For My Family

For My Family
158



Selamat malam gaes, malam ini author nyapa di awal karena mau minta maaf sebesarnya untuk kesalahan naskah pada bab sebelumnya. Tapi isinya udah author tukar kok, boleh cek lagi part sebelum ini.


Kagak nyambung kan? Ya iyalah, orang beda server gaes 😂😂


Bisa-bisanya si Gaza dan Rossella melipir ke sini, emang nakal itu anak dua. Maafkan mereka dan lupakan saja kalo mereka pernah singgah.


Walau melupakan itu berat, harus tetap usaha, gaes. Biar gak berharap!


Eaaak! Buciiin terooos!


Maaf sekali lagi atas kekeliruan author yang kadang oleng ini.


Selamat menikmati gaes, love sayang emuah emuah 😘😘


***


"Apa aku mencintainya? Apa aku mencintainya? Apa aku mencintainya?" gumam Ferdi berulang-ulang seraya memasuki gedung perusahaan.


Lelaki itu terus mempertanyakan soal perasaannya. Rasanya tidak mungkin dia mencintai Sasy dalam waktu sesingkat ini.


Pasti karena gadis itu yang memiliki kemiripan dengan Arsy, pasti!


Lelaki itu menggeleng dengan cepat, bermain dengan pikirannya sendiri. Melewati Ardan yang sedang berdiri di depan meja Nigar.


Ipar itu saling memandang saat Ferdi lewat dengan mulut yang terus bergumam.


"Ada apa dengannya?" tanya Ardan ke adik iparnya tersebut.


"Saya gak tau, Pak."


"Kurasa dia mulai gila karena kau gantung terus," jawab Ardan asal.


Gadis itu menunduk, mendengar ucapan Ardan membuat hatinya bersalah. Memang tidak seharusnya dia terus menggantungkan hubungan. Dia pun belum melakukan istikarah, takut akan sebuah jawaban yang tidak sesuai keinginan.


Gadis itu berucap istigfar pelan, menyadari bahwa dia telah berburuk sangka pada takdir baik yang sudah Allah tentukan.


Dia mulai menata hati, memantapkan diri untuk mulai menerima segalanya. Mau Arfi atau Ferdi harus ada yang dia pilih.


Sementara itu di dalam ruangan, Ferdi masih bingung dengan perasaannya. Sekilas bayangan Sasy yang bertanya akan perasaannya terus berputar-putar.


Kacau, hati dan pikirannya terus meracau. Tak jelas, antara cinta yang sesungguhnya atau hanya pengganti semata.


Lelaki beralis tebal itu menyilangkan tangannya di dada. Satu bahunya tertumpu di daun pintu. Bersiul seraya memainkan alis matanya.


"Hai Ferdi, apa yang terjadi?" tanya Ardan mendekati sahabat dekatnya itu.


"Ardan," panggilnya cemas.


"Hem."


"Apa yang kau rasakan saat bersama Hazel?"


"Maksudnya?" tanya Ardan tak mengerti.


"Maksudku, kamu yang tidak pernah jatuh cinta, bagaimana bisa mengetahui kalo kamu cinta padanya? Bagaimana jika itu hanya ambisi atau pengganti semata?"


Ardan tersenyum sinis, ia menumbuk dada temannya itu pelan. Lalu sebelah bokongnya tertumpuh di atas meja kerja Ferdi. Berhadapan dengannya.


"Ada apa? Kamu mulai jatuh cinta lagi?" tanya Ardan menggoda.


Ferdi mendesis, ia geram saat sifat penggoda Ardan mulai kelihatan.


"Ayolah Ardan, aku bertanya serius. Ada perasaan menggebu ingin memiliki Nigar, tetapi ada .... " Lelaki itu tertunduk.


'Perasaan menggila saat bersama Sasy. Aku seperti bukan diriku, aku selalu mati-matian menutupi segalanya jika berhadapan dengannya?' gumam Ferdi dalam hati.


"Hei." Tepuk Ardan di salah atu bahu Ferdi. "Ayolah, Teman. Ceritakan apa yang terjadi."


Ferdi mengacak rambutnya, ia frustrasi. Benar-benar frustrasi.


"Aku tidak tau. Bantu aku dan jawab saja pertanyaanku."


Ardan tersenyum, melihat raut wajah Ferdi. Ada yang tidak baik-baik saja. Biasa lelaki itu memang jarang sekali menampilkan emosinya.


"Cinta itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan, Ferdi. Dia tidak akan lerai di dalam logika. Tapi dia akan nyata di dalam sebuah rasa."


"Maksudnya?" tanya lelaki berkacamata itu bingung.


"Cintaku pada Hazel, mungkin akan berbeda dengan cintamu pada Arsy, atau cinta Arfan pada Ferla, cinta Arfi pada Nigar. Dan cinta-cinta yang lainnya."


Ardan mendesah pelan, sayup mata itu memberikan keteduhan.


