For My Family

For My Family
75



Ardan memalingkan wajahnya saat merasakan sebuah tepukan di atas pundaknya.


Lelaki dengan jas berwarna abu-abu itu tersenyum. Menghela napas panjang dan ikut menumpuhkan kedua siku di atas pagar balkon lantai tiga rumah mewah itu.


Sekilas, mereka yang melihat bangunan itu akan bertanya, bagaimana rasanya tinggal di rumah seindah itu. Nyatanya, rumah bagus tidak menjamin keluarganya bagus pula.


Sering kali, mereka yang hidup di rumah indah dengan kemewahan yang ada. Merasa hampa dan hidup sama sekali tidak berwarna. Iri pada mereka yang bisa bahagia dengan segala kesederhanaanya.


Mana yang lebih bahagia? Mereka yang memiliki segalanya? Atau mereka yang biasa-biasa saja?


Bukan keduanya, mereka yang bahagia. Adalah mereka yang mampu bersyukur, ketika kehidupan berada di atas, pun saat kehidupan berada di bawah.


Yang membuat bahagia, bukan kemewahan atau kesederhanaan. Akan tetapi, rasa syukur di dalam benak dan melekat dalam hati. Hingga terucap melalui lisan dan menjadi ucapan yang menambah keimanan.


"Apa yang sedang Kakak pikirkan?" tanya Arfi setelah bergeming untuk beberapa saat.


"Kapan, rumah ini bisa kembali ceria seperti dulu?"


Arfi tersenyum, ia memainkan bungkus rokok di tangannya.


"Entahlah, mungkin itu tidak akan pernah terjadi lagi. Ada yang pergi, dan itu tak akan pernah kembali."


"Tapi, masih bisa diganti. Waktu kita tidak sama lagi. Kehidupan kita berbeda, ada yang pergi dan ada yang datang. Saat ini keluarga kita lebih ramai dari dulu, namun, kita masih terpecah dan berada berseberangan." Ardan menghela napas, ia membalikan badan, menumpuhkan siku di atas pagar.


Merubah pandangan ke arah pintu dan koridor rumah mewah itu. Marmer yang kilat dan terawat, hiasan lampu yang sangat mahal dan besar. Namun tetap saja, lantai itu sangat dingin dan cahayanya terlihat sangat redup.


Tidak hidup, bukan manusianya. Lebih tepatnya suasananya. Rumah indah ini hanyalah tempat tanpa tuan. Tempat untuk mereka memejamkan mata tanpa menghabiskan waktu untuk bercanda dan melepas lelah.


"Arfi, aku dengar kamu akan menikahi salah satu anak dari Dewan Direksi?" tanya Ardan mengubah topik pembicaraan.


Lelaki itu menghela napas, ikut memutar badan dan menatap ke dalam rumah.


"Biasa, kebiasaan Papa tidak berubah."


"Tolaklah jika kamu tidak mau. Jangan korbankan hidup dan hatimu untuk hal yang tidak kamu sukai."


"Kadang hidup seperti ini, Kak. Kita tetap harus menjalani, suka atau tidak. Itu bukan masalah."


"Hidup hanya sekali, jika kamu tidak pernah berani. Maka lupakanlah tentang impianmu. Cukup jalani dan tunggu saja ajal membawamu pergi."


Arfi melirik sekilas ke arah Kakaknya. Memang, Ardan adalah orang yang paling berani menentang apa pun itu. Bukan hanya papanya, namun juga dunia.


Dia tidak peduli pada apa pun yang tidak dia sukai. Terserah tentang apa yang dikatakan mereka. Baginya, takdir tetap akan berjalan sesuai dengan rencana-Nya.


Melakukan secukupnya, menentang semestinya. Pastikan semuanya tidak akan membuat kamu menyesal. Walau kamu tidak bisa menggapai.


"Aku kehilangan seseorang, Kak." Lelaki itu menunduk, menginjak bungkus rokok yang ia mainkan tadi.


"Lalu?" tanya Ardan datar.


"Aku merasa lemah. Aku tidak punya kekuatan untuk mempertahankannya. Aku ingin menikahinya, tapi aku takut mengambil langkah."


"Kalau begitu lupakanlah dia."


"Tidak bisa!"


Ardan melirik ke arah Arfi, melihat lelaki muda itu tertunduk dalam dengan segurat kekecewaan yang ia telan.


"Aku tidak bisa melupakannya. Dua tahun, setiap kali aku ingin mendekati wanita. Disentuh mereka, maka aku mendengar ucapannya yang selalu meneriaki, dosa!" Arfi tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya.


