For My Family

For My Family
211



Ardan membuka pintu kamar putra Hazel saat bocah lelaki itu terus menangis, melihat sang anak yang tengah guling-guling di atas kasur.


Mencoba menghindar setiap kali tangan Mbok Darmi ingin menjamahnya.


"Ada apa, Mbok?" tanya Ardan mendekat.


"Maaf, Nak Ardan. Surya ganggu kamu dan yang lainnya, ya? Si Mbok mau nenangi, tapi ya dia nangis terus. Mbok juga bingung."


Ardan menggeleng, menghampiri putra Hazel yang berguling-guling memutari kasur besar di kamar itu.


"Surya kenapa, Nak?" tanya Ardan berusaha mendekat, meraih lengan mungil itu dan mendekapnya.


Bocah kecil itu terus menangis, merengek, tidak ingin digendong.


"Dari pagi tiba di sini Surya udah terus rewel, Nak Ardan. Mungkin karena rumah ini asing buat dia, ya?"


Ardan hanya tersenyum, bangkit dari atas kasur dan membawa Surya ke arah balkon.


"Gak apa-apa. Biar Surya sama saya. Mungkin dia butuh penyesuaian."


"Tapi, Nak Ardan ...."


"Gak apa-apa, Mbok. Sama saya saja. Dia kan, anak saya juga."


Lembut tangan kekar itu mengusap bahu sang bocah. Mencoba menghibur dengan memperlihatkan pemandangan di balkon kamarnya.


Surya terus menangis, merengek dan tidak ingin digendong. Ardan menarik napasnya, menurunkan tubuh itu dan sang anak malah kembali guling-guling di lantai.


"Surya kenapa, Nak? Mau apa? Bilang sama Papa, jangan nangis terus, nanti Bunda khawatir."


Bukannya diam, bocah berumur lima tahun itu semakin menangis kejer. Ardan kembali menarik tubuh mungilnya dan membawa keluar dari rumah Erlangga.


Mencoba mencari udara luar walau langit sudah menghitam. Mengelus lembut pundak sang anak, seraya berjalan-jalan di area taman luas milik keluarga Erlangga.


Sabar, lelaki berumur 34 tahun itu mencoba meredam tangisan sang putra. Setelah beberapa waktu, tangisannya mulai mereda, hanya terisa sesenggukkan yang menyentakkan kepalanya.


Ardan menjatuhkan badannya di atas kursi taman, menidurkan putra Hazel itu di atas pangkuannya seraya mengelus lembut tubuh belakang Surya.


Bocah dengan garis wajah Timur Tengah itu terlihat nyaman. Terlelap di atas pangkuan sang Papa dengan tenang, walau sesekali sentakan napasnya membuat tersengal.


Ardan menghela napas, menjatuhkan kepala di atas kursi, memejamkan mata dengan tangan yang terus mengelus punggung belakang sang putra.


Terasa lelah, bukan hanya pada raga. Namun, juga pada pikirannya. Entah apa masalahnya, bahkan setelah beberapa hari di sini, Gerald belum memutuskan apa pun.


Malah asyik bermain dengan para cucunya dan selalu menghabiskan waktu di rumah.


Sementara putra Hazel mulai tidak nyaman. Merasa terasingi, mungkin.


"Kok, berapa hari ini pulang malam terus, sih?" Pertanyaan itu membuat mata elang Ardan terbuka.


Melihat pemilik suara yang tengah berbicara dengan suaminya.


"Banyak kerjaan," jawab Arfan dingin. Tidak terlalu peduli, dia menarik badan Pelin dari dekapan Ferla. Terlelap, kelelahan bermain bersama Opanya.


"Tapi, anak-anak juga butuh perhatianmu, Fan. Kapan kamu mau menghabiskan waktu sehari saja bersama mereka? Sudah beberapa bulan, kamu sulit sekali meluangkan waktu."


"Sabar, kamu tau sendiri kalau papa akhir-akhir ini jarang ke kantor. Semua kerjaan aku yang handle, mengertilah, Ferla."


"Aku mengerti! Tapi anak-anak gak mau ngerti!"


"Ya sudah, kamu ajak saja mereka jalan-jalan. Apa susahnya?"


Ferla terdiam, memandangi wajah Arfan yang beberapa hari terakhir ini terlihat kacau.


"Egois! Anak-anak juga butuh ayahnya!" Wanita itu akan berjalan menuju pintu. Satu tangannya tercekal oleh tangan Arfan.