"Dengar, cinta itu bisa datang dengan cara yang berbeda. Setiap orang punya caranya, dan kita tidak akan bisa paham dari orang lain. Hanya hatimu yang tahu dengan siapa dia mencinta."


"Tapi hatiku bimbang, Ardan."


Ardan tersenyum dan menggeleng.


"Sesungguh cinta tidak pernah bimbang, Ferdi. Karena cinta bukan takaran. Cinta tidak akan pernah gamang, karena dia selalu seimbang. Yang membuat ragu bukan cintanya, tetapi ideologi yang kau tancapkan dalam hati. Lalu kau menyebutnya itu cinta."


"Bagaimana bisa?"


"Tentu saja bisa. Banyak hal yang terlabel cinta, padahal di dalamnya banyak yang mendominasinya. Ambisi, ego, ideologi, rasa ingin memiliki, nafsu dan yang lainnya."


"Bagaimana kau bisa membedakannya?"


Lelaki berkulit sawo matang itu terenyum. Ia bangkit dan menepuk pundak itu.


"Sudah kukatakan, cinta itu bukan tentang penjelasan, tetapi dia tentang rasa yang ada. Kamu akan mengetahuinya dengan caranya, bukalah hatimu, Kawan. Cinta, punya caranya untuk menunjuk jalan. Dia tidak akan tersesat, walau kadang hadirnya sedikit terlambat." Ardan memainkam satu matanya, lantas ia keluar dan membiarkan Ferdi sendiri.


Dia pun sebenarnya bingung menjelaskan cinta itu apa. Defenisi cinta sangat beragam, dan dia akan berbeda-beda sesuai sudut orang yang memandang.


Lelaki itu mengendurkan dasinya, membahas tentang cinta, dia rindu akan kekasihnya. Jika dulu dia bisa melihat Hazel di kantor dan di rumah. Kini dia harus bersabar walau hanya ingin menatapnya.


.


.


Kini lelaki itu di sini, di depan pagar rumahnya seraya memandangi sang istri yang bermain di taman depan dengan dua anaknya. Duduk di atas karpet yang dibentangkan di atas rumput. Membiarkan Yena menghirup udara segar dari taman mereka.


"Ferdi, jika kau tanya bagaimana aku menyadari cinta padanya. Maka jawabanku akan beragam. Jika ditanya alasannya, aku tidak akan bisa menjabarkannya, tetapi jika kau tanya bagaimana aku menemukan dia di antara miliyaran manusia lainnya. Jawabannya hanya satu."


Mata elang itu menatap dengan lekat, memerhatikan senyum gadisnya, suara teriakannya, raut wajahnya dan segalanya.


Perlahan langkah tegap itu menghampiri, ia langsung menjatuhkan kepala di atas pangkuan Hazel.


Gadis bermata madu itu terkejut, ia membelai rambut hitam legam milik suaminya.


"Mas, tumben masih pagi udah balik lagi?"


"Aku rindu kamu, Sayang."


Hazel tersenyum, dia menarik ujung hidung Ardan, geram. Lelaki itu mengerling nakal lantas sayup matanya terpejam.


Menikmati suasana pagi bersama keluarga kecil mereka. Tangan Hazel yang tengah membelai rambutnya ia raih dan mengenggam di atas dada.


"Nazha."


"Ya."


"Apa kamu masih mencintaiku?"


"Pertanyaan macam apa itu, Mas?"


Ardan membuka matanya, sedikit menyipit karena silau mentari menerpa netra pekatnya.


"Jawab saja."


"Tentu saja. Kamu imamku, kekasihku, cinta dan juga hidupku."


"Kenapa bisa mencintaiku?"


"Karena Tuhan menakdirkan aku untuk menjadi pendampingmu."


Ardan tersenyum simpul, ia bangkit terduduk dan berhadapan dengan Hazel.


"Nazha."


"Hem."


"Jika aku terluka, lalu aku terbaring lemah. Atau aku yang menghilang tanpa kabar, atau wajah dan fisikku yang tidak lagi sempurna. Akankah kamu masih mencintaiku?"


Gadis itu membelai rahang tegas Ardan. Hal yang paling lelaki itu sukai, karena sentuhan lembut itu selalu memiliki banyak rasa, pun mampu menghancurkan ego dan amarahnya.


"Ada apa denganmu, Mas? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini?"


Ardan meraih jemari Hazel, lantas ia mencium kedua tangan itu.


"Dengarkan aku, Hazel. Aku dan Ferdi akan memecahkan perusahaan. Kami akan startup dan aku tidak bisa menjamin bahwa masih sanggup mempertahankan segalanya. Jika kamu takut untuk hidup susah, kuatlah bersamaku menjadi istri CEO Erlangga."


Binar bermata madu itu memandang penuh haru. Netranya mengkilap, terlapisi kaca bening.


"Kamu maunya bagaimana, Mas?"


