
Hazel meletakan sepiring keik dan segelas air dingin dengan potongan lemon di sebelah laptop Ardan.
Lelaki itu mengalihkan pandangan, melihat wanita berambut cokelat yang selalu menyanggul rambutnya tinggi ke atas.
"Bagaimana keadaanmu, Hazel?" tanya Ardan lembut.
"Aku sudah baik-baik saja."
"Benarkah? Apa kamu meminum obatnya sampai habis?"
Hazel menganggukan kepala, menyuapi potongan keik itu ke dalam mulut suaminya.
"Sudah habis. Aku sudah meminumnya semua."
"Tapi kenapa wajahmu masih sangat pucat? Apa kamu benar-benar meminumnya? Atau toilet yang meminumnya untukmu?" tanya Ardan kembali.
"Aku bukan anak kecil lagi, Mas," jawab Hazel menjatuhkan kepalanya di atas bahu kekar lelaki berkaus hitam itu.
"Hanya saja, keadaanku memang tidak baik. Badanku terasa sedikit lemas." Hazel meraih dahinya sendiri, memastikan suhu tubuh yang masih biasa saja.
"Apa aku hamil?" tanya Hazel memalingkan pandangan ke arah Ardan.
Lelaki itu meneguk salivanya berat, entah kenapa, ia sama sekali tidak suka jika wanita di sampingnya ini hamil.
Ia masih membutuhkan waktu untuk menakhlukan hatinya.
"Entahlah, apa kamu tidak memeriksanya?"
Hazel menggeleng pelan. Ia melingkari jarinya di lengan kekar lelaki itu.
"Besok saat Mas pulang kantor, sekalian belikan test pack untukku ya."
"Hem, baiklah," jawab Ardan kembali sibuk pada layar laptopnya.
"Mas."
"Hm."
"Kapan aku bisa masuk kantor? Tiga hari di rumah, aku bosan."
"Kalau kamu hamil, berarti kamu harus resign dari perusahaan."
"Eh, kenapa?"
"Tidak hamil saja masih sering pucat dan pingsan. Apalagi kamu hamil?"
"Em, tapi aku rasa hamil bukan masalah. Waktu hamil Surya aku juga bekerja. Aku bahkan baik-baik saja," jawab Hazel lembut.
"Itu berbeda."
"Bedanya?"
Ardan menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi menari di atas keyboard laptop.
"Apa uang yang di ATM, sudah habis?"
"Belum."
"Jadi kenapa paksa sekali ingin bekerja? Kamu di rumah saja, aku masih sanggup menanggung makan dan perlengkapanmu."
"Tapi--"
"Hazel!" tekan Ardan sedikit keras.
Wanita itu terdiam, perlahan ia menggigit bibir bawahnya. Menundukan pandangan dengan jari yang masih memainkan ujung kaus baju yang Ardan kenakan.
Ardan menghela napas, menarik tangan wanita itu dan menggenggamnya lembut.
"Aku tidak suka melihatmu yang tegar dan kuat seperti biasa. Saat ini aku suamimu, kamu bisa bermanja dan meminta apapun padaku jika kamu butuh. Kapan kamu bisa merepotkan aku, hm?" tanya Ardan lembut.
"Kenapa harus merepotkan jika aku bisa melakukannya sendiri?" tanya Hazel mengerucutkan bibirnya panjang.
"Terus apa gunanya aku? Aku ada, aku selalu di sampingmu. Tetapi kamu selalu melakukan semuanya sendiri. Apa kamu butuh aku saat kamu ingin belaianku saja?"
Hazel mencebik kesal dan menarik kulit dada lelaki itu.
"Apa sih, Mas?"
Ardan tersenyum, tangannya meraih puncak kepala wanita itu, mengacaknya dengan gemas.
"Pergilah, istirahat sana," perintah Ardan lembut.
Hazel menyunggingkan bibirnya, memperlihatkan deretan gigi kecilnya.
"Gak mau," ucapnya manja.
"Hem, kenapa?" tanya Ardan bingung.
Perlahan tangan wanita itu melingkari bahu kekar Ardan. Memindahkan badannya ke atas pangkuan lelaki berbadan tegap itu.
Tersenyum manis dengan menampilkan dua lesung di pipi putihnya.
"Tumben, manja?" tanya Ardan sembari menarik pinggang wanita itu semakin menempel di badannya.