"Apa kamu bilang?" tanya Arfan datar dan Ferla hanya melepaskan cengkeraman tanpa peduli pada pertanyaan sang suami.


"Ferla, aku bertanya padamu!"


"Kamu pikir saja sendiri!" Ibu tiga anak itu membuka pintu mobil, mengeluarkan Pelin dari dalam mobil.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arfan saat menyadari sang istri bukannya naik, malah mengeluarkan anaknya.


"Aku gak mau pulang. Bukannya kamu banyak kerjaan? Urus saja kerjaanmu, tidak usah memikirkan kami!" Wanita dewasa itu membangunkan anak sulungnya, kembali memasuki rumah Gerald dan itu membuat rahang Arfan bergemeretak geram.


"Ferla!" teriak Arfan.


Wanita itu tidak peduli, kembali masuk dengan menggandeng dua putrinya.


"Ferla, dengarkan ucapanku. Aku ini masih suamimu!" Kesal tak diacuhkan, lelaki itu mengepalkan tangan.


Ingin mengejar langkah sang istri, bahunya tertahan sebuah tangan. Arfan menoleh, melihat Ardan yang ada di belakangnya, tengah menggendong putranya yang sudah terlelap di dalam dekapan.


"Lepas!" perintah Arfan geram.


"Tenangkan dirimu, Boy. Ini di rumah papa. Jangan berteriak sesukamu."


"Apa urusanmu?" Lelaki berjas navy itu kembali ke arah mobil, ingin menaiki mobil, lagi-lagi tertahan tangan Ardan.


Arfan menarik napas, geram. Ia berbalik dan ingin menumbuk Ardan. Sayang, kepalan tangannya malah tertangkap salah satu tangan Ardan.


"Ada anakku, bisa jangan pakai kekerasan? Atau dia juga akan ikut terluka," kata Ardan datar.


Arfan membuang salivanya ke samping.


"Peduli apa?" tanya Arfan kesal.


"Bukan aku mau ikut campur urusan rumah tanggamu, tapi bukan begitu caranya memperlakukan keluarga."


"Jangan sok menasihati. Seakan-akan kau sudah cukup baik saja!"


"Aaarggh!" Arfan berteriak geram, ingin memukul sang Kakak dan Ardan kembali menghindar.


Ia menjauh, mengeluarkan sebuah ponsel dan meminta adiknya untuk turun.


"Kau mau kita bertarung? Tunggulah. Kita akan bertarung dengan cara yang adil," kata Ardan dan sang kembaran hanya tertawa miris.


Lekat iris tajam itu memerhatikan wajah Arfan. Sudah sangat memerah, seperti ingin meledakkan segalanya.


"Ada apa, Kak?" tanya Arfi, bungsu Erlangga itu mendekat. Menghampiri Ardan.


"Bawa Surya ke atas. Aku butuh ruang berdua dengan Arfan." Lelaki berwajah garang itu langsung memberikan Surya ke dekapan Arfi.


Sedikit bingung, Sang adik hanya menerima badan Surya.


"Tunggu dulu, kalian mau bertengkar?" tanya Arfi memandangi wajah Arfan dan Ardan bergantian.


Keduanya hanya terdiam, saling memandang dalam keheningan. Sama-sama saling menantang, tatapan itu bagaikan hunusan pedang. Dan Arfan, dominan dengan amarahnya yang kian membakar.


"Kak Ardan! Kak Arfan!" bentak Arfi kesal.


"Masuklah, putraku butuh suasana nyaman untuk tidur!" perintah Ardan tanpa menoleh ke arah Arfi.


Lelaki berambut pirang itu mendesis, percuma. Karena keduanya sama saja. Sama-sama tidak akan mau mengalah.


"Terserahlah!" Mengalah, bungsu Erlangga itu memilih meninggalkan kedua kakaknya.


Sebelum memasuki teras, lelaki bermata sayu itu kembali menoleh sekilas. Sempat terdiam lalu dia berkata.


"Apa pun hasilnya nanti, kalian berdua tetaplah Erlangga. Berhentilah, dan buka mata kalian. Waktu telah berputar, dunia ini tidak lagi sama. Tak lelahlah terus terpecah?" Arfi tertawa getir, menggelengkan kepala dan melanjutkan langkahnya.


"Karena siapapun pemenangnya. Kalian tetaplah kalah, karena yang kalian hancurkan adalah darah yang sama," lirih ucapan Arfi membuat pandangan Ardan tertunduk.


Si Sulung itu sadar, tetapi saudara yang sedang berhadapan dengannya saat ini sama sekali tidak sadar.