"Aku tentu saja mau pisah dari Erlangga, Sayang. Tetapi memulai perusahaan baru juga bukan hal yang mudah, aku tidak tega jika melihatmu kesusahan. Aku ingin kamu nyaman, Hazel. Buatku mau jadi CEO atau menjadi GM sama saja. Asalkan kamu nyaman, aku selalu siap menjalani salah satunya."


Hazel tersenyum, ia meletakan pipinya di atas tangan Ardan.


"Mas, aku adalah istrimu. Ke mana kamu akan pergi aku ikut denganmu. Hanya kamu imamku, dan kamulah arah tujuanku, Mas. Tidak peduli kaya atau susah, selama kamu masih Ardanku yang tidak pernah berubah, maka aku akan selalu di sisimu."


Ardan tersenyum, satu tangan membelai kepala Hazel yang tertunduk di atas tangannya. Hangat, wanita itu pasti sedang menangis.


Lelaki bermata pekat itu mengangkat wajah Hazel. Mencium setiap bulir yang menetes di pipi istrinya.


"Hei, Nazhaku. Untukmu aku akan selalu menjadi suamimu. Papa buat anakmu dan juga pelindung buat keluarga kecil kita. Jangan pernah khawatir, tak peduli seberingas apa aku di luar. Aku tetaplah Ardanmu yang tidak akan pernah menyakitimu."


Hazel menarik kedua pipi Ardan. Menyatukan antara kedua dahi meraka, lelaki itu merengkuh bahu mungil sang istri. Lalu membenamkan kepalanya di dalam dada.


"Surya sini!" panggilnya pada putra Hazel yang tengah bermain.


Bocah itu berlari, duduk di salah satu paha Ardan. Erat tangan kekar itu mendekap keduanya.


"Sayang-sayangku, kumohon kuatlah. Apa pun yang terjadi. Tetaplah di sisi Papa, Surya. Dan kamu Nazha." Ardan mendongakkan kepala Hazel dengan jemari kekarnya.


"Kumohon percayalah dengan apa yang aku lakukan. Jangan tinggalkan aku meski itu sangat menyakitkan, bisa, kan?"


Gadis itu menggulum senyum dan menangguk mantap. Satu tangan kekar yang mendekap Surya menutupi mata bocah itu.


Sementara tangan yang mendekap Hazel ia buat untuk mendonggakkan wajah sang istri. Menghapus jarak di antara keduanya sampai hangat napas itu mendebarkan irama.


Sudah lama menikah, bukan hal yang asing bagi mereka membalas cinta. Namun mengapa? Setiap momen selalu saja memberikan sensasi yang berbeda.


Sejatinya rasa hangat itu dirasakan berdua. Diciptakan lewat haru dan suka cita bersama.


Ibu dua anak itu melepaskan sesapan bibir Ardan saat menyadari sebuah buliran melintasi pipi sang suami.


"Mas kenapa nangis?" tanya Hazel mengecup sudut dagu tempat terakhir kali air mata itu jatuh.


"Aku mencintaimu, Hazel. Sungguh, sangat mencintaimu."


"Aku juga."


"Berjanjilah akan setia, Hazel. Berjanjilah akan tetap melawan Gerald apa pun yang akan dia lakukan. Aku rela melepaskan apa pun, asalkan jangan dirimu."


Hazel memeluk bahu Ardan erat, membenamkan hidungnya di atas pundak. Menikmati aroma tubuh suaminya.


"Maaf, Mas. Aku pernah berulang kali ingin meninggalkanmu karena desakan keluargamu. Maafkan aku, maaf."


Ardan memasukan jemarinya ke dalam helaian rambut cokelat itu.


"Hazel, maafkan aku yang harus melibatkanmu dalam permasalahan keluargaku. Bisakah kamu tetap setia menemaniku sampai nyawa tidak lagi berada pada raga."


Gadis itu mengangguk dengan cepat.


"Aku akan janjikan padamu, tidak peduli secantik apa dan sebanyak apa bidadari yang akan menyambutku di surga kelak. Aku hanya ingin kamu menjadi bidadari, Hazel. Di dunia, maupun di Surga, aku hanya ingin kamu, Sayangku."


Ardan mendekap istrinya lebih erat.


"Untuk kali ini dan seterusnya, aku hanya bisa memohon padamu. Jangan pernah ucapkan kata cerai atau pikiran yang akan meninggalkanku lagi, berjanjilah! Berjanjilah, Hazel."


"Iya, iya, Mas."


Ardan menarik kepala itu, lantas mengusap dua pipi putih istrinya. Menautkan kedua netra bening mereka, dan kembali menghapus jarak di antara keduanya.


'Kali ini. Jika kamu ingin bercerai lagi, maka ambillah belati dan tikam saja jantungku. Sesungguhnya itu lebih baik dari pada harus menceraikanmu. Aku tidak tau mengapa, bahkan memikirkanmu pergi saja mampu membuatku gila.'