"Kenapa? Memang gak boleh manja?" tanya Hazel, jarinya mengelus lembut setiap inci wajah ganteng suaminya itu.
"Hem." Ardan memutar bola matanya, menutup laptopnya dan menggeser ke sudut meja.
"Boleh gak ya?" tanya Ardan menggoda. "Tentu saja, untuk istriku, apapun boleh."
Hazel kembali tersenyum, ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ardan. Menyapu setiap inci paras tampan lelaki itu menggunakan bibir mungilnya. Membangkitkan gairah milik lelaki berbadan tegap itu.
Perlahan, lelaki itu mendekap badan mungil Hazel. Megangkatnya ke atas kasur. Menciumi setiap jengkal kulit putih mulus milik istrinya itu.
Walau dalam hati, ia masih heran dengan perubahan sikap Hazel. Entah karena apa, wanita berwajah cantik itu bisa lebih dulu memulai permainan.
.
Sebuah getaran dari ponsel berwarna putih, memaksa Ardan membuka matanya. perlahan tangannya terulur untuk mengambil benda pipih itu.
Bibirnya mencebik kesal saat ia meraih ponsel yang salah.
Ardan memalingkan mata ke arah Hazel yang masih terpejam dalam lelapnya. Perlahan bibirnya menyungging lebar, menggelengkan kepala, miris dengan kebodohannya.
"Kenapa aku bisa terjebak dalam permainan ini?" tanya Ardan meletakan kembali ponsel berwarna putih milik istrinya itu.
Ardan menghela napas, mengubah posisinya untuk duduk di atas ranjang. Matanya lekat memandangi wanita mungil yang masih polos tidur di sebelahnya.
Perlahan tatapannya menjadi lebih sendu, ada gumpalam yang kembali terasa perih di dalam tubuh, ketika ia dijebak oleh wanita yang dicintai itu.
"Seharusnya aku sadar, kenapa kamu lebih agresif dari biasanya. Kamu hanya perlu melempar kail dan aku yang menangkap dan mengejar umpannya. Karena kamu tahu aku tidak akan bisa kabur, kamu rela menipuku seperti ini, Hazel."
Perlahan jari-jari kekar itu meraih helaian rambut Hazel. Mengelusnya dengan lembut.
"Segitu inginkah kamu hamil dan meninggalkanku? Sampai kamu rela mencari tahu kapan tanggal kesuburanmu? Hazel, aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana menghadapimu yang seperti ini?"
Ardan mengambil ponsel berwarna putih itu, membuka aplikasi yang menampilkan tanggal kesuburan istrinya tersebut. Perlahan jarinya menghapus jadwal itu satu persatu.
Jarinya terhenti, pikirannya kembali melambung tinggi. Sebenarnya bukan salah Hazel. Namun dialah yang salah, salah menggunakan kekuasaan dan menjebak wanita itu ke dalam dekapan.
Ardan menjatuhkan ponsel itu, mencium lembut dahi wanita di sebelahnya saat ini.
"Baiklah, kita lihat siapa yang lebih tangguh. Aku atau kamu, Hazelku?" lirih Ardan, sinis.
***
Ardan meletakan segelas air dan sebuah tablet obat ke hadapan Hazel. Mata wanita itu beralih saat mendapati dua benda itu di depannya.
"Apa ini, Mas?" tanya Hazel bingung.
"Minum saja," perintah Ardan dingin.
Sedikit ragu, jari putih kecil itu meraih tablet obat di depannya. Melihat ke arah Ardan sekali lagi sebelum ia memasukan ke dalam mulut.
Ardan hanya memandang Hazel, dingin. Mata sayunya terlihat menyeramkan saat ia melihat wanita yang sedang duduk di meja makan sembari memainkan gawai.
"Minum," perintah Ardan, dingin.
Hazel mengambil gelas air yang dibawa Ardan tadi. Menelan tablet itu dengan bantuan air untuk mendorongnya.
Sebuah senyuman tersungging di bibir lelaki itu, setelah wanita bermata madu di sebelahnya tersebut menelan tablet berwarna putih yang diberikan.
Ardan mengeluarkan ponsel, menunjukan kalender yang pernah Hazel tandai sebelumnya.
