu membuatku malu sendiri,' maki Ardan dalam hati.