
Pandangan mata tua Regan teralih ketika mendengar suara pintu terbuka. Satu alis matanya terangkat saat menyadari siapa yang baru saja kembali.
"Arfi?"
Lelaki berambut pirang itu berhenti. Terdiam untuk beberapa saat, detik kemudian bibirnya terkembang, kaku.
"Anda, kenapa bisa ada di sini?" tanya Arfi kaget.
Regan tersenyum tipis, tatapannya teralih ke Ardan yang duduk di sebelahnya.
"Saya pikir hanya nama belakangnya saja yang sama. Anda, si kembar Erlangga?"
Ardan tersenyum dan mengangguk pelan.
"Tetapi bocah itu bukan kembaran saya," balas Ardan setengah bercanda.
Regan melepaskan tawanya. "Pantas saja Hazel bisa jatuh cinta padamu. Jika dulu adalah prajurit terbaik, kali ini adalah pebisnis andal."
Ardan tertawa, satu tangannya membelai kepala Surya yang aktif bermain di atas pangkuan.
"Tidak seperti itu juga."
"Siapa yang tidak kenal keluarga pebisnis Erlangga di ibu kota? Dan ...." Regan mengacak puncak kepala putrinya lembut.
"Sepertinya takdir Nigar tidak bisa lepas dari keluarga kolongmerat ini," sambungnya seraya memandang wajah putrinya.
Gadis itu hanya menggulum senyum. Detik kemudian pandangannya teralih pada Arfi yang terpaku di depan pintu.
Lelaki itu tersenyum lembut, kepalanya menyentak pelan. Memberikan kode untuk Nigar ikut keluar bersamanya.
Mengerti dengan kode yang diberikan oleh Arfi. Gadis itu bangkit, mengikuti langkah lelaki berambut pirang yang lebih dulu pergi ke taman depan.
Bungsu Erlangga itu menepuk space kosong di sebelahnya. Gadis itu hanya mengikuti, duduk berjarak dengan lelaki yang pernah mengisi hatinya dulu. Mungkin, masih sampai detik ini.
Iris bewarna gelap itu memandang ke arah taman. Beberapa kali napas terhela panjang. Untuk melepaskan, mengapa rasanya sangat menyakitkan?
Arfi menundukkan pandangan, menatap paper bag ungu yang ada di genggaman. Lalu, kepalanya memaling, melihat Nigar yang bergeming di sebelahnya.
"Hem." Lelaki itu mengulurkan paper bag tersebut.
Nigar menatap wajah Arfi, bingung. Perlahan tangannya terulur, punggung tangan putih itu selalu berhiaskan ukiran hena yang sangat indah.
"Tanganmu, masih sama indahnya seperti dulu." Lelaki itu menumpuhkan kedua sikunya di atas paha. Memandang pepohonan yang ada di depan rumah sang Kakak. Sadar, jika dia berbicara dengan Nigar, tak akan ada pertemuan antara dua binar.
"Apa ini?" tanya Nigar lembut.
"Lihat saja."
Gadis itu membuka paper bag yang Arfi berikan. Bibir ranumnya terkembang. Lelaki itu masih ingat dengan warna kesukaannya.
"Apa ayahmu datang untuk acara lamaran?" tanya Arfi getir.
Gadis itu terdiam, ingin mengatakan, 'ya'. Tapi mengapa rasanya sangat susah.
"Kamu benar-benar telah memilih Kak Ferdi?" tanya Arfi lagi. Kepala itu masih menatap lurus ke depan.
"Arfi, maaf karena perkataanku yang lalu telah menyakiti hatimu."
Bibir tipis itu tersenyum kecut, pelan kepalanya menggeleng. Lalu, badan tegapnya menegak. Menyandarkan punggung pada kursi.
"Kamu merasa telah menyakitiku?"
"Ya. Aku dengar dari Hazel, karena ucapanku malam itu. Kamu memilih membuat masalah."
Lelaki itu menatap ke arah Nigar. Seperti biasa, gadis itu menunduk untuk menghindari tatapan.
"Jika aku ucapkan maaf karena meninggalkanmu dulu. Bisakah kamu membatalkan lamaran ini?"
Seketika mata gadis itu menatap wajah Arfi. Terdiam, detik kemudian kembali membuang pandangan.
"Tidak bisa, kan?" Arfi menghela napasnya.
"Entah bagaimana aku menjelaskannya lagi, Nigar. Tetapi jika kata maafku tak bisa membuat kita kembali bersatu. Untuk apa kamu minta maaf atas ucapanmu malam itu? Aku sudah menciptakan masalah baru, dan itu ... tidak akan bisa kembali hanya karena kata maaf darimu."
Jemari lentik gadis itu meremat gamisnya dengan erat. Kadang hati memang seegois itu. Kita meminta maaf setelah menyakiti. Namun, tidak bisa memafkan jika kita tersakiti.
"Benarkah yang kamu cintai, Kak Ferdi? Atau kamu masih mencintaiku. Tapi memilih menyakitiku agar rasa sakitmu terbalaskan, hem?"
"Ini tidak ada hubungannya denganmu, Arfi. Aku telah dilamar oleh pak Ferdi sebelum kita kembali bertemu."
"Lantas apa kamu sudah menerimanya? Atau masih menggantungnya?" tanya Arfi lagi.
Nigar terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan lelaki itu lagi.
"Aku mengenalmu, Nigar. Bukan hal yang mudah untukmu menerima. Bahkan dulu saja aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meyakinkanmu tentang perasaanku."
"Tapi setelah itu kamu menghancurkannya, karena masa laluku."
Kini lelaki itu yang menunduk. Sadar jika perlakuan dia saat itu memang terkesan mempermainkan.
Susah payah meyakinkan perasaan cintanya. Setelah gadis itu yakin dan percaya sepenuhnya. Dia meninggalkan begitu saja.
Arfi mengusap wajahnya, sebenarnya gadis itu masih belum memaafkannya.
"Aku mencarimu dua tahun ini, Nigar. Memang aku yang meninggalkanmu, tetapi setelah aku kehilangan. Aku menyadari bahwa kamu adalah gadis yang paling aku cintai. Setelah kamu, aku bahkan enggan berdekatan dengan perempuan. Sumpah, aku ingin mengulangi kisah kita."
"Tapi aku gak mungkin menyakiti Pak Ferdi, Arfi. Aku sudah menerima lamarannya. Setelah tersakiti karena ditinggali, apa kamu pikir aku tega menyakiti hati lelaki lainnya lagi?"
Arfi mendesah panjang. Sebenarnya keadaan ini yang memaksa mereka bertiga terus saling tersakiti.
Entah siapa yang berada di tengah-tengah. Baik Arfi dan Ferdi, keduanya sama-sama sesak oleh keadaan yang rumit ini.
"Tapi jika kamu tidak mencintainya, untuk apa memaksakan dirimu untuk menerimanya, Nigar? Kamu hanya akan semakin terluka, karena hatimu dipaksa untuk mencinta?"
Gadis itu tersenyum lembut. Binar matanya menembus, menatap biru langit di atas sana.
"Dalam pandanganku pernikahan itu bukan hanya tentang cinta saja, Arfi."
"Maksudmu, tentang akhlak dan agamanya?" tanya Arfi lagi.
Nigar mengangguk, membuat bibir lelaki itu mendesah lemah. Kalau itu, jelas dia tidak akan menang bersaing dengan Ferdi.
"Dalam pandanganku. Dasar pernikahan itu bukan cinta, tetapi ibadah. Pernikahan adalah ikatan suci yang dibangun atas nama Allah. Menikahi makhluk yang mencintai Tuhannya, in syaa Allah, cinta juga akan hadir setelahnya."
Arfi berdehem pelan, seketika kerongkongannya memahit. Terngiang ucapan Ardan saat menasihatinya pagi itu.
Gadis yang dia perjuangi adalah seseorang yang menjujung nama Tuhan di atas segalanya. Sedangkan dia, masih labil dan mengeyampingkan itu semua.
"Pernikahan adalah ibadah terpanjang yang dilakukan. Sebagian orang beruntung, bisa menikah dengan cinta mereka. Tetapi buatku, cinta yang utama ada pada Penciptanya, setelah itu baru pada makhluknya. Tidak ada kata terpaksa, atau terluka, jika Allah sudah memilihkan jodohnya. In syaa Allah ikatan itu akan indah dengan jalannya."
"Lalu menurutmu, aku yang tidak baik dari akhlak dan agama ini. Tidak pantas bersanding denganmu, begitu?"
Nigar menggeleng dengan cepat.
"Bukan, Arfi. Tentu saja tidak ada yang namanya tidak pantas sebagai sesama manusia. Aku juga bukan gadis suci itu. Dan kita juga tidak bisa menilai seseorang di hari ini saja."
"Lalu, tidak bisakah kamu memberikan kesempatan?"
Nigar menunduk, bukan tidak bisa. Saat ini ada hati lain yang harus dijaga.
"Tanyakan pada Tuhan sekali lagi. Aku atau Kak Ferdi yang lebih cocok untukmu. Jika Tuhan mengatakan Kak Ferdi yang lebih baik. Baiklah, aku menyerah."
Nigar menaikan pandangannya, sedikit tergagap, ia bingung harus menjawab apa.
"Benar. Lakukanlah istikharah sekali lagi, Nigar. Bukan hanya untuk memilih, tetapi juga memantapkan hati. Jika Arfi adalah jawabannya. In syaa Allah aku ikhlas dan tidak akan sakit hati," balas Ferdi yang entah sejak kapan berada di dekat mereka.
Gadis itu menatap ke arah Ferdi, lalu beralih ke arah Arfi. Melihat kedua wajah lelaki yang selalu menganggu pikirannya selama ini.
"Aku akan ikhlas jika kamu memilih Arfi karena Allah mungkin ingin mengubah dia jadi anak baik ke depannya. Maka, lakukanlah istikharah sekali lagi."
Arfi tersenyum getir mendengar ucapan Ferdi.
"Aku akan berusaha melepaskanmu jika memang Kak Ferdi adalah jawaban atas doamu. Mungkin Tuhan, memilihkan lelaki yang baik agamanya untuk membimbingmu."
Nigar kembali menatap keduanya. Lagi, dia berada di ambang kebimbangan ini.
Setidaknya, kali ini mereka berdua lebih tenang menanggapinya.
"Baiklah. Aku akan istikharah sekali lagi."