Arfan kembali melayangkan sebuah kepalan tangan ke arah Ardan. Lelaki berwajah garang itu hanya terdiam, memerhatikan wajah sang adik.


Tidak melawan ataupun menghindar. Dan itu, malah membuat tumbukkan tangan Arfan terhenti sebelum mengenai wajah.


Sebenarnya sama saja, walau benci, dia masih tidak tega menyakiti darah yang sama dengannya.


Arfan merutuk geram, ia membuang salivanya dan membalikkan badan. Kesal oleh nurani yang masih mampu menghentikan tindakannya.


"Kenapa berhenti?" tanya Ardan seraya memandangi punggung sang adik.


"Jika memukuliku bisa membuat amarahmu mereda, maka lakukanlah! Lakukan sampai kau puas dan sampai segala rasa itu menghilang."


"Cih, jangan sok jadi pahlawan, Ardan. Apa kau pikir aku akan luluh dengan kebaikanmu? Bahkan walau kau mati pun, aku akan tetap membencimu," kata Arfan membelakangi sang Kakak.


Ardan hanya mengangguk, menghela napas. Sesak, rasanya lebih sakit saat mengetahui kebencian sang adik sudah sampai sejauh itu.


"Lalu, kau mau aku seperti apa?"


Arfan terkekeh, ia menoleh dan menatap wajah Ardan nyalang.


"Kenapa kau tak ke neraka saja?"


"Aku tak bisa."


"Hahaha, tak bisa? Kenapa? Karena kau masih tak rela meninggalkan dunia? Kekuasaanmu dan segala pujian akan kecerdasanmu?"


Ardan menggeleng, hanya menatapi wajah Arfan yang semakin memadam.


"Karena keluarga kecilku, masih membutuhkan aku."


Arfan kembali terkekeh, seperti sedang mengejek.


"Ardan, Ardan! Bagaimana bisa seluruh dunia mengagumi dirimu? Di mananya bagusnya dirimu? Kau hanya pecundang!" teriak Arfan.


Bugh


Satu kepalan menghantam wajah sang Kakak, Ardan hanya diam. Meludah, membuang darah dari pecahan rahangnya.


"Kau itu tak lebih dari penggoda, kau itu lelaki hina! Kau bahkan masih menggoda iparmu, istriku! Padahal kau telah memiliki istri yang sempurna. Dasar penggoda!"


"Sekalipun aku tidak pernah menggoda istrimu. Aku hanya mengganggapnya ipar, dan dia pun sama."


"Siapa yang percaya? Apa kau pikir aku selugu itu? Aku bisa melihat bagaimana cara dia memandangmu, bagaimana dia berbicara padamu dan bagaimana sikapnya padamu! Itu, tidak pernah dia lakukan padaku! Apa kau tau? Brengs*k!"


Satu kepalan kembali menghantam wajah Ardan. Lelaki itu hanya diam, membiarkan Arfan terus meluapkan amarahnya.


"Kau tidak tau! Sekeras apa aku berjuang demi dia. Bisa-bisanya dia tertawa padamu, tapi dia selalu ketus padaku. Bagaimana bisa? Aku ini suaminya! Suaminya, Ardan!" Satu kepalan kembali akan menghantam wajah.


Kali ini Ardan menangkapnya, menarik tangan itu agar tubuh Arfan mendekat kepadanya.


"Kalau kamu memang suaminya, lakukan dia layaknya istrimu. Bukan hanya sebagai ibu dari anak-anakmu!" teriak Ardan.


"Kalau kau merasa dia kekasihmu, lakukan dia sebagai orang yang kau sayangi. Jangan hanya kau perlakukan sebagai orang yang kau butuhi!" Ardan mengempaskan kepalan tangan Arfan.


"Kalau kau memang mencintai dia, lakukan dia layaknya penghuni hatimu. Jangan hanya memperlakukan dia sebagai pengurus rumahmu!"


Kedua tangan kekar itu menepuk pipi sang adik lembut.


"Arfan, tidak pernahkah kau sadar selama ini? Kau memang punya orang yang dikasihi, tapi kau tidak punya tempat untuk kembali. Kau memang punya tempat untuk memberi, tapi kau tak pernah menyanyangi. Kau memang memiliki istri, keluarga dan anak-anakmu. Tapi kau lupa, bagaimana cara menghargai mereka."


Ardan menyentakkan bahu sang adik lembut.


"Pikirkanlah, cinta dan kasih itu butuh perbuatan, bukan hanya ucapan."