For My Family

For My Family
77



Sebuah telapak tangan terulur ke depan wajah Hazel. Ia mengembangkan senyumnya dan menyambut uluran tangan Ardan.


Melilitkan tangannya di lengan kekar lelaki dengan balutan jas hitam itu. Beberapa kali wanita itu menghela napasnya. Mengatur degup jantungnya.


"Santai saja, Hazel. Di sini, kamu adalah Nyonya Ardan, dan pastikan kamu untuk tidak terlalu jauh dariku, ataupun Arfi."


Kepala itu mengangguk, matanya memandangi wajah tampan lelaki yang ada di sisinya. Rahangnya terlihat sangat tegas ketika dipandang dari bawah.


"Jangan memandangiku begitu."


Mata wanita itu mendelik, cepat ia memalingkan wajah. Menggigit bibir bawahnya, malu. Kenapa? Bahkan setelah selama ini menikah, ia masih sangat sungkan saat digoda.


Senyum tipis tersungging di wajah garang lelaki itu. Menggoda istri adalah hobi baru yang sangat menyenangkan baginya.


Mata bulat itu takjub, melihat ballroom hotel yang begitu mewah dan terhias sangat indah. Untuk pertama kalinya, ia melihat tempat yang semewah ini.


Sementara, wanita yang digendeng oleh Arfi tampak biasa saja. Sebagai make-up artist, bukan lagi hal baru berada di acara megah seperti ini.


Di dunia ini memang imanlah yang membuat kita berbeda. Namun, dunia ini terbelah menjadi dua bagian. Kamu si kaya dan kamu si miskin.


Walau berpijak di bumi yang sama, menghirup udara yang sama dan menatap biru yang sama. Akan tetapi, dunianya berbeda. Jauh berbeda, si kaya dengan segala kemewahannya dan si miskin dengan segala kesusahannya.


Jika salah satu memasuki dunia itu, maka dia akan terkejut. Perbedaan kasta mampu membuat dunia bisa dipandang dari dua sisi. Surga dunia, dan lahan mengejar surga yang sesungguhnya.


Ada batasannya, dan itu semua, luput dari mata manusia.


Tak mengerti apa yang dibicarakan oleh suaminya, Hazel hanya mengangguk dan tersenyum saat mata lelaki lain menatap ke arahnya. Tentu, dibalas senyum sinis dan tatapan tajam oleh suaminya itu.


Tak bisa menikmati, namun juga tidak bisa menghindari. Terpaksa bertahan di dalam ketidaknyamanan suasana ini.


Sampai Gerald mengambil alih perhatian, kini lelaki berjas itu berada di atas stage dengan beberapa pria lainnya.


Tersenyum lebar menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Semua mata tahu, bahwa senyum itu hanyala formalitas semata. Tetapi semuanya juga mengerti bahwa kebohongan itu tetap harus dilakukan untuk melancarkan sebuah siasat peperangan.


Terlebih untuk orang-orang yang berada di dalam dunia yang kejam ini. Tersenyum di depan dan menusuk di belakang adalah hal yang biasa dilakukan. Sungguh munafik sekali, tetapi memang inilah yang terjadi.


Terkadang, dunia pekerjaan memang sepicik itu, Teman.


"Hari ini ada dua kabar bahagia yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua." Mata tua itu teralih ke arah Arfi. Lelaki yang ditatapi itu malah memeluk pinggang ramping wanita seksi berbaju merah di sebelahnya.


Mendekap erat agar terlihat sangat intim di mata para tamu yang lainnya. Bibirnya ditarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang terlihat menantang mata pria tua di atas sana.


Ardan yang melihat itu hanya terkekeh pelan, sungguh, Arfi tahu sekali caranya melawan. Tidak dengan omongan dan juga perlawan adu banding ucapan. Hanya dengan tindakan seperti ini, dia mampu membungkam Gerald.


Ardan meneguk gelas jus yang ada di tangannya, satu tangan ia masukan kedalam kantung dengan tangan Hazel yang memeluk lengannya.


Terlihat wajah tua itu memadam, beberapa kali ia menghela napas. Tampak jelas dari dada bidangnya yang naik-turun mengatur udara masuk ke rongga dada.


"Anak tertua saya, Ardan Erlangga telah membawa menantu ke rumah kami."