"Kamu tahu ini apa?" tanya Ardan sembari menunjukan layar pipihnya ke hadapan wanita itu.
Seketika mata bulatnya melebar, ia memalingkan wajah dengan cepat ke arah Ardan.
"Yang kamu minum barusan adalah kontrasepsi. Setelah menelan itu, selama enam bulan kedepan kamu tidak akan bisa hamil." Ardan menundukan badannya, memandang wajah wanita itu dari jarak dekat.
"Ingat apa yang aku katakan." Ardan tersenyum sinis, jarinya membelai lembut wajah wanita itu.
Kali ini, senyum dan sentuhannya terasa sangat asing bagi wanita berdarah Turki tersebut. Tidak seperti Ardan selama ini. Ia bahkan terlihat lebih mengerihkan dibandingkan kembarannya itu.
"Saat aku tidak ingin melepaskanmu, maka selamanya kamu tidak akan pernah lepas dariku. Sekuat apapun kamu berusaha hamil. Aku punya seribu cara untuk mengagalkannya. Jadi, jangan pernah menjebakku seperti tadi malam."
Ardan menarik dagu Hazel dan mencium bibir wanita itu sekilas. Tersenyum sinis, menaiki anak tangga rumah besarnya.
Perlahan genangan kaca melapisi netra berwarna madu tersebut. Dadanya terasa sesak setelah melihat perubahan sikap Ardan.
Hazel mengambil napasnya yang sempat terhenti ketika menatap mata tajam lelaki itu. Detik kemudian ia berlari dengan tergesa, mencolok mulutnya agar tablet yang ia telan tadi segera keluar.
Terisak, ia berusaha untuk mengeluarkan apa yang sudah terlanjur masuk. Mencoba mencolok lebih dalam saat ia tidak bisa memuntahkan tablet itu.
Terbatuk, dengan aliran air yang terus keluar dari kedua matanya. Mengambil napas dan kembali mencolok jarinya ke dalam mulut.
Sesegukan mulai terdengar, wanita itu menahan tangisannya yang menjadi sesak di dada.
Setelah beberapa waktu berusaha, bukannya memuntahkan tablet itu, melainkan tenggorokan mulai sakit karena colokan jarinya.
"Hazel apa yang kamu lakukan?" Tarik mbok Darmi pada bahu wanita itu.
Hazel menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Terduduk di lantai dapur bawah wastafel. Ia membenamkan wajahnya di atas kedua lutut.
Isakan terdengar semakin dalam, tergugu sampai membuat seluruh badannya bergetar kuat.
"Apa yang terjadi, Hazel. Kamu kenapa?" tanya mbok Darmi bingung.
Tidak menjawab, melainkan isak tangis yang semakin kuat.
"Aku benci dia, Mbok. Aku benci lelaki itu," teriaknya, pilu.
"Kenapa harus ada lelaki sepicik dia? Cara dia menjebakku sampai saat ini terlalu licik. Aku benci pria itu." Hazel kembali memecahkan tangisannya, sakit sekali saat lelaki yang pernah ia percayai itu menjadi asing tiba-tiba.
Tidak tahu apa yang terjadi, namun sepertinya peperangan akan kembali terjadi. Mbok Darmi merangkul bahu wanita itu, mengelusnya perlahan.
Walaupun ia tidak tahu kenapa Hazel bisa seperti ini. Tetapi hatinya tidak bisa menyalahkan Ardan. Dia dan Ardan, adalah dua orang keras dengan ego yang kuat.
Bahkan kesalahpahaman yang kecil bisa menjadi rumit. Hanya karena mereka terlalu angkuh, bahkan hanya untuk jujur dan terbuka saja tidak mampu. Lebih memilih jalan yang sulit, dibandingkan membicarakan dengan terbuka dan lembut.
Sementara, ada mata yang memandang kejadian itu. Ada gumpalan yang kembali teremas saat ia melihat wanita di sana menangis lagi.
Sesak, dadanya ikut merasakan luka yang sama, saat ia menyakiti wanita bermata indah itu.
Namun kembali, ego lebih penting dibandingkan kejujuran hati. Memilih saling menyakiti dibandingkan membuka hati.
Menyelesaikan dengan cara pandang masing-masing dan kembali mengorbankan hati. Lebih memilih menyakiti dibandingkan mengasihi. Sungguh miris, namun inilah yang terjadi.