Desiran angin malam membuat helaian setengah pirang itu berantakan. Ia mengacaknya, membiarkan bagian depan berjatuhan menutupi dahi.


"Dia tidak pernah menyentuh kulitku. Bahkan berbicara tidak pernah beristatap wajah. Rambut wanita yang suka aku belai untuk memanjakan mereka. Bahkan sehelai miliknya pun aku tidak pernah melihatnya. Wajahnya, suaranya, senyumnya, semua yang ada padanya berbeda."


Ardan melipat kedua tangan di depan dada, kini badannya ia miringkan untuk bisa melihat ekspresi adiknya itu.


"Terus?"


"Aku mengenalnya lima tahun yang lalu. Tak sengaja kami berdiri di samping minimarket saat hujan. Dia mendekap tubuhnya yang basah kuyup, seluruh bajunya basah dan dia tidak nyaman dengan baju yang melekat membentuk lekuk badannya. Hanya ada aku di sana, dia meminta jasku untuk membalut badannya." Senyum lelaki itu terkembang lebar ketika ia mengingat bagaimana bertemu dengan wanita pujaannya tersebut.


"Malam itu, aku memberikan jasku. Tetapi dia malah mengambil hatiku. Wajahnya teduh, senyumnya terlihat sendu. Tutur sapanya lembut, pandangannya tertunduk. Dia, begitu indah."


"Intinya saja Arfi, aku tidak punya waktu mendengarkan kisah cintamu," ucap Ardan ketus.


Arfi tersenyum, ia menggelengkan kepalanya pelan.


"Tiga tahun lalu, aku mengajaknya untuk menikah tanpa pacaran. Dia sempat menolak karena belum selesai kuliah. Namun, setelah aku meyakininya, malah Papa yang tidak setuju."


"Anak orang miskin?" tanya Ardan langsung. Ia tahu sekali bagaimana karakter lelaki tua itu. Selain kasta apalagi yang bisa dilihatnya.


"Bukan, dia dari keluarga kaya, Kak. Anak mantan Jenderal Angkatan Darat."


Ardan menghela napasnya, kali ini ia mengeluarkan suara yang terdengar lelah.


"Anak mantan Jenderal itu bukan seorang pengusaha, Arfi. Bagi Gerald, dia hanya mau anak dari Dewan Direksi atau pengusaha yang memiliki pengaruh di dunia bisnis."


"Dia tidak menyerah, Kak. Tetapi, aku yang meninggalkannya."


"Kenapa?" tanya Ardan ketus.


"Papa mengancam akan mengusirku. Tidak mengizinkanku memambawa harta walau seribu rupiah pun."


"Lalu kamu menyerah?" tanya Ardan lagi.


Ia mengangguk, Ardan mengusap wajahnya dengan malas.


"Patut, wanita tangguh tak cocok dengan pria pengecut sepertimu."


"Aku tahu aku salah. Saat ini aku merasa kehilangan dia, tak sepadan dengan harta dan kekayaan ini. Hatiku hampa, duniaku kehilangan warna."


"Dua tahun lalu Kakak masih sangat kaku. Dalam dunia Kakak hanya ada tentang bisnis dan menghancurkan lawan. Kakak sangat ganas, Kakak kerjakan semuanya sendiri sampai Kakak tidak pernah menetap lebih dari dua bulan di manapun Kakak menapaki jalan. Apa Kakak pikir aku bisa menambahi beban di pundak Kakak itu?"


Ardan tersenyum, ia menepuk lembut bahu kekar adiknya itu.


"Saat ini aku ada di sini. Jangan takut, Gerald tidak akan pernah menyampakkanmu." Ardan menundukkan pandangannya.


"Walaupun aku benci mengakuinya, tetapi Gerald tidak akan melakukan apa pun yang membuat anaknya susah. Apalagi itu kamu, Arfi. Setelah Arsy, kamu adalah kesayangannya. Dia hanya menggertak, tidak akan berani berbuat."


Arfi terkekeh, ia menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalian memang saling bersaing dan berperang. Tapi aku akui, Kak. Selain Kakak, tidak ada yang mengenal Papa sedalam dirimu mengenalnya."


Ardan ikut terkekeh, ia memeluk bahu kekar itu erat.


"Bergeraklah, Arfi. Ada aku di belakangmu. Temukan kebahagiaanmu, karena rumah ini sudah sangat kaku. Maka cari kebahagiaan yang mampu mencairkan segalanya. Jangan hanya menurut dan menyesal." Ardan melepaskan rangkulannya dan menepuk kedua pipi adik kecilnya itu.


"Temukan kebahagiaanmu, sesulit apa pun itu. Jangan menyerah karena sebuah halangan, jika kamu tidak bisa melawan, maka cukup mengikuti alur permainan. Tidak bisa menggunakan otot maka gunakan otak. Jika tidak bisa keduanya, gunakan lisanmu untuk membunuh lawan. Apa pun itu, jangan pernah takut mengambil langkah, jika kamu menyesal berjalan dalam kesalahan, maka kembali dan ulangi lagi."


Arfi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Kak. Akan kucari dia dan kubawa kehadapan Papa. Aku yakin, bahwa jodohku ada bersama dia."


"Good."


"Emh." Arfi melihat arloji yang melingkari tangannya. "Btw, Hazel mana? Bukannya ini sudah hampir telat?"


"Masih sama Rizka--Penata rias pribadi keluarga Erlangga. Kebiasan Rizka lama kalau dandani orang."


"Kenapa harus di make-up. Istrimu sudah cukup menawan walaupun tampil natural."


"Ayolah, aku juga tidak suka jika dia terlalu cantik. Tapi, ini acara besar. Kamu tahu bagaimana tingkah Gerald?"


Arfi terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


"Aku pikir setelah Emily tidak ada yang membuatmu seposesif ini, Kak."


"Sial! Jangan ingatkan dia lagi. Aku kangen jika ingat tingkahnya. Lagi, dan lagi Gerald itu mengacaukan segalanya."


Arfi menghela napas, ia memutar badan kembali melihat ke arah depan. Memandang kosong pada langit hitam tanpa bintang.


"Aku juga merindukannya."


Ardan melirik menggunaka ujung mata. Kali ini ia melihat adiknya seperti putus asa dalam kehidupannya.


'Khadijah, masihkah kita bisa memandang langit yang sama?'


Deringan ponsel Ardan memekakkan telinga. Cepat ia meraih saku dan menggeser tombol hijau.


"Ada apa, Ferdi?" tanya Ardan terus terang.


"Tidak ada, aku hanya ingin bertanya. Setelah kembali, apa Hazel akan kembali ke perusahaan?"


"Entahlah, terserah dia saja."


"Jangan biarkan dia bekerja. Aku ingin memasukan orang baru di sana."


Ardan menaikan sebelah alis matanya, melirik ke arah Arfi yang masih terdiam dengan segala angannya.


"Siapa?"


"Teman."


"Teman hidup?"


"Ck ... aku tidak butuh izinmu untuk memasukan karyawan, kan. Aku hanya ingin menyampaikan, istrimu aku pecat!"


Ardan terkekeh, ia memasukan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya.


Sementara di sini, Ferdi menatap layar ponselnya dengan sedikit kesal. Aroma dari masakan memalingkan perhatiannya.


Gadis dengan baju longgar dan hijab berwarna hitam itu berjalan mendekatinya. Meletakan semangkuk mie instan di depan Ferdi yang sedang duduk lesehan di teras rumah kontrakan Khadijah.


"Maaf, hanya ada itu."


Ferdi tersenyum dan membenarkan letak kacamatanya.


"Ini juga cukup bagus, kamu mengingatkanku pada masa-masa susah dulu?"


"Hem? Kapan itu?" tanya gadis berhijab itu penasaran.


"Beberapa tahun yang lalu. Saat ini semua sudah berlalu." Ferdi langsung memasukan mie itu ke dalam mulut. Mencoba untuk tidak menceritakan apa pun tentang lukanya.


Khadijah menghela napas, matanya teralih pada langit hitam tanpa bintang di atas sana.


Gelap, tanpa setitik cahaya apa pun yang menghiasi. Mengingatkan pada seseorang yang saat ini sedang merindukannya.


Sebenarnya, rasa itu masih ada di dalam benaknya. Hanya saja, ia sangat sadar. Bahwa merindukan makhluk yang belum halal adalah sebuah kekecawaan tanpa dasar.


Dia pernah jatuh ke dalamnya, cinta tanpa ikatan yang berujung pengkhianatan.


Benar, di hati Khadijah, Arfi pernah bersalah. Mendesak saat ia ingin menyerah, dan meninggalkan saat ia mulai menetap di dalam keyakinan.


Keyakinan atas perasaan Arfi yang dianggap besar. Namun, hanya semu sebagian.


Lelaki itu meninggalkannya tanpa pesan. Menghentikan apa yang pernah dimulai. Dan melangkah pergi tepat di tengah jalan.


Tidak memberitahu apa yang salah. Tidak mengatakan apa yang tidak bisa. Hanya menghilang, terbang bersama angan tentang masa depan. Yang sempat indah terangkai, namun, hanyalah semu tanpa harapan.