Ardan langsung memalingkan mata, tajam melihat Gerald di atas sana. Tak lagi ia pedulikan tepukan dan ucapan selamat yang dilontarkan para tamu.


Tangannya mengeras, menggenggam gelas jus yang ada di tangannya.


"Sial! Apa yang ingin dia katakan?" tanya Ardan kesal.


Mata di atas sana terlihat sedang menantang, merasa menang di depan anak-anaknya.


"Dengan begitu, malam ini saya akan meresmikannya. Ardan Erlangga, mulai detik ini adalah CEO dari perusahaan Erlangga Group."


Praankk


Genggaman tangan Ardan memecahkan gelas yang ada di tangan. Hazel menutup mulutnya, melihat tangan suaminya yang berdarah karena pecahan kaca itu melukai telapak tangannya.


"Picik sekali dia!" tekan Ardan tidak suka.


"Mas, tanganmu." Hazel melepaskan kepalan tangan Ardan. Memeriksa luka di telapak tangan besar itu.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Hazel membongkar isi tas kecilnya, pencariannya terhenti saat Rizka menyodorkan tisu ke hadapannya.


Cekatan, tangan wanita itu mengelap telapak tangan suaminya, namun, karena luka yang terbuka, darah terus keluar tanpa bisa dihentikan.


Semantara, mata lelaki beralis tebal itu menatap ke arah Gerald, lalu beralih ke anak Gerald yang lainnya.


Arfan tersenyum sinis, melihat kemenangan telah berada di tangan mereka berdua.


Ya, mereka memang keluarga. Namun, mereka terbelah menjadi dua. Arfan berada berseberangan dengan kembarannya, Gerald yang mendukung di belakangnya. Sementara Ardan dan Arfi, berada pada kubu yang lainnya.


Sebenarnya apa ini? Entahlah, keluarga mereka terlalu egois untuk mengalah. Pada akhirnya memilih jalan untuk menakhlukan dengan cara masing-masing.


Ardan menghempaskan tangannya, ia mengulas senyuman dan berjalan ke depan stage. Mengambil alih pembicaraan.


Terdengar riuh tepuk tangan menyelamati dirinya. Mungkin, Gerald berusaha menakhlukannya, akan tetapi Gerald lupa, bahwa putranya itu adalah seseorang yang mampu menantang apa pun di dunia ini.


"Terima kasih sebelumnya atas kepercayaan Dewan Direksi dan para petinggi perusahaan. Dengan senang hati saya menerima posisi ini."


Ardan melirik ke arah Arfi, senyum sinis kembali terkembang dari bibir tipis itu.


"Ini tidak baik, Rizka. Aku melihat Kak Ardan sangat mengerihkan."


"Bukan Ardan yang memulai, biarkan saja, Arfi. Dia pasti punya cara untuk menyelasaikannya."


Mendengar ucapan dua orang itu, Hazel mngernyitkan dahinya. Sebenarnya keluarga apa ini? Kenapa kacau sekali?


"Namun, seperti yang kalian tahu selama ini. Bahwa saya selalu pergi ke mana saja untuk menyelesaikan masalah demi masalah. Kali ini saya masih harus menyelesaikan masalah di Green Kosmetik. Untuk itu, saya menyerahkan jabatan ini sementara kepada kembaran saya. Dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Terima kasih!"


Tak peduli pada pandangan para tamu atau panggilan dari anggota keluarganya.


Ia meretakan rahang, geram sendiri melihat ulah Gerlad yang lagi dan lagi mengacaukan rencananya.


Ardan menekan pucuk kepala Hazel saat ingin memasuki pintu mobil. Memacu mobilnya membelah jalanan ibukota. Matanya fokus menatap kedepan. Beberapa kali gemelatuk dari giginya terdengar nyaring di telinga istrinya.


Tak ingin menambah amarah, wanita itu hanya menundukan wajah. Melihat tetesan demi tetesan dari telapak tangan suaminya mengotori mobil Mclaren yang sedang ia kemudikan.


"Tidurlah, jika sudah sampai aku bangunkan!" perintah Ardan dingin.


Tangan Hazel menarik tisu di atas dashboard mobil. Menghapus beberapa tetesan darah yang mengotori celana lelaki dewasa tersebut.


"Berhentilah sebentar, aku obati dulu tanganmu, Mas."


"Tidak perlu," jawabnya tegas.


"Mas," panggil Hazel lembut.


"Tidak perlu, Hazel!" tekan Ardan sinis.


