
Ferdi mengetukkan dua jarinya di atas meja stainles kafe. Sesekali tangannya melirik ke arah jam. Sudah tiga puluh menit lebih, wanita yang ia tunggu belum menampakkan batang hidungnya.
Langit di luar terus menghitam, sesekali kilatan cahaya mewarnai. Suara gemuruh guntur mulai terdengar. Baru saja ia ingin mengeluarkan ponsel, wanita berhijab itu sudah lebih dulu menggeser kursi dan duduk tepat di depan lelaki dengan kemeja biru tua itu.
"Maaf, Pak. Saya telat," ucap wanita berhijab peach itu lembut.
"Hem, kamu yang minta ketemuan dan kamu juga yang telat. Padahal kamu juga yang chat mendadak."
Khadijah tersenyum lebar, bibir ranum itu mengembang. Entah kenapa, malam ini bibirnya terlihat berbeda. Mungkin dia telah melapisinya dengan sesuatu sebelum datang ke kafe.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ferdi seraya membuka menu yang terletak di atas meja.
Gadis itu ikut membuka menu, matanya sesekali melirik ke arah Ferdi. Lelaki dengan kacamata itu terlihat sangat tenang.
Kapan pun itu, Ferdi selalu tenang dan juga lembut. Bahkan bibirnya selalu tersenyum.
Teduh, dan juga menenangkan, bahkan jika berbicara dengannya, seakan semesta yang kejam bisa terasa lebih lunak dari sebelumnya.
Ferdi mengalihkan pandangannya, saat menyadari tatapan Ferdi. Cepat Khadijah menundukkan kepala.
Ferdi tersenyum, ia berdehem pelan dengan tangan yang terangkat. Memanggil Waiters untuk melakukan pemesanan.
"Kamu memandangiku?" tanya Ferdi menggoda.
"Hah?" Khadijah terkejut, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Seketika wajahnya memerah, malu saat ia tetangkap basah seperti ini.
"Maaf, Pak," ucap Khadijah bersalah. Bahkan ia tidak menyangkalnya.
Ferdi terkekeh, ia kembali menggelengkan kepala.
"Kamu lucu, Khadijah."
Wanita itu membuka tutupan tangannya, ia menggigit bibir bawah pelan.
"Saya berdosa, maaf telah memandang anda yang bukan mahram saya."
Ferdi membetulkan letak kacamatanya, ia mengangguk dengan pelan. Baru kali ada seorang wanita yang meminta maaf karena hanya memandanginya. Seperti telah melakukan dosa besar, bahkan wajahnya terus tertunduk.
Merah, antara bersemu dan juga malu. Entahlah, saat sebuah rasa telah menjelajahi hati. Tanpa alasan, tanpa sebuah kesiapan, dia akan membuatmu melupakan sesaat. Entah itu Tuhan atau dunia ini.
Cinta terjadi antara dua insan, bertepuk seirama, dan juga menautkan dua rasa. Hanya menunggu restu saja, maka ikatan akan tercipta.
***
Beberapa kali Nara mencebik kesal, ia tidak leluasa hang-out bersama teman-temannya. Lelaki dengan kemeja cokelat tua itu terus memperhatikannya dari meja seberang.
Matanya terus memperhatikan Nara semenjak dia duduk di sana. Awalnya Nara tak terlalu peduli, namun, setelah dua jam terus di sana seraya memandanginya, gadis itu mulai kesal.
Nara memotong daging di depannya dengan kuat. Matanya sinis menatap Pedro. Mengancam lewat tatapan, sayang lelaki blasteran itu tak mempedulikan.
"Nara, kamu kenal sama dia?" tanya salah seorang teman gadis langsing itu.
"Tidak! Dia hanya orang gila yang terus mengikutiku," jawab Nara ketus.
"Orang gila? Yakin? Sekeren itu?" tanya teman yang lainnya.
"Nara, kenapa sekarang aku curiga kalau Dokter Pedro menaruh rasa padamu." Kini Echa ikut menimpalinya.
"Diamlah, Echa!" balas Nara ketus. Tangannya memasukan makanan dengan cepat, mengunyahnya kasar.
Di sini, Pedro hanya tersenyum, pelan kepalanya menggeleng. Lucu, baru kali ini ada seorang gadis yang begitu dendam melihatnya.
"Astaga! Dia Dokter?" tanya teman yang sebangku dengan Nara.
"Gila tau gak, Ra? Ganteng, blasteran gitu, Dokter lagi, kamu tolak? Kamu sehat?" tanya teman lainnya, kini yang di depan Nara menimpalinya.
"Psikopat, dia itu tidak waras!"
"Kamu yang gak waras, Nara. Didekati cowok seperfect itu, kalau aku udah kusikat dari awal."
"Cucian kotor disikat!" balas Nara semakin kesal.
Echa menghela napasnya, dia tahu apa yang membuat sahabat sekantornya itu kesal. Namun, Nara juga salah, tak seharusnya ia terlalu gigih dengan perjuangannya.
"Nara, jika dia mencintaimu. Bisakah kamu melepaskan Pak Ferdi?"
Seketika gerakan mulut Nara terhenti, ia menatap sinis ke arah Echa.
"Ra, kamu masih mencintai Direkturmu itu? Ini sudah sangat lama, move on kenapa?" timpal gadis yang lainnya.
"Ra, Ra. Ada yang kejar-kejar, kamunya nolak. Yang berlari, malah kamu kejar. Sehat, Ra?" timpal temannya lagi.
Nara menghela napasnya, ia membanting sendok makannya kasar. Ia meraih tas dan berdiri tiba-tiba.
"Kalian gak asik, malam ini hang-out, bukan bahas masalah aku." Gadis itu keluar dengan cepat, meninggalkan tiga gadis yang lainnya.
Tiga gadis itu menggeleng melihat temannya itu pergi. Sementara Nara sudah sangat emosi, ditambah suara derap kaki yang mengikutinya terus-menerus. Semakin membuat emosinya meluap.
Nara menghentikan langkahnya dan berbalik tiba-tiba. Seketika badan tegap itu menabraknya, terjatuh dengan posisi Nara di bawahnya.
Manik berwarna cokelat itu menatap lekat pada wajah gadis yang ada di bawahnya. Perlahan bibirnya mengembang dengan lebar. Giginya yang putih dan tersusun rapi ia perlihatkan. Dengan embusan angin yang membuat poninya terbang sebagian, ganteng, ditambah aroma yang maskulin.
Mampu membuat Nara terpaku, terdiam. Menikmati desiran yang mulai hadir menyapa jiwa. Hangat, ada gumpalan yang berdebar dengan sangat cepat.
Sampai tetesan air membuat gadis itu tersadar. Ia mendorong badan Pedro dan berlari, memayungi kepala dengan telapak tangan.
Langkahnya berhenti di depan sebuah kafe, sekadar berteduh. Sesekali matanya melihat ke arah langit. Mulai deras dengan beberapa kilatan menyambar.
Pedro menarik lengan gadis itu, menyudutkan Nara di dinding tembok, melindungi gadis itu dengan tubuhnya dari tampias air hujan.
Lelaki itu menumpuhkan sebelah tangannya di dinding cafe, meletakan Nara di dalam dekapan tangannya. Sementara kepalanya masih melihat ke arah belakang. Fokus pada hujan yang turun.
Perlahan kepala gadis itu mendongak, melihat wajah Pedro yang ada di depannya. Tak mengucapkan apa pun, hanya mengikutinya terus-menerus. Ketika ditanya, dia hanya mengatakan maaf dan maaf terus.
Gigih meminta maaf dan menyesal atas perbuatannya.
Kilatan menyambar, Nara memejamkan matanya. Takut dan juga mengerihkan. Sebenarnya ia tidak takut dengan petir, akan tetapi di ruangan terbuka begini, siapa yang tidak akan ciut.
Pedro kembali menatap Nara, bibirnya mengembang saat melihat mata wanita itu terpejam. Matanya terus memandang, lekat dan dalam. Sebuah perasaan mulai bersarang. Dia tak tahu itu apa.
Semakin hari, ia semakin ingin terus bersama. Memperhatikan setiap ekspresi wanita itu yang marah dan kesal terhadapnya, atau senyumnya saat berbicara dengan teman-temannya. Apa pun itu, kini menjadi candu.
"Bukalah matamu, Nona. Jika takut ayo kita masuk ke dalam."
Seketika Nara membuka matanya, wajahnya padam. Sengit melihat Pedro yang berjarak dekat dengannya.
"Nona, Nona. Namaku bukan Nona, tapi Nara. Kinara Anjani!" teriak Nara ketus.
"Nama yang indah."
"Gak minta pendapat anda!" ketus Nara kesal.
Pedro terkekeh, ia menarik tangan Nara memasuki pintu kafe. Sesaat langkah Nara terhenti, matanya menangkap dua orang yang ia kenal di sudut meja.
Khadijah dan Ferdi, berbicara dengan sesekali tertawa. Walau tatapan Khadijah sering menunduk, sebagai wanita ia paham dengan reaksi wajah Khadijah. Gadis itu, juga menaruh rasa pada lelaki berkacamata tersebut.
"Ini biaya kontrakan saya bulan ini. Ambillah, Pak. Sisanya 11 bulan lagi."
Ferdi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, Khadijah. Simpan saja."
"Eh, kenapa?" tanya gadis itu bingung.
"Aku ikhlas membantumu."
"Jangan, saya tidak enak sama anda. Lagi pula, saya tidak ingin ini menjadi utang budi."
"Tidak akan aku anggap begitu. Terimalah, aku hanya akan menerima pahala sebagai balasannya."
Khadijah tersenyum, ia menggelengkan kepala pelan.
"Jangan. Saya sudah cukup terbantu. Terima kasih atas segalanya, Pak. Jika saya menerima bantuan anda lagi, saya takut tak akan bisa membalas anda lain kali."
"Sungguh. Aku tidak meminta balasan."
"Walau begitu, saya tidak bisa berutang. Mohon ada terima, ya, Pak."
"Mengapa formal sekali sih, Khadijah? Kita bukan bicara sebagai bawahan dan atasan di sini."
Khadijah tersenyum dan kembali menundukkan pandangannya. Bibirnya terus terkembang dengan lebar.
Sedang, lelaki itu terus menatapi wajahnya. Walau dia tahu, kalau gadis itu tak nyaman dipandangi oleh mata yang bukan mahram. Dia tidak bisa menahannya, ingin terus menatapinya sampai puas.
Mungkin apa yang dikatakan Ardan benar. Hanya sekadar mengangumi, lalu ingin memiliki. Karena saat ini, dia sudah tak sanggup lagi untuk menghalangi hatinya. Terpaut dan terus terpatri akan gadis ini. Seluruhnya, senyum, wajah dan juga nama. Kini bersemayam di dalam dada.
"Khadijah," panggil Ferdi lembut.
"Ya."
"Kamu bebas?" tanya Ferdi lagi.
"Hem?" Gadis itu mengkerutkan dahi, tak mengerti.
"Tak terikat khitbah atau ta'aruf seseorang?" tanyanya lagi.
"Memang kenapa?" Bukannya menjawab, malah dia kembali melemparkan pertanyaan.
Ferdi menatap Khadijah dengan serius. Mata di balik lensa itu terus memandangi dengan sangat lekat.
"Temukan aku dengan ayahmu. Inginku lamar kamu untuk menjadi kekasihku."
Degh
Ada dua pasang telinga yang terkejut mendengar ungkapan lelaki berkacamata itu.
Yang satu bingung, sementara yang satu lagi sakit. Patah begitu saja.
Nara menelan salivanya, ada gumpalan yang teremas di dalam sini. Sakit sekali, ketika harapan yang ia gantungkan setinggi asa itu, remuk. Karam bersama kapal yang belum sempat berlayar.
Satu air luruh dari mata gadis itu, pandangannya terus menatap ke arah dua orang tersebut. Tak bisa menjelaskan, yang pasti sakitnya menusuk sampai ketulang.
Nara melepaskan cengkeraman tangan Pedro. Berlari keluar.
"Nara, kamu kenapa?" tanya Pedro yang ikut keluar. Mengejar langkah Nara.
Plaaak
Sebuhan tamparan mendarat di pipi lelaki itu.
"Ini semua gara-gara anda. Jika anda tidak mencium saya. Pasti saya sudah bisa mengungkapkan rasa padanya! Semua salah anda! Bertahun-tahun saya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkannya, tinggal sehari lagi. Anda merusaknya, anda mengacaukannya!" teriak Nara di depan wajah Pedro.
"Maksudnya?" tanya Pedro tak mengerti.
"Apa anda tidak mendengarnya? Ha? Pak Ferdi melamar Khadijah! Dia melamar gadis yang baru beberapa bulan ada di perusahaan kami!" Nara menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Perih, entah bagaimana cara menahannya. Sesak dan juga sangat sakit.
Ketika cinta yang diharapkan harus putus sebelum terungkapkan. Bukan lagi patah, tetapi redam. Karena berjuang diam-diam itu sangat melelahkan. Setidaknya, sedikit terlihat saja, itu bisa membasuh luka penolakan. Setidaknya pemilik perasaan itu tahu, tidak akan sesakit ini walaupun harus menyerah.
"Tunggu dulu. Maksud kamu teman Ardan itu?" tanya Pedro bingung.
"Yang kamu sukai itu teman Ardan? Bukannya Ardan?"
Plaaak
Tamparan keras kembali mendarat di wajah Pedro.
"Apa anda pikir saya tidak waras? Mencintai suami sahabat saya sendiri? Apa saya begitu murahan di mata anda?!" teriak Nara lagi.
Gadis itu menggeleng, lalu ia berbalik dan berlari menembus lebatnya air hujan. Sakit sekali rasanya. Ia tak mampu lagi menahannya, ingin memecahkan segala beban hatinya.
Menangis di tengah hujan seperti ini, biarlah tangisannya tertutup oleh derasnya air semesta yang menyertai.
Pedro mengejar langkah gadis itu, ia menarik pergelangan tangan Nara. Memegang kedua pucuk bahu gadis berbadan langsing tersebut.
"Maaf, Nara. Saya salah sangka padamu, saya pikir kamu menyukai Ardan. Karena itu saya menciummu di depannya."
"Anda jahat, Dokter. Jahat!" Nara mendorong badan Pedro.
Kembali langkahnya berlari menembus jalanan becek akibat deras hujan. Kepakan kedua kakinya terus berirama, menyibakkan air jalanan yang menjadi saksi patahnya sebuah harapan. Perjuangan yang berakhir kesakitan.
Sesekali tangannya menghapus air mata yang bercampur air langit. Basuhan dingin dari semesta, seperti tahu akan ada patahan cinta. Tuhan lebih dulu mengirimkan rahmat-Nya untuk menyamarkan.
Berlari sekencangnya, menangis sekuatnya. Tak ada yang mengerti, sakitnya bukan karena kalah dalam perjuangan, akan tetapi lebih dulu pupus dalam perjalanan.
Nara menghentikan langkahnya di sebelah halte bus. Mengambil napas yang memburu kencang. Dadanya sesak, napasnya tersengal. Ia jatuh, sedalamnya dan sesakitnya. Kenapa Tuhan menghukumnya seberat ini?
Gadis itu beringsut, berjongkok di sebelah halte. Lalu mendekap badannya dan menyembunyikan wajahnya di dalam dengkul.
Menangis sesenggukan, mencoba melepaskan beban. Perjuangan diam-diam, doa di setiap malam. Sayang, takdir tidak menyatukan.
Derap langkah mendekat, mata itu memandang dengan seluruh iba yang ia miliki.
Bagaimana juga, semua terjadi atas kesalahpahamannya, atau mungkin memang takdir Tuhan yang telah merencanakannya. Entahlah, melihatnya terluka, ada rasa yang mengelayuti dada.
Perlahan kaki jenjang itu terlipat, berjongkok di depan Nara. Tangan besarnya membelai lembut pucuk kepala gadis itu.
"Menangislah, Nara. Jangan tahan sendiri, aku bersedia menanggung sakitnya bersamamu."
Nara mendongakkan kepalanya, melihat Pedro yang ada di depannya. Gadis itu memeluk bahu Pedro dengan erat. Mencari dekapan hangat yang mau menanggung sakit ini bersama.
Tangisnya kembali pecah, kini suara yang tertahan itu meluap keluar. Sesenggukan yang sangat menyakitkan.
Saat hati telah terpaut akan sebuah rasa, dia hanya akan melihat ke satu arah saja. Namun sayang, arah itu belum bisa dipastikan akan ke mana berjalan.
Pahitnya, arahnya sama. Namun, pandangannya berbeda. Dia melihat kita ada, namun lebih memilih bersama dengan yang lainnya.
Sakit, saat hati patah pasti akan menimbulkan luka. Namun percayalah, bahwa Tuhan menyediakan pengganti yang akan menyambungnya.
Tak terlihat saat ini, namun kedepannya. Dia adalah bagian yang akan menyatukan apa yang pernah hilang. Itu, harapan yang kamu berikan pada dia yang tidak mengharapkanmu.