Lentik jemari itu membelai rahang Ardan. Memberikan ketengan lewat lembutnya sebuah usapan.


Perlahan, kecepatan mobil itu melambat. Gemelatuk rahangnya mengendur. Ardan memalingkan wajah, sebuah senyuman manis tersuguh untuknya.


Ia menepikan mobil sport hitam legam itu di depan apotek. Melepaskan jas hitam yang membalut badan tegapnya, menggulung lengan kemeja putih itu sampai sebatas siku.


Telaten jari-jari lentik itu membersihkan luka di tangan Ardan, bibir tipis lelaki itu sesekali tertarik ketika puingan kaca dikeluarkan dari dalam dagingnya. Menahan sakit dari goresan-goresan itu.


Terkadang, amarah mampu membuat tubuh kehilangan rasa. Baru setelah ia tenang, nyerinya nyata terasa menyakiti.


Isakan mulai terdengar, Ardan menaikan sebelah alis matanya. Ia mencoba melihat wajah istrinya, beberapa kali punggung tangan putih itu mengusap pipi.


"Kamu nangis?" tanya Ardan.


Kepala itu menggeleng, namun, punggung tangan tak berhenti menghapus buliran.


Satu tangan yang lainnya merengkuh bahu mungil itu, mencium pucuk kepala Hazel lembut.


"Tenanglah, Hazel. Aku tidak apa-apa."


"Aku benci!"


"Aku?" tanya Ardan lembut.


Hazel menggeleng, ia melihat ke arah Ardan. Terlihat hidungnya yang mulai merah karena menangis dan mata madu itu juga sama merahnya.


"Kenapa nangis, sih? Ini bukan luka yang besar, dua hari lagi juga sembuh."


Hazel memeluk badan Ardan, membenamkan wajahnya di dada bidang itu.


"Sudahlah, Sayang. Maafkan aku, mungkin aku terlihat sangat mengerihkan. Tapi aku tidak akan pernah melukaimu dan anak kita, aku janji padamu. Sumpah, Hazelku."


Wanita itu hanya menangis dalam, sesenggukan sampai membuat badannya bergetar.


Ardan menghela napasnya, ia mendekap tubuh mungil itu dengan sangat erat.


"Aku minta maaf. Aku hanya kesal dengan cara Gerald. Dia ingin mengikat kamu dan aku di ibukota. Aku benci dipaksa, karena itu aku marah."


"Aku pikir--" Hazel melepaskan dekapannya.


"Pikir apa?" tanya Ardan lagi.


Wanita itu kembali mengambil telapak tangan Ardan, membersihkan sisa luka yang masih berdarah. Sesekali ia menarik ingusnya, menekuk wajah cantiknya.


"Setelah melihat darah dilantai dingin itu, aku pikir, aku tidak akan melihat darah orang yang kucintai lagi. Aku benci darah, aku benci bau amis ini, Mas."


Ardan mendekap kembali tubuh mungil itu, ia menghela napas sedikit berat.


"Maaf, Hazel. Maaf ya, aku janji setelah ini tidak akan membiarkan kamu melihat darah lagi. Maaf untuk malam ini."


"Kenapa minta maaf sama aku?" tanya Hazel parau.


"Karena aku sudah membuatmu menangis."


"Yang tersakiti tubuh kamu. Kamu boleh marah sama siapa pun, tapi jangan lukai tubuhmu seperti ini. Dia gak salah, kenapa malah disiksa?


Ardan hanya tersenyum lembut, jelas sekali keadaannya berbeda kali ini. Seberapa besar pun amarahnya tertantang, ada tempat yang akan meneduhkan.


Awalnya ia tidak percaya, namun kini ia yakin. Bahwa cinta, dapat merubah apa yang tidak bisa.


Ardan mencium dahi Hazel, sesaat setelah wanita itu selesai membalut telapak tangannya.


"Masuklah, malam makin larut. Nanti kamu masuk angin."


Wanita itu mengangguk, ia membereskan sisa perlatan pengobatan dan memasukannya ke mobil.


Cepat laju mobil sport itu kembali menembus jalanan malam. Menyusuri aspal panjang dan beberapa kali memotong pengguna jalan yang lainnya.


"Mas kita mau ke mana?" tanya Hazel bingung, arah ini bukan arah kembali ke rumah besar itu.


"Pulang."


"